NovelToon NovelToon
Pembalasan Dendam Mantan Istri Ceo

Pembalasan Dendam Mantan Istri Ceo

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Finus Ina

Lima tahun lalu, Adeline Wijaya dijebak oleh adik tirinya sendiri hingga keguguran dan diusir oleh suaminya, Bramantara, dalam kondisi sekarat. Semua orang mengira Adeline telah tewas di dasar jurang.Lima tahun kemudian, ia kembali ke Kota Jakarta dengan identitas baru sebagai Elena Vance, seorang desainer perhiasan kelas dunia yang genius dan kejam. Tujuannya hanya satu: menghancurkan mereka yang telah merebut kebahagiaannya.Demi melancarkan aksinya, Elena mendekati Nicholas Syailendra, CEO tertinggi di balik konglomerat nomor satu sekaligus musuh bebuyutan mantan suaminya.

Nicholas menawarkan kesepakatan: "Jadilah istriku, dan aku akan memberikan dunia untukmu membalas dendam." Namun, Elena tidak tahu bahwa di balik pernikahan kontrak itu, ada rahasia masa lalu yang jauh lebih besar yang siap menguji hatinya sekali lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finus Ina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 6

happy reading guys

------------------------------

BAB 6: Badai Mulai Meruntuhkan Istana

Keesokan paginya, matahari baru saja terbit menembus jendela kamar utama kediaman keluarga Bramantara.

Namun, suasana di dalam rumah mewah itu sudah terasa seperti di dalam lubang neraka yang panas.

Brak!

Pintu kamar tidur utama ditendang terbuka dengan sangat keras hingga engselnya berderit parah.

Siska Wijaya yang sedang duduk di depan meja rias sembari mengoleskan krim malam langsung terlonjak kaget.

Jantungnya nyaris copot saat melihat sosok Bramantara melangkah masuk dengan mata merah menyala dan napas yang memburu laksana banteng pelari.

"Kak Bram? Ada apa? Kenapa Kakak sekasar ini pagi-pagi—"

Plak!

Belum sempat Siska menyelesaikan kalimatnya, sebuah tamparan yang sangat keras mendarat di pipi kirinya.

Hantaman tangan kekar Bram membuat tubuh mungil Siska terhempas dari kursi rias, jatuh tersungkur di atas karpet beludru yang mahal.

Sudut bibir Siska seketika robek, mengeluarkan tetesan darah segar.

"Kak Bram! Kakak gila ya?! Kenapa Kakak menamparku?!"

jerit Siska histeris, memegangi pipinya yang terasa panas dan berdenyut nyeri.

Air mata ketakutan dan kemarahan mulai membanjiri wajah cantiknya.

"Aku gila?! Ya! Aku emang gila karena udah bodoh mau nikah sama wanita iblis kayak kamu, Siska!"

raung Bram, suaranya menggelegar memenuhi seluruh sudut kamar.

Pria itu melemparkan seikat dokumen tebal dan sebuah gawai pintar tepat ke arah wajah Siska yang sedang terduduk lemas di lantai.

Pluk.

"Lihat itu! Lihat apa yang udah kamu perbuat, wanita jalang!"

bentak Bram lagi, tubuhnya gemetar hebat menahan amarah yang sudah sampai ke ubun-ubun.

Dengan tangan yang gemetar, Siska mengambil gawai tersebut.

Layar gawai itu menampilkan halaman utama situs berita bisnis nomor satu di Indonesia dengan judul utama berukuran besar yang sangat mencolok.

‘Skandal Besar: Rekaman Suara Rahasia Bocor! Nyonya Muda Baru Bram Corp Mengaku Menjebak Kakak Tirinya Sendiri Demi Rebut Harta dan Posisi!’

Di bawah judul tersebut, sebuah video pemutar audio berdurasi dua menit telah diputar sebanyak jutaan kali.

Siska menekan tombol putar dengan jantung yang berdegup kencang bagai mau lepas.

Detik berikutnya, suara lengkingan suaranya sendiri di dalam toilet hotel semalam bergaung memenuhi kamar tidur mereka.

“Ya! Aku yang menaruh obat tidur di minumanmu malam itu! Aku yang menyewa pria asing itu untuk berfoto bersamamu di ranjang hotel! Dan aku juga yang memastikan Bram melihat foto-foto itu tepat di saat kamu sedang mengandung anaknya!”

"Nggak... nggak mungkin... Ini rekayasa! Ini editan, Kak!"

Siska menjerit histeris, melempar gawai itu ke lantai hingga layarnya retak seribu.

Wajahnya seketika berubah pucat pasi seperti mayat.

Seluruh tubuhnya mendadak gemetar hebat karena rasa takut yang teramat sangat.

"Adeline... wanita jalang bernama Elena itu pasti sengaja mengedit suaraku untuk menghancurkan pernikahan kita, Kak! Tolong percaya padaku!"

"Cukup, Siska! Jangan sebut nama Adeline dengan mulut busukmu itu!"

Bram merangsek maju, mencengkeram rahang Siska dengan sangat kuat hingga wanita itu meringis kesakitan.

Tatapan mata Bram dipenuhi oleh rasa muak yang luar biasa mendalam.

"Suara itu asli! Kamu sendiri yang ngomong di depan Adeline semalam! Kamu udah akuin semuanya!"

Air mata penyesalan yang sangat besar kini mulai menyelimuti sepasang mata Bram.

Bayangan wajah Adeline yang menangis bersimbah darah di bawah guyuran hujan badai satu bulan lalu kembali berputar hebat di kepalanya, mencabik-cabik hati nuraninya yang tersisa.

"Karena kelicikanmu... aku udah ngusir istri sahku... aku udah biarin anak kandungku sendiri mati di jalanan... Aku udah bunuh darah dagingku sendiri demi wanita ular kayak kamu!"

Bram menyentakkan rahang Siska hingga kepala wanita itu tertolak ke samping.

"Dan asal kamu tahu ya, Siska. Kejahatanmu malam ini nggak cuma hancurin rumah tangga kita, tapi juga hancurin seluruh Bram Corp!"

Bram menarik dokumen tebal yang tadi dilemparnya, lalu membuka lembaran grafik saham yang menukik tajam ke bawah.

"Pagi ini, saham Bram Corp anjlok total hingga batas Auto Reject Bawah! Semua investor besar kita menarik modal mereka secara massal setelah denger rekaman sialan ini! Dan yang paling parah... Nicholas Syailendra baru saja mengumumkan pembatalan seluruh pasokan bahan baku berlian ke perusahaan kita secara sepihak! Kita bangkrut, Siska! Bram Corp bakal gulung tikar dalam hitungan hari!"

"Nggak... nggak mungkin... perusahaan kita nggak boleh bangkrut, Kak..."

Siska menggeleng-gelengkan kepalanya dengan pandangan kosong, merangkak mendekati kaki Bram dan mencoba memeluk lutut pria itu dengan putus asa.

"Kita bisa tuntut dia, Kak! Kita bisa lapor polisi karena dia merekam secara ilegal!"

"Tuntut siapa?! Tuntut Nicholas Syailendra?! Kamu mau cari mati?!"

Bram menepis kaki Siska dengan sangat kasar, membuat wanita itu kembali terjungkal di lantai.

"Nicholas punya kekuasaan penuh di kota ini! Jangankan menuntut, masuk ke dalam gedung perusahaannya aja kita udah bakal didepak sama pengawal!"

Bram melangkah mundur menuju pintu kamar, menatap Siska untuk terakhir kalinya dengan pandangan yang benar-benar dingin tanpa sisa cinta sedikit pun.

"Mulai hari ini, kemasi barang-barangmu dan keluar dari rumah ini. Surat perceraian kita akan dikirim oleh pengacaraku besok pagi. Dan bersiaplah, karena pihak kepolisian juga sudah membuka kembali penyelidikan kasus penggalangan foto palsu dan percobaan pembunuhan tidak langsung terhadap Adeline berdasarkan bukti rekaman suara ini."

Brak!

Bram melangkah keluar dan membanting pintu kamar dengan sangat keras, meninggalkan Siska yang kini menangis dan menjerit histeris sendirian di atas lantai.

Istana kemewahan yang ia rebut dengan cara menumpahkan darah kakaknya sendiri kini telah runtuh total dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam.

Sementara itu, di sebuah kantor penthouse mewah berlantai delapan puluh di pusat kota Jakarta, suasana justru terasa sangat kontras.

Elena Vance berdiri anggun di dekat jendela kaca raksasa, memegang secangkir kopi hitam hangat sembari menatap pemandangan kota di bawahnya.

Sebuah senyuman miring penuh kepuasan terukir jelas di bibir merah meronanya saat melihat berita kehancuran saham Bram Corp di layar televisi dinding.

"Bagaimana rasanya, Elena? Apakah hadiah pertama dari saya cukup memuaskan?"

Sebuah suara berat bernada maskulin terdengar dari arah meja kerja raksasa di tengah ruangan.

Nicholas Syailendra duduk di kursi kebesarannya, menatap Elena dengan sepasang mata elang yang dipenuhi rasa kagum dan posesif yang teramat sangat.

Pria itu meletakkan tablet pintarnya yang baru saja menampilkan laporan penarikan investasi dari Bram Corp.

Elena berbalik, berjalan dengan keanggunan seorang ratu menuju ke arah Nicholas.

Ia meletakkan cangkir kopinya di atas meja kerja, lalu membungkukkan tubuhnya sedikit mendekati wajah tampan sang penguasa kota.

"Ini baru permulaan, Nicholas,"

bisik Elena, matanya berkilat tajam memancarkan api dendam yang belum padam sepenuhnya.

"Bram Corp baru kehilangan uang dan saham mereka. Tapi aku belum melihat mereka merangkak dan mengemis ampunan di bawah kakiku atas kematian anakku. Permainan ini... baru saja dimulai."

Nicholas tersenyum miring, sebuah senyuman kejam yang terlihat sangat serasi dengan ekspresi wajah Elena.

Ia mengulurkan tangan kekarnya, menarik pinggang Elena dengan lembut hingga wanita itu terduduk manis di atas pangkuannya.

"Kalau begitu, mari kita buat langkah kedua kita menjadi jauh lebih berdarah untuk mereka,"

ucap Nicholas lirih tepat di depan bibir Elena, mempererat dekapannya seolah ingin menegaskan kepada seluruh dunia bahwa wanita ini kini berada di bawah perlindungan mutlak miliknya.

------------------------------

Bersambung...

jangan lupa tinggalin jejak dulu yaa

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!