NovelToon NovelToon
Jalanan Di Bawah Sayap Hitam

Jalanan Di Bawah Sayap Hitam

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Misteri
Popularitas:996
Nilai: 5
Nama Author: ArdaKings

Di sebuah kota yang dikuasai geng-geng jalanan dan kekuasaan gelap, sekelompok pemuda memilih bertahan hidup sambil melindungi warga lemah. Di markas tua mereka, tersembunyi sebuah rahasia berusia puluhan tahun — sebuah benda yang bisa mengubah nasib banyak orang, sekaligus menjadi sumber malapetaka kalau jatuh ke tangan yang salah.

Ketika kelompok berbahaya bernama Elang Darah mulai memburunya, identitas tersembunyi dan masa lalu kelam setiap tokoh perlahan terungkap. Arda yang terlihat malas ternyata menyimpan kekuatan dan tanggung jawab besar, sementara Kael dan kawan-kawannya harus memilih: ikut berebut kekuasaan, atau tetap memegang prinsip di tengah pertarungan yang melibatkan banyak pihak rahasia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ArdaKings, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Rahasia di Bawah Lantai

Angin sore berhembus lebih kencang, membawa bau tanah basah dan sisa kabut yang belum sepenuhnya hilang dari permukaan sungai. Jalan setapak yang mereka lalui makin sempit, berkelok di antara semak belukar dan pohon-pohon tua yang rindang, menyembunyikan keberadaan mereka dari pandangan siapa pun yang lewat di jalan utama.

Niko dan Bastian memapah tubuh Pak Rian secara bergantian. Meski sudah mulai sadar dan bisa melangkah sedikit, kakinya masih gemetar dan badannya terasa ringkih karena siksaan yang dia alami semalaman. Darah kering masih menempel di sudut bibirnya, dan luka di pergelangan tangannya terlihat merah membengkak, tapi tatapannya tetap tegas, seolah dia sudah siap menyampaikan apa yang selama ini dia sembunyikan.

Sesampainya di tempat yang cukup aman — sebuah gubuk kosong yang sudah lama ditinggalkan di pinggir hutan kecil, jauh dari pemukiman — mereka menurunkan tubuh Pak Rian di atas tumpukan jerami kering. Bastian segera mengeluarkan sebotol air minum yang dia bawa dari perjalanan, lalu menuangkannya perlahan ke mulut lelaki tua itu.

“Minum pelan-pelan saja, Pak,” ucapnya lembut. “Kita aman di sini untuk sementara waktu. Tidak ada yang bisa mendengar kita.”

Pak Rian meneguk air itu sedikit demi sedikit, merasakan cairan segar itu membasahi kerongkongannya yang kering dan perih. Setelah beberapa saat, dia menghela napas panjang, lalu menatap wajah Niko dan Bastian bergantian dengan pandangan yang berat.

“Kalian bertanya-tanya kenapa aku bilang barang itu ada di dekat pabrik tempat kalian tinggal, kan?” tanyanya pelan, suaranya sudah mulai terdengar lebih jelas. “Ini bukan rahasia yang aku sembunyikan semata-mata. Aku hanya takut kalau sampai orang-orang yang salah mengetahuinya, bukan hanya aku yang celaka, tapi juga seluruh warga di distrik ini — termasuk kalian semua.”

Niko duduk bersila di depannya, matanya menatap tajam tapi penuh perhatian. “Kami mengerti kalau ini hal yang berat. Tapi sekarang sudah terlanjur diketahui oleh Elang Darah. Kalau kami tidak tahu apa sebenarnya itu dan di mana tepatnya, suatu saat nanti mereka akan menemukannya sendiri, dan konsekuensinya akan jauh lebih buruk.”

Pak Rian mengangguk perlahan, lalu memandang ke luar jendela gubuk yang sudah berlubang, seolah melihat kembali peristiwa yang terjadi bertahun-tahun silam.

“Dua puluh tahun yang lalu,” dia mulai bercerita, suaranya terasa agak jauh seolah berbicara dari masa lalu, “pabrik tua itu bukan hanya tempat memproses barang biasa seperti yang orang kira. Dulu, pemiliknya adalah seorang pedagang kaya yang punya hubungan dengan pejabat tinggi di ibu kota. Katanya, dia dipercaya untuk menyimpan sesuatu yang sangat penting — sesuatu yang harus dijauhkan dari jangkauan orang-orang yang haus kekuasaan.”

Dia berhenti sejenak, menelan ludah, lalu melanjutkan. “Saat itu aku masih muda, bekerja sebagai tukang angkut di sekitar sana. Suatu malam, aku melihat rombongan orang masuk membawa kotak-kotak besar yang terbuat dari kayu tebal dan besi. Mereka tidak membukanya di hadapan siapa pun, tidak memberitahu isinya apa, dan hanya mengatakan bahwa benda itu harus tetap ada di tempat itu sampai ada perintah resmi untuk memindahkannya.”

Bastian menyandarkan punggungnya ke dinding gubuk, mendengarkan dengan saksama. “Terus kenapa akhirnya pabrik itu ditinggalkan begitu saja?”

“Karena pemiliknya tiba-tiba menghilang tanpa jejak,” jawab Pak Rian dengan nada yang makin serius. “Seminggu setelah kotak itu disimpan, dia tidak pernah terlihat lagi. Tidak ada surat wasiat, tidak ada pesan, tidak ada tanda-tanda dia pergi ke mana. Pihak berwenang sempat datang memeriksa, tapi tidak menemukan apa-apa yang mencurigakan, sehingga akhirnya pabrik itu dibiarkan terbengkalai begitu saja. Sejak saat itu, aku merasa bertanggung jawab untuk menjaga rahasia itu, karena aku satu-satunya orang yang masih ingat apa yang terjadi malam itu.”

Niko mengerutkan dahi, pikirannya bekerja cepat menyusun potongan cerita itu. “Jadi barang itu masih ada sampai sekarang? Dan Elang Darah sudah tahu keberadaannya?”

“Mereka pasti sudah dapat petunjuk dari catatan lama yang tersisa,” jawab Pak Rian. “Selama ini mereka hanya menduga, tapi tidak yakin. Makanya mereka berusaha memeras aku untuk memastikan. Kalau mereka sampai tahu bahwa tempat persembunyiannya tepat ada di bawah lantai ruangan paling belakang pabrik itu…”

Kalimatnya terputus, tapi maknanya sudah jelas. Jantung Bastian terasa berdebar kencang. Selama ini mereka merasa telah menemukan tempat persembunyian yang aman dan tersembunyi, ternyata mereka tinggal tepat di atas sumber masalah yang sedang dicari oleh kelompok paling berbahaya di kota ini.

“Tapi apa sebenarnya isinya?” tanya Bastian tidak sabar. “Kalau cuma barang berharga biasa, kenapa harus dijaga begitu ketat dan membuat orang rela membunuh demi memilikinya?”

Pak Rian menggeleng pelan, matanya terlihat ragu sejenak sebelum akhirnya melanjutkan. “Aku tidak pernah melihat ke dalamnya. Tapi aku mendengar bisikan dari orang-orang yang membawanya dulu. Katanya, itu bukan emas, bukan perak, dan bukan senjata biasa. Itu adalah benda yang bisa mengubah keseimbangan kekuasaan di seluruh wilayah ini — bisa memberi kekuatan besar bagi siapa saja yang menguasainya, tapi juga bisa membawa kehancuran kalau jatuh ke tangan yang salah.”

Sementara percakapan itu berlangsung, di dalam pabrik tua yang kini ditinggalkan sebagian penghuninya, suasana terasa tidak biasa.

Kael berdiri di dekat pintu depan, matanya mengawasi jalanan yang mulai sepi seiring berjalannya sore. Tangannya masih memutar koin peraknya, gerakannya terasa lebih lambat dan lebih terfokus dari biasanya. Sejak pagi dia merasa ada sesuatu yang tidak beres, perasaan was-was yang muncul tanpa alasan jelas, seolah ada mata yang mengawasi setiap gerakan mereka dari balik kegelapan.

Mikhael duduk di meja kayu tua, menyusun kembali peralatan obat-obatannya. Dia tampak tenang seperti biasa, tapi pandangannya sesekali melirik ke arah sudut ruangan paling belakang — tempat yang selama ini jarang dikunjungi, hanya dipakai untuk menyimpan barang-barang bekas yang sudah tidak terpakai.

“Kau juga merasakannya, kan?” tanya Mikhael tiba-tiba, tanpa menoleh ke arah Kael. “Ada suasana yang berbeda hari ini. Seolah udara di sini terasa lebih berat dari biasanya.”

Kael berhenti memutar koinnya, lalu memasukkannya kembali ke dalam saku jaket. “Aku juga merasakannya. Sejak semalam, sejak serangan itu terjadi. Rasanya seperti kita baru saja membuka pintu ke ruangan yang seharusnya tetap tertutup rapat selamanya.”

Di sudut ruangan tempat Arda biasa beristirahat, sosok itu kini duduk tegak. Dia tidak lagi berbaring atau mengunyah kacang seperti biasanya. Matanya terbuka lebar, menatap lantai kayu yang sudah lapuk di depannya dengan pandangan yang dalam, seolah bisa melihat apa yang tersembunyi di bawahnya.

“Kalian baru sadar sekarang?” ucap Arda tiba-tiba, suaranya tidak lagi malas seperti biasanya, melainkan terdengar lebih berat dan serius. “Rahasia ini sudah menunggu di sini selama puluhan tahun. Ia hanya diam, menunggu sampai ada orang yang cukup berani atau cukup bodoh untuk membangunkannya kembali.”

Kael menoleh cepat ke arahnya, alisnya terangkat sedikit. “Kamu tahu apa yang tersembunyi di bawah sini?”

Arda menghela napas panjang, lalu mengusap wajahnya seolah sedang menghilangkan rasa lelah yang mendalam. “Aku tidak tahu persis bentuknya, tapi aku bisa merasakan keberadaannya. Benda itu memancarkan getaran yang tidak biasa — bukan energi jahat, tapi energi yang sangat kuat, cukup untuk menarik perhatian siapa saja yang peka terhadap hal-hal di luar akal sehat.”

Dia berdiri perlahan, melangkah mendekati sudut ruangan belakang yang gelap. Setiap langkahnya terasa berat, seolah dia sedang melangkah menuju sesuatu yang sudah lama dia hindari.

“Selama ini aku memilih untuk tidak mengganggunya,” lanjutnya, suaranya hanya cukup terdengar oleh Kael dan Mikhael. “Karena aku tahu, begitu ia terbuka, tidak akan ada lagi yang sama. Kedamaian yang kalian usahakan bangun selama ini akan hancur seketika, dan kalian akan terlibat dalam permainan yang jauh lebih besar dari sekadar memperebutkan jalanan atau pasar.”

Dia berhenti tepat di depan tumpukan papan kayu dan karung bekas yang menutupi sebagian lantai. Dengan satu gerakan ringan, dia menyingkirkan tumpukan barang itu ke samping, menampakkan papan lantai yang terlihat sama persis dengan bagian lain — kecuali satu titik kecil di sudutnya yang terlihat sedikit lebih baru, seolah pernah dibuka dan ditutup kembali beberapa kali.

“Di sinilah letaknya,” kata Arda pelan. “Tersembunyi di bawah tiga lapis papan kayu dan tanah yang dipadatkan. Dibuat sedemikian rupa agar tidak terlihat oleh mata biasa.”

Mikhael mendekat, berjongkok dan menyentuh papan itu dengan ujung jarinya. “Kalau sudah disembunyikan selama ini, kenapa baru sekarang Elang Darah bisa menemukannya?”

“Karena rahasia tidak pernah mati selamanya,” jawab Arda sambil menatap papan itu dengan pandangan yang penuh peringatan. “Ia hanya tidur, dan suatu saat akan terbangun. Kadang karena kebetulan, kadang karena ada orang yang sengaja membukanya. Dan kali ini, sepertinya ada pihak yang sengaja memberi petunjuk kepada mereka, supaya rahasia ini kembali terangkat ke permukaan.”

Belum sempat mereka melanjutkan pembicaraan, suara langkah kaki cepat terdengar dari luar. Pintu didorong terbuka dengan kasar, dan Lio masuk dengan napas terengah-engah, bajunya kotor penuh debu dan luka goresan terlihat di lengannya.

“Kael! Mikhael!” serunya sambil menopang lututnya untuk mengatur napas. “Mereka sudah tahu! Beberapa orang dari Elang Darah bergerak menuju ke sini sekarang juga. Mereka membawa alat untuk membongkar lantai dan bilang tidak akan berhenti sampai dapat apa yang mereka cari!”

Kael langsung berdiri tegak, tangannya mengepal erat. Matanya menatap papan lantai di depannya, lalu menoleh ke arah Arda.

“Jadi tidak ada jalan lagi untuk bersembunyi, ya?”

Arda menggeleng pelan, lalu tersenyum tipis — senyum yang bukan tanda kegembiraan, melainkan tanda bahwa dia sudah siap menghadapi apa pun yang akan datang selanjutnya.

“Memang sudah waktunya semuanya terungkap. Sekarang pertanyaannya bukan lagi apakah kita bisa menyembunyikannya, tapi apakah kita cukup kuat untuk menjaganya dari jatuh ke tangan yang salah.”

Dan di luar sana, di ujung jalan yang mulai gelap, sekelompok orang berjalan dengan langkah pasti. Di depan mereka berjalan sosok yang mengenakan jubah hitam, matanya menyala penuh harap dan keserakahan, karena dia tahu — hari ini dia akan mendapatkan apa yang sudah dia impikan selama bertahun-tahun.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!