Arthur Fabian Kell adalah vampir yang dianugerahi kekuatan terlarang dari Lucifer. Bukannya dipuja, ia justru dibenci oleh klannya sendiri dan ditolak oleh ayahnya, pemimpin Dark Moon.
Saat sang ibu mengorbankan nyawanya demi menyelamatkannya, Arthur berubah menjadi sosok kejam yang hidup hanya untuk membalas dendam. Untuk menyempurnakan kekuatan hitamnya, ia harus meminum darah manusia yang diberkahi.
Setelah berabad-abad menunggu, Arthur akhirnya bertemu Sonja, gadis yang memiliki darah tersebut. Namun, alih-alih membunuhnya, ia justru jatuh cinta.
Kini Arthur harus memilih, menyempurnakan dendamnya atau mempertahankan satu-satunya orang yang mampu menghidupkan kembali hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saasaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyerangan
Mata tajam Arthur tak lepas dari sosok mungil yang masih terlelap di ranjangnya. Pria yang dianggap monster oleh seluruh vampir itu kini justru tampak kebingungan. Tatapannya jatuh pada wajah Sonja yang damai. Seketika bayangan seseorang memenuhi kepalanya.
Ratu Clara.
Dulu, setiap ayahnya mengangkat cambuk karena sifatnya yang keras kepala, Clara selalu berdiri di depan Arthur. "Jangan sentuh anakku!" Suara itu masih terngiang jelas di telinganya.
Namun wanita yang selalu menjadi pelindungnya telah tiada. Arthur masih mengingat dengan jelas bagaimana ibunya meregang nyawa di depan matanya. Sejak hari itu, hidupnya dipenuhi kehampaan. Sampai akhirnya ia bertemu Sonja. Entah mengapa, gadis itu selalu mampu membuat hatinya yang beku terasa sedikit tenang.
Kelopak mata Sonja bergerak pelan sebelum akhirnya terbuka. Hal pertama yang ia lihat adalah Arthur yang sedang menatapnya tanpa berkedip."Kau..." Sonja mengernyit. "Kenapa menatapku seperti itu?"
Arthur tidak langsung menjawab. Dia hanya bangkit dari kursinya lalu duduk di tepi ranjang. Beberapa saat mereka saling menatap dalam diam. Perlahan Arthur mengulurkan tangan, merapikan helaian rambut Sonja yang berantakan."Rambutmu sudah lebih panjang," gumamnya pelan. "Terakhir kali kulihat, belum sepanjang ini."
Sonja mengangkat sebelah alis."Bukankah dulu kau bilang lebih menyukai rambut panjangku?"
Arthur tidak menjawab. Dia justru menggulung rambut Sonja asal-asalan hingga membuat gadis itu semakin bingung.
"Apa yang sedang kau lakukan?" protes Sonja sambil menepis pelan tangannya.
Arthur hanya membalas dengan tatapan matanya yang melembut.
"Kau kenapa?" balas Sonja curiga. "Semalam kau seperti monster, sekarang malah bersikap aneh."
Arthur menghela napas. Tangannya kembali meraih rambut panjang Sonja."Kadangkala aku sangat penasaran, apa yang kau pikirkan sehingga membuat mimik wajahmu seperti ini,"
Sonja mendengus pelan."Bukankah Vampir bisa membaca pikiran? Alea pernah mengatakannya."
Arthur menggeleng."Sayangnya aku tidak punya kemampuan itu." Tapi kemudian dia menyipitkan mata."Siapa Alea?"
"Temanku."Nada suara Sonja langsung berubah dingin."Teman yang hampir kau bunuh waktu itu."
Arthur terdiam beberapa detik sebelum berkata pelan."Jangan berteman sembarangan di tempat ini, Sonja. Dunia para vampir jauh lebih berbahaya daripada yang kau bayangkan."
Sonja tersenyum sinis."Yang paling berbahaya di sini justru kau, Arthur."
Arthur mengangkat satu alis."Benarkah? Lalu kenapa kau tidak takut padaku?"
Pertanyaan itu membuat Sonja membisu. Dia sendiri tidak tahu jawabannya. Sejak mendengar nama Pangeran Kegelapan, ia selalu dihantui rasa takut. Namun setelah tahu bahwa sosok itu adalah Arthur, ketakutan itu menghilang begitu saja. Yang tersisa hanya rasa kecewa dan sakit hati.
Arthur tiba-tiba berdiri. Raut wajahnya berubah dingin. Tatapannya mengarah ke jendela, seolah merasakan sesuatu."Bangun."
Sonja menoleh.
"Mandi dan bersiaplah." Arthur menyipitkan mata."Kita akan kedatangan tamu."
"Tamu?"
Arthur tersenyum tipis, tetapi sorot matanya penuh kewaspadaan."Dan kurasa mereka datang bukan untuk minum teh."
***
Alea bergerak cepat, melesat bagaikan anak panah yang baru saja dilepaskan dari busurnya. Angin menerpa wajahnya, tetapi sedikit pun tidak memperlambat laju langkahnya. Di barisan paling depan, Pangeran Alex memimpin pasukan dengan tatapan tajam yang terus mengawasi keadaan sekitar. Tak jauh di belakangnya, Elleanor setia berada di sisi Alea. Wanita itu memang mendapat tugas khusus dari Pangeran Alex untuk selalu menjaga sahabatnya. Setelah kejadian sebelumnya, Alex tidak akan membiarkan hal buruk kembali menimpa Alea. Baginya, keselamatan wanita itu jauh lebih penting daripada apa pun.
Namun, sifat Alea yang keras kepala justru menjadi sumber kekhawatiran terbesar. Elle terkadang tidak bisa menahan rasa iri yang diam-diam muncul di dalam hatinya. Bagaimana mungkin ada seseorang yang mampu mencintai Alea sedemikian dalam? Berkali-kali Pangeran Alex diabaikan, ditolak, bahkan diperlakukan dengan dingin, tetapi kasih sayang dan perhatiannya sama sekali tidak pernah berubah.
"Lea, Pangeran Alex terus melirik ke arah kita," ujar Elle sambil menyunggingkan senyum jahil, jelas berniat menggoda sahabatnya.
Alea bahkan tidak menoleh."Perhatikan jalanmu, Elle. Kalau tidak, kau akan menabrak pohon."
"Kau ini memang tidak punya perasaan." Elle mendecak kesal."Aku benar-benar tidak mengerti bagaimana Pangeran bisa jatuh cinta pada wanita sepertimu. Isi kepalamu hanya perang, latihan, lalu perang lagi. Menyebalkan."
Alea tetap melaju tanpa memberi tanggapan. Dia sudah terbiasa mendengar ocehan sahabatnya. Selama ratusan tahun bersama, Elle tidak pernah berubah. Wanita itu mampu mengobrol sendirian tanpa peduli apakah lawan bicaranya merespons atau tidak. Dan mungkin, hanya Elleanor satu-satunya yang sanggup bertahan di sisi Alea.
Seumur hidupnya, Alea selalu berusaha menjaga jarak dengan siapa pun. Ia membangun tembok dingin yang tinggi agar tak seorang pun bisa mendekat. Namun, Elleanor tidak pernah menyerah. Seberapa dingin atau menyebalkannya Alea, wanita itu tetap memilih menjadi sahabatnya.
Tak lama kemudian, rombongan akhirnya tiba di depan mansion megah milik Arthur. Tanpa membuang waktu, pasukan langsung melancarkan serangan.
Pertempuran berlangsung jauh lebih mudah dari yang diperkirakan. Jumlah pasukan Pangeran Alex jauh lebih unggul sehingga para vampir penjaga mansion dapat dilumpuhkan dalam waktu singkat. Jeritan dan dentingan senjata menggema memenuhi setiap sudut bangunan, tetapi perlawanan mereka terasa begitu lemah.
Alex terus menerobos masuk ke dalam mansion, menyusuri lorong demi lorong untuk mencari keberadaan kakaknya. Namun, semakin jauh ia melangkah, firasat buruk justru semakin kuat mengusik pikirannya. Tidak mungkin semudah ini? Tatapannya menyapu setiap ruangan dengan penuh kewaspadaan.
Dimana Arthur?
Dan yang lebih aneh lagi, ke mana tiga vampir terkuat yang selalu menjadi kebanggaan kakaknya? Mereka seharusnya muncul untuk menghadang sejak awal, bukan menghilang tanpa jejak seperti ini. Dadanya mulai dipenuhi rasa curiga. Arthur bukan pengecut. Pria itu tidak pernah melarikan diri dari medan pertempuran, bahkan ketika harus menghadapi lawan yang jauh lebih kuat. Itulah sifat kakaknya yang paling Alex pahami.
Karena itu, keheningan mansion ini terasa jauh lebih mengerikan daripada sebuah pertempuran.
"Mansion ini kosong. Hanya ada beberapa vampir bodoh yang berjaga," lapor Elleanor sambil menghampiri Pangeran Alex. Di belakangnya, Alea berjalan dengan langkah tenang. Namun, siapa pun yang mengenalnya pasti dapat melihat kemarahan yang sedang ia tekan mati-matian. Rahangnya mengeras. Tatapannya membeku. Dia sama sekali tidak menyangka Arthur akan memilih menghilang.
Jika benar pria itu sengaja menghindari mereka, maka sekali lagi ia telah gagal. Gagal menepati janjinya. Janji yang pernah ia ucapkan kepada Sonja. Janji untuk melindungi gadis itu dari Pangeran kegelapan.