NovelToon NovelToon
KUTUKAN JARAN GOYANG

KUTUKAN JARAN GOYANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Bad Boy / Akademi Sihir
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Sang Alifas Yang Merumput

Bagus , seorang pemuda yang di tolak cintanya dengan cara menyakitkan, mengambil jalan pintas untuk mendapatkan cintanya. apa yg terjadi ? jika ternyata semua yang dia dapatkan hanya kenikmatan semu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang Alifas Yang Merumput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6 : Berbalik Arah

BAB 6: Berbalik Arah

Jarum jam dinding baru saja melewati pukul dua siang, dan atmosfer di sekitar area parkir terbuka gedung perkantoran elite kawasan Sudirman tampak cukup lengang. Di bawah bayang-bayang daun pohon palem yang melambai ditiup angin kering, Bagus duduk santai di atas jok motor matic-nya yang agak kusam dan berdebu. Jaket hijau ojek online kebanggaannya sengaja dibuka resletingnya hingga setengah dada, memperlihatkan kaos oblong hitam polos yang sudah mulai pudar warnanya di bagian dalam. Kedua matanya memandangi layar ponsel dengan tatapan yang luar biasa dingin tanpa emosi. Sejak satu jam lalu, pesan-pesan singkat dari Sri terus-menerus masuk beruntun di bar notifikasi, memberondong ponselnya seperti rentetan peluru yang mengemis sebuah belas kasihan. Namun, Bagus sengaja membiarkan pesan-pesan panik itu hanya berstatus centang dua biru tanpa berniat membalasnya. Ia sengaja ingin membiarkan hawa panas asmara dari getaran Aji Jaran Goyang menyiksa, mengaduk-aduk, dan membakar batin gadis angkuh itu sedikit lebih lama lagi di dalam ruang kantornya.

"Gus..."

Sebuah suara parau yang terdengar sangat lemah tiba-tiba memanggil namanya dari arah lobi utama gedung pencakar langit tersebut. Bagus menolehkan kepalanya dengan perlahan, sangat tenang. Dari kejauhan, tampak siluet Sri sedang berjalan tergesa-gesa keluar menembus pintu kaca lobi. Penampilan fisik gadis itu saat ini benar-benar tampak sangat kontras, berbanding terbalik 180 derajat dengan sosok Sri yang berwajah angkuh dan sombong beberapa hari yang lalu. Rambut hitam panjangnya yang biasa tertata rapi bin modis kini tampak agak acak-acakan tak terurus. Kedua kelopak matanya terlihat sangat sembab, memerah, dan bengkak akibat sisa tangis histeris yang sejak subuh tidak bisa ia bendung lagi. Langkah kakinya yang beralaskan sepatu hak tinggi bahkan tampak sangat goyah, gemetar seolah-olah seluruh sisa energi kehidupan di dalam tubuhnya telah habis terkuras habis hanya untuk menopang berat badannya agar tidak langsung ambruk ke atas aspal parkiran.

Begitu jarak di antara mereka berdua sudah dekat, Sri sama sekali tidak memperdulikan lagi batasan status sosial atau tatapan mata heran dari beberapa satpam gedung yang sedang berjaga di dekat pos palang parkir. Logika sehat, rasa gengsi yang tinggi, serta status terhormatnya sebagai staf administrasi di sebuah perusahaan asing elite seketika menguap terbang tak berbekas begitu saja. Semuanya kalah telak oleh cambukan energi gaib tak kasat mata yang terus-menerus memelintir ulu hati dan memanaskan isi kepalanya. Hawa rindu yang pekat dan hitam telah mengambil alih secara total seluruh sistem saraf motorik dan kendali emosinya.

"Gus, kenapa... kenapa kamu tidak balas satupun pesanku?" suara Sri bergetar hebat menahan tangis yang kembali membuncah. Tanpa ragu, ia langsung maju mendekat dan memegang lengan jaket ojol milik Bagus, mencengkeram kain tebal itu dengan sangat erat seolah-olah ia sangat takut pemuda di hadapannya ini akan menghilang secara gaib jika ia lepaskan barang sedetik saja. "Aku minta maaf, Gus. Aku salah. Tolong jangan diamkan aku seperti ini lagi... Rasanya sakit sekali, dadaku sesak..."

Bagus tidak langsung iba. Dengan gerakan yang kasar, ia menepis tangan Sri hingga cengkeraman gadis itu terlepas dari jaketnya. Ia menatap tajam gadis itu dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan seulas senyum sinis yang mengembang di bibirnya. "Sakit? Bukannya beberapa hari lalu kamu sendiri yang bilang kalau kasta dan level kita beda jauh, Sri? Bukannya kamu bilang kehadiranku cuma bikin kamu risih dan memalukan? Lalu kenapa sekarang kamu malah merendahkan diri nyamperin kurir miskin kayak aku begini?"

Setiap patah kata dingin yang keluar dari mulut Bagus terasa seperti sayatan sembilu yang menusuk dalam ke jantung Sri. Tetapi anehnya, penolakan dan perlakuan dingin dari Bagus itu justru membuat aliran hawa mistis di dalam tubuh Sri semakin bergejolak liar dan semakin agresif mengikat jiwanya. Batin Sri seolah-olah dipaksa secara paksa oleh kekuatan yang sangat halus untuk terus merendahkan harga dirinya demi bisa mendapatkan secuil perhatian atau senyuman dari Bagus. Air mata Sri kembali tumpah deras membasahi pipinya. Dengan getaran hebat yang menjalar di seluruh persendian tubuhnya, Sri perlahan-lahan menekuk kedua lututnya ke bawah. Di atas permukaan aspal area parkir yang terasa panas menyengat oleh terik matahari siang itu, Sri bersujud pasrah. Kedua tangannya yang gemetar kini memegangi ujung sepatu kain milik Bagus yang sudah usang dan robek di beberapa bagian.

"Aku mohon, Gus... Tolong maafkan aku," isak Sri tertahan, suaranya terdengar sangat teredam oleh suara tangisnya yang mulai berubah histeris. "Aku sudah tidak peduli lagi kamu kerja apa sekarang. Aku tidak peduli motor kamu ini masih kredit atau nunggak. Aku cuma mau kamu ada di dekatku, Gus. Jangan pernah tinggalin aku lagi. Dadaku rasanya mau meledak dan sesak sekali kalau kamu tidak ada. Tolong jangan hukum aku seperti ini..."

Beberapa karyawan kantor lain dan orang-orang yang kebetulan sedang berjalan lewat di sekitar parkiran mulai berhenti, berbisik-bisik, sambil memandangi adegan dramatis di siang bolong itu dengan tatapan mata yang tidak percaya. Mereka menyaksikan sebuah pemandangan yang gila: seorang wanita karier berpenampilan sangat modis dan berwajah cantik, rela bersujud pasrah di kaki seorang pemuda miskin berjaket ojol dekil. Namun, Sri saat ini sudah benar-benar buta, tuli, dan mati rasa terhadap segala bentuk penilaian dari dunia luar. Di dalam tempurung kepalanya, sudah tidak ada lagi ruang untuk rasa malu. Hanya ada satu perintah mutlak tunggal yang terus-menerus digemakan oleh khodam Jaran Goyang: Tunduklah pada pria ini, serahkan jiwamu padanya, atau batinmu akan tersiksa dalam api rindu selamanya.

Menyaksikan pemandangan luar biasa di bawah kakinya, Bagus merasakan sebuah kepuasan batin yang teramat sangat luar biasa membubung tinggi di dalam dadanya. Rasa sakit hatinya yang teramat mendalam dan harga dirinya yang diinjak-injak tempo hari di pojok tempat sampah kini telah terbayar lunas, tunai tanpa sisa. Keangkuhan Sri yang setinggi langit akhirnya runtuh, luluh lantak menjadi debu di bawah telapak kakinya yang kotor. Bagus perlahan turun dari atas motornya, lalu memegang kedua bahu Sri dan menarik tubuh gadis itu agar kembali berdiri tegak.

Ajaibnya, begitu sentuhan fisik tangan Bagus mendarat di permukaan kulit bahunya, Sri seketika merasakan sebuah aliran hawa sejuk yang instan mengalir deras ke dalam dadanya, meredakan semua rasa sakit, ketegangan, dan sesak yang tadinya seakan mau membuat jantungnya meledak. Sri menatap lurus ke dalam manik mata Bagus dengan pandangan mata yang sangat sayu, pasrah, dan penuh rasa ketergantungan yang mutlak persis seperti seekor kuda liar yang tangguh, namun kini telah berhasil ditekuk, dijinakkan, dan dipasangi pelana sepenuhnya oleh sang pemilik cambuk sakti.

"Ya sudah, hapus air matamu itu," kata Bagus dengan nada suara yang kini sengaja melunak, berpura-pura manis dan perhatian di depan Sri. "Aku sudah memaafkan semua kesalahanmu yang kemarin. Sekarang, ikut aku naik ke motor."

Sri mengangguk dengan sangat cepat tanpa ada rasa ragu sedikitpun di wajahnya. Ia bahkan sama sekali tidak memikirkan lagi tas kerjanya yang masih tertinggal di atas meja kubikel kantor lantai sepuluh, atau fakta logis bahwa ia telah meninggalkan jam kerja nya begitu saja tanpa izin atasan di tengah hari kerja. Bagus kembali naik ke atas jok motor Beat karbunya, dan Sri dengan sigap langsung membonceng di bagian belakang. Kedua tangannya memeluk erat pinggang Bagus dengan sangat kencang, menyandarkan wajah sembabnya di punggung pemuda itu seolah-olah punggung berjaket ojol itulah satu-satunya poros dan pusat kehidupan yang tersisa bagi dirinya di alam semesta ini.

“Ketika takdir telah dibalikkan oleh kekuatan mantra, singgasana kesombongan akan runtuh menjadi tempat sujud yang paling hina. Kau yang dulu mencaci dalam kemewahan, kini dengan sukarela memeluk erat kemiskinan demi sebutir ketenangan yang semu.”

— Sang Alifas Yang Merumput

1
❤️⃟Wᵃf✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ🤎❥␠⃝ ͭ🍁𝓷𝓲ѕ⍣⃝✰
wah mau apa tuh bagus
Wijaya Mandiri Media Studio: mau ke dukun bagus nya hehehe Semar mesem 😁
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!