NovelToon NovelToon
Jodoh Pilihan Untuk Sang CEO

Jodoh Pilihan Untuk Sang CEO

Status: tamat
Genre:CEO / Cinta setelah menikah / Percintaan Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:3.2M
Nilai: 5
Nama Author: Sylvia Rosyta

Karya ini telah terpilih sebagai kandidat YAAW 2026 periode 1 kategori 1🥳🎉🎉🎉

Di hari pernikahannya, Farhan Bashir Akhtar dipermalukan oleh calon istrinya yang kabur tanpa penjelasan. Sejak saat itu, Farhan menutup rapat pintu hatinya dan menganggap cinta sebagai luka yang menyakitkan. Ia tumbuh menjadi CEO arogan yang dingin pada setiap perempuan.

Hingga sang ayah menjodohkannya dengan Kinara Hasya Dzafina—gadis sederhana yang tumbuh dalam lingkungan pesantren. Pertemuan mereka bagai dua dunia yang bertolak belakang. Farhan menolak terikat pada cinta, sementara Kinara hanya ingin menjadi istri yang baik untuknya.

Dalam pernikahan tanpa rasa cinta itu, mampukah Kinara mencairkan hati sang CEO yang membeku? Atau justru keduanya akan tenggelam dalam luka masa lalu yang belum terobati?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Aura dingin yang dulu selalu melekat padanya kini tidak lagi terasa menekan. Tatapan matanya masih tajam, tetapi tidak lagi terlihat arogan. Ada ketenangan yang menyelip di sana. Seolah Farhan tidak lagi berdiri di hadapan dunia dengan tembok tinggi, melainkan dengan kesadaran penuh akan dirinya sendiri.

Beberapa karyawan yang kebetulan berpapasan dengannya spontan menghentikan langkah mereka.

“Selamat pagi, Pak Farhan,” sapa salah satu staf dengan suara hati-hati, seperti biasanya.

Farhan berhenti sejenak.

Gerakan kecil itu saja sudah cukup membuat orang-orang di sekitarnya tertegun. Biasanya, Farhan hanya akan mengangguk singkat, bahkan sering kali hanya melewati mereka tanpa ekspresi. Tapi pagi ini, ia menoleh.

“Pagi,” jawabnya singkat dengan suaranya yang tenang.

Karyawan itu tampak sedikit terkejut. Ia membalas anggukan Farhan dengan senyum kikuk, lalu melangkah pergi sambil melirik rekan di sampingnya. Farhan kembali melangkah masuk ke dalam gedung. Beberapa meter kemudian, ia kembali berpapasan dengan dua karyawan lain dari divisi keuangan.

“Selamat pagi, Pak,” ucap mereka hampir bersamaan yang membuat Farhan mengangguk, lalu berkata,

“Selamat pagi.”

Kali ini, ia bahkan menyelipkan senyum tipis.

Dan itu cukup membuat kedua karyawan tersebut saling bertukar pandang dengan mata membelalak.

“Apa barusan pak Farhan senyum sama kita?” bisik salah satu dari mereka setelah Farhan berlalu.

“Lo juga lihat, kan?” sahut yang lain dengan suara nyaris tak percaya.

Farhan tidak mendengar percakapan itu. Atau mungkin mendengarnya, tapi memilih tidak peduli. Langkahnya tetap mantap menuju lift khusus CEO. Pintu lift menutup perlahan, membawa Farhan naik ke lantai tertinggi gedung itu.

Di dalam lift yang sunyi, Farhan berdiri sendiri. Ia menatap pantulan dirinya di dinding lift yang mengilap. Wajah yang sama. Postur yang sama. Tapi ia tahu, ada sesuatu di dalam dirinya yang mulai berubah. Ia menghela napas pelan, lalu menutup matanya sejenak.

Entah sejak kapan, pagi ini terasa lebih ringan.

Pintu lift terbuka.

Farhan melangkah keluar dan langsung menuju ruang kerjanya. Ruangan itu luas, didominasi warna gelap dan jendela kaca besar yang menghadap ke kota. Meja kerjanya terlihat rapi seperti biasa, tidak pernah ada yang berubah di sana. Begitu pintu ruangannya tertutup, Farhan meletakkan tas kerjanya di sisi meja, lalu melonggarkan sedikit dasinya. Ia menekan tombol interkom di mejanya.

“Raka,” panggilnya.

Tak lama kemudian, suara dari seberang terdengar.

“Iya, Pak.”

“Tolong ke ruang saya sekarang.”

“Baik, Pak.”

Farhan duduk di kursi kerjanya dan menyandarkan punggungnya dengan santai. Matanya menatap keluar jendela, menyapu gedung-gedung tinggi yang berdiri angkuh. Dulu, pemandangan itu selalu membuatnya merasa berkuasa. Sekarang, semua itu terasa berbeda. Ia hanya melihatnya sebagai bagian dari hidupnya. Beberapa menit kemudian, terdengar ketukan di luar pintu.

“Masuk,” ucap Farhan.

Raka masuk dengan iPad di tangannya. Asisten pribadinya itu masih terlihat sama, rapi, profesional, dan selalu sigap. Namun sejak pagi tadi, ia juga menyadari ada sesuatu yang berbeda dari atasannya.

“Selamat pagi, Pak,” sapa Raka dengan sopan.

“Pagi,” balas Farhan. “Duduklah.”

Raka duduk di kursi di seberang meja, sembari membuka Ipad-nya.

“Agenda hari ini, Pak,” ucapnya mulai membacakan dengan suara formal. “Pukul sembilan ada rapat dengan divisi operasional untuk membahas laporan kuartal. Pukul sebelas, conference call dengan cabang Singapura. Siang, makan siang kerja dengan jajaran direksi anak perusahaan. Lalu sore hari, review proposal investasi dari mitra Jepang.”

Farhan mendengarkan dengan seksama sembari sesekali mengangguk.

“Saat di meeting internal nanti, pastikan semua kepala divisi hadir,” kata Farhan. “Aku ingin laporan yang lengkap. Kalau ada masalah, jangan ditutup-tutupi.”

Raka sedikit terkejut dengan kalimat itu, tapi segera mengangguk.

“Baik, Pak.”

Farhan menyilangkan jari-jarinya di atas meja.

“Ada lagi?”

Raka terdiam sejenak. Gerakan kecil itu tidak luput dari perhatian Farhan.

“Ada apa?” tanya Farhan yang membuat Raka menelan ludah kecil. Tatapannya turun ke iPad di tangannya, lalu naik kembali menatap Farhan. Ekspresinya terlihat sedikit canggung, sesuatu yang jarang terjadi.

“Sebenarnya… ada satu agenda tambahan, Pak,” ucap Raka dengan hati-hati, membuat Farhan menunggu dan tidak memotong perkataannya.

“Pagi ini, sekitar pukul sepuluh, kita kedatangan utusan dari Dubai, pak.” lanjut Raka. “Mereka ingin membahas rencana kerja sama di bidang properti internasional.”

Farhan mengangguk pelan.

“Kenapa tidak langsung kamu sampaikan dari tadi?” tanya Farhan yang membuat Raka terdiam lebih lama kali ini.

“Karena…,” ia menghela napas pendek, “perwakilan yang datang adalah seorang perempuan, Pak.”

Ruangan itu mendadak sunyi.

Farhan tidak langsung bereaksi. Wajahnya tetap datar, tapi matanya bergerak perlahan, menatap lurus ke depan. Ingatan lama seolah menyusup tanpa diundang. Tentang masa lalu yang membuatnya membangun tembok tinggi terhadap dunia, terutama terhadap perempuan. Raka melanjutkan dengan suara lebih pelan,

“Saya tahu selama ini Bapak selalu menolak bertemu dengan klien perempuan secara langsung. Jadi, saya ragu apakah agenda ini tetap ingin Pak Farhan jalankan atau tidak.”

Beberapa detik berlalu tanpa suara, Farhan menghela napas perlahan.

“Aku tahu,” katanya akhirnya. Suaranya tenang, tidak keras, tidak pula dingin. “Kamu hanya menjalankan tugasmu.”

Ia menoleh ke arah Raka. Tatapannya terlihat tajam, tapi tidak mengintimidasi.

“Siapa namanya?” tanya Farhan yang membuat Raka sedikit terkejut.

“Namanya Nadine Al-Farisi, Pak. Perwakilan utama dari Al-Farisi Group.” ucap Raka yang membuat Farhan mengangguk kecil.

“Baik.”

Raka menunggu perintah dari Farhan dengan sedikit tegang.

“Jadwalkan pertemuannya,” kata Farhan akhirnya. “Aku akan menemuinya.”

Mata Raka melebar tanpa bisa ia sembunyikan.

"Tapi pak?” Ia ragu-ragu. “Apakah pak Farhan yakin?”

Farhan tersenyum tipis. Senyum yang tidak pernah Raka lihat sebelumnya, senyum seseorang yang sedang mencoba berdamai dengan dirinya sendiri.

“Raka,” ucap Farhan pelan, “aku tidak bisa terus hidup dengan membenci sesuatu hanya karena masa lalu.”

Kalimat itu membuat Raka terdiam.

“Kerja sama ini penting untuk perusahaan,” lanjut Farhan. “Dan aku tidak akan mencampuradukkan urusan pribadi dengan pekerjaan. Kalau aku ingin berubah, aku harus mulai dari sini juga.”

Raka mengangguk perlahan.

“Baik, Pak. Saya akan atur pertemuannya.”

Setelah Raka keluar dari ruangan, Farhan kembali bersandar di kursinya. Ia menatap langit di luar jendela ruangannya yang terlihat biru dan terang. Di benaknya, wajah Kinara terlintas, senyum lembutnya, tatapannya yang penuh doa, cara sederhana perempuan itu yang mengantarnya di teras rumah pagi tadi. Membuat Farhan tersenyum kecil. Perubahan ini tidak mudah. Tapi untuk pertama kalinya, Farhan merasa ia tidak takut menghadapinya.

Farhan yakin, dirinya bisa berubah jika ia mau berusaha, apalagi setelah ia mendapat dukungan penuh dari istrinya Kinara yang selalu setia dan sabar membimbingnya menuju perubahan itu.

1
riana rayyan
👍👍
𝓮𝓵𝓯𝓪𝓷𝓪𝔂𝓪 ₳ⱤⱤ₣₳₳ 🕸🌪
kamu harus bisa lawan adilla jgn jd wanita lemah untuk ngadepin ulet bulu itu
𝓮𝓵𝓯𝓪𝓷𝓪𝔂𝓪 ₳ⱤⱤ₣₳₳ 🕸🌪
Dasar perempuan gk tau diri 😠 dlu ninggalin farhan demi karir modeling nya skrng karir nya hancur mau balikan situ waras 🤪
𝓮𝓵𝓯𝓪𝓷𝓪𝔂𝓪 ₳ⱤⱤ₣₳₳ 🕸🌪
astaga ada bibit² pelakor 😠 fix wanita mcm adilla patut dibasmi
Lidya
lvmb0696665⁴5555⁵57777779999900000444444443333333322222221112111111112225bkvhyckpy8d. yd8 dy7ts,ourxs5ullistts57wpppw58e5p8e86ee6idiyud55upddu5opu5du5dl5uldotus5uosu45uostuodiyfptifp5udpurtriytpue5eupu5peofytdilsektkteshvltdudbbcjckfukljxgkgdalfxhjxglfhoyrspsutglfjoy4sis46o46688rhnvbkhydkpie6i5dfukltjsrab.v. f
b,fykxjfy
Farida Kirana
apa ga ada cctv thor ,semoga farhan balik maaf
Farida Kirana
jgn sampai kinara kenapa2 thor ,buat ulat keket itu kalah debat sama da lila itu ,buat kapok ,ga tahu diri sekali ,
Faris Setyawan Fais
4 jam ? bah, kuat juga berarti mereka 🤣🤭
echa purin
👍👍
Mu Shofihin
🥰😍😍
Niza Neza
bukannya memang sdh berakhir. mimpi sambil jalan apa si Adila ini.
Barnabi Hadi Susila
💪
Niza Neza
orang kaya pelit. bayar Art kn bisa. dn jg bisa buat temenin istri sexan
Niza Neza
baca cerita yg ada model wnita macam Adilah ko rasanya jijik .pingin muntah bahkn mau lanjut baca aja kaya sayang banget buang2 waktu baca yg menjinik kn
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: sabar kak sabar, jangan kebawa emosi,ini cuma novel🤣🤣🤣
total 1 replies
Niza Neza
seorang perempuan berkelas katanya.. tp ditolak tdk mau. dimana harga diri ya
Niza Neza
model tp cara berfikirnya tetlalu kotor. tdk menetima kekalahan tp justru menampilkn betapa rendah moral dn harga dirinya
MayAyunda
Bagus ..lanjut kak
Niza Neza
apa memang dunia model itu rata2 sprt itu yaaa. setiap membaca cerita yg ada modelnya pasti si model adalah wanita yg bermoral rendah . ahkaq 0 bahkn terlalu menyombongkn diri nya sendiri. bahwa model adalah manusia tanpa celah cantik cerdas dn banyak penggemar tp otak blangsak.
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: tergantung modelnya sendiri kak
total 1 replies
💗 AR Althafunisa 💗
Lagian kaya-raya kagak punya art 😂 terus itu ga kasih kabar ke orangtua, kemarin paling excited banget papanya biar anaknya sembuh lukanya. Belum lagi mertua, jadi kaya hidup berduaan doang 😌
💗 AR Althafunisa 💗
Orang kaya udah kagak ada ART, kagak punya cadangan kunci pulak 😌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!