Bebas dari tuduhan konspirasi penculikan yang dirancang mantan kekasihnya, Michaela Hokked (24) memilih mati demi melepaskan diri dari masa lalu yang busuk.
Namun, takdir memiliki selera humor yang kejam.
Pelariannya menuju Los Angeles hancur bersama taksi yang ia tumpangi dalam kecelakaan maut yang meremukkan wajahnya.
Enam bulan koma dan melewati enam
Kali operasi wajah, Michaela terbangun dengan rupa baru: wajah cantik milik Cecilia Lynch, wanita bermata teduh yang kecelakaan bersamanya.
Kini, Michaela terjebak sebagai 'Cecilia' di hadapan Killian Vale-Knight (28 th) pria berkuasa yang mengaku sebagai kekasih jarak jauh Cecilia.
Tanpa kecurigaan, keluarga miliarder itu menghujaninya dengan kasih sayang yang tak pernah ia miliki.
Namun, kenyataan pahit menghantam: Cecilia asli tewas dalam keadaan hamil, Mencuri identitas Cecilia adalah tiket kebebasannya, atau justru awal dari labirin misteri yang mematikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
010
Ketegangan di dalam kamar pengantin itu seolah membeku menjadi butiran es yang tak kasat mata.
Michaela masih berdiri dengan kedua tangan yang bergetar hebat, mempertahankan posisi guci Gucci berat itu di atas kepalanya.
Otot-otot lengannya yang belum pulih sempurna menjerit kelelahan, mengirimkan rasa linu yang membakar hingga ke bahu.
Namun, dia menolak untuk menurunkan senjatanya. Jiwa bertahan hidupnya melarangnya untuk menunjukkan kelemahan sedikit pun di hadapan pria yang kini menatapnya dengan badai misteri di matanya.
Killian sendiri tidak bergerak. Pria itu berdiri terpaku, mengabaikan ancaman fisik dari guci di tangan Michaela, melainkan tenggelam dalam labirin pikirannya sendiri.
Tatapan matanya yang sedingin es mengunci manik mata Michaela, mencoba menguliti esensi dari wanita yang baru saja dinikahinya. Sikap nekat, bahasa tubuh yang defensif, dan aura liar yang dipancarkan wanita ini sama sekali tidak mencerminkan seorang Rose yang anggun dari sindikat Madam’s Roses.
Atmosfer di dalam kamar itu benar-benar penuh dengan tatapan dingin yang saling mengunci, hingga keheningan yang mencekam itu tiba-tiba dipecahkan oleh sebuah suara dari luar.
Tok... Tok... Tok.
Sebuah ketukan mendarat di pintu kayu mahoni kamar pengantin tersebut.
Ketukan itu memiliki ritme yang lambat, konstan, dan sarat akan otoritas yang tenang—sebuah ritme yang sangat spesifik, yang membuat Killian langsung paham siapa pelakunya tanpa perlu bertanya.
Itu adalah ketukan khas dari Daddy-nya, Kaelor Vale-Knight.
Killian menarik napas dalam-dalam, mengalihkan pandangannya dari Michaela sejenak.
Dia membetulkan kerah kemejanya yang sempat berantakan dengan satu gerakan tangan yang anggun namun dingin, lalu kembali menatap Michaela dengan kilat mengintimidasi.
"Jangan keluar ataupun berani melangkah ke mana-mana," ucap Killian, suaranya kembali ke mode bariton yang rendah, tajam, dan penuh ancaman mutlak. "Aku akan segera kembali."
Michaela tidak menjawab. Dia hanya menurunkan gucinya perlahan setelah Killian berbalik memunggunginya, namun matanya tetap waspada mengawasi setiap pergerakan pria itu hingga Killian melangkah keluar dan menutup pintu kamar dengan rapat.
Klik.
Suara anak kunci yang diputar dari luar terdengar begitu jelas di telinga Michaela.
Killian menguncinya. Michaela menurunkan guci itu ke atas lantai dengan perlahan, lalu luruh duduk di tepi tempat tidur, mencengkeram kepalanya yang mendadak terasa berdenyut pening. Dia terkurung di dalam sangkar emas ini.
...oOo...
Di koridor luar yang diterangi lampu dinding temaram, Killian langsung dihadapkan dengan sosok sang Daddy.
Kaelor Vale-Knight berdiri tegak dengan setelan jas formalnya yang kini sudah tidak lagi menggunakan dasi.
Garis-garis tegas di wajah pria paruh baya itu memancarkan keletihan setelah seharian menghadiri pertemuan bisnis, namun matanya memancarkan keseriusan yang mendalam saat menatap putra sulungnya.
"Ada yang ingin Daddy katakan padamu," ucap Kaelor tanpa basa-basi, suaranya berat dan bergaung pelan di koridor yang sunyi.
"Ini soal wanita hamil yang meninggal di dalam taksi malam itu. Mari ikut Daddy."
Kaelor berbalik tanpa menunggu jawaban dari Killian, melangkah dengan tegap menuju ujung koridor lantai dua di mana ruang kerja pribadinya berada.
Killian mengerutkan keningnya, rasa penasaran yang pekat langsung merayapi benaknya.
Dia mengepalkan tangan di dalam saku celananya, lalu melangkah lebar mengikuti jejak sang ayah.
Mereka berdua memasuki ruang kerja Kaelor—sebuah ruangan luas yang didominasi oleh rak-rak buku tua yang menjulang tinggi hingga ke langit-langit, meja kerja dari kayu oak hitam, dan aroma maskulin dari tembakau dan kulit yang khas.
Kaelor berjalan ke balik meja kerjanya, menyalakan lampu meja yang berpendar kuning hangat, lalu melemparkan sebuah map dokumen berwarna cokelat di atas permukaan meja.
"Duduklah, Killian," perintah Kaelor perlahan.
Killian menarik kursi kulit di hadapan meja sang ayah lalu mendudukkan dirinya.
Matanya langsung tertuju pada map dokumen tersebut.
"Apa ini, Dad? Bukankah kasus kecelakaan taksi enam bulan lalu sudah ditutup oleh pihak kepolisian sebagai kecelakaan tunggal akibat rem blong?"
Kaelor menghembuskan napas panjang, menyandarkan tubuhnya pada kursi kebesarannya.
Wajahnya terlihat sangat serius, bahkan ada gurat kemarahan yang tertahan di balik ketenangannya.
"Secara hukum publik, ya, kasus itu sudah ditutup. Tapi kau tahu sendiri bahwa Millian tidak pernah berhenti menggali informasi jika itu menyangkut keselamatan keluarga kita," Kaelor mengetuk map cokelat itu dengan jarinya.
"Laporan otopsi menyeluruh dan penyelidikan latar belakang forensik dari jenazah wanita hamil 24 tahun yang tewas di tempat kejadian baru saja selesai diverifikasi secara independen sore ini oleh tim Millian."
Killian mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya menyipit tajam.
"Lalu? Apa yang mereka temukan?"
"Wanita hamil yang meninggal di dalam mobil bersama Cecilia malam itu... ternyata bukan siapa-siapa," ucap sang ayah dengan nada yang terdengar berat.
"Dia adalah seorang tunawisma, gadis jalanan miskin tanpa identitas resmi yang sering berkeliaran di sekitar pelabuhan dan kawasan San Francisco. Namanya bahkan tidak terdaftar di sistem sipil manapun, tapi beberapa saksi di jalanan mengenalinya sebagai salah satu gelandangan yang kerap meminta-minta."
Deg.
Killian tertegun di kursinya. Otak bisnisnya yang cerdas langsung merangkai benang merah dari informasi baru ini.
"Sialan..." desis Killian dari sela giginya, rahangnya mengatup rapat hingga urat-urat di pelipisnya menonjol.
"Mereka benar-benar menggunakan korban."
Di dalam benak Killian, skenario yang dipahaminya adalah: Sindikat Madam's Roses telah mengendus bahwa rencana mereka untuk menjebak dirinya telah bocor.
Mereka tahu bahwa taksi yang ditumpangi Cecilia malam itu telah diincar.
Oleh karena itu, Cecilia Lynch yang cerdik sengaja mencari seorang wanita hamil tunawisma yang tidak berdaya dari jalanan, membujuknya masuk ke dalam taksi yang sama untuk dijadikan tameng hidup atau pengalih perhatian demi menyelamatkan nyawanya sendiri.
Namun Sayang Dirinya Tetap Berakhir Koma Enam Bulan di Rumah sakit.
Di mata Killian, ini adalah bukti mutlak betapa kejam dan berdarah dinginnya jaringan wanita-wanita Roses tersebut.
Mereka tidak segan mengorbankan nyawa orang miskin yang tidak bersalah demi kelancaran misi mereka.
Killian sama sekali tidak menyadari, bahwa wanita tunawisma yang dimaksud dalam laporan itu adalah Michaela Hokked yang asli, dan wanita yang saat ini dikuncinya di dalam kamar pengantin adalah sang pemilik nama asli tersebut yang kini hidup di balik wajah Cecilia.
Kaelor menatap putranya yang sedang dilingkupi amarah yang membakar.
Dia tahu persis bagaimana hancurnya hati Killian ketika mendapati cinta pertamanya ternyata adalah sebuah penipuan Teratur.
Namun sebagai seorang ayah, dan sebagai seorang pria yang sangat mencintai keluarganya, Kaelor memiliki kekhawatiran lain.
"Bagaimana dengan istrimu sekarang di dalam kamar?" tanya sang Daddy, mengubah topik pembicaraan dengan nada suara yang melunak namun sarat akan penekanan.
Killian mengangkat kepalanya, matanya masih berkilat dingin. "Dia ada di kamar. Menunjukkan wajah aslinya yang kasar setelah topengnya kukuliti."
Kaelor mengembuskan napas berat, menatap lurus ke dalam mata putra sulungnya. "Killian, Daddy tahu kau terluka. Daddy tahu rasa dikhianati oleh wanita yang kau cintai itu rasanya seperti mati hidup-hidup. Tapi Daddy mohon padamu... seperti apa pun kesalahannya, seperti apa pun busuknya latar belakang wanita itu, jangan pernah kau perlakukan dia dengan kasar secara fisik di rumah ini."
Killian mendengus sinis, hendak memprotes, namun Kaelor segera mengangkat tangan untuk memotong kalimat putranya.
"Dengarkan Daddy," lanjut Kaelor, ekspresi wajahnya berubah menjadi sedikit cemas yang jarang dia tunjukkan.
"Apa lagi jika Mommy-mu sampai tahu soal tujuan asli dari pernikahanmu ini. Kau tahu sendiri bagaimana Mommy sangat menyayangi Cecilia sejak wanita itu terbaring koma. Di mata Mommy-mu, Cecilia adalah menantu malang yang harus dilindungi. Jika Mommy-mu sampai mencium sedikit saja bahwa kau menikahi wanita itu hanya untuk menjadikannya sandera dan menyiksanya sebagai bentuk balas dendam... Daddy tidak akan siap dengan kemarahannya. Kau tahu betul bagaimana Mommy mu jika sudah mengamuk demi membela orang yang dianggapnya tertindas. Rumah ini akan berubah menjadi medan perang yang sesungguhnya."
Killian terdiam.
Bayangan tentang sang Mommy, Suzzy Vale-Knight, yang begitu lembut namun bisa berubah menjadi singa betina yang mengerikan jika emosinya tersulut, melintas di kepalanya.
Killian sangat menghormati ibunya, dan dia tidak ingin merusak kebahagiaan orang tuanya, terutama sang Mommy yang baru saja menyambut pernikahan ini dengan air mata haru yang tulus di kapel tadi pagi.
Killian mengepalkan tangannya di atas lutut, mencoba meredam gejolak amarah dan ego lelakinya yang terluka.
Dia menarik napas dalam-dalam, mengendurkan ketegangan di bahunya, lalu menatap sang Daddy dengan kepatuhan yang dingin.
"Ya, Dad. Aku tahu batasan," jawab Killian akhirnya, suaranya terdengar datar namun patuh.
"Aku tidak akan menyentuhnya secara kasar hingga meninggalkan bekas yang bisa dilihat Mommy. Tapi aku tidak akan membiarkannya hidup tenang di bawah atap ini. Dia harus membayar setiap waktu, dan setiap air mata kebohongan yang telah dia jatuhkan untuk menipuku."
Kaelor menatap putranya lama, lalu mengangguk pelan, menerima kompromi tersebut.
"Bagus. Sekarang kembalilah ke kamarmu. Selesaikan apa yang harus kau selesaikan tanpa membuat keributan yang bisa memicu kecurigaan adik-adikmu."
Killian berdiri dari kursinya, memberikan anggukan hormat pada sang ayah, lalu berbalik melangkah keluar dari ruang kerja dengan aura dingin yang kembali menyelimuti tubuhnya.
Di dalam kepalanya, skema balas dendam baru yang lebih halus namun menyiksa secara psikologis mulai terbentuk untuk mawar penipunya di dalam kamar.
itu Mischa kenapa muntah? mungkin kah hamil 🤨🤨🤨