NovelToon NovelToon
Istri Seksi Gus Ibra

Istri Seksi Gus Ibra

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Nikahmuda
Popularitas:22.3k
Nilai: 5
Nama Author: Elma Grace

​"Bagaimana jadinya kalau gadis nakal harus takluk menghadapi anak dari pemilik pesantren?"


Tsabita Azzahra, sebagai bentuk protes karena selalu dibanding-bandingkan dengan kakaknya, Safira, yang nyaris sempurna, Bita memilih hidup bebas: nongkrong di lounge elite, pulang subuh, dan akrab dengan kehidupan malam.

​Puncaknya, setelah mabuk berat akibat patah hati, Bita membuat kekacauan terbesar dalam hidupnya. Di area parkir remang-remang, ia mengira seorang cowok jangkung yang sedang duduk tenang di atas moge hitamnya adalah tukang parkir. Dengan lancang, Bita memaki-maki cowok itu, menarik kerah bajunya, dan... muntah tepat di atas sepatu sneakers mahal si cowok sebelum akhirnya pingsan.

Sepanjang insiden itu, si cowok hanya diam, menatap Bita dengan pandangan dingin yang tidak terbaca, lalu menolongnya dengan tenang.

​​Kehabisan kesabaran, orang tua Bita memberikan hukuman final: Bita dijodohkan dengan anak pemilik salah satu Pesantren.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elma Grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26

Pagi itu, suasana di ruang tengah ndalem jauh lebih rileks daripada hari-hari sebelumnya. Di layar televisi pintar yang tertempel di dinding ruang tengah, sebuah berita dari saluran televisi bisnis nasional sedang menyiarkan perkembangan terbaru kasus pencemaran nama baik yang menimpa menantu Pesantren Al-Madani.

​"Pihak Polda Metro Jaya pagi ini mengonfirmasi telah menaikkan status terlapor R-N menjadi tersangka atas kasus pelanggaran UU ITE dan pengancaman. Dampak dari kasus ini, saham dari perusahaan holding milik keluarga R-N dilaporkan melemah hingga lima persen pada pembukaan perdagangan pagi ini..."

​Bita meletakkan cangkir tehnya, matanya terpaku pada layar televisi. Ada perasaan lega yang luar biasa, namun juga sedikit tidak percaya semuanya berjalan begitu cepat.

​"Masih kepikiran?" tanya Ibra, memecah lamunan Bita. Pria itu baru saja duduk di sampingnya setelah menyelesaikan halakah subuh bersama para santri.

​Bita menoleh, menggeleng pelan sambil tersenyum. "Enggak kok, Gus. Cuma... rasanya aneh aja lihat muka Reno dipajang di televisi dengan status tersangka. Biasanya dia yang selalu merasa paling berkuasa."

...****************...

​Tiga minggu telah berlalu sejak badai siber yang diotaki Reno berhasil diredam sepenuhnya. Perlahan namun pasti, kehidupan di Pesantren Al-Madani kembali ke ritme normalnya yang tenang. Bita dan Ibra pun sudah kembali ke rumah mereka.

​Sore itu, bias matahari terbenam menyusup masuk melalui celah gorden tipis, menerangi dapur bersih yang menyatu dengan ruang tengah. Aroma gurih tumisan bawang merah dan daun salam menguar manis, memenuhi ruangan.

​Bita, dengan rambut yang dikuncir kuda asal dan apron linen abu-abu yang membungkus kaos santainya, sedang sibuk mengaduk nasi di dalam rice cooker digital, memastikan teksturnya pulen sempurna sebelum dipadukan dengan lauk sederhana yang sedang ia siapkan.

​Sebuah pasang lengan kekar tiba-tiba melingkar lembut di pinggangnya dari arah belakang. Bita terlonjak kecil, namun detik berikutnya ia langsung merelaksasikan tubuhnya saat mencium aroma handuk segar dan parfum maskulin yang sangat ia kenali.

​"Gus, ih! Kaget tahu!" protes Bita, meski ia tidak berniat melepaskan diri dari dekapan itu.

​Ibra menyandarkan dagunya di pundak Bita, menatap ke dalam panci rice cooker. "Masak apa sore ini, Istriku? Aromanya sampai terdengar ke ruang kerja."

​"Aroma itu dicium, Gus, bukan didengar," ralat Bita sambil terkekeh geli. Ia membalikkan tubuhnya sedikit, membuat hidung mereka hampir bersentuhan. "Aku cuma masak nasi pulen, terus mau bikin sambal bawang sama goreng tempe dan ayam ungkep yang dikasih Umi tadi siang. Sederhana banget, kamu mau?"

​"Apa pun yang kamu siapkan, aku pasti mau," bisik Ibra lembut, mengecup sekilas pipi Bita yang tanpa riasan namun terlihat merona alami. "Lagipula, sejak kapan seorang Tsabita yang dulu hobi nongkrong di kafe sekarang jadi pinter mainan spatula di dapur?"

​Bita cemberut, sengaja menyenggol dada bidang Ibra dengan sikutnya. "Kan belajar, Gus. Malu tahu sama Umi. Kemarin pas Umi ke sini, aku ditanya bisa masak nasi yang pas gak takaran airnya. Ya aku jawab jujur aja, biasanya di Jakarta tinggal pesan lewat aplikasi online."

​Ibra tertawa rendah, suara baritonnya bergetar di dada, memberikan sensasi hangat yang menyenangkan bagi Bita. Pria itu melepas pelukannya, lalu beralih duduk di kursi bar yang menghadap langsung ke meja konter dapur.

​"Lalu, apa jawaban Umi?" tanya Ibra penasaran.

​"Umi malah ketawa. Kata Umi, gak apa-apa, nanti diajarin pelan-pelan. Makanya ini aku lagi eksperimen," kata Bita sambil mulai memanaskan minyak di wajan untuk menggoreng tempe. "Gus, ngomong-ngomong... besok kan jadwal kamu gak terlalu padat. Kita gak ada agenda keluar, kan?"

​Ibra mengetuk-ngetuk jemarinya di atas meja marmer, mengingat jadwal digital di ponselnya. "Sepertinya aman. Memangnya kamu mau ke mana? Mau jalan-jalan ke mal? Atau mau kulineran di luar?"

​Bita menggeleng cepat. Ia memasukkan potongan tempe ke dalam minyak panas yang berdesis pelan. "Enggak. Aku malah lagi malas ke tempat ramai. Aku... aku sebenarnya mau menata ulang sudut ruang tengah kita yang di dekat jendela besar itu."

​Ibra menaikkan sebelah alisnya, menatap ruang tengah mereka yang memang tampak sangat luas dengan sofa minimalis. "Menata ulang bagaimana?"

​"Aku mau tambahin rak buku kayu jati yang modelnya klasik modern gitu, Gus. Biar nanti kalau kamu lagi baca kitab atau dokumen yayasan, dan aku lagi dengerin musik atau nyari inspirasi, kita bisa duduk bareng di sana. Menurut kamu gimana? Boleh gak?" Bita menoleh, menatap Ibra dengan mata bulatnya yang penuh harap.

​Ibra tertegun sejenak. Cara Bita melibatkan dirinya dalam merancang masa depan dan kenyamanan rumah tangga mereka membuat hati Ibra menghangat. Senyuman tulus langsung terukir di wajah tampan sang Gus.

​"Tentu saja boleh, Bita. Ini kan rumahmu juga. Kamu bebas mengatur apa saja yang membuatmu merasa nyaman dan betah di sini," jawab Ibra mantap. "Nanti malam kita lihat katalognya bersama, ya? Mau pakai kayu jati jepara atau yang polosan saja?"

​"Aku suka yang ada serat kayu aslinya gitu, Gus, terus finishing-nya glossy aja biar kelihatan estetik tapi tetap dapet kesan klasiknya. Gak terlalu suka yang dicat warna-warni heboh," jelas Bita bersemangat, tangannya dengan lihai membalik tempe goreng di wajan.

​"Setuju. Selera istriku ternyata sangat berkelas," goda Ibra dengan kerlingan jenaka.

​"Ih, memuji atau ngejek nih?"

​"Memuji, Sayang. Seratus persen memuji," sahut Ibra cepat, membuat wajah Bita kembali memerah karena panggilan spontan itu.

​Setelah beberapa menit berkutat dengan bumbu sambal, makanan sore itu akhirnya siap. Lauk pauk sederhana itu ditata rapi di atas meja makan. Tidak ada kesan formal seperti saat makan bersama Abi dan Umi. di sini, di rumah mereka, semuanya terasa jauh lebih intim.

​Ibra menyendokkan nasi untuk Bita, lalu untuk dirinya sendiri. Saat gigitan pertama mendarat di mulutnya, Ibra memejamkan mata sesaat.

​"Gimana? Keasinan gak sambalnya?" tanya Bita was-was, memperhatikan ekspresi suaminya dengan saksama.

​"Pas. Sambal bawangnya mantap, nasinya juga pulen banget, gak kelembekan," puji Ibra tulus. "Kamu beneran punya bakat terpendam di dapur, Bita. Sepertinya sebentar lagi masakan Umi bakal punya saingan berat."

​Bita mendengus geli, namun hatinya bersorak senang. "Bisa aja kamu. Tapi makasih ya, Gus. Aku lega kalau kamu suka."

​Mereka makan dalam suasana tenang, diselingi obrolan-obrolan ringan mengenai hal-hal kecil. Bita menceritakan bagaimana tadi siang ia sempat menyapa para santriwati di dekat aula, dan bagaimana mereka memanggilnya dengan sebutan "Mbak Bita" dengan nada yang sangat takzim.

​"Awalnya aku ngerasa aneh banget dipanggil begitu, Gus. Rasanya kayak tua banget," keluh Bita sambil mengerucutkan bibirnya. "Padahal kan umur kita gak beda jauh."

​Ibra terkekeh, membersihkan sisa sambal di sudut bibirnya dengan tisu. "Itu panggilan penghormatan, Bita. Karena di pesantren ini, kamu adalah pendamping hidup dari orang yang mereka tuakan. Tapi kalau kamu keberatan, kamu mau dipanggil apa?"

​Bita bertopang dagu, menatap Ibra dengan binar jahil di matanya. "Kalau di depan santri ya gak apa-apa deh dipanggil Mbak. Tapi kalau di dalam kamar sini... kamu jangan panggil aku 'Bita' terus dong, Gus."

​Ibra menghentikan gerakan tangannya yang baru saja mau meraih gelas air putih. Ia menatap istrinya dalam-dalam. "Lalu? Aku harus panggil apa?"

​"Ya... apa gitu yang lebih manis. Masa dari awal nikah sampai sekarang panggil nama terus. Gak ada romantis-romantisnya jadi suami," gerutu Bita pelan, volumenya sengaja diperkecil namun masih sangat jelas terdengar di telinga Ibra.

​Ibra menaruh gelasnya kembali ke meja. Ia memajukan tubuhnya, menatap Bita dengan tatapan mata elangnya yang kini berubah menjadi sangat intens dan menghanyutkan.

​"Oh, jadi istriku ini sedang menuntut keromantisan?" goda Ibra, suaranya merendah hingga menciptakan getaran halus yang membuat bulu kuduk Bita meremang indah.

​Bita mendadak gugup, merutuki mulutnya yang terlalu blak-blakan tadi. "Y-ya... kan cuma nanya! Kalau gak mau ya udah!"

​Ibra mengulurkan tangannya melewati batas meja, meraih dagu Bita dengan lembut agar wanita itu tidak membuang muka. "baiklah. Mulai malam ini, bagaimana kalau aku panggil... Humaira? Atau... Sayangku?"

​Wajah Bita seketika terasa seperti terbakar. Ia memejamkan matanya, tidak kuat menahan serangan tatapan dan ucapan manis dari suaminya yang biasanya kaku itu. "Gus Ibra! Stop! Aku beneran bisa jantungan!"

​Ibra tertawa lepas—sebuah tawa bahagia yang sangat renyah dan lepas, memenuhi seluruh sudut dapur modern mereka. Ia mengusap kepala Bita dengan penuh kasih sayang.

​Bita menyadari satu hal. Pernikahan yang awalnya ia takuti ini, kini telah bertransformasi menjadi sebuah rumah paling hangat yang tidak akan pernah mau ia tinggalkan. Badai mungkin pernah datang, namun ritme baru yang mereka ciptakan bersama di rumah ini jauh lebih kuat dari apa pun.

1
Siska Fatmawati
𝐬𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 thor💪 𝐬𝐞𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐮𝐩𝐝𝐚𝐭𝐞 𝐲
keynara
double update thor🙏
Della Nuri delima
thorrr jangan lama' up nya
Della Nuri delima
pasti lama nih up nyaaa
Anita Rahayu
ayo cepat biar safirot tau arti tidak dipedulikan😈😈😈😈😈😈
😈😤😡😡😡
sutiasih kasih
lanjut up banyak2 thor
sutiasih kasih
kok ak lbh setuju.... bita tak ada lgi hubungan keluarga dgn kedua org tuanya yg lucnut & sodara perempuannya yg biadab itu....
slm hidup bita diprlakukn tak adil.... sll di anggp ank sialan... 🙄🙄
sutiasih kasih
bolehkah.... bita kelak tak lgi mngenal org tuanya...
org tua yg slm ini sll mmprlakukn bita tak adil.... demi ank emasnya🙄🙄🙄
Dinda Putri
semoga kebohongan safira terbongkar semuanya kasian bita dari dulu terus teraniaya 😞🥲🔥🔥🥲
sutiasih kasih
sering2 up dunk thor....
Anita Rahayu
kapan thor kau buat gila si safirot ini karna udah ketauan busuknya kalau bisa sampai bikin malu ortunya yg dah pasang badan bela dia😤😤😤😡😡😡😡😡😡😡😡😡😡
sutiasih kasih
ujian lucnut dri keluarga sndiri....
🙄🙄
harus mnambh sabar bita.... kelak saat smuanya trbongkar.... g msLah harus putus hubungan keluarga....
trkadang org lain adalah sbnrnya keluarga... wloupun tnpa ada ikatan darah....
Jas Merah
Hisss terllu berdrama..
sutiasih kasih
nungguin upnya thor
merry
takutnya ibra kena jebkn Batman gmn ya,, gk stuju ibra hrs jdi istri ke dua ya
merry
jgn jgn bita tu bukn ank kandung mu bu,, ko bisa bisa ya beda ksh syg bgtuu
merry
mkn tu ank pintar dan shalihah mu bu tar kena batu ya baru kapok dechh,,, msk hncur ngjak ngjak org
merry
tp ibra gk bodoh aku rasa. mah itu jebknn buat Safira yg bodoh kebanggaan mm bpky yg mengira bkln jdi istri muda ya ibra,,
merry
viralkan biar hncur tu kakak bgtu mah,, iblis sjj mkr mkr x sakitin sesama jin 🤭🤭🤭🤭ini rt ajj mau di embat pdhl dia ud dpt semua nya dr orgtua ya ank terlalu di manja bgtuu tu
merry
gk malu sm bju ya gk malu sm ilmunya gk malu sm adab ya,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!