NovelToon NovelToon
Takdir Di Pulau Bai She

Takdir Di Pulau Bai She

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Istana/Kuno / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Divya bharti

"Tiga minggu di surga tersembunyi, atau tiga minggu terjebak di istana para penguasa abadi?"

Liburan akhir semester yang seharusnya menjadi momen healing bagi empat sahabat Elena, Aldara, Keisha, dan Amanda berubah menjadi awal dari petualangan lintas dimensi yang berbahaya sekaligus mendebarkan. Tergiur oleh foto-foto estetik di internet, mereka sepakat untuk melakukan camping selama tiga minggu di Pulau Tirta Asri, sebuah pulau terpencil tak berpenghuni di wilayah laut selatan.

Mereka tidak pernah tahu bahwa di balik keindahan pasir putih dan air kristalnya, pulau itu memiliki nama asli yang terhapus dari peta manusia Pulau Bai She. Pulau tersebut adalah domain suci yang menyembunyikan empat istana kolosal kuno, rumah bagi empat raja klan siluman tertinggi dengan rupa ketampanan yang mematikan.
Bai Yuanjun, Sang Raja Ular Putih yang dingin Mo Chenxi, Sang Raja Buaya Putih yang tak tersentuh Su Lingkong, Sang Raja Rubah Putih yang penuh tipu daya dan Lang Ye, Sang Raja Serigala

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Divya bharti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak Magis di Dermaga Sunyi

Deru mesin mobil SUV hitam milik Padepokan Cakra Buana akhirnya mereda tepat saat jarum jam menunjukkan pukul empat pagi. Perjalanan darat yang menembus ratusan kilometer jalur Trans-Jawa itu berakhir di depan sebuah rumah berpagar minimalis di pinggiran Jakarta. Zinta, yang sepanjang malam tidak bisa memejamkan mata sedetik pun, langsung berlari membuka pintu rumah bahkan sebelum Baskoro sempat mengetuknya.

Wajah Zinta tampak sangat pucat, dengan lingkaran hitam yang jelas menggantung di bawah matanya yang sembap. "Mas Baskoro..." bisiknya lirih, langsung menghambur ke pelukan kakaknya begitu Baskoro melangkah masuk ke teras rumah.

Baskoro menepuk-nepuk bahu adiknya dengan tenang, mencoba menyalurkan sedikit kekuatan spiritualnya untuk meredakan kepanikan yang sedang menguasai batin Zinta. "Tenang, Zinta. Mas sudah di sini bersama anak-anak. Tarik napas dalam-dalam, kuatkan hatimu demi Elena," ucap Baskoro dengan suara berat yang meneduhkan.

Di belakang Baskoro, keempat murid kepercayaannya Edgar, Ardi, Kevin, dan Aidan melangkah masuk dengan tertib sambil membawa tas-tas ransel besar yang berisi perlengkapan penting. Meskipun tubuh mereka disergap rasa lelah yang luar biasa setelah menempuh perjalanan darat belasan jam tanpa henti, tidak ada satu pun dari mereka yang mengeluh. Tatapan mata mereka tetap siaga dan penuh disiplin.

Baskoro tahu bahwa memaksakan diri langsung berangkat ke Pulau Tirta Asri dalam kondisi fisik yang terkuras adalah tindakan bunuh diri, terutama karena mereka akan menghadapi entitas gaib tingkat tinggi. Oleh karena itu, ia memutuskan agar mereka semua beristirahat terlebih dahulu di rumah Zinta selama beberapa jam demi memulihkan energi fisik dan mengumpulkan sirkulasi prana batin mereka.

Zinta menyediakan ruang tengah yang cukup luas bagi keempat murid tersebut untuk merebahkan diri, sementara ia dan Baskoro duduk di ruang tamu, berbicara pelan mengenai kronologi keberangkatan Elena dan ketiga sahabatnya. Di sela-sela waktu istirahat yang singkat itu, Aidan sempat membagikan ramuan herbal penambah stamina kepada saudara-saudara seperguruan dan gurunya, memastikan bahwa begitu matahari terbit keesokan harinya, mereka semua berada dalam kondisi tempur yang prima.

Keesokan paginya, suasana di dalam rumah Zinta berubah total menjadi sangat tegang. Sinar matahari pagi yang menembus jendela kaca seolah tidak mampu mengusir hawa dingin yang dibawa oleh firasat buruk tentang nasib Elena.

Di ruang tengah, Baskoro dan keempat muridnya sudah bersiap-siap dengan pakaian yang telah dimodifikasi. Di balik jaket kargo luar mereka yang tampak biasa, mereka mengenakan rompi pelindung batin yang telah dirajah dengan doa-doa keselamatan kuno oleh Baskoro. Edgar tampak sedang memeriksa fungsionalitas kompas spiritual kuno berbahan perunggu, sementara Ardi mengikatkan beberapa bilah pisau kecil berpamor khusus di pergelangan kaki dan pinggangnya. Kevin duduk terpejam, mencoba menajamkan indra penciuman gaibnya, dan Aidan memastikan tas medis spiritualnya tidak kekurangan minyak penawar racun siluman.

Baskoro berdiri di tengah ruangan, memegang sebuah wadah kecil terbuat dari tanah liat yang berisi sisa potongan kain pakaian Elena yang diambil dari kamarnya. Kain itu akan digunakan sebagai media pelacakan sukma.

"Edgar, Ardi, Kevin, Aidan. Periksa kembali seluruh barang bawaan kalian. Jangan ada satu pun benda pusaka yang tertinggal," tegas Baskoro, suaranya menggelegar rendah namun penuh wibawa.

"Semua sudah siap dan aman, Guru," jawab Edgar dengan tegas, mewakili ketiga adiknya yang langsung berdiri tegap dengan ransel masing-masing di punggung.

Baskoro kemudian berbalik menatap Zinta yang berdiri di dekat pintu dapur dengan tangan bergetar mendoakan mereka. "Zinta, kami berangkat sekarang. Tetaplah berada di dalam rumah dan teruslah merapalkan doa keselamatan. Apapun yang terjadi, jangan biarkan orang asing masuk ke rumah ini sampai kami kembali membawa Elena."

"Iya, Mas... hati-hati. Tolong bawa Elena pulang dengan selamat," tangis Zinta pecah kembali, namun ia berusaha tegar dan mengangguk patuh.

Dengan langkah kaki yang mantap, Baskoro memimpin keempat muridnya keluar dari rumah Zinta. Mereka kembali naik ke dalam mobil SUV hitam, membelah jalanan Jakarta yang mulai padat di pagi hari, menuju ke sebuah dermaga tua yang terisolasi di pesisir utara, tempat di mana kapal sewaan menuju Pulau Tirta Asri telah disiapkan.

Perjalanan menuju pesisir utara memakan waktu sekitar dua jam. Begitu mereka tiba di area dermaga, pemandangan di sekeliling mereka tampak sangat kontras dengan hiruk-pikuk kota Jakarta. Dermaga ini adalah dermaga nelayan tua yang sepi, diselimuti oleh kabut tipis air laut yang berbau amis dan pekat. Ombak memukul tepian beton dengan ritme yang lambat, seolah-olah menyembunyikan sesuatu di balik kedalamannya.

Sebuah kapal motor kayu berukuran sedang yang tampak agak usang sudah bersandar di ujung dermaga. Seorang pria paruh baya berwajah legam dengan pakaian pelaut kumal sang nahkoda kapal sewaan tampak sedang mengikat tali jangkar. Ketika melihat rombongan Baskoro mendekat dengan pembawaan yang tidak biasa, dahi sang nahkoda berkerut dalam.

"Apakah Anda sekalian yang memesan kapal untuk menuju ke Pulau Tirta Asri?" tanya sang nahkoda dengan nada suara yang terdengar ragu dan sedikit cemas.

"Benar, Pak. Saya Baskoro yang menghubungi Anda kemarin lewat rekan saya," jawab Baskoro sopan namun tegas.

Sang nahkoda menatap Baskoro, lalu beralih menatap keempat pemuda di belakangnya. Ia menghela napas panjang, wajahnya menyiratkan ketakutan yang mendalam. "Tuan, jika saya boleh jujur... sejak kemarin malam, cuaca di sekitar perairan menuju pulau itu sangat aneh. Kabutnya tidak mau hilang, dan radar kapal nelayan lain tidak bisa mendeteksi area di sekitar sana. Orang-orang tua di pesisir ini menyebutnya sedang ada 'gerbang air yang terbuka'. Saya sarankan sebaiknya Tuan-Tuan sekalian membatalkan niat ke sana. Pulau itu... sedang tidak ingin dikunjungi oleh manusia."

Mendengar ucapan sang nahkoda, Kevin mendadak melangkah maju satu tapak. Mata indra keenamnya menangis tajam ia bisa merasakan hembusan angin laut yang berembus dari arah laut lepas membawa hawa mistis yang sangat dingin, bercampur dengan aroma samar-samar sisik binatang melata dan bulu binatang liar.

"Guru, dia benar. Energi pembatas dimensi di seberang sana sedang bergejolak hebat. Polanya sangat kacau, seolah-olah baru saja terjadi sebuah ritual besar yang mengunci wilayah tersebut," bisik Kevin pelan di dekat telinga Baskoro.

Baskoro tidak berkedip sedikit pun. Ia menatap lurus ke arah cakrawala laut yang tertutup kabut tebal di kejauhan, tempat di mana Pulau Tirta Asri berada tersembunyi dari pandangan mata manusia awam. Sumpah pernikahan gaib yang diucapkan Elena di Istana Bai Long kemarin malam ternyata telah menciptakan riak energi yang sampai ke dunia nyata, mempertebal dinding mistis pulau tersebut.

"Pak Nahkoda," kata Baskoro, mengalihkan kembali pandangannya pada pria tua itu sembari meletakkan sebuah amplop tebal berisi uang pembayaran di atas meja kayu kapal. "Tugas Anda hanya mengantarkan kami sampai batas terluar kabut yang bisa dijangkau oleh kapal ini. Sisanya, adalah urusan dan tanggung jawab kami sendiri. Nyawa keponakan saya taruhannya, dan saya tidak akan mundur satu jengkal pun."

Melihat ketegasan yang tak tergoyahkan dari mata Baskoro, sang nahkoda akhirnya menelan ludahnya sendiri. Ia mengambil amplop tersebut dengan tangan yang sedikit gemetar, lalu memberikan isyarat agar mereka segera naik ke atas dek kapal. "Baiklah kalau begitu. Silakan naik, Tuan-Tuan. Semoga Tuhan melindungi kita semua di tengah laut nanti."

Satu per satu, Edgar, Ardi, Kevin, dan Aidan melompat naik ke atas kapal dengan cekatan, disusul oleh Baskoro yang berdiri di bagian haluan kapal. Tak lama kemudian, mesin kapal motor itu menderu keras, memecah kesunyian dermaga tua. Kapal kayu itu perlahan bergerak maju, meninggalkan daratan Jakarta yang aman, meluncur lurus menembus kabut putih pekat yang menggantung di atas permukaan laut lepas, bersiap menantang kemurkaan dan tatanan magis para penguasa abadi Pulau Bai She.

1
Devi..
bukannya di awal rencananya cuma seminggu y..kok jd lama banget 3 minggu..persediaan makannya gmna??🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!