NovelToon NovelToon
Kapten Basket Itu Suamiku

Kapten Basket Itu Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Perjodohan
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Aqilazahra

Nikah muda? ✅
Nikah online? ✅

Satu kelas sama suami sendiri yang ternyata idola sekolah? Nah, yang ini di luar prediksi BMKG!


Satu tahun lalu, sebuah ijab kabul via video call mengikat takdir Ellea dengan seorang pria di kota. Tanpa cinta, tanpa tatap muka langsung.

Kini, Ellea harus menyusul sang suami ke kota setelah kepergian neneknya. Namun, saat tiba di sana, justru pria itu kabur dari rumah dan takdir membawa mereka untuk bertemu kembali di koridor sekolah.

Pria itu bernama Albiru, pria yang paling dielu-elukan, sang kapten tim basket yang dingin dan tak tersentuh, ternyata adalah pemilik cincin yang sama dengan yang melingkar di jari Ellea.

Bagaimana cara Ellea menyembunyikan rahasia besar ini di depan teman-teman barunya? Dan mampukah sang kapten basket mengenali istrinya sendiri yang bercadar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aqilazahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gadis Aneh

Keesokan harinya, Ellea sudah bersiap ke sekolah. Ia memakai seragam putih abu-abu yang tampak longgar di tubuhnya, lengkap dengan jilbab lebar dan cadar hitam yang masih melekat erat menyembunyikan parasnya. Di depan cermin, ia merapikan pakaiannya sekali lagi, mencoba mengusir debar aneh yang sejak subuh tadi terus menggedor dada.

"Ayo, Nak? Semangat," ucap Mahira yang tiba-tiba sudah berdiri di ambang pintu kamar, menatap menantunya dengan binar penuh dukungan.

Ellea membalikkan badan, lalu tersenyum di balik cadarnya hingga matanya menyipit teduh. Ia melangkah mendekat, meraih tangan mertuanya untuk disalimi dengan takzim. "Terima kasih, Bunda. Assalamualaikum," pamit Ellea lembut.

"Waalaikumsalam, Sayang. Hati-hati di jalan, ya," sahut Mahira sembari mengusap lembut bahu Ellea, menyalurkan kehangatan seorang ibu yang begitu dirindukan gadis itu.

Setelah kepergian Ellea dan putri kandungnya, Alisa, suasana rumah berangsur sepi. Mahira berjalan menuju dapur untuk merapikan sisa sarapan. Di sana, ia mendapati Bi Imah, pelayan senior yang selama ini mengasuh Albiru dan Alisa sejak kecil, sedang mencuci piring sambil tersenyum-senyum sendiri.

"Bibi, kenapa senyam-senyum begitu? Kayak yang lagi jatuh cinta saja," goda Mahira, mencoba mengalihkan gumpalan beban yang mulai menggelayuti pikirannya sejak melepas Ellea pergi.

Bi Imah tersentak kaget, hampir saja menjatuhkan gelas yang sedang dibilasnya. "Ya Allah, Non Mahira! Udah tua gini, mana bisa jatuh cinta lagi."

"Habisnya, Bibi dari tadi senyum-senyum sendiri. Hayo, mikirin Pak Ujang, ya?" tukas Mahira dengan kekehan tipis, menyebut nama sopir keluarga mereka.

"Aih, Non, husss! Jangan ngaco, ah. Pak Ujang itu udah Bibi anggap saudara sendiri," sahut Bi Imah dengan wajah bersemu merah, buru-buru mengelap tangannya yang basah dengan serbet.

"Terus, apa yang membuat Bibi dari tadi senyum-senyum sendiri?" tanya Mahira, kini melipat tangan di dada dengan raut penasaran.

Bi Imah mengembuskan napas pelan, raut wajahnya mendadak berubah melankolis namun penuh binar kekaguman. "Non, bibi itu sebenarnya cuma lagi terharu sama istrinya Den Al. Udah cantik hatinya, saleha, Masya Allah... Tadi subuh waktu Bibi bangun mau ke dapur, Non El ternyata udah selesai salat dan lagi mengaji di kamarnya. Suaranya bagus banget, Non, adem. Bibi sampai nangis dengarnya di balik pintu. Den Al itu benar-benar orang paling beruntung di dunia ini karena dapetin bidadari kayak Non Ellea."

Mendengar penuturan tulus dari asisten rumah tangganya, senyum di bibir Mahira perlahan memudar, digantikan oleh gurat kecemasan yang mendalam. Ia menghela napas berat, menatap lurus ke arah jendela luar.

"Non, kok malah kelihatan sedih?" tanya Bi Imah bingung melihat perubahan drastis pada raut wajah majikannya.

"Bi ..." Mahira menjeda kalimatnya, meremas jemarinya sendiri yang mendadak terasa dingin. "Saya tentu sangat bersyukur. Sebelum Papa meninggal, beliau menjodohkan Al dengan cucu sahabatnya, yaitu Ellea. Tapi, justru hal itu yang membuat saya takut. Saya takut Al nanti semakin menjauh dari rumah. Dia tidak tahu apa-apa tentang pernikahan ini, Bi. Dia belum dewasa, egonya masih terlalu tinggi untuk menerima takdir ini."

"Ya Allah, Non!" seru Bi Imah prihatin. "Padahal kurang apa Non Ellea? Sudah sopan, taat agama, tutur katanya juga lembut. Lelaki mana yang tidak luluh?"

"Ya begitulah, Bi. Al itu keras kepala, persis ayahnya waktu muda. Sekarang, biarkan takdir anak-anak itu bekerja sendiri. Tugas kita hanya bisa mendoakan dari sini," ucap Mahira lirih, menyembunyikan setitik harap dan cemas yang berkecamuk jadi satu di dalam dadanya.

Sementara itu, di lingkungan SMA Garuda, suasana pagi tampak sangat riuh. Kendaraan roda dua dan roda empat silih berganti memasuki gerbang sekolah, mengantarkan ratusan siswa-siswi yang siap memulai hari. Di antara deretan mobil mewah yang mengantre, sebuah mobil sedan hitam milik keluarga Wijaya perlahan menepi di dekat lobi utama.

Pintu penumpang terbuka. Alisa keluar terlebih dahulu dengan gayanya yang lincah dan ceria. Tak lama berselang, sosok di sampingnya ikut turun. Begitu kaki Ellea yang dibalut sepatu hitam polos menapak di atas aspal pekarangan sekolah, atmosfer di sekitar mereka mendadak berubah senyap untuk beberapa detik, sebelum akhirnya riuh oleh bisik-bisik yang menyengat.

Kehadiran seorang siswi dengan jilbab besar menjuntai hingga ke lutut serta selembar kain cadar hitam yang menutupi wajah jelas menjadi pemandangan yang teramat asing—bahkan aneh—di sekolah elit tersebut.

"Eh, lihat deh! Itu siapa si Alisa? Kok penampilannya kayak gitu?"

"Gila, hari gini masih ada yang pakai baju kayak kurungan begitu? Sekolah kita kedatangan ninja ya?"

"Jangan-jangan wajahnya rusak makanya ditutupin? Idih, ada monster masuk sekolah kita!"

Makian, cibiran, dan tawa merendahkan itu terdengar bersahut-sahutan dari para pelajar yang berkerumun di koridor dan area parkir. Mereka tidak berusaha menyembunyikan rasa jijik maupun penasaran yang salah tempat itu.

Ellea menghentikan langkahnya. Jemarinya meremas kuat tali tas ranselnya yang terasa berat. Sudut matanya menghangat, dan dadanya mendadak terasa sesak menahan gempuran kata-kata kasar yang langsung menyambut hari pertamanya. Berada di pesantren selama bertahun-tahun membuatnya terbiasa dihargai, dan kini, dunia luar langsung menamparnya dengan kenyataan yang begitu pahit.

Namun, Alisa yang berjalan di samping Ellea tidak tinggal diam. Merasa telinganya panas dan tidak terima kakak ipar kesayangannya dihina sedemikian rupa, gadis remaja itu langsung berbalik. Dengan berkacak pinggang, ia menatap tajam ke arah kerumunan siswa yang paling berisik.

"Heh! Menutup mulut kalian yang bau sampah itu kayaknya lebih penting daripada ngurusin baju orang lain ya!" maki Alisa balik dengan suara menggelegar, membuat beberapa siswi yang tadi tertawa langsung bungkam karena syok.

"Alisa, sudah ... tidak apa-apa," bisik Ellea pelan, menyentuh lengan Alisa, mencoba meredam amarah adik iparnya.

"Nggak bisa, Kak! Mereka harus dikasih pelajaran!" seru Alisa berapi-api. Ia menunjuk ke arah seorang siswi berambut pirang hasil bleaching yang tadi paling keras berbisik. "Heh, lo! Mending lo ngaca dulu deh sebelum ngatain orang lain monster! Muka lo yang menor kayak badut malam itu yang lebih serem! Kalau nggak tahu apa-apa tentang syariat, mending diam atau gue laporin ke BK biar poin lo penuh!"

Gadis yang ditunjuk itu langsung memalingkan wajah dengan kesal, menahan malu karena kini giliran mereka yang menjadi pusat perhatian seluruh koridor. Alisa mendengus puas, lalu kembali berbalik menghadap Ellea. Raut wajahnya yang semula garang langsung berubah manis dalam sekejap.

"Ayo, Kak El. Nggak usah dengerin omongan manusia-manusia kurang piknik kayak mereka. Anggap aja mereka itu cuma angin lalu yang lewat di depan muka kita," ucap Alisa riang, langsung menggandeng lengan Ellea dengan erat, menuntunnya berjalan melewati koridor utama menuju ruang kepala sekolah.

Ellea hanya bisa mengembuskan napas panjang di balik cadarnya. Dalam hati, ia merapalkan zikir berkali-kali untuk menenangkan hatinya yang masih bergetar. Ini baru gerbang sekolah, baru langkah awal dari babak baru kehidupannya. Ia tahu, ujian yang sesungguhnya belum benar-benar dimulai. Ujian itu baru akan menantinya di dalam ruang kelas nanti, di mana sepasang netra milik suaminya sendiri mungkin akan menatapnya dengan pandangan yang jauh lebih dingin dari ini.

"Ya Allah, lindungilah hamba-Mu ini."

1
Iped Suhendi
sangat bagus cerita nya.
Iped Suhendi
semangat ya nulis nya.Bagus banget cerita nya.Saya suka 😍
Aqilazahra: terima kasih Kak, sudah mampir. semoga suka ya
total 1 replies
Muharlita Muharlita
saya suka
Devan Davin
bgus skli
Aqilazahra: terima akak sudah mampir
total 1 replies
rattna
bagus
Aqilazahra: terima kasih kakak, sudah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!