Di desa terpencil, Zifa hidup bersama Mama Auna dan Uti Yaya, dihantui kerinduan akan ayahnya yang hilang, hingga kebenaran pahit terungkap bahwa ayahnya telah menikah lagi, berbeda dengan cerita Mama Auna tentang ayahnya yang bekerja di luar negeri. Malam-malam misterius dengan hilangnya hewan ternak warga desa menambah teka-teki, sementara takdir mempertemukan Auna dengan cinta pertamanya, Zhafran, yang kini kaya raya. Rahasia masa lalu yang terkubur dalam-dalam muncul ke permukaan: Zifa ternyata bukan anak Fauzan, melainkan darah daging Zhafran! Kini, Auna harus memilih antara mengungkap kebenaran yang mengubah hidup Zifa atau terus memendamnya demi melindungi putrinya dari intrik dunia gemerlap. Mampukah Auna mempertahankan Zifa, ataukah takdir akan memisahkan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Titik Balik yang Penuh Air Mata
Zhafran duduk di kamarnya, jantungnya berdebar tak karuan. Amplop cokelat di tangannya terasa berat, berisi jawaban atas pertanyaan yang menghantuinya selama ini. Setelah berhari-hari menunggu, hasil tes DNA rambut Zifa akhirnya keluar. Dengan tangan gemetar, ia membuka amplop itu, matanya menyapu deretan angka dan istilah medis yang rumit, sampai akhirnya menemukan bagian yang paling penting: golongan darah.
"Apa?" Zhafran bergumam, matanya melebar tak percaya. "Golongan darah Zifa sama denganku?"
Seketika, tawa pecah dari bibirnya, tawa yang bercampur dengan isak tangis. Ia tertawa terbahak-bahak, namun air mata tak henti mengalir membasahi pipinya. Selembar kertas itu ia remas, lalu ia buka lagi, seolah ingin memastikan bahwa ia tidak salah baca.. Semua keraguan, semua tuduhan, semua rasa sakit yang ia rasakan selama ini... apakah itu semua salah? Zhafran menengadah, menahan tangis yang semakin menjadi-jadi. Dadanya terasa sesak, antara lega, marah, dan penyesalan yang mendalam. "Zifa... anakku?" bisiknya lirih, masih tak percaya dengan kenyataan yang terpampang di depan matanya.
Di sisi lain, di rumah sakit yang dingin, Auna mondar-mandir gelisah. Tagihan rumah sakit untuk pengobatan ibunya terus menumpuk, dan ibunya harus dioperasi sedangkan uangnya saja belum terkumpul. Ia sudah menghubungi beberapa teman, tapi tak ada yang bisa membantu. "Ya Allah, aku harus pinjam uang ke siapa lagi ini?" gumamnya frustrasi, hijabnya yang acak-acakan semakin menambah kesan putus asa. Ibunya butuh obat, dan harus sembuh, dan ia tak punya apa-apa lagi. Pikirannya kalut, tak tahu harus mencari jalan keluar ke mana.
Untungnya, Zifa masih bisa sekolah. Pagi tadi, seperti beberapa hari terakhir, Rafka, teman kerjanya yang baik hati, datang menjemput Zifa. "Ayo, Zifa, nanti telat," ajak Rafka dengan senyum ramah, berusaha menutupi kekhawatiran di wajahnya melihat kondisi Auna. Zifa yang polos hanya mengangguk, melambaikan tangan pada Auna sebelum masuk ke mobil Rafka. Setidaknya, Zifa tidak harus ikut merasakan beban yang sedang dipikul Auna.
Sementara itu, kabar mengejutkan datang dari desa. Fauzan, yang seharusnya masih mendekam di penjara, kini sudah bebas. Pak Joko, ayah mertuanya yang juga Pak RT desa, entah bagaimana caranya berhasil membebaskannya. Kabar ini menyebar cepat, membuat warga desa bertanya-tanya. "Kok bisa bebas secepat itu?" bisik-bisik tetangga terdengar di warung kopi. Fauzan, dengan tampang angkuh seperti biasa, terlihat mondar-mandir di sekitar desa, seolah tak pernah terjadi apa-apa. Kebebasannya terasa seperti ancaman baru bagi Auna, karena Fauzan pernah berkata ingin membuka rahasia Auna.
Dan Rina? Ia sudah berhari-hari tidak pulang ke rumahnya di desa. Kabar burung menyebutkan bahwa ia kini menjadi 'simpanan lelaki hidung belang' di luar kota. Setiap hari, Rina sibuk memamerkan gaya hidup mewahnya di media sosial, dengan tas bermerek dan pakaian mahal, seolah ingin menunjukkan bahwa ia telah sukses. Padahal, semua itu hanyalah topeng dari kehidupan gelap yang ia jalani, jauh dari keluarga dan desa yang dulu ia tinggalkan. Ia sibuk dengan gaya sok kayanya, tanpa peduli pada Fauzan yang baru bebas atau keluarganya yang lain.
(MENEGANGKAN IYAKAN PENONTON, EH PEMBACA???...) 😂 IH AUTHORNYA KEGIRANGAN.
Pesawat mendarat mulus di bandara, membawa sepasang suami istri yang sudah lama merantau di Jepang. Mereka adalah orang tua Zhafran, yang memutuskan untuk pulang kampung tanpa memberi tahu putra mereka. "Kita kasih kejutan saja, biar Zhafran senang," kata sang mama dengan senyum lebar, membayangkan betapa bahagianya Zhafran melihat mereka tiba-tiba muncul di depan pintu.
Namun, kejutan itu justru berbalik arah. Sesampainya di rumah, suasana tampak sepi. Sang mama mencoba mencari Zhafran di kamarnya, tapi nihil. Tiba-tiba, ia mendengar suara Zhafran dari ruang kerja. Karena penasaran, ia mengendap-endap mendekat, lalu tanpa sengaja mendengar percakapan telepon Zhafran.
"Saya mau kamu awasi terus gerak-gerik Auna di rumah sakit," kata Zhafran dengan nada serius. "Pastikan tidak ada yang mencurigakan. Dan ingat, Zifa itu putri saya, darah daging saya."
Sang mama terkejut bukan main. Ia menutup mulutnya dengan tangan, berusaha mencerna apa yang baru saja ia dengar. Zhafran... punya anak? Dengan Auna? Ia ingat betul, dulu sebelum Zhafran berangkat ke Paris, putranya itu pernah meminta izin untuk melamar Auna dan menikahinya. Tapi, ia tidak pernah sekalipun menyebutkan bahwa Auna sedang mengandung anaknya.
"Ya ampun, ternyata selama ini Zhafran..." gumamnya lirih, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia merasa bersalah, sangat bersalah. Dulu, ia menentang hubungan Zhafran dan Auna karena berbagai alasan klise, tanpa tahu bahwa Auna sedang mengandung cucunya.
Dengan langkah gontai, ia menghampiri suaminya yang sedang menunggu Zhafran dan Mama Zhafran di ruang tamu. "Pa... kita harus bicara," ucapnya dengan suara gemetar.
Sang ayah, yang melihat raut wajah istrinya yang pucat, langsung meletakkan korannya. "Ada apa, Ma? Kamu kenapa?"
"Zhafran... Zhafran punya anak dari Auna," kata sang mama dengan suara tercekat. "Dulu, dia pernah minta izin untuk menikahi Auna, tapi kita menolak dan memaksa Zhafran tuk kuliah di luar negeri. Kita tidak tahu kalau Auna sedang hamil."
Sang ayah terdiam, wajahnya berubah menjadi pucat pasi. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. "Auna... cucu kita?" bisiknya lirih, matanya berkaca-kaca.
"Iya, Pa. Dan Zhafran sekarang sedang menyelidiki Auna, dia menyuruh orang untuk mengawasinya," lanjut sang mama dengan nada sedih. "Kita harus melakukan sesuatu. Kita harus menikahkan Zhafran dengan Auna."
Sang ayah tertegun. Ia sangat terpukul dengan perkataan istrinya. Selama ini, ia selalu membanggakan Zhafran sebagai anak yang penurut dan berprestasi. Tapi, ternyata putranya itu menyimpan rahasia besar yang bisa mengubah hidup banyak orang. Ia tahu, ini bukan keputusan yang mudah. Tapi, ia juga sadar, ia harus bertanggung jawab atas kesalahan yang telah ia perbuat di masa lalu.
"Baiklah," kata sang ayah dengan nada tegas. "Kita akan bicara dengan Zhafran. Kita akan menikahkan dia dengan Auna, demi cucu kita."
Apakah bisa Auna yang masih berstatus istri bisa menikah dengan Zhafran?