elama dua belas tahun, Nan Shin Sim mengabdikan hidupnya untuk keluarga.
Ia bekerja sebagai perawat, melayani ibu mertua, membesarkan dua anak, sementara suaminya, dr. Cheng An Kho, diam-diam membangun keluarga lain bersama wanita yang dicintainya.
Ketika perselingkuhan itu terbongkar, Nan Shin kehilangan segalanya.
Rumah.
Harta.
Bahkan hak asuh kedua putranya.
Semua orang mengira wanita itu telah benar-benar hancur.
Namun tepat ketika ia meninggalkan keluarga Kho dengan tangan kosong, sebuah telepon misterius dari Singapura mengubah jalan hidupnya.
Sejak hari itu, Nan Shin mulai menyembunyikan sesuatu.
Sesuatu yang cukup besar untuk membalikkan nasibnya.
Dan ketika mantan suami, ibu mertua, serta orang-orang yang pernah menginjaknya mulai menyadari ada yang tidak beres...
sudah terlambat.
Karena wanita yang mereka kenal...
bukan lagi Nan Shin Sim yang dulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32
Bab 32
Batas Usia 37 Tahun
Nan Shin membalas pesan itu dalam waktu kurang dari satu menit.
Saya bersedia. Mohon informasi lokasi dan dokumen yang perlu dibawa.
Jawaban berikutnya menampilkan nama RS Setia Mulia, sebuah rumah sakit swasta yang pernah ia dengar dari keluarga pasien. Wawancara dijadwalkan pukul sembilan. Ia diminta membawa CV, STR, fotokopi identitas, dan sertifikat pendukung.
Nan Shin menyimpan alamat, memeriksa waktu tempuh, lalu menyiapkan dua salinan berkas agar keterlambatan kecil tidak bisa dipakai untuk menyingkirkannya.
Pagi harinya, Nan Shin mengenakan blus biru tua dan celana hitam yang biasa dipakai untuk rapat rumah sakit. Ia menyisir rambut, menutup map dokumen, lalu turun pada pukul tujuh.
Ibu Kho memandangnya dari dapur. “Mau ke mana?”
“Wawancara kerja.”
“Siapa yang menjemput Yi Chen?”
“Saya sudah minta bantuan Mama hanya untuk hari ini. Saya akan pulang sebelum Yi Ming selesai sekolah.”
“Kalau wawancaranya lama?”
“Saya sudah pesan ojek pulang. Makan siang juga sudah di kulkas.”
Ibu Kho membuka tutup wadah satu per satu, seolah mencari alasan untuk mengatakan persiapan itu kurang.
“Jangan pulang lalu bilang capek. Pakaian Cheng An belum semua disetrika.”
Nan Shin memasukkan map ke tas. “Saya selesaikan setelah pulang.”
RS Setia Mulia memiliki pintu kaca tinggi yang terbuka otomatis sebelum ia mendekat. Lantai lobinya mengilap tanpa bekas roda brankar. Aroma bunga bercampur pendingin ruangan, berbeda dari bau antiseptik tajam dan keringat keluarga pasien yang biasa memenuhi IGD RSUD.
Seorang petugas meja informasi mengangkat kepala. “Ada yang bisa dibantu, Bu?”
“Saya ada wawancara pukul sembilan untuk posisi perawat rawat jalan.”
“Silakan isi buku tamu dan tukar KTP dengan kartu pengunjung.”
Nan Shin menerima kartu itu. Kata pengunjung kembali tergantung di dadanya, tetapi kali ini ia merapikan tali kartu dan berjalan menuju lift.
Di lantai empat, enam pelamar menunggu di depan ruang rekrutmen. Sebagian besar tampak baru berusia dua puluhan. Seorang perempuan muda memegang map dengan logo kampus, sementara pelamar lain memotret dirinya di depan dinding rumah sakit.
Nan Shin memilih kursi paling ujung. Ia memeriksa fotokopi STR dan membaca kembali pengalaman kerja yang sudah diringkas.
Namanya dipanggil pukul sembilan lewat empat puluh.
Di dalam ruangan, seorang staf HRD dan seorang perempuan berseragam kepala perawat duduk di balik meja. Mereka membaca CV tanpa mempersilakannya menjelaskan lebih dulu.
“Usia tiga puluh tujuh?” tanya staf HRD.
“Iya.”
“Posisi rawat jalan ini memiliki jadwal bergilir. Ibu masih bersedia?”
“Bersedia, selama jadwalnya dikomunikasikan lebih dulu.”
“Kalau jadwal berubah mendadak?”
“Saya bisa membahas perubahan sebelum menerima jadwal. Saya tidak akan menjanjikan kesiapan tanpa batas.”
Staf itu mengangkat alis. “Jawaban Ibu cukup tegas.”
“Saya ingin jawaban saya sesuai keadaan, bukan sekadar terdengar menyenangkan.”
“Benar.”
“Di formulir tertulis sudah menikah dan punya dua anak.”
“Benar.”
“Pengaturan anak bagaimana kalau jadwal berubah?”
“Saya terbiasa bekerja shift selama dua belas tahun. Saya sudah menyiapkan pengaturan keluarga.”
Staf itu memberi tanda pada kertas. “Posisi ini sebenarnya kami arahkan untuk pelamar maksimal tiga puluh lima.”
Nan Shin menahan bahunya agar tidak turun. “Batas itu tidak tercantum dalam informasi yang dikirim.”
“Karena bukan syarat mutlak. Hanya preferensi.”
“Kalau pengalaman saya sesuai, saya siap mengikuti penilaian kompetensi.”
Kepala perawat membalik halaman CV. “Dua belas tahun semuanya di RSUD?”
“Ya, di IGD RSUD Serpong Utama.”
“Tidak pernah di rumah sakit swasta?”
“Tidak. Namun triase, keselamatan pasien, pencatatan, dan komunikasi keluarga tetap menjadi dasar yang sama.”
Perempuan itu mengetuk halaman dengan ujung pulpen. “Pasien di sini membayar mahal. Ekspektasi mereka berbeda.”
“Saya memahami perlunya pelayanan yang cepat dan komunikasi yang jelas.”
“Memahami belum tentu terbiasa.”
Nan Shin mengatur napas. “Boleh saya tahu situasi yang ingin Ibu uji? Saya bisa menjelaskan langkah yang akan saya lakukan.”
Kepala perawat menyilangkan tangan. “Misalnya pasien rawat jalan marah karena dokter terlambat satu jam.”
“Saya pastikan dulu apakah ada perubahan klinis yang membutuhkan penanganan segera.”
“Kalau tidak ada?”
“Saya jelaskan kondisi antrean dengan jujur, berikan perkiraan yang dapat dipertanggungjawabkan, dan tawarkan pilihan menjadwal ulang bila tersedia.”
“Kalau pasien mengancam mengunggah keluhan?”
“Saya tidak membalas ancaman. Saya catat keluhan, jaga privasi pasien lain, lalu hubungkan dengan penanggung jawab layanan.”
Staf HRD mengetuk pulpen. “Ibu menjawab seperti di IGD.”
“Karena pasien yang marah tetap perlu keselamatan, informasi, dan jalan keluar yang jelas.”
Kedua pewawancara saling melihat. Tidak ada situasi yang diberikan.
Staf HRD justru menunjuk kolom status pekerjaan. “Sekarang Ibu tidak bekerja?”
“Kontrak saya diakhiri dalam penataan tenaga. Hari kerja terakhir saya baru beberapa hari lalu.”
“Berarti sekarang ibu rumah tangga penuh waktu.”
“Status saya sedang mencari pekerjaan. STR saya aktif dan pengalaman terakhir saya masih sangat baru.”
Kepala perawat menyandarkan punggung. “Kami harus mempertimbangkan kemampuan beradaptasi. Ibu rumah tangga penuh waktu bisa apa di ruang dengan ritme seperti ini?”
Nan Shin merasakan ujung kukunya menekan telapak tangan. “Sampai minggu lalu saya bekerja di IGD dengan pasien datang tanpa jadwal, kondisi berubah dalam hitungan menit, dan keluarga membutuhkan penjelasan saat tenaga terbatas.”
“Tapi sekarang Ibu sudah keluar dari sistem.”
“Beberapa hari tidak menghapus dua belas tahun.”
Ruangan hening. Staf HRD menutup mapnya.
“Baik, nanti kami hubungi kalau lolos tahap berikutnya.”
“Apakah ada tes kompetensi hari ini?”
“Belum perlu. Kami masih melihat kesesuaian profil.”
Nan Shin tahu wawancara telah selesai. Ia mengucapkan terima kasih, mengambil dokumen, lalu keluar tanpa tergesa.
Di koridor, perempuan muda dengan map kampus sedang menunggu giliran. Ia memberi senyum gugup. Nan Shin membalas, kemudian berjalan ke toilet sebelum lift.
Begitu pintu bilik terkunci, bahunya jatuh.
Tangisnya tidak keras. Air mata hanya turun cepat saat ia menutup mulut dengan punggung tangan. Ia tidak menangis karena satu pekerjaan hilang. Ia menangis karena dua pewawancara telah mengubah pengalamannya menjadi usia, status perkawinan, dua anak, dan beberapa hari di rumah.
Di luar bilik, keran menyala. Nan Shin membiarkan air mata terakhir jatuh, lalu keluar.
Perempuan muda tadi berdiri di depan cermin. Rupanya wawancaranya selesai lebih cepat.
“Ibu tidak apa-apa?” Ia mengulurkan tisu.
Nan Shin menerimanya. “Terima kasih. Saya baik.”
“Mereka tanya umur juga?”
Nan Shin menatapnya melalui cermin. “Mereka tanya banyak hal yang tidak ada hubungannya dengan keterampilan.”
Perempuan itu tertawa hambar. “Saya ditanya kenapa belum menikah. Katanya kalau menikah sebentar lagi, rumah sakit rugi melatih saya.”
Untuk sesaat, keduanya hanya mendengar air dari keran.
“Berarti umur berapa pun ada alasannya,” kata Nan Shin.
“Iya.” Perempuan itu menyimpan lipstik ke tas. “Saya ikut beberapa grup lowongan kesehatan. Kalau Ibu mau, saya bisa kirim tautan. Kadang ada klinik atau layanan pasien yang cari orang berpengalaman.”
“Boleh. Nomor saya nanti saya ketik di ponsel Ibu.”
Perempuan itu membuka WhatsApp. “Silakan. Saya kirim tautannya begitu sampai rumah.”
Nan Shin menyebutkannya. “Terima kasih. Saya juga akan kirim kalau menemukan lowongan tanpa batas umur aneh.”
Perempuan itu tersenyum tipis. “Setidaknya kita bisa saling memperingatkan sebelum datang jauh-jauh.”
“Dan saling mengingatkan bahwa pertanyaan mereka bukan ukuran kemampuan kita.”
Nan Shin menyebutkan nomor WhatsApp-nya. Mereka tidak bertukar nama. Pertemuan singkat itu tidak membutuhkan janji besar, hanya satu orang yang melihat bahwa penghinaan tadi bukan kegagalan pribadi.
Nan Shin mencuci wajah dengan air dingin, mengeringkannya, lalu menatap cermin sekali lagi. Matanya masih merah, tetapi punggungnya sudah tegak.
Di halte ojek online, pesan penolakan dari lowongan lain masuk. Alasan otomatisnya berbunyi profil belum sesuai kebutuhan perusahaan.
Nan Shin mencatat hasil wawancara di tabel: usia, pengalaman swasta, status keluarga, tidak ada tes kompetensi.
Sebelum kendaraan pesanannya tiba, sebuah pesan baru diteruskan oleh nomor perempuan yang ditemuinya di toilet.
Dibutuhkan mitra untuk layanan pendamping pasien. Pengalaman bidang kesehatan diutamakan. Waktu kerja dapat dipilih sesuai pesanan.