Pernikahan Aurora dengan Jonathan Carser—menjadi neraka saat ia menjadi korban pengkhianatan dan manipulasi.
Puncaknya, ia dipaksa menghadapi keraguan sang suami atas bayi laki-laki nya yang terlahir dengan paras begitu mirip dengan mantan kekasih masa lalunya, Braxley Valerio-Desmon.
Ketika kebenaran mulai terkuak dan Jonathan semakin brutal meluapkan amarahnya, Siapkah Aurora menghadapi kenyataan pahit, menerima kebenaran?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
018
Seminggu menjelang hari pernikahan berganti dengan kecepatan yang mendebarkan.
Setelah badai media yang dipicu oleh Jonathan Carser hancur berantakan dan berbalik menghantam pria itu sendiri hingga mendekam di balik jeruji besi tanpa jaminan, atmosfer di Mansion Valerio-Desmon berubah total menjadi panggung kemegahan yang tak tertandingi.
Suasana di lorong-lorong utama mansion riuh oleh kesibukan para perancang busana kelas dunia, pengatur acara internasional, serta tim keamanan tingkat tinggi.
Namun, di balik seluruh kemewahan yang mempersiapkan pernikahan paling spektakuler abad ini, ada kedamaian mendalam yang tumbuh subur di dalam hati Aurora.
Di dalam ruang rias eksklusif di lantai tiga, Aurora berdiri di depan cermin berbingkai emas setinggi dua meter.
Ia mengenakan gaun pengantin sutra putih mahakarya perancang ternama Paris yang kini telah selesai sepenuhnya.
Gaun itu melekat sempurna di tubuhnya, memeluk lekuk tubuhnya dengan sangat anggun tanpa celah. Ekor gaun sepanjang tiga meter bertaburkan ribuan kristal Swarovski kecil yang membiaskan cahaya bagaikan ribuan bintang malam.
Zephyr Desmon berdiri di belakang Aurora, menatap pantulan calon menantunya melalui cermin dengan mata berbinar-binar penuh haru.
"Kau sangat cantik, sayang..." bisik Zephyr lembut. Jemari lentiknya yang mengenakan cincin zamrud mengusap pelan bahu Aurora. "Benar-benar luar biasa cantik. Saat pertama kali Braxley membawamu dalam ingatan dan obsesinya bertahun-tahun lalu, aku tahu kau adalah satu-satunya wanita yang ditakdirkan untuk melengkapi putraku."
Aurora memutar tubuhnya perlahan, menatap ibu dari Braxley itu dengan rasa hormat dan kasih sayang yang membuncah.
"Terima kasih, Mommy..." suara Aurora bergetar tipis oleh keharuan. "Terima kasih karena tidak pernah memandang sebelah mata masa laluku. Terima kasih karena sudah menerima Draco dan diriku dengan begitu hangat."
Zephyr tersenyum anggun, memegang kedua tangan Aurora. "Masa lalumu adalah bukti betapa kuatnya dirimu, Sayang. Seorang wanita yang bertahan hidup di tengah neraka demi anaknya bukanlah wanita lemah, melainkan seorang ratu. Dan mulai minggu depan, dunia akan melihatmu berdiri di puncaknya bersama Braxley."
Tiba-tiba, pintu ruang rias terbuka pelan. Baxeena melangkah masuk sembari menggendong Draco yang sudah mengenakan tuksedo bayi mini berwarna hitam lengkap dengan dasi kupu-kupu merah.
Bayi berusia dua bulan itu mengoceh halus, menendang-nendangkan kakinya yang menggemaskan.
"Lihat siapa yang sudah siap mengawal Mommynya ke altar!" seru Baxeena terkekeh, menyerahkan Draco ke dalam pelukan Aurora.
Aurora menyambut putranya dengan senyuman berhiaskan air mata bahagia. Ia mengecup pipi gembul Draco yang wangi. Draco menatap ibunya dengan manik mata bulatnya yang jernih—manik mata yang 99,99% mewarisi cetak biru murni dari Braxley Valerio-Desmon.
Tidak ada lagi bayang-bayang ketakutan bahwa Draco akan direbut atau dicap sebagai 'anak haram'.
Putra kecilnya kini adalah pangeran kecil yang dilindungi oleh seluruh kekuatan dan kekayaan dinasti Desmon.
...~~...
Sementara itu, di ruang kerja lantai dasar, suasana penuh dengan aura dominasi yang dingin.
Braxley berdiri di dekat meja mahoni, merapikan rompi hitam dan jas formalnya. Pria itu tampak begitu tampan, tegap, dan memancarkan wibawa kepemimpinan yang makin matang.
Di hadapannya, Austin Jaxon sedang menyesap wiski tahunan dari gelas kristalnya, sementara Clark berdiri memegang map laporan hukum terbaru.
"Bagaimana perkembangan di penjara pusat, Clark?" tanya Braxley dingin, suaranya datar tanpa ada sedikit pun keraguan.
"Laporan resmi dari kejaksaan baru saja masuk, Tuan Desmon," jawab Clark dengan nada profesional. "Jonathan Carser telah resmi dijatuhi dakwaan berlapis: penggelapan dana publik, manipulasi dokumen, serta kekerasan dalam rumah tangga dan pencemaran nama baik berat. Tim pengacara Carser Corporation telah membubarkan diri karena aset mereka habis disita untuk membayar ganti rugi."
Austin meletakkan gelas kristalnya di atas meja dengan denting halus. "Apakah ada pihak lain dari keluarga Carser yang mencoba mengajukan banding atau menghubungi media lagi?"
"Tidak ada, Tuan Austin," Clark menggeleng mantap. "Ayah dan kerabat Jonathan telah melarikan diri ke luar negeri setelah seluruh jalur bisnis mereka diblokir oleh konsorsium perbankan kita. Jonathan kini benar-benar sendirian di dalam sel tahanan isolasi."
Braxley menyunggingkan senyuman tipis yang sangat tajam—sebuah senyuman seorang pemenang yang telah meratakan musuhnya hingga tak berbekas.
"Pastikan hukuman maksimal dua puluh tahun penjara dijatuhkan tanpa celah," ujar Braxley pelan namun sarat perintah mutlak. "Aku tidak ingin mendengar nama bajingan itu lagi saat aku mengucapkan janji suci di altar."
"Baik, Tuan Desmon. Semua sudah terkunci rapat," tegas Clark sebelum mengundurkan diri dari ruangan.
Austin melangkah mendekati putra tunggalnya, menatap Braxley dengan pandangan seorang ayah yang bangga. Pukulan dan kemurkaan beberapa minggu lalu telah menguap, digantikan oleh rasa hormat atas kedewasaan Braxley yang berhasil melewati perang batin terberat dalam hidupnya.
"Kau sudah bertindak seperti seorang Desmon sejati, Braxley," ucap Austin, menepuk bahu tegap putranya dengan kuat. "Kau melindungi wanitamu, merebut kembali anakmu, dan menghancurkan musuhmu tanpa keraguan. Aku bangga padamu."
Braxley menatap sang ayah, mengangguk pelan. "Terima kasih, Dad. Terima kasih karena sudah membentengi keluarga kita saat aku sempat kehilangan arah."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sore harinya, setelah sesi latihan tata cara pernikahan dan pemeriksaan akhir dekorasi di katedral pribadi keluarga, Braxley mencari keberadaan Aurora.
Ia menemukan Aurora sedang berdiri sendirian di balkon sayap kanan mansion, menatap hamparan pemandangan taman bunga yang hijau dan cakrawala Los Angeles yang mulai diselimuti warna jingga keemasan.
Angin sore berhembus lembut, memainkan helai-helai rambut hitam Aurora.
Braxley melangkah pelan dari belakang, melingkarkan kedua lengan tegapnya di sekeliling pinggang Aurora, menarik tubuh hangat wanita itu rapat ke dadanya. Ia menyandarkan dagunya di bahu Aurora, menghirup dalam-dalam aroma parfum manis dan ketenangan yang memancar dari diri wanita itu.
Aurora tersenyum, mengusap lengan tegap Braxley yang terikat di pinggangnya. "Kau membuat kaget, Axley..."
"Aku merindukanmu," bisik Braxley tepat di telinga Aurora, suaranya yang serak dan dalam mengirimkan sensasi hangat yang menyenangkan ke seluruh tubuh Aurora. "Padahal baru dua jam kita tidak bertemu karena urusan gaun dan berkas."
Aurora tertawa kecil, memutar tubuhnya sedikit di dalam dekapan Braxley untuk menatap wajah tampan pria itu. "Kau menjadi sangat manja belakangan ini, Tuan Desmon."
"Hanya padamu," balas Braxley tanpa ragu, mendaratkan kecupan lembut di dahi Aurora, lalu turun ke pucuk hidungnya, dan berakhir menggoda di sudut bibirnya.
Tidak ada lagi keraguan. Tidak ada lagi gelombang mual atau kelelahan psikosomatis.
Setiap kali Braxley menyentuh kulit Aurora kini, yang dirasakannya hanyalah kehangatan murni, rasa memiliki yang mendalam, dan ketenangan jiwa yang utuh. Terapi kognitif bersama Dr. Harrison dan keberanian mereka untuk saling terbuka telah membakar habis sisa-sisa trauma masa lalu.
"Axley..." panggil Aurora pelan, jemarinya membelai garis rahang Braxley yang tegas.
"Ya, Sayang?"
"Terima kasih karena sudah bertarung sangat keras untuk kita," tutur Aurora tulus, matanya yang jernih menatap lurus ke dalam manik mata Braxley. "Terima kasih karena tidak membiarkan rasa sakit atau tuduhan orang lain menghancurkan apa yang kita miliki."
Braxley menatap Aurora dengan binar pemujaan yang pekat. Pria itu mengecup jemari Aurora satu per satu dengan ketakziman yang luar biasa.
"Akulah yang harus berterima kasih, Aurora," jawab Braxley dengan nada bucin yang begitu tebal dan jujur. "Kau memberikan kehidupan kedua untukku. Kau memaafkan kebodohanku, dan kau memberiku Draco. Mulai minggu depan dan untuk selamanya, hidupku, kekuasaanku, dan seluruh nafasku sepenuhnya adalah milikmu."
Aurora meneteskan air mata bahagia, merangkulkan kedua tangannya di leher Braxley dan menarik pria itu ke dalam sebuah ciuman hangat yang dalam.
Di bawah pendar matahari terbenam yang memukau, dua jiwa yang pernah hancur oleh kejamnya takdir kini berdiri kokoh di atas benteng cinta yang tak kan pernah bisa dilukai oleh siapa pun lagi.
😔
makin prokdutif banget thor bulan ini udh baru lgi muncul🥳