NovelToon NovelToon
Sistem Ayah Level Dewa

Sistem Ayah Level Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Perubahan Hidup / Sistem / Kaya Raya / Bapak rumah tangga
Popularitas:16k
Nilai: 5
Nama Author: Surya Mandala

"Arya Pratama adalah mahasiswa miskin yang hidup pas-pasan. Satu-satunya kebanggaannya adalah Kirana, pacar tercantik di kampus.

Namun segalanya hancur saat Kirana datang dengan kabar: ""Aku hamil."" Keluarga Kirana yang kaya raya menghina dan mengusirnya.

Dunia Arya runtuh—hingga sebuah sistem misterius aktif di kepalanya: [Sistem Ayah Level Dewa]. Setiap langkah tanggung jawabnya sebagai ayah diganjar hadiah luar biasa: uang miliaran, saham, teknologi canggih.

Kini Arya berjuang melawan preman, fitnah, dan musuh politik, sambil membangun kerajaan bisnis. Bisakah ia membuktikan bahwa menjadi ayah muda bukanlah akhir—melainkan awal dari segalanya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Surya Mandala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10

Bab 010 - Dua Keluarga

Dua hari berlalu cepat.

Arya tidur sedikit. Ia membaca ulang dokumen legal, mencetak ringkasan, menyiapkan bukti transfer, jadwal kontrol, dan daftar rencana hidup enam bulan ke depan.

Kirana juga nyaris tidak tenang. Ia beberapa kali mengganti baju sebelum akhirnya memilih dress longgar warna biru muda. Sari datang pagi-pagi untuk membantunya merapikan rambut.

"Bernapas," kata Sari. "Calon mertua mencium rasa takut."

Kirana menatapnya lemah. "Kamu membuatku makin takut."

"Bagus. Berarti kamu masih hidup."

Arya keluar dari kamar dengan kemeja putih dan map hitam di tangan.

Sari menatapnya dari atas sampai bawah.

"Lumayan. Jangan terlalu banyak bicara. Orang tua biasanya lebih percaya jawaban pendek."

"Aku ingat."

Arya turun ke basement. Mercedes-Benz S-Class S680 menunggu di parkir penghuni. Ia memilih mobil itu untuk menjemput orang tuanya. Bapak Hendra harus melihat langsung aset yang perlu dijelaskan. Menyembunyikannya hanya akan membuat kecurigaan lebih tajam.

Bandara Juanda ramai siang itu.

Ketika Bapak Hendra dan Ibu Sri keluar dari pintu kedatangan, Arya langsung berdiri tegak.

Ibu Sri membawa tas kecil dan wajah lelah. Bapak Hendra berjalan di sampingnya dengan rahang kaku.

Arya mencium tangan mereka.

"Assalamualaikum, Bapak. Ibu."

"Waalaikumsalam," jawab Ibu Sri pelan.

Bapak Hendra melihat Mercedes di belakang Arya.

"Mobil siapa?"

"Mobil saya, Bapak."

Tatapan Bapak Hendra tajam.

"Kita bicara di rumahmu."

Perjalanan dari bandara ke Grand Surya Residence berlangsung berat. Ibu Sri beberapa kali menatap interior mobil, lalu menatap Arya melalui kaca spion. Bapak Hendra diam sepanjang jalan.

Arya tidak menyalakan musik.

Di gerbang apartemen, satpam memberi hormat setelah melihat data penghuni. Lift membawa mereka ke Tower A Lt.16.

Begitu pintu unit terbuka, Ibu Sri berhenti.

"Ya Allah..."

Bapak Hendra masuk lebih dulu. Ia memeriksa ruang tamu, kamar, dapur, balkon, dan kamar bayi. Ia tidak menyentuh banyak barang. Matanya yang bekerja.

Kirana berdiri di dekat sofa.

"Assalamualaikum, Pak. Bu."

Ibu Sri langsung mendekat. Ia memegang tangan Kirana. Wajahnya penuh air mata.

"Waalaikumsalam, Nak."

Kirana menangis lagi. "Maaf, Bu."

Ibu Sri memeluknya singkat. "Duduk dulu. Kamu sedang hamil."

Bapak Hendra melihat adegan itu, lalu menoleh kepada Arya.

"Map."

Arya menyerahkan map hitam.

Mereka duduk di ruang makan. Bapak Hendra membaca setiap lembar: kontrak lisensi perangkat lunak, pembayaran royalti, bukti investasi, dokumen kendaraan, sertifikat unit, dan rekening Bank Nusantara.

Sepuluh menit berlalu.

Tidak ada yang bicara.

Bapak Hendra akhirnya meletakkan kertas pertama.

"Kamu mengerjakan proyek ini sejak kapan?"

"Sejak semester enam. Awalnya kecil. Beberapa modul dipakai perusahaan logistik. Pembayaran besarnya baru cair."

"Kenapa tidak pernah bilang?"

"Saya pikir belum layak dibanggakan."

"Sekarang mendadak punya apartemen, dua mobil mahal, dan pacar hamil."

Kalimat itu menghantam langsung.

Arya menunduk. "Saya salah dalam bagian terakhir. Untuk aset, saya siap diaudit Bapak."

Bapak Hendra menatapnya.

"Jangan menantang dengan kata audit kalau kamu tidak siap."

"Saya siap."

Ibu Sri memegang tangan Kirana di sofa. Kirana menunduk, sesekali mengusap air mata.

Bapak Hendra membuka halaman rencana hidup.

"Kontrol kehamilan dua minggu sekali. Biaya vitamin. Rencana wisuda Kirana. Rencana bicara dengan Ibu Ratna. Rencana nikah."

Ia berhenti di kata terakhir.

"Kapan?"

Arya menatap ayahnya. "Secepat keluarga Kirana bisa diajak bicara. Saya ingin datang ke Malang, meminta maaf, lalu mengurus nikah secara benar."

"Kamu tahu wali nikah di keluarga Kirana siapa?"

Kirana menjawab pelan, "Om Agus, Pak. Adik almarhum ayah saya."

Bapak Hendra mengangguk. "Berarti kamu harus siap menghadapi beliau."

"Saya siap."

Bapak Hendra mengetuk kertas dengan ujung jari.

"Di rencana ini kamu tulis Kirana tetap menyelesaikan skripsi. Bagaimana kalau mualnya parah?"

"Saya siapkan jadwal lebih ringan. Kalau perlu, saya bantu komunikasi dengan dosen pembimbing dan Sari menemani saat saya ada urusan."

"Bagaimana kalau kampus mendengar kabar ini?"

"Saya tidak akan membiarkan Kirana menjadi sasaran sendirian. Kalau perlu, saya menghadap pihak fakultas lebih dulu."

"Biaya lahiran?"

"Saya sisihkan rekening khusus. Setelah kontrol berikutnya, saya pilih rumah sakit dan paket persalinan yang aman."

"Tempat tinggal setelah menikah?"

"Tetap di sini sampai kondisi stabil. Keamanan apartemen lebih baik. Ibu Ratna bisa datang kapan pun."

Bapak Hendra menatapnya tanpa berkedip.

"Kamu menjawab seperti sudah latihan."

"Saya memang latihan, Bapak. Saya tidak mau datang kosong di depan Bapak."

"Siap dimaki?"

"Siap."

"Siap ditolak?"

"Saya tetap datang lagi."

"Siap menikah sebelum wisuda?"

Arya menarik napas. "Siap."

Ibu Sri menoleh, kaget. Kirana juga menatap Arya.

Bapak Hendra menutup map.

"Kamu sudah membuat kesalahan besar. Tanggung jawabmu harus lebih besar lagi."

"Saya paham."

"Kamu harus nikah secepatnya."

Kirana menunduk makin dalam.

Ibu Sri mengusap punggung tangannya. "Nak, Ibu tahu ini berat. Orang tua mana pun pasti sakit hati mendengar kabar seperti ini. Anak di perutmu tetap harus dilindungi dari kepanikan orang dewasa."

Kirana menangis tanpa suara.

Sore itu mereka makan di restoran bawah apartemen. Arya memilih ruang privat kecil agar Kirana tidak menjadi tontonan. Bapak Hendra terus bertanya: skripsi, biaya hidup, dokter, hubungan dengan kampus, rencana bertemu Ibu Ratna, dan cara menjaga nama baik keluarga.

Arya menjawab satu per satu.

Pendek.

Jelas.

Tanpa menyalahkan Kirana.

Pada pertanyaan terakhir, Bapak Hendra bertanya, "Kalau keluarga Kirana meminta kamu menikah siri dulu?"

Arya diam sebentar.

"Saya akan terima kalau itu jalan yang membuat Kirana dan bayi aman secara keluarga. Setelah itu saya tetap urus resmi di KUA."

Bapak Hendra menatapnya lama.

"Bagus. Jangan menjadikan nikah siri sebagai tempat bersembunyi. Itu tangga darurat. Setelah itu tetap ada KUA, keluarga, dan tanggung jawab resmi."

"Saya paham."

Bapak Hendra menyandarkan tubuh. Wajahnya masih keras, tetapi suaranya turun sedikit.

"Kamu juga harus menjaga Kirana dari dirimu sendiri. Jangan karena punya uang, kamu merasa semua keputusan ada di tanganmu. Tanya dia. Dengarkan dia. Perempuan yang sedang hamil muda sering menahan banyak hal demi tidak membuat orang lain panik."

Arya menoleh ke Kirana.

"Saya akan ingat."

Kirana menggenggam gelas air dengan dua tangan. Untuk pertama kalinya hari itu, ia berani menatap Bapak Hendra tanpa langsung menunduk.

Malamnya, setelah Kirana tidur, Ibu Sri berdiri di dekat jendela ruang tamu bersama Bapak Hendra.

"Kirana anak baik," bisik Ibu Sri.

Bapak Hendra memandang lampu kota.

"Aku tahu."

"Dia takut sekali."

"Wajar."

"Tapi keluarganya belum tahu."

Bapak Hendra tidak langsung menjawab.

Di sofa, Arya yang pura-pura membaca dokumen mendengar semuanya.

Ibu Sri melanjutkan, "Kalau ibunya tidak menerima?"

Bapak Hendra menatap pintu kamar tempat Kirana tidur.

"Maka besok masalah kita baru dimulai."

1
Ria Gazali Dapson
kirana bnyak tanya ya, udh untung arya mo tanggung jawab, dg fasilitas wow , ga da rasa syukur nya ,cuma penasaran⁹ doang , liatin ja dulu , bersama dg waktu akn mnjawab semua , karena suatu anugerah, sedang tercurah k arya
Maulana Sejati
buruk
Maulana Sejati
ni yg nggak masuk akal, punya sistem,sdh tau ada ancaman tpi trnyata msh dbuat cerita yg bgini...prettt
penggemar_Uangkecil?!
👍👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
sitanggang
gak seru, kok system org Lain ad yg tau🤣🤣🤣🤣🤣
σяιмσтσ (^• . •^)
.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!