"Raka Pradana, pengangguran dengan uang pas-pasan, tiba-tiba mendapatkan Sistem Arsitek Talenta—kemampuan melihat potensi tersembunyi yang dibuang perusahaan besar.
Syaratnya: dirikan perusahaan legal, bayar karyawan layak, ubah bakat menjadi keuntungan. Dari pabrik kasur kecil di Cikarang, ia membangun PT Arunika Karya Nusantara menjadi jaringan bisnis raksasa.
Konglomerat lama panik dan melancarkan fitnah, perang harga, hingga sabotase ekspor. Namun setiap serangan justru membuka kekuatan baru. Ketika Arunika ekspansi ke Kuala Lumpur, musuh menawarkan harga yang bisa membuatnya kaya seumur hidup.
Dua pilihan: menjual semua orang yang percaya padanya, atau gunakan bakat yang dulu diremehkan untuk menumbangkan imperium. Kali ini, sistem tak akan memilihkan jawabannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
"Yang ini berpindah kerja empat kali dalam dua tahun."
Bima meletakkan CV Dimas Satrya di tumpukan ditolak.
"Yang satu lagi tidak punya pengalaman manufaktur." CV Naya Putri menyusul di atasnya. "Kita membutuhkan orang yang bisa menghasilkan penjualan, bukan menambah biaya eksperimen."
Raka mengambil kembali kedua CV itu.
Mereka menyewa ruang rapat harian di sebuah kantor bersama di Depok. Biayanya dihitung per jam. Setiap menit Bima berbicara tentang biaya, angka di sudut layar pemesanan seolah ikut mengejek mereka.
"Dimas punya dua kampanye yang viral," kata Raka.
"Dan tiga proyek yang berhenti di tengah jalan."
"Naya punya video dokumenter dengan penonton sedikit, tapi penyuntingannya rapi."
"Tidak ada satu pun kasur dalam portofolionya."
"Bagus. Berarti mereka belum punya kebiasaan buruk dari industri kasur."
Bima menatapnya datar. "Kalimat itu terdengar cerdas hanya jika kita punya cukup uang untuk menanggung kesalahan mereka."
Pintu terbuka sebelum Raka menjawab.
Dimas masuk lebih dulu dengan ransel setengah terbuka dan rambut yang sepertinya disisir menggunakan tangan. Naya datang satu menit kemudian, membawa laptop, hard disk, dan salinan portofolio yang diberi label.
Dimas melihat Naya. "Kita wawancara bersama?"
"Sepertinya begitu."
Bima langsung masuk ke inti. "Kalian mendapat tes yang sama. Kami punya pabrik lama yang berhenti, enam pekerja, mesin terbatas, dan belum punya produk. Buat konsep konten tiga puluh detik yang membuat calon pelanggan mau melihat, tanpa berbohong tentang keadaan pabrik. Waktu empat puluh menit."
Dimas tersenyum. "Cuma itu?"
Naya tidak tersenyum. "Kami boleh melihat materi pabrik?"
Raka memberikan folder foto dan video yang direkam Arif serta Hendra. Ada gerbang berkarat, lantai produksi kosong, pekerja memakai alat pelindung baru, dan gembok merah pada mesin sengketa.
Dimas langsung menarik beberapa klip.
"Mulai dari mesin mati," katanya cepat. "Lalu teks besar: Pabrik Ini Ditinggalkan. Setelah itu potong ke Raka membuka pintu, musik naik, semua mesin menyala. Judulnya: Kami Mengambil Alih dalam Satu Malam."
"Tidak semua mesin boleh menyala," kata Naya.
"Itu dramatisasi."
"Itu klaim palsu. Mesin yang digembok akan terlihat di materi mentah. Kalau orang menemukan versi lengkapnya, videonya mati dalam sehari."
Dimas menggeser kursinya. "Kalau semuanya dijelaskan, tiga puluh detik jadi laporan audit."
"Kalau semuanya dilebihkan, tiga puluh detik jadi bukti kebohongan."
Bima melipat tangan. Raka diam.
Dimas menyusun potongan cepat: gerbang, debu, percikan gerinda, wajah pekerja, Raka menandatangani kontrak. Naya menonton sampai selesai, lalu menghapus klip percikan gerinda yang seolah berasal dari mesin produksi.
"Hei! Itu pembukanya."
"Itu alat pembongkar, bukan alat produksi. Kau membuat seolah-olah pabrik sudah beroperasi."
Naya menggantinya dengan suara gembok ditutup. Layar hitam satu detik. Lalu muncul tangan Hendra menempelkan label verifikasi pada mesin yang boleh digunakan.
Teks baru muncul.
Kami Tidak Menyalakan Semuanya.
Kami Memeriksa Sebelum Memulai.
Dimas berhenti membantah.
Ia memajukan garis waktu, mempercepat tiga potongan, lalu menambahkan akhir: enam pekerja berdiri di lantai produksi yang masih kosong, adalah memegang daftar pekerjaan pertama.
"Kalau begini," katanya, "orang akan bertanya produk apa yang sedang dibuat."
"Itu pertanyaan yang jujur," jawab Naya.
Mereka menyelesaikan versi tiga puluh detik pada menit ketiga puluh enam.
Bima menontonnya dua kali.
"Belum menjual produk," katanya.
"Produknya memang belum ada," balas Naya.
"Tapi menjual rasa ingin tahu," kata Dimas. "Begitu sampel siap, kita punya penonton untuk tes pertamanya."
Raka membuka Matriks Potensi.
Dua panel muncul berdampingan.
[Dimas Satrya]
[Potensi utama: Mesin Ide.]
[Kekuatan: menghasilkan sudut kreatif dengan cepat, menghubungkan produk dan percakapan publik.]
[Risiko: impulsif, cenderung mendahulukan dampak sebelum bukti.]
[Naya Putri]
[Potensi utama: Pencerita Visual.]
[Kekuatan: menjaga konteks, membangun kepercayaan melalui urutan visual.]
[Risiko: terlalu berhati-hati, dapat kehilangan momentum.]
Mereka bukan dua kandidat sempurna.
Mereka adalah dua cacat yang saling menahan.
Bima mengetuk meja. "Saya masih tidak setuju merekrut keduanya sekaligus."
Dimas mengangkat alis. "Kami belum keluar ruangan, Pak."
"Bagus. Berarti Anda bisa mendengar alasannya. Uang kami terbatas. Riwayat kerja Anda tidak stabil. Dan perusahaan kami tidak membayar orang hanya karena satu tes terlihat bagus."
"Lalu kenapa memanggil kami?"
"Karena Pak Raka keras kepala."
Naya menutup laptop. "Kalau targetnya jelas, saya mau dengar. Kalau pekerjaannya hanya membuat bos terlihat hebat, saya tidak tertarik."
Raka mendorong dua lembar target tiga puluh hari.
Untuk Dimas: tiga konsep kampanye, satu kalender konten, satu uji respons, dan semua klaim produk harus punya sumber internal yang bisa diperiksa.
Untuk Naya: sistem penyimpanan materi, persetujuan versi, dua video produk, dan hak menghentikan publikasi jika konteksnya menyesatkan.
Keduanya dilarang masuk area mesin berbahaya tanpa izin dan pelatihan. Mereka bukan tenaga produksi cadangan. Ketika pabrik kekurangan orang, Raka tidak boleh begitu saja menyuruh mereka mengoperasikan mesin.
Dimas membaca batas publikasi. "Kalau semua harus disetujui, ide keburu dingin."
"Ada batas waktu persetujuan," kata Raka. "Bukan hak veto tanpa akhir."
Naya menunjuk target jangkauan. "Kalau data produk belum ada, angka ini terlalu tinggi."
"Kalian boleh menegosiasikan target sekarang. Setelah ditandatangani, jangan mengeluh karena baru membacanya."
Dimas dan Naya saling berpandangan.
Mereka mulai berdebat lagi, kali ini tentang pembagian kerja. Dimas ingin bergerak cepat. Naya menuntut folder bukti dan penanggung jawab klaim. Suara mereka beberapa kali bertabrakan.
Bima mengusap wajah.
"Ini akan membuat kantor berisik."
"Tapi tidak searah," kata Raka. "Itu yang kita butuhkan."
Satu jam kemudian, target diperbaiki. Kontrak selesai dibaca. Kewajiban kerja dan pendaftaran disiapkan. Dimas menandatangani dengan cepat, Naya membaca ulang dua halaman sebelum membubuhkan namanya.
Panel SAT menyala setelah seluruh data hubungan kerja lengkap.
[Karyawan terverifikasi: 9/10.]
Lalu satu angka terakhir bergerak.
[Karyawan terverifikasi: 10/10.]
[Syarat jumlah tim terpenuhi.]
[Peningkatan Level 2 belum tersedia.]
[Syarat tersisa: selesaikan satu pesanan nyata dari pelanggan nonafiliasi.]
Dimas mengangkat ponsel. "Jadi kapan kita ke pabrik? Aku mau ambil gambar sebelum orang-orang membersihkan semua debunya."
"Debu bukan aset merek," kata Naya.
"Kontras adalah aset merek."
"Kalau kau sengaja menambah debu, aku hapus semua klipmu."
Bima memandang Raka. "Anda yakin?"
Raka melihat dua kandidat yang tadi sudah dibuang hanya karena CV mereka tidak rapi. Kini keduanya berdiri di depan pintu, masih berdebat tentang cara membuat pabrik yang hampir mati terlihat menarik tanpa memalsukannya.
"Sangat yakin."
Menjelang sore mereka berangkat ke Cikarang. Hendra sudah menunggu di ruang kantor. Di atas meja, bukan ada daftar mesin atau slip gaji.
Ada sebuah lembar permintaan harga dari pengelola penginapan kecil.
Dua puluh kasur.
Tiga hari.
Hendra mendorong kertas itu kepada Raka.
"Sepuluh orang sudah lengkap, Bos," katanya. "Sekarang kita lihat apakah sepuluh orang ini bisa menghasilkan sesuatu yang mau dibayar orang lain."