NovelToon NovelToon
Langit Yang Menyimpan Janji

Langit Yang Menyimpan Janji

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Epik Petualangan / Fantasi Timur
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Dunia kultivasi terbagi menjadi banyak sekte dan keluarga besar. Orang-orang berlomba mencapai tingkat tertinggi demi keabadian.
Tapi protagonis kita?
Seorang pemuda biasa yang dianggap sampah oleh semua orang.
Dia nggak punya bakat kultivasi yang bagus. Bahkan keluarganya sendiri malu mengakuinya.
Sampai suatu hari, dia bertemu dengan seorang gadis dari sekte besar.
Cantik, dingin, berbakat, dan statusnya jauh di atasnya.
Awalnya mereka saling benci.
Lalu mulai saling peduli.
Lalu muncul masalah...
Si gadis ternyata sudah dijodohkan dengan seorang jenius dari sekte lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

​"Dia putri tunggal Patriark Keluarga Gu! Jenius nomor satu di kota ini!" seru Ruowei gemas. "Usianya baru enam belas tahun, tapi kultivasinya sudah mencapai Pengumpulan Qi tingkat kesembilan. Katanya sebentar lagi dia akan menerobos ke tahap Pendirian Fondasi!"

​Yunche mengangguk pelan. "Hebat juga."

​"Hanya 'hebat juga'? Kau tidak terkejut sama sekali?"

​"Untuk apa? Aku bahkan tidak kenal dia."

​Ruowei menatap Yunche dengan pandangan aneh. "Kadang-kadang aku merasa kau ini benar-benar manusia tanpa ambisi."

​Yunche tersenyum tipis, matanya menatap menerawang ke arah langit pagi yang cerah. "Ambisi? Aku punya, kok."

​"Benarkah? Apa?"

​Yunche tampak berpikir sejenak, lalu menjawab dengan wajah paling serius yang bisa ia buat. "Besok... sarapan lebih banyak."

​Puk!

​Ruowei langsung memukul lengan Yunche gemas. "Dasar tidak jelas!"

​Yunche tertawa lepas.

​Namun, ia sama sekali tidak menyadari bahwa tepat sehari setelah percakapan konyol itu, garis takdir hidupnya akan bergeser secara permanen.

​Bukan karena ia tiba-tiba menemukan teknik kultivasi kuno, bukan karena ia menemukan harta karun tersembunyi, dan bukan pula karena bakatnya mendadak melesat menjadi jenius. Melainkan karena untuk pertama kalinya, ia akan bertemu dengan seorang gadis yang kelak memegang peranan paling krusial dalam hidupnya.

​Keesokan harinya, Keluarga Shen menyambut kedatangan rombongan Keluarga Gu dengan megah. Kereta-kereta kuda berornamen indah berhenti di depan gerbang utama. Para tetua Keluarga Shen berbaris rapi di garda depan, sementara Yunche berdiri malas di barisan paling belakang.

​Ia menguap lebar. "Kenapa aku harus berdiri di sini juga?"

​"Karena ini acara resmi keluarga," bisik Ruowei di sampingnya tanpa menoleh.

​"Kalau aku kabur?"

​"Penatua Ketiga akan mematahkan kakimu."

​Yunche mengangguk paham. "Alasan yang sangat masuk akal."

​Kereta utama berhenti. Pria paruh baya berwibawa turun, disambut hangat oleh para tetua Shen. Mereka saling melempar penghormatan dan kata-kata manis khas bangsawan.

​Lalu, pintu kereta kedua terbuka.

​Seketika itu juga, atmosfer di area gerbang mendadak berubah hening. Seorang gadis melangkah turun dengan anggun. Pakaian gaun putih sederhananya membungkus tubuhnya dengan elok, sementara rambut hitam panjangnya terurai halus tertiup angin. Wajahnya amat jelita, namun bukan cuma parasnya yang menyita perhatian—melainkan aura dingin dan tenang yang terpancar alami dari dirinya.

​Gadis itu berdiri diam. Matanya yang jernih menyapu kerumunan di halaman, hingga akhirnya... pandangannya terhenti pada barisan paling belakang.

​Tepat pada seorang pemuda yang sedang... mengorek hidungnya tanpa beban.

​Gu Qingli terdiam seketika.

​Shen Yunche tidak menyadari menjadi pusat perhatian. Ia masih sibuk dengan urusannya sendiri sampai akhirnya merasa ada tatapan menusuk. Saat menyadarinya, Gu Qingli sudah memalingkan pandangan seraya bergumam amat pelan, "Orang aneh..."

​Namun, Yunche mendengarnya. Ia mengangkat kepala. "Hm?"

​Mata mereka kembali bertemu secara langsung. Untuk beberapa detik, keduanya hanya saling pandang dalam keheningan. Yunche menunjuk dadanya sendiri. "Ada apa?"

​Gu Qingli mengerutkan kening halus. "Tidak ada."

​"Lalu kenapa melihat-lihat ke mari?"

​"Aku tidak melihatmu."

​Yunche menunjuk matanya sendiri. "Jelas-jelas tadi mata kita beradu."

​Gu Qingli bungkam, sedikit terkejut dengan kelakuan pemuda di depannya.

​Ruowei yang panik setengah mati langsung menarik-narik lengan baju Yunche. "Yunche, diam! Jangan cari masalah!"

​"Aku cuma bertanya," bisik Yunche santai.

​Gu Qingli memalingkan wajahnya sepenuhnya. "Berisik."

​Yunche mengangkat alis. "Apa kau bilang?"

​"Kubilang, kau terlalu berisik."

​Yunche tertegun. Ini pertama kalinya dalam hidup ada orang asing—seorang gadis jenius pula—yang berani melontarkan kata-kata sepedas itu langsung di depan wajahnya.

​Di sampingnya, Ruowei menutupi mulutnya rapat-rapat. Bahunya bergetar hebat menahan tawa yang hampir meledak.

​Yunche memperhatikan punggung Gu Qingli yang mulai berjalan melangkah menjauh mengikuti rombongan. Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Aneh sekali gadis itu."

​"Hahaha!" Ruowei akhirnya tidak sanggup menahan tawa lagi.

​"Apanya yang lucu?"

​"Baru pertama kali bertemu dan kau langsung membuat musuh!"

​"Siapa yang bermusuhan? Dia yang melihatku duluan."

​"Lalu?"

​"Ya..." Yunche berpikir sejenak. "...berarti dia yang salah."

​Ruowei menggeleng-gelengkan kepala. "Logika dari mana itu?"

​Yunche tidak menjawab. Matanya tetap tertuju pada punggung Gu Qingli yang kian menjauh menyusuri koridor kediaman Shen. Entah mengapa, ada impresi unik yang tertinggal di benaknya.

​Namun, perasaan itu hanya melintas berkelebat. Yunche segera mengibaskannya dari pikiran. Bagi Yunche, Gu Qingli hanyalah seorang gadis dari keluarga terpandang—seorang jenius yang berdiri di panggung yang jauh berbeda dengannya.

​Ia tidak pernah membayangkan... bahwa bertahun-tahun kemudian, ketika mereka berdua berdiri menantang seluruh dunia kultivasi, Gu Qingli adalah satu-satunya sosok yang akan berdiri setia di sampingnya.

​Dan pada saat hari itu tiba, mereka akan mengenang kembali pertemuan pertama yang konyol ini. Sebuah pertemuan sederhana yang bahkan tidak pernah dianggap penting oleh siapa pun—sebuah awal kecil dari kisah mahakarya tentang cinta, pengkhianatan, takdir keluarga, serta sebuah janji... yang bahkan tak sanggup dihapuskan oleh langit.

​"Shen Yunche."

​Sebuah suara berat bernada tegas menghentikan langkah Yunche yang sedang berjalan santai. Ia menoleh ke belakang dan mendapati Penatua Ketiga berdiri beberapa meter darinya.

​Yunche menunjuk dirinya sendiri. "Saya?"

​"Memangnya ada Shen Yunche lain di sini?"

​Yunche menengok ke kiri dan kanan dengan wajah polos. "Siapa tahu ada."

​Penatua Ketiga menarik napas panjang, mencoba mengendalikan rasa sabarnya. "Ikut aku."

​"Mau ke mana?"

​"Balai Utama."

​"Kenapa?"

​"Jangan banyak tanya!"

​Yunche menghela napas pasrah. "Kalau tahu alasannya, kan saya bisa bersiap mental dulu."

​"Untuk apa?"

​"Biasanya kalau dipanggil Penatua, ujung-ujungnya cuma dimarahi."

​"Kali ini tidak."

​"Benarkah?"

​"Tidak juga."

​"Ah..." Yunche akhirnya tetap melangkah mengekor.

​Penatua Ketiga hanya bisa menggelengkan kepala. Pemuda satu ini benar-benar selalu sukses membuatnya pening.

​Suasana di dalam Balai Utama Keluarga Shen terasa jauh lebih formal dan tegang ketimbang biasanya. Patriark Shen duduk anggun di kursi utama, diapit oleh para tetua senior. Di hadapan mereka, duduk Patriark Gu bersama beberapa perwakilan keluarganya.

​Dan tepat di antara mereka... berdiri Gu Qingli.

​Ketika Yunche melangkah melewati ambang pintu, matanya langsung bertabrakan dengan tatapan jernih milik gadis itu. Keduanya sempat terdiam sejenak.

​Yunche menunjuk ke arah Gu Qingli seraya berbisik polos pada dirinya sendiri. "Kenapa dia ada di sini?"

​Gu Qingli mengerutkan kening halus. "Aku juga bisa menanyakan hal yang sama padamu."

​Yunche malah menoleh lurus ke arah Patriark Shen. "Patriark, kenapa dia boleh ada di sini?"

​Patriark Shen memejamkan mata sejenak, memijat pangkal hidungnya. "Yunche."

​"Ya?"

​"Diam."

​"Oh. Baik." Yunche langsung bungkam. Ia berjalan menepi ke sudut ruangan lalu duduk menglesot dengan santai.

​Gu Qingli memperhatikannya dari kejauhan dengan penuh tanda tanya. Ia tidak mengerti mengapa pemuda sekonyol ini dipanggil ke dalam pertemuan penting antar-keluarga. Dari cara berpakaian maupun auranya, pemuda itu sama sekali tidak memancarkan karisma seorang praktisi hebat. Bahkan jika dilihat dari fluktuasi energi spiritualnya...

​Pengumpulan Qi tingkat kedua? Gu Qingli memicingkan mata. Sepertinya memang benar. Kenapa pemuda selemah ini dipanggil ke sini?

​Ia menyapukan pandangan kembali ke depan ketika Patriark Shen mulai angkat bicara.

​"Seperti yang telah kita sepakati, Keluarga Shen dan Keluarga Gu akan mengadakan sesi latihan bersama bagi generasi muda," ujar Patriark Shen wibawa.

​Patriark Gu mengangguk setuju. "Benar. Tujuan utama kita adalah mempererat hubungan kedua keluarga, sekaligus menyeleksi beberapa murid berbakat untuk mengikuti ujian masuk Sekte Awan Biru."

1
Deutsch
mantap thor
Gia Uw
lanjut lagi
Alia Chans
Datang tiba-tiba, tujuan nya Darah 😭😭
apa gk syok tuh thor
obeng min
luar biasa
obeng min
hurra
obeng min
josss
obeng min
mana nih ketua
DeZigur: besok bang. 5 bab crazy up.
total 1 replies
obeng min
joss
obeng min
mantap
obeng min
lanjut thor
obeng min
gas thor mantap💪💪💪💪👍👍👍👍👍
Semoli Ginon
blom waktunga yunche. sabar 🤭
Semoli Ginon
🤣🤣
Semoli Ginon
duh yunche celamitan pula/Cry/
Semoli Ginon
dasar mc koplak emang 🤣
Semoli Ginon
merepet aja mulutnya yunche. husss diam dulu
Semoli Ginon
sangat tidak sopan 🤣
Semoli Ginon
mc nya rada koplak ini ya? 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!