"Setelah kecelakaan fatal yang merenggut nyawa suaminya, Nadhira terbangun dari koma dengan insting tajam, mampu mencium niat busuk orang lain. Setelah pulang, ia tak disambut kasih, melainkan dianiaya mertua dan ipar licik yang mengincar warisan suaminya. Mereka mengusirnya, memfitnahnya, serta memaksa ia melepas hak waris.
Bahkan ayah kandungnya menjualnya untuk dinikahkan dengan pria tua kaya demi keuntungan pribadi. Di titik paling terpuruk, Rayhan Pradipta, CEO dingin Pradipta Group dan mantan atasan suaminya, datang menawarkan pernikahan kontrak untuk saling melindungi.
Awalnya hanya hubungan transaksional, perasaan sejati perlahan tumbuh di antara mereka. Nadhira bangkit mandiri, membangun Mutiara Property menjadi perusahaan properti ternama dan membesarkan ketiga anaknya. Ia berani membalas semua perundungan keluarga masa lalu.
Namun obsesi Dinda, mantan ipar Rayhan, menyimpan rahasia gelap jaringan perdagangan manusia yang mengancam seluruh kebahagiaan barunya. Mampukah Nadhira menjaga keluarga dan cinta sejatinya sebelum semuanya hancur?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Bab 28
Makan Malam
Beberapa hari kemudian, Nadhira pulang menjelang magrib dan mencium aroma bawang putih dari dapur.
Ia baru selesai mengantar Kartika ke sesi awal dengan psikolog pilihan Kartika sendiri. Nadhira hanya menunggu di kafe seberang, tidak masuk atau meminta tahu isi pertemuan. Namun, perjalanan pulang terasa lebih ringan karena temannya benar-benar datang.
Di rumah, Mbak Wati berdiri di ambang dapur dengan wajah geli.
"Ada apa?" tanya Nadhira.
"Pak Rayhan melarang kami membantu."
Nadhira mengintip ke dalam.
Rayhan berdiri di depan kompor dengan lengan kemeja digulung sampai siku. Satu panci sup mengepul di sebelah wajan ayam kecap. Talenan penuh irisan daun bawang, sedangkan dua mangkuk kecil di atas meja diberi label Alif dan Arkan.
Alif duduk di bangku tinggi sambil memetik daun seledri terlalu kecil. Arkan memegang sendok kayu, mengaduk mangkuk kosong dengan kesungguhan seorang koki profesional.
"Kamu sedang apa?" tanya Nadhira.
Rayhan menoleh. "Memasak."
"Saya bisa melihat itu. Kenapa?"
"Karena orang rumah perlu makan."
Mbak Wati menutup mulut agar tidak tertawa.
Nadhira meletakkan tas. "Apa yang terbakar?"
"Tidak ada."
"Belum," kata Alif jujur.
Rayhan menatapnya. Alif buru-buru memasukkan seledri ke mangkuk.
Nadhira mencuci tangan dan mendekat. Ayam di wajan mengilap, potongan wortel dalam sup berukuran hampir sama, dan nasi sudah matang tanpa terlalu lembek. Ia mencoba kuah dengan sendok bersih.
"Enak."
"Kedengarannya seperti kamu kecewa."
"Saya sedang menyesuaikan diri dengan kenyataan bahwa CEO Pradipta Group bisa membedakan garam dan gula."
"Standar kamu rendah."
"Standar saya dibentuk oleh laki-laki yang dulu menganggap mi instan sebagai hidangan pesta."
Rayhan tidak tertawa, tetapi matanya menghangat.
Di meja persiapan, ia sudah memisahkan porsi anak sebelum menambahkan cabai. Catatan alergi dan jadwal makan Arkan ditempel dengan magnet pada lemari pendingin. Bahkan potongan ayam Alif dibuat lebih kecil agar mudah dikunyah.
"Kamu membaca buku menu Mbak Wati?"
"Saya membaca catatan dokter dan daftar yang kamu buat."
"Kapan?"
"Saat kamu menemani Kartika."
Nadhira mengambil dua piring, sementara Rayhan memindahkan sup. Mereka beberapa kali hampir bertabrakan di ruang antara kompor dan meja. Setiap kali itu terjadi, Rayhan menahan panci lebih tinggi dan memberi jalan, membuat jarak sempit tersebut terasa anehnya intim.
Alif ingin membawa mangkuk sendiri. Rayhan memberinya mangkuk plastik berisi dua sendok sup, bukan mangkuk panas penuh. Arkan mendapat tugas membawa serbet. Kedua anak berjalan menuju meja dengan wajah serius, bangga karena dianggap membantu tanpa diberi benda berbahaya.
Mereka makan di meja kecil dekat dapur, bukan ruang makan formal. Alif meminta ayam tanpa cabai. Arkan meniup sup terlalu keras sampai satu potong wortel jatuh. Rayhan mengelap meja tanpa memanggil staf.
"Papa masak lagi besok," kata Alif.
"Besok Papa bekerja."
"Malam."
"Papa juga perlu tidur," kata Nadhira.
Alif berpikir. "Hari Minggu."
Rayhan menyerah. "Hari Minggu."
Arkan mengangkat sendok. "Ayam lagi."
"Supnya tidak mau?"
"Ayam sama sup."
"Tuntutannya bertambah," kata Nadhira.
Setelah anak-anak sibuk menghabiskan puding, Nadhira bertanya kapan Rayhan belajar memasak.
"Dulu," jawabnya.
"Jawabanmu selalu sangat informatif."
Rayhan meletakkan gelas. "Setelah ibu saya pergi, saya sering tinggal bersama orang dewasa yang pulang malam. Dapur bukan tempat yang selalu terisi. Kalau ingin makan sesuatu selain roti, saya harus belajar."
Nadhira tidak menyela dengan rasa kasihan. "Umur berapa saat pertama kali memasak?"
"Enam atau tujuh. Telur pertama saya gosong. Wajannya dibuang."
"Karena telurnya?"
"Karena saya meninggalkan spatula plastik di atasnya."
Nadhira tertawa. Alif ikut tertawa meski tidak memahami sepenuhnya. Arkan memukul meja dengan telapak kecil, senang karena semua orang bersuara bersama.
"Jadi kamu tidak langsung sempurna," kata Nadhira.
"Jangan sebarkan."
"Terlambat. Ada tiga saksi."
Mbak Wati yang berdiri di dekat pintu mengangkat tangan. "Empat, Pak."
Untuk pertama kalinya, Rayhan tertawa kecil di depan seluruh meja.
Sebelum bangkit, Nadhira membantu mengumpulkan piring. Rayhan menahan satu piring dari tangannya.
"Saya yang memasak. Bukan berarti kamu harus membersihkan."
"Saya juga tinggal di sini."
Mereka akhirnya mencuci piring bersama, meski mesin pencuci ada di bawah meja. Alif membilas sendok plastik dalam baskom kecil. Arkan mengelap meja dengan kain yang terlalu basah. Air menetes sampai lantai, tetapi tak seorang pun memanggil staf untuk membereskan kebersamaan yang berantakan itu.
Setelah makan, ia mengajak anak-anak naik ke lantai dua. Pintu kamar yang selama beberapa hari ditutup kini terbuka. Bau kayu baru menyambut mereka.
Di dalam, berdiri ranjang susun dari kayu berwarna madu. Bagian bawah rendah dan cukup lebar untuk Alif. Bagian atas memiliki pagar tinggi, tangga lebar yang menempel kuat, serta lampu baca kecil yang kabelnya tertutup. Di sisi dinding ada rak untuk mobil merah Alif dan buku-buku Arkan.
"Wah!" Alif berlari masuk, lalu berhenti karena Nadhira mengangkat tangan.
"Pelan. Kita periksa dulu."
Rayhan menunjukkan baut yang ditanam, sudut yang dibulatkan, pagar pengaman, dan alas antiselip. Untuk saat ini Arkan mendapat bagian bawah karena kadang bangun malam, sedangkan tempat atas hanya dipakai dengan pendampingan sampai anak-anak cukup aman. Kasur lama tetap disimpan, sehingga mereka tidak dipaksa berbagi kamar setiap malam.
Ia juga menunjukkan pengikat ke dinding dan lembar pemeriksaan dari teknisi rumah yang diminta menguji beban pagi tadi. Nadhira menggoyang tangga dengan kedua tangan. Rangka itu tidak bergerak.
"Anak-anak memilih bentuk rak?" tanyanya.
"Alif memilih tempat mobil. Arkan menunjuk gambar bulan untuk lampu."
Di bawah lampu baca terdapat ukiran kecil berbentuk bulan sabit. Pada sisi ranjang bawah, satu lingkaran merah menandai tempat mobil Alif. Tidak ada nama permanen, sehingga kedua anak bisa bertukar tempat tanpa merasa ranjang itu milik satu orang saja.
"Kalau salah satu ingin kembali ke kamar lama?"
"Kita pindahkan kasurnya. Ranjang ini pilihan, bukan aturan."
Jawaban itu membuat Nadhira menyentuh permukaan kayu yang halus. Rayhan ternyata mendengarkan lebih banyak daripada yang ia tunjukkan, termasuk pelajaran tentang rumah yang aman karena pintunya bisa dibuka dan pilihan bisa diubah.
"Kapan tukangnya datang?" tanya Nadhira.
"Tidak ada tukang."
"Jangan bilang kamu juga membuat ini."
Rayhan mengusap serbuk kayu tipis yang masih menempel di bawah rak. "Bengkel di belakang garasi punya alat. Saya mengerjakannya setelah anak tidur."
Nadhira teringat bunyi ketukan tengah malam, rak yang pernah diperbaiki, dan dua bagian mobil merah yang direkatkan. Tangan pria itu ternyata tidak hanya menandatangani kontrak atau memegang kemudi. Ia tahu cara mengukur, mengampelas, memasang pagar, dan menunggu lem kering.
"Kamu penuh kejutan," katanya.
Rayhan hampir tersenyum. "Sebagian hanya tidak pernah kamu tanyakan."
Anak-anak mencoba duduk di kasur bawah sambil menyusun bantal. Alif memutuskan malam itu mereka harus membaca buku di ranjang baru. Arkan membawa foto Dini dari bawah bantal lamanya dan menaruhnya di rak kecil tanpa ada yang melarang.
Nadhira melihat Rayhan memperhatikan gerakan itu, lalu membetulkan posisi bingkai agar tidak mudah jatuh.
Malam semakin larut. Setelah buku kedua, Arkan tertidur memeluk mobil merah yang sudah utuh. Alif masih terjaga, kepalanya di pangkuan Nadhira. Rayhan duduk di tepi kasur bawah sambil merapikan selimut.
Alif memandang mereka bergantian.
"Papa?"
"Ya?"
"Papa kapan tidur sama Mama?"