Lima tahun dipenjara. Enam puluh bulan tanpa satu pun kunjungan.
Keira Pratama keluar dengan kaki pincang, ginjal yang hilang, dan hati yang sudah membeku. Dia putri kandung keluarga konglomerat Pratama, tetapi sejak kecil dibuang ke panti asuhan, sementara Vanessa, anak orang lain, dimanjakan sebagai putri kesayangan.
Dulu, Vanessa mendorong seseorang dari tangga, tetapi Keira yang dipenjara. Mama-nya menghapus CCTV. Papa-nya menyuruhnya diam. Lucas, pria yang pernah dia cintai, justru menjadi orang yang mengirimnya ke balik jeruji.
Namun Keira yang kembali bukan lagi gadis penurut.
Saat rahasia mulai terbongkar, keluarga yang dulu membuangnya satu per satu hancur oleh penyesalan. Dan di saat semua orang meninggalkannya, Rayhan Hartono, pewaris Hartono Group, diam-diam berdiri di sisinya.
Kini mereka semua berlutut di bawah hujan.
Tapi bagi Keira, satu hal tetap belum terjawab: **apakah penyesalan mereka datang terlambat?**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vira Dusk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Bab 12
Konfrontasi Terakhir dengan Mama
Keira menutup artikel tentang Rayhan ketika terdengar ketukan di pintu gudang.
Yolanda masuk membawa semangkuk mi kuah bening di atas nampan. Ia sudah melepas perhiasan dan mengenakan kardigan sederhana, seolah pakaian bisa mengubahnya menjadi ibu yang hangat.
"Mama membuatkan ini untukmu."
Keira melihat irisan daun bawang yang sangat tipis dan telur yang direbus tepat tujuh menit. Tante Mira selalu memasak telur seperti itu karena dulu Keira sulit menelan kuning telur yang terlalu kering.
"Tante Mira yang memasaknya."
Langkah Yolanda berhenti. "Mama yang meminta. Sama saja."
"Tidak sama."
Yolanda menaruh nampan di meja tua. "Keira, Mama datang bukan untuk bertengkar. Mama ingin kita bicara sebagai ibu dan anak."
"Sejak kapan?"
"Sejak dulu Mama menyayangimu. Mama hanya tidak pandai menunjukkannya."
Keira menatap mi yang mengepulkan uap. Di rumah ini, bahkan semangkuk makanan buatan orang lain bisa dipakai Yolanda sebagai bukti kasih sayang.
"Yang bilang sayang itu kamu," ucap Keira. "Yang menghancurkanku juga kamu."
Wajah Yolanda runtuh. "Mama tidak pernah berniat menghancurkanmu."
"Lima tahun lalu, di kantor polisi, Mama memegang tanganku. Mama bilang, `Kamu lebih kuat dari Vanessa, kamu bisa menanggung ini.`"
"Mama sedang panik. Evelyn sekarat. Vanessa menangis."
"Aku juga menangis."
Keira masih mengingat ruang pemeriksaan yang berbau kopi basi. Yolanda duduk di samping Vanessa, menghapus air mata gadis itu dengan saputangan. Keira berada di kursi seberang dengan kedua pergelangan diborgol.
"Kalau kamu mengaku, hukumanmu mungkin ringan," kata Yolanda waktu itu. "Mama akan menyewa pengacara terbaik dan mengajukan banding. Vanessa tidak akan bertahan satu malam saja di tahanan, tapi kamu dibesarkan di panti. Kamu lebih kuat."
Keira menunggu pengacara itu selama berminggu-minggu. Yang datang justru Lucas sebagai kuasa hukum Vanessa. Banding tidak pernah diajukan. Setelah putusan lima tahun dibacakan, Yolanda meninggalkan pengadilan sambil memeluk Vanessa.
"Mama tidak pernah kembali," kata Keira. "Bahkan setelah aku melakukan persis apa yang Mama minta, meski bukan dengan mengaku. Aku tetap menanggung hukumannya sendirian."
"Kamu tidak terlihat selemah dia."
"Jadi karena aku kuat, aku boleh dikorbankan?"
Yolanda membuka mulut, tetapi jawaban apa pun akan terdengar kejam.
Keira melanjutkan, "Mama berjanji akan mengeluarkanku setelah keadaan tenang. Mama menyuruhku mengaku dulu. Ketika aku menolak, rekaman CCTV hilang."
"Mama tidak menghapusnya. Sistemnya rusak."
"Delapan tahun tinggal di sini mengajariku satu hal. Setiap bukti yang melindungiku selalu rusak. Setiap bukti yang menyalahkanku selalu dianggap sempurna."
Air mata Yolanda jatuh. Ia duduk di tepi ranjang lipat dan meraih tangan Keira.
Keira menarik tangannya sebelum disentuh.
"Mama salah. Mama mengaku salah." Yolanda menangis makin keras. "Tapi keluarga mana yang tidak pernah berbuat salah? Kamu tidak bisa membuang Papa, Mama, dan Ko Kevin karena masa lalu. Darah kita tetap sama."
"Vanessa tidak punya darah yang sama, tapi Mama memilihnya setiap hari. Jadi jangan pakai darah hanya ketika membutuhkan sesuatu dariku."
"Kamu membenci Mama?"
Keira memandang wajah perempuan itu tanpa marah.
Itulah yang paling menakutkan bagi Yolanda. Tidak ada lagi anak lima belas tahun yang memohon dipeluk. Tidak ada perempuan delapan belas tahun yang berteriak dari mobil polisi agar ibunya percaya. Bahkan kebencian sudah padam.
"Tidak," jawab Keira. "Aku sudah berhenti menunggu."
"Menunggu apa?"
"Menunggu Mama menjadi ibuku."
Yolanda menutup wajah dengan kedua tangan. Bahunya berguncang. Namun Keira bisa melihat pola yang sama: air mata datang ketika kata-kata tidak lagi berhasil, tangis membesar ketika orang lain tidak segera menghibur.
Keira mengambil nampan dan meletakkannya kembali di tangan Yolanda.
"Bawa keluar. Aku tidak lapar."
"Mama hanya ingin kita kembali seperti dulu."
"Dulu tidak pernah ada kita."
Yolanda berdiri dengan kaki goyah. Ketika keluar, kuah mi bergetar sampai tumpah ke nampan.
Keira menutup pintu.
Percakapan terakhir antara ibu dan anak berakhir tanpa pelukan.
Sore harinya, Lucas kembali muncul di gerbang. Petugas keamanan tidak berani mengusir pengacara yang selama ini dekat dengan Vanessa, jadi ia berjalan masuk sambil memanggil nama Keira.
Amanda kebetulan baru turun dari motornya.
Ia melepaskan helm. "Cari siapa?"
"Keira. Minggir."
"Dia tidak mau bertemu denganmu."
Lucas menatapnya dari atas ke bawah. "Ini urusan antara aku dan Keira. Anak pembantu tidak perlu ikut campur."
Amanda tersenyum. "Kalimat itu sedang populer di rumah ini, ya?"
Lucas mencoba melewatinya. Amanda bergeser menutup jalan.
"Aku bilang minggir."
Tangan Lucas terulur hendak mendorong bahunya.
Amanda menangkap pergelangan itu, membalik pinggul, lalu menjatuhkan Lucas melewati bahunya. Tubuh lelaki itu mendarat di rumput dengan napas terputus.
Gerakannya selesai dalam satu tarikan napas.
Amanda berjongkok, cukup jauh agar Lucas tidak bisa meraih.
"Dengarkan baik-baik, Bung. Kalau kamu berani mendekati Kei lagi, aku akan memastikan kamu tidak bisa berjalan."
Lucas bangkit dengan wajah merah. "Kamu mengancam seorang pengacara?"
"Tidak. Aku menjelaskan konsekuensi kalau kamu mengabaikan penolakan seorang perempuan. Sebagai pengacara, seharusnya kamu paham kata tidak."
Petugas keamanan menahan senyum.
Lucas membersihkan rumput dari kemejanya. Ia melihat Keira berdiri di balik jendela, tetapi Keira tidak bergerak untuk menolong.
Ia akhirnya pergi.
Amanda menepuk debu dari kedua telapak tangan, mengambil helm, lalu masuk ke gudang membawa bubur baru yang dibelinya dari luar.
"Mi tadi tidak dimakan?" tanyanya.
"Bukan masakan orang yang mengaku membuatnya."
Amanda tidak bertanya lebih jauh. Ia membuka bungkus bubur dan memastikan obat Keira diminum setelah makan.
Ia juga membawa pakaian longgar agar kain tidak menggesek luka, penutup perban cadangan, dan botol minum dengan sedotan yang bisa dibuka satu tangan. Semua diletakkan di tempat yang dapat dijangkau Keira tanpa berdiri.
"Aku datang karena Mama bilang Tante Yolanda masuk ke sini," ujar Amanda. "Dia menyakitimu lagi?"
Keira menatap pintu yang sudah tertutup. "Tidak. Dia hanya memastikan tidak ada lagi yang tersisa di antara kami."
Amanda tidak berkata bahwa itu bagus. Ia tidak merayakan putusnya hubungan seorang anak dengan ibu kandungnya. Ia hanya duduk di lantai dekat ranjang.
"Kalau begitu hari ini tidak perlu kuat," katanya. "Habiskan buburnya saja. Setelah itu tidur."
Keira mengambil satu suap lagi. Untuk pertama kalinya, seseorang membiarkan akhir hubungan itu menjadi duka, bukan kemenangan.
Ketika mangkuk sudah setengah kosong, Amanda merendahkan suara.
"Kei, aku sudah cari tahu tentang keluarga Hartono. Rayhan itu... rumor dan kenyataannya mungkin sangat berbeda."
Keira mengangkat kepala. "Kamu menemukan apa?"
Amanda mengedipkan satu mata. "Lusa kamu akan bertemu dia. Nanti lihat sendiri saja."
Pertemuan itu kini terasa sedikit lebih mengusik daripada menakutkan.