NovelToon NovelToon
Dosenku di Siang Hari, Ayah Anakku di Malam Hari

Dosenku di Siang Hari, Ayah Anakku di Malam Hari

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Romantis / Dosen
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Tere Nusa

**Kirana Ayu Wardhani cuma punya satu keinginan: punya rumah.**

Bukan rumah yang bisa dibeli. Rumah yang kalau dia pulang, ada yang nanya "udah makan belum?"

Dua puluh satu tahun, mahasiswa kedokteran, tiga pekerjaan sambilan, dan saldo dompet digital tinggal tiga puluh tujuh ribu rupiah — karena sisanya sudah ditransfer ke ibunya, buat bimbel adiknya.

Lalu satu malam mengubah segalanya. Dan sebulan kemudian, saat dia mengangkat kepala di kelas anatomi, laki-laki dari malam itu sedang berdiri di depan kelas.

Namanya **Pak Damar**. Dosen termuda di fakultas. Dan sekarang, dosennya sendiri.

Dua garis di testpack. Dua pilihan dari Pak Damar.

> *"Ada dua pilihan," katanya, sambil melepas kacamatanya. "Yang pertama, kamu sudah tahu. Yang kedua—"*
> *"Saya cuma pengin punya rumah, Pak."*
> *"Kalau begitu, kita nikah."*

Ayahnya menolak jadi wali. Ibunya minta dua ratus juta. Tetangga sudah mulai berhitung tanggal.

Tapi laki-laki yang katanya cuma dosen biasa itu datang ke rumah petak di Bekasi dengan **mahar** yang membuat seluruh kampung terdiam — satu set instrumen bedah jantung, dan akta notaris atas biaya kuliahnya sampai lulus.

*"Saya nggak taruhan di badan kamu. Saya taruhan di masa depan kamu."*

Mereka menikah. Mereka tidur di kamar terpisah.

Sampai malam itu Pak Damar berdiri di depan pintu kamarnya sambil memeluk bantal.

*"AC kamarku mati. Semalam aja."*

Besoknya dia datang lagi. *"Belum diperbaiki."*
Malam ketiga, dia nggak repot-repot bikin alasan. Dia cuma meletakkan bantalnya dan bilang:

**"Hemat listrik. Buat anak."**

Rana kira dia sudah tahu bentuk paling buruk dari hidupnya.

Dia belum tahu apa-apa.

Dia belum tahu bahwa gelas yang diminum suaminya malam itu **ada yang menaruh sesuatu di dalamnya** — dan orang itu sekarang berjalan di koridor fakultasnya, tersenyum kepada semua orang, membagikan takjil di bulan Ramadan.

Dia belum tahu bahwa lima tahun kemudian, dia akan pulang sebagai dokter — dan anak perempuannya sendiri akan menatapnya, lalu bertanya kepada ayahnya:

**"Ayah, itu siapa?"**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tere Nusa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20

Bab 20

Jadikan Aku Tempat Kamu Bersandar

Damar tidak langsung membawa Rana pulang.

Dia memarkir mobil di tepi taman yang sudah sepi, mematikan mesin, lalu menunggu. Lampu jalan jatuh di kaca depan. Suara kendaraan terdengar jauh, cukup untuk mengisi ruang tanpa memaksa siapa pun bicara.

Tiga puluh menit berlalu.

Pada sepuluh menit pertama, Damar membeli air dari minimarket lalu meletakkannya di tempat gelas. Pada menit kelima belas, dia menurunkan suhu AC karena Rana menggosok lengan. Pada menit kedua puluh, dia menerima telepon dari kampus dan memindahkan jadwal rapat tanpa menjelaskan alasan kepada penelepon.

Rana mengamati semua itu sambil diam. Damar tidak mendesak, tetapi dia juga tidak kabur ke pekerjaan. Setengah jam penuh, lelaki itu hanya menciptakan ruang agar Rana bisa memilih kata sendiri.

Rana tetap memegang sabuk pengaman.

“Kalau Mas mau marah, marah saja,” katanya akhirnya.

“Saya sedang berusaha tidak membuat kamu merasa diinterogasi.”

“Diam begini lebih menakutkan.”

Damar menoleh. “Baik. Kenapa kamu masih bekerja?”

“Saya butuh uang.”

“Berapa?”

“Bukan begitu.”

“Lalu bagaimana?”

Rana menatap tangannya sendiri. Ujung kukunya menyimpan noda kopi yang belum bersih.

“Kalau saya menyebut angka, Mas akan memberikannya.”

“Kalau kebutuhan itu wajar, iya.”

“Itu masalahnya.”

Damar tidak menyela.

Rana mengembuskan napas. “Sejak SMA, semua yang saya pakai dihitung. Uang seragam, ongkos, makan. Ibu bilang saya harus tahu diri karena keluarga sudah banyak berkorban. Waktu saya dapat beasiswa, sebagian uangnya diminta untuk Bagas. Waktu saya kerja pertama kali, gaji saya dipegang Ibu supaya tidak boros.”

“Kamu masih mengirim uang?”

“Kadang.”

“Dari upah kafe?”

Rana mengangguk.

Rahang Damar menegang, tetapi dia tidak mengomentari ibunya.

“Saya juga perlu punya uang yang bukan dari Mas,” lanjut Rana. “Kalau semua buku, makan, dokter, bahkan rumah dibayar Mas, saya takut suatu hari Mas bilang saya terlalu mahal.”

“Saya tidak akan bilang begitu.”

“Semua orang bilang begitu di awal.”

Damar menatap lurus ke depan. “Siapa semua orang itu?”

“Ibu. Ayah. Mantan pacar saya.”

Damar menoleh cepat, tetapi Rana sudah mulai bicara dan tidak ingin berhenti.

“Waktu kecil saya pernah menjatuhkan piring. Ibu menampar saya karena katanya uang untuk membeli piring baru seharusnya bisa dipakai Bagas. Sejak itu saya selalu menghitung harga barang sebelum menyentuhnya. Saya menghitung biaya kalau sakit. Saya menghitung berapa hari bisa tinggal di suatu tempat sebelum orang merasa rugi.”

“Ra.”

“Di rumah ini juga begitu. Saya tahu Mas bilang bukan utang, tapi kepala saya tetap menghitung. Kasur, pemeriksaan, susu, ongkos. Saya tidak tahu kapan tagihannya datang.”

Suara terakhirnya pecah.

Damar membuka sabuk pengaman, tetapi tidak mendekat. “Boleh saya pegang tangan kamu?”

Rana mengangguk.

Tangannya ditangkup dua telapak yang hangat. Tidak ditarik. Tidak digenggam terlalu kuat.

“Lihat saya,” kata Damar.

Rana mengangkat wajah.

“Saya minta maaf karena datang ke kafe dengan marah.”

“Mas tidak marah di sana.”

“Saya marah. Saya hanya tidak berteriak.”

“Karena saya berbohong.”

“Karena kamu membahayakan diri dan merasa tidak bisa bicara kepada saya. Kebohongannya tetap harus kita bahas, tapi ketakutan kamu lebih penting.”

Rana mengusap air mata dengan bahu. “Saya tidak mau jadi beban.”

“Kehamilan ini tanggung jawab kita berdua. Kuliah kamu adalah masa depan kamu. Membantu kamu melewatinya bukan memikul beban yang salah.”

“Kalau nanti Mas menyesal?”

“Bagaimana kalau Mas punya anak yang tidak direncanakan lalu hidup Mas berhenti?”

“Hidup saya tidak berhenti.”

“Berubah.”

“Iya. Hidup kamu juga berubah. Karena itu kita berdua yang menyesuaikan, bukan hanya kamu.”

Rana menatap perut yang belum tampak besar. “Kadang saya marah kepada bayi ini. Setelah itu saya merasa menjadi ibu yang buruk.”

“Perasaan bukan tindakan. Kamu boleh takut, marah, bahkan berduka atas rencana hidup yang berubah. Itu tidak berarti kamu akan menyakiti anak kita.”

“Mas pernah marah?”

Damar terdiam cukup lama. “Pada diri saya sendiri. Pada keadaan. Bukan pada kamu.”

“Kenapa tidak bilang?”

“Karena saya pikir tugas saya memberi solusi.”

“Saya tidak selalu butuh solusi.”

“Saya sedang belajar.”

Pengakuan itu melonggarkan simpul di dada Rana. Mereka ternyata sama-sama belajar menjadi keluarga, hanya dengan kesalahan yang berbeda.

“Saya akan bicara. Bukan mengeluarkan kuitansi.”

Rana tertawa kecil di sela tangis.

Damar mengusap punggung tangannya dengan ibu jari. “Saya tidak minta kamu berhenti bekerja selamanya. Saya tahu kamu ingin mandiri. Tapi jam kerja sekarang tidak aman. Kamu melewatkan makan, berdiri terlalu lama, dan pulang malam.”

“Saya sudah janji membantu sampai jadwal bulan ini selesai.”

“Berapa hari?”

“Empat shift lagi.”

Damar berpikir. “Selesaikan dua hari untuk serah terima. Shift pendek, tidak mengangkat barang, saya antar dan jemput. Setelah itu berhenti sampai kondisi kamu lebih stabil.”

“Mas membuat kontrak lagi.”

“Supaya kita tidak saling menebak.”

“Kalau saya ingin kerja lagi?”

“Kita cari yang jamnya aman dan tidak mengganggu kuliah.”

“Bukan Mas yang carikan.”

“Kamu yang pilih. Saya cuma boleh mengkritik.”

“Mas sangat suka mengkritik.”

“Keahlian dosen.”

Hening datang lagi, tetapi tidak setajam sebelumnya.

Rana memandang tangan mereka. “Saya masih takut menerima uang Mas.”

“Kita buat rekening pengeluaran rumah. Kamu tahu jumlahnya, kamu ikut mengatur, dan kamu tidak perlu minta setiap kali membeli buku. Kalau ingin rekening pribadi, tetap punya. Kalau ingin bekerja nanti, penghasilannya milik kamu.”

Damar mengeluarkan ponsel, tetapi Rana menahan tangannya. “Jangan dibuat malam ini. Nanti rasanya seperti rapat.”

“Baik.”

“Besok kita hitung bersama. Saya ingin tahu pemasukan yang memang boleh saya kelola, biaya rutin, dan batas pengeluaran yang perlu dibicarakan.”

“Setuju.”

“Saya juga tetap ingin menabung atas nama sendiri.”

“Itu hak kamu.”

“Mas tidak boleh memeriksa tanpa izin.”

“Setuju.”

Rana hampir tersenyum. Damar ternyata bisa membuat kontrak bahkan saat istrinya sedang menangis. Bedanya, kali ini setiap pasal disusun oleh mereka berdua.

“Mas percaya saya mengatur uang?”

“Kamu bisa menghidupi diri dengan upah kafe sambil kuliah kedokteran. Saya justru takut kamu terlalu hemat.”

Air mata Rana jatuh lagi. Kali ini dia membiarkannya.

“Saya capek, Mas.”

“Saya tahu.”

“Tidak, Mas tidak tahu. Saya capek harus kelihatan baik-baik saja. Capek minta maaf karena butuh sesuatu. Capek takut kalau pulang tidak ada tempat.”

Damar melepas satu tangannya, memberi ruang. “Kamu boleh mendekat kalau mau.”

Rana yang bergerak lebih dulu.

Dia menyandarkan dahi di bahu Damar. Lelaki itu menunggu sampai tubuhnya benar-benar rileks sebelum melingkarkan lengan. Pelukannya tidak menutup jalan keluar. Hanya cukup rapat untuk membuat Rana merasa tidak perlu menahan berat badannya sendiri.

Mereka duduk begitu lama. Rana mendengar detak jantung di balik kemeja Damar, teratur dan nyata. Ironis, pikirnya. Lelaki yang mengajarkan jantung kepada satu kelas kini membiarkan jantungnya menjadi tempat dia menenangkan napas.

“Ra,” kata Damar di atas rambutnya.

“Hm?”

“Sampai kamu bisa berdiri sendiri, jadikan aku tempat kamu bersandar dulu.”

Rana menutup mata.

Tidak ada yang pernah menawarkan kalimat seperti itu tanpa diikuti harga.

“Kalau saya terlalu berat?”

“Saya dosen anatomi. Postur saya terlatih.”

“Itu tidak ada hubungannya.”

“Saya sedang berusaha romantis.”

“Gagal.”

“Berarti kamu sudah tidak menangis.”

Rana mencubit sisi kemejanya. Damar tertawa pelan, getarannya terasa di pipi Rana.

Saat mereka tiba di apartemen, sudah lewat pukul sepuluh. Damar memanaskan sup. Rana duduk di meja dapur dan mengirim pesan kepada Mbak Sari bahwa dia akan menyelesaikan dua shift terakhir sebelum berhenti.

Mbak Sari membalas dengan emoji sedih dan pesan agar Rana menjaga kesehatan.

Kemudian pesan lain masuk dari ibunya.

Kirim lima ratus ribu besok. Bagas perlu servis motor.

Rana menatap layar. Refleks pertamanya adalah membuka aplikasi bank dan menghitung upah dua shift.

Damar meletakkan semangkuk sup di depannya. Dia tidak mencoba melihat layar.

“Ada masalah?”

Rana mematikan ponsel. “Ibu minta uang.”

“Kamu mau memberi?”

“Tidak.”

Jawaban itu membuat dadanya berdebar lebih kencang daripada ketika berbohong.

Damar hanya mengangguk. “Baik.”

Tidak ada pujian, tidak ada perintah. Keputusan itu tetap milik Rana.

Dia mengambil sendok dan makan tiga suap. Ketika Damar lewat di belakang kursinya, telapak tangan lelaki itu menyentuh puncak kepalanya sebentar, mengusap rambutnya satu kali.

Rana membeku.

Damar juga, seolah baru sadar telah melakukannya.

“Maaf,” katanya.

Rana menahan pergelangan tangannya sebelum dia menjauh. “Tidak apa-apa.”

Damar mengusap kepalanya sekali lagi, lebih pelan.

Sesudah makan, mereka menulis pesan untuk Bu Marlina bersama. Bukan Damar yang mengetik. Rana sendiri menjelaskan bahwa dia tidak bisa mengirim uang untuk servis motor dan meminta ibunya tidak memasukkan kebutuhan Bagas ke dalam pengeluaran rumah tangganya tanpa bertanya.

Balasan datang cepat. Bu Marlina menyebut Rana berubah sejak menikah dengan orang berada. Jari Rana kembali dingin. Damar duduk di sebelahnya, tetapi tidak mengambil ponsel atau membalas atas nama suami.

“Saya jahat?” tanya Rana.

“Kamu menetapkan batas.”

“Ibu marah.”

“Orang bisa marah pada batas yang tetap benar.”

Rana mematikan notifikasi sampai pagi. Damar menunjukkan cara mengaktifkan panggilan darurat untuk Pak Tris tanpa membuka semua pesan lain. Bahkan menolak, rupanya, bisa dilakukan tanpa menutup pintu untuk keadaan sungguhan.

Untuk pertama kali, Rana membiarkan sebuah tagihan dari rumah lamanya tidak dijawab. Di rumah barunya, semangkuk sup menghangatkan telapak tangannya dan satu tempat bersandar tetap berada di belakang kursi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!