NovelToon NovelToon
ISTRI YANG DISINGKIRKAN DI HARI ULANG TAHUN PERNIKAHAN

ISTRI YANG DISINGKIRKAN DI HARI ULANG TAHUN PERNIKAHAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:90.5k
Nilai: 5
Nama Author: Barra Ayazzio

Di hari yang seharusnya menjadi perayaan cinta, dia justru disingkirkan dari hidup mereka.

Ketika seorang istri setia berharap mendapat kejutan di hari ulang tahun pernikahannya, yang ia terima justru pengkhianatan dari orang-orang yang paling ia percayai.

Suami yang berubah. Pelakor yang datang tanpa rasa bersalah. Serta ibu mertua dan ipar yang mendukung semuanya.

Akankah ia bertahan demi rumah tangganya?

Atau memilih pergi dan membuktikan bahwa dirinya mampu hidup tanpa mereka?

Siapkan hati kalian, karena kisah ini akan menghadirkan banyak air mata, kemarahan, penyesalan, dan tentunya balas karma yang memuaskan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28. Diambang Kehilangan

Hari itu, suasana hati Galang sudah hancur sejak pagi. Bentakan atasannya di kantin masih terngiang-ngiang di kepalanya. Belum lagi rekan-rekannya yang sudah mulai mencium ketidakberesan dalam rumah tangganya, gegara kakaknya menelepon terlalu kencang suaranya.

Semua itu membuat satu tekad tumbuh semakin kuat di dalam dirinya. Dia harus menemui Arini.

Bukan untuk meminta maaf. Bukan pula untuk memperbaiki kesalahan. Yang ada di benaknya hanyalah satu keinginan egois: membawa Arini pulang.

Baginya, akar dari semua kekacauan ini adalah kepergian istrinya. Sejak Arini meninggalkan rumah, tidak ada lagi yang menyiapkan kebutuhannya, mengingatkan jadwalnya, mengurus pakaian kerjanya, memastikan rumah tetap rapi, atau sekadar menjadi tempatnya melampiaskan penat.

Hidupnya terasa jungkir balik.

*"Pokoknya Arini harus pulang."*

Galang mengepalkan tangan di bawah meja.

*"Kalau dia masih keras kepala... aku bakal paksa dia. Kalau perlu aku ancam. Aku gak peduli."*

Yang dia inginkan hanya satu. Hidupnya kembali seperti dulu. Dia ingin pulang ke rumah yang bersih dan tenang. Ingin makanan sudah tersedia di meja makan. Ingin semua urusannya beres tanpa harus repot mengerjakannya sendiri.

Di matanya, semua itu hanya bisa terjadi jika Arini kembali tinggal di rumah. Dia sama sekali tidak berpikir bahwa perempuan itu pergi karena sudah disakiti. Dia menikah lagi dengan teman SMAnya dulu. Yang ada di pikirannya hanyalah dirinya sendiri.

***

Jam istirahat sebenarnya sudah lewat beberapa menit. Sebagian karyawan mulai kembali ke meja masing-masing sambil membawa gelas kopi atau camilan. Suara obrolan pelan memenuhi ruangan.

Galang baru saja membuka laptopnya ketika seorang office boy menghampiri. "Pak Galang."

Galang mengangkat kepala. "Iya?"

Office boy itu menyerahkan sebuah amplop cokelat berlogo resmi.

"Tadi ada kurir yang nganter ini, Pak. Katanya penting."

Galang menerimanya tanpa banyak berpikir. "Terima kasih."

"Sama-sama, Pak."

Tatapan Galang langsung tertuju pada bagian kiri atas amplop itu. Lambang negara. Tulisan tebal berwarna hitam.

PENGADILAN AGAMA.

Seketika jantungnya seperti berhenti berdetak. Alisnya bertaut. Tangannya yang memegang amplop mendadak terasa dingin.

"Apa ini...?"

Dia buru-buru menyobek bagian atas amplop dengan jari yang mulai gemetar. Beberapa lembar dokumen resmi keluar. Matanya membaca cepat.

Semakin jauh membaca, wajahnya semakin pucat.

Nomor perkara.

Nama penggugat.

Arini Zara Listanto

Dadanya langsung sesak. Lalu matanya berhenti pada kalimat yang paling membuat napasnya tercekat.

Panggilan untuk menghadiri sidang perceraian di Pengadilan Agama...**

"Hari pelaksanaan..."

"Lusa."

"Lusa...?" gumamnya lirih, nyaris tak terdengar.

Kertas di tangannya bergetar hebat. Wajahnya kehilangan warna. Bibirnya sedikit terbuka, tetapi tak ada satu kata pun yang keluar.

Tidak...Ini tidak mungkin.nArini benar-benar mendaftarkan gugatan itu. Bukan sekadar ancaman.

Bukan sekadar emosi sesaat. Dia benar-benar ingin mengakhiri pernikahan mereka.

"Pak... Pak Galang?"

Suara salah satu rekan kerjanya membuat beberapa kepala menoleh. Melihat ekspresi Galang yang berubah drastis, mereka mulai mendekat.

"Pak, Bapak nggak apa-apa?"

Galang tidak menjawab. Tatapannya masih terpaku pada surat di tangannya. Seolah berharap tulisan-tulisan itu berubah jika dibacanya sekali lagi.

"Eh... itu surat apa?" bisik seorang karyawan kepada temannya. Temannya ikut melirik.

Matanya membelalak ketika sempat menangkap logo dan judul surat tersebut.

"Itu... dari Pengadilan Agama?"

"Serius?"

Beberapa orang mulai saling berpandangan.

"Jangan-jangan...."

"Sidang perceraian?"

Ucapan itu memang hanya berupa bisikan, tetapi cukup membuat suasana ruangan berubah.

Orang-orang yang semula sibuk bekerja kini diam-diam memperhatikan Galang dari kejauhan.

Tak sedikit yang menunjukkan raut kaget. Ada yang menutup mulut. Ada pula yang saling bertukar pandang penuh tanda tanya. Selama ini mereka mengenal Galang sebagai sosok yang terlihat memiliki rumah tangga biasa saja. Tak pernah ada yang menyangka, kini sebuah surat panggilan sidang perceraian datang langsung ke kantornya.

Sementara itu, Galang masih membeku di kursinya.

Tangannya mencengkeram surat itu semakin erat hingga kertasnya kusut. Kini, sejak Arini pergi, dia benar-benar merasakan ketakutan. Bukan karena kehilangan pembantu yang mengurus hidupnya. Melainkan karena kini kenyataan menamparnya tanpa ampun.

Arini tidak sedang menggertak. Perempuan itu benar-benar akan melepaskan dirinya.

Jam dinding kantor menunjukkan pukul lima sore ketika para karyawan mulai berkemas. Sementara rekan-rekannya pulang dengan langkah santai, Galang justru bergerak tergesa-gesa. Surat panggilan sidang perceraian itu masih berada di dalam tas kerjanya. Berkali-kali bayangan tulisan pada surat tersebut melintas di kepalanya.

Sidang pertama... lusa. Dua kata itu terus menghantuinya. Tidak. Dia tidak boleh membiarkan semuanya sampai ke meja hijau. Masih ada waktu.

Kalau hari ini dia berhasil membujuk Arini pulang, mungkin perempuan itu akan mencabut gugatannya.

Tanpa membuang waktu, Galang mengeluarkan ponselnya dan memesan ojek online. Tujuannya bukan rumahnya yang kini terasa begitu sepi, melainkan alamat toko online milik Arini.

Beberapa menit kemudian, sepeda motor yang dipesannya tiba. "Selamat sore, Pak!"

"Sore. Langsung jalan, ya, Pak!"

"Siap."

Motor melaju membelah jalanan Bandung yang mulai dipadati kendaraan pulang kerja. Deretan mobil mengular di setiap lampu merah. Klakson bersahut-sahutan, sementara langit sore perlahan berubah jingga.

Namun, semua pemandangan itu seolah tidak ada artinya bagi Galang. Sepanjang perjalanan, pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan.

"Kalau Arini tetap menolak? Kalau dia benar-benar mau cerai? Kalau dia nggak mau cabut gugatannya?"

Rahangnya mengeras. Semakin dipikirkan, emosinya justru semakin memuncak. "Pokoknya dia harus pulang. Dia itu istriku. Gak bisa seenaknya pergi terus ngajukan cerai."

Sekitar empat puluh menit kemudian, ojek online yang ditumpangi Galang berhenti di depan sebuah bangunan dua lantai yang menjadi pusat operasional toko online milik Arini.

Galang turun dengan tergesa-gesa. Begitu membayar ongkos perjalanan, dia langsung melangkah menuju gerbang besi yang dijaga seorang petugas keamanan.

Belum sempat melewati gerbang, security itu sudah berdiri menghadangnya. "Selamat sore, Pak!"

Galang mengangguk singkat. "Saya mau ketemu Arini."

Raut wajah petugas keamanan itu berubah sejenak. Dia mengenali nama yang disebutkan. "Bapak... Pak Galang, ya?"

Galang sedikit terkejut. "Kamu kenal saya?"

Security itu mengangguk sopan. "Saya tahu, Pak. Mbak Arini pernah memberi tahu kalau sewaktu-waktu Bapak mungkin datang ke sini."

Mendengar itu, Galang merasa urusannya akan menjadi mudah. "Nah, kalau begitu bagus. Saya suaminya. Tolong bukakan gerbangnya!"

Namun, di luar dugaan, petugas itu tetap bergeming. "Maaf, Pak. Saya tidak bisa mengizinkan Bapak masuk begitu saja."

Kening Galang langsung berkerut. "Lho, katanya kamu kenal saya?"

"Iya, Pak. Saya tahu Bapak siapa. Tapi aturan tetap harus dijalankan. Semua tamu wajib mendapat izin dari karyawan yang akan ditemui."

"Saya ini bukan tamu." Suara Galang mulai meninggi.

"Saya suaminya Arini."

"Saya paham, Pak."

"Kalau paham, ya buka gerbangnya!"

Security itu tetap berdiri tegak di depan pintu masuk. "Maaf, Pak. Justru karena saya paham siapa Bapak, saya harus mengikuti pesan dari Mbak Arini. Kalau Bapak datang, saya diminta menghubungi beliau terlebih dahulu. Saya tidak boleh membiarkan siapa pun masuk tanpa persetujuannya."

Wajah Galang memerah. Baginya, ucapan itu terdengar seperti penghinaan. "Jadi sekarang saya harus minta izin sama istri sendiri?"

"Ini aturan, Pak. Mohon Bapak mengerti."

Galang mengembuskan napas kasar. Kesabarannya mulai habis. "Saya nggak peduli aturan apa pun! Bukain gerbangnya sekarang!"

"Maaf, Pak, saya tidak bisa."

Jawaban itu membuat emosi Galang meledak. Dia melangkah mendekati gerbang, lalu berteriak sekeras mungkin.

"ARINI...ARINI... KELUAR! Aku tahu kamu ada di dalam!"

Suara Galang menggema hingga ke area gudang. Beberapa karyawan spontan menoleh ke arah gerbang. Ada yang menghentikan aktivitasnya, ada pula yang saling berbisik karena baru pertama kali melihat seseorang berteriak-teriak di depan tempat kerja mereka.

Sementara itu, petugas keamanan hanya bisa menghela napas. Dia segera meraih handy talky untuk menghubungi bagian resepsionis agar memberitahu Arini bahwa suaminya datang dan membuat keributan di depan gerbang. Tak lama kemudian, kabar itu pun sampai kepada Arini. Setelah mempertimbangkan situasi dan tidak ingin perusahaan terjadi gaduh, akhirnya Arini bersedia menemui Galang—tetapi hanya di ruang meeting.

_________________________________

Hai Readers jangan lupa mampir ke novel aku yang lainnya ya!

Rahasia Masa Lalu Suami dan Sang Ipar (sudah tamat).

Ditalak Sesaat Setelah Akad (sudah tamat)

Benang Putus Karena Cinta Pertama. (Up)

Oh iya jangan lupa beri masukan dan kritikan yang membangun yah, biar makin semangat up novelnya. Terimakasih 🙏🏼🙏🏼🙏🏼

1
Maria Magdalena
😄😄😄😄nah lho betarti kamu cowok mokondo ya galang nikmati karmamu
Ma Em
Alhamdulillah akhirnya Arini sdh bebas dari suami dan mertua yg toksik , tinggal menunggu Galang dan keluarganya diusir dari rumah Arini .
Arieee
ayo kapan keluarga nya Galang di usir udah greget gak sabar👍👍👍👍👍👍
Arin
Alhamdulillah ikut senang Thor.....
Semangat biar lebih rajin buat up. Double, threeple.....lebih juga boleh😁
Mundri Astuti
Alhamdulillah...tumpengan dah rin
sunaryati jarum
Mayang kamu lebih parah dari Vera, mertua saja ikut menikmati tubuhmu berlagak sok suci, hanya menanti waktu akan terkuak juga
Lee Mba Young
lah sesama ani ani saling jambak 🤣. pdhl sama kelakuan bejat nya.
sutiasih kasih
mayang.... sesama ani"... jgn saling menghina ya😅😅😅
Mundri Astuti
belom tau aja, lakinya sendiri blegedes...bu Sumarni kejang" ntar tau lakinya ma mantu kesayangannya iyuyyyy punya skandal
Lee Mba Young
lah masih gk tobat si Vera. hrse hajar smp babak belur lah.
Wega Luna
3 kali tidak hadir bisa cepat dan dapat surat cerai sendiri,
sunaryati jarum
Arini hatimu baik juga mau menolong orang yang pernah merendahkan dan menghinamu
Ma Em
Bu Sumarni emang keluarganya sdh hancur , si Galang sdh berantakan rumah tangganya si Vera jadi simpanan om om
dan Mayang menantu kesayangan nya sdh membohongi Galang dan selingkuh apalagi kalau Bu Sumarni tau bahwa suaminya juga ada main dgn Mayang menantu kesayangan Bu Sumarni maka nikmati saja karma yg Bu Sumarni dan keluarga terima .
sunaryati jarum
Wah Vera muai terang- terangan di tempat umum.Bab selanjutnya memergoki Mayang
Yuni Ngsih
Baguuuus Arini lawan laki" jahat seperti si Galang bahkan klw kamu pulang mobil jangan di bawa ke Rumah simpan di butik mu biar merasakan kesusahan hidupnya ....semangat Arini Authooor lanjut ....
Yuni Ngsih
Arini semangat pasti kamu akan berhasil dlm se-gala" nya karena keuletanmu buang lk" seperti itu & usir dari Rumahmu ...hehehe eh Thor ko ku ngenes ya....nah krn ceritramu yg bgs sih ...ok
Yuni Ngsih
Baguuuus Ariniiii lawan klwrga Mokondo itu Mobilmu klw dah pke jangan dibawa ke Rumah mu lg titipkan di Rumah orang lain beri pelajaran laki" dzolim seperti itu Arini....ok
Yuni Ngsih
Authooor ceritramu bgs tapi.....klw mau punya istri lg kan hrs seijin istri pertama ,ini suami Arini menurutku lk" yg biadab tdk punya perasaan dasar klwrga mokondo smg kedepannya adiknya si Galang diperlakukan seperti Arini .....yg sabar Arini smg badai cepat berlalu & muncul pelangi kehidupan ....ok
sutiasih kasih
trus gmn klo km tau istri mudamu trnyata PSK galang....
apa km g stroke hehhhhh..... mnyakiti arini demi mmprsunting PSK🤣🤣🤣
sunaryati jarum
Emak juga berharap semuanya nlancar
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!