NovelToon NovelToon
Suamiku Bukan Ojol Biasa

Suamiku Bukan Ojol Biasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Wanita Karir / Rumah Tangga
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

"Aaaaaaa!"
Pekikan Amira membumbung tinggi begitu ia menyibak selimut. Pandangannya bergeser ke samping, dan jeritannya makin melengking melukai udara.
"Aaaaaa!"
"Aaaaaaaa!" Seorang pria di sebelahnya mendadak ikut berteriak panik. "Bajuku... bajuku mana?!"
Keduanya saling menoleh dengan napas memburu.
"Aaaaaaa!" jerit mereka bersamaan.
"Bajingan!" maki Amira seraya menunjuk pria itu.
"Kamu!"
"Kamu yang bajingan! Dasar Tante girang gila!" balik pria itu tak mau kalah.
"Apa katamu?!" Mata Amira membelalak lebar. Tangisnya mendadak pecah tanpa bisa ditahan. "Kamu pria bajingan! Kamu udah merusak aku!"
"Kamu yang mengambil keperjakaanku! Kenapa malah kamu yang menangis?" kata pria itu dengan santai. Tangannya meraba-raba area lantai, sibuk mencari celana tanpa peduli pada Amira yang terisak. Namun, gerakannya terhenti saat jarinya menyentuh cairan pekat berwarna merah. "Apa ini? Darah?"
Detik berikutnya, wajah pria itu pucat pasi. "Mamahah..." Giliran pria itu yang menangis sesenggukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 18

Waktu berlangsung cepat, tak terasa sore pun tiba. Amira masih sibuk bergelut dengan tumpukan laporan di mejanya. Tiba-tiba, ponselnya berdering menyuarakan notifikasi pesan masuk dari kontak nama yang diubah Luki tadi pagi: Suami Tampan.

Suami Tampan: Istriku, aku pulang telat ya... banyak urusan.

Amira menatap layar ponselnya sejenak, tak langsung membalas. Dadanya berdesir aneh—baru kali ini dalam hidupnya, ada seseorang yang menganggapnya sebagai bagian dari keluarga dan berinisiatif memberi kabar.

Dengan jari jemarinya yang lentik, Amira membalas singkat:

Amira: Ya.

Tak lama kemudian, ponselnya kembali bergetar. Kali ini nama Mamah tertera di layar.

"Ya, Mah, ada apa?" tanya Amira setelah menggeser tombol hijau.

"Pulang sekarang juga!" bentak Ratna dari seberang telepon.

"Ada apa dulu?"

"Jangan banyak tanya! Pokoknya pulang!"

TUT... TUT... TUT...

Sambungan telepon diputus sepihak. Amira menghela nafas panjang, memijat pelipisnya yang mulai pening. "Ada apa lagi ini..." gumamnya lelah.

Ia menutup laptop, memasukkan berkas-berkas penting ke dalam tas, lalu melangkah keluar dari ruangan CEO. Di luar, langit sudah menghitam. Amira mengendarai mobilnya menembus kemacetan kota, dan setelah menempuh perjalanan hampir satu jam, mobilnya akhirnya terparkir di garasi rumah.

Begitu Amira melangkah masuk ke ruang tamu, Ratna sudah berdiri menyambutnya dengan berkacak pinggang dan wajah merah padam.

"Amira! Apa-apaan kamu, hah?! Katanya enggak pakai uang kantor, tapi ini ada pengambilan uang sebanyak 1,5 miliar! Kamu benar-benar boros, ya!" semprot Ratna langsung menuduh.

Amira terdiam, dahinya berkerut heran. Bukankah uang itu ditarik atas instruksi ibunya sendiri? Kenapa sekarang ibunya malah mengamuk padanya?

"Amira, kenapa diam saja?! Pokoknya Mamah enggak mau tahu ya, uang 1,5 miliar itu jadi utang pribadi kamu! Kamu harus cicil tiap bulan dari gaji dan deviden kamu!" cerocos Ratna tak memberi ampun.

Amira mengacungkan tangannya, menahan omelan ibunya. "Tunggu dulu. Aku mau cek dulu."

Amira merogoh ponsel dari tasnya, memburu berkas dokumen pengeluaran yang dikirimkan Dini sore tadi namun belum sempat dibukanya. Ia mengamati detail transaksi itu dengan sangat teliti.

"Makanya kamu itu enggak usah gaya-gayaan! Pakai berlian mewah, gaun mahal, sewa mobil Alphard segala! Kirain Mamah kamu pakai uang Kakek, ternyata pakai uang kas perusahaan! Kamu itu harus belajar hemat, Amira!" serang Ratna bertubi-tubi.

"Tunggu dulu, Mah! Dengarkan penjelasanku!" potong Amira kesal.

Ia langsung melayangkan dokumen PDF dari Dini ke WhatsApp ibunya. "Uang 1,5 miliar itu keluar atas persetujuan Mamah sendiri! Aku sama sekali enggak tahu-menahu!"

"Mana ada! Mamah enggak pernah ACC pengeluaran sebesar itu!" elak Ratna keras kepala.

"Lihat dulu dokumen yang Mira kirim!" tegas Amira.

Ratna meraih ponselnya, membuka dokumen itu, dan matanya mulai menelusuri rincian data transaksi di layar.

"Ini... ini pasti kamu palsukan, kan?!" tuduh Ratna semakin menjadi-jadi. "Kamu makin hari makin tidak bisa dikendalikan ya! Berani-beraninya membuat surat persetujuan palsu! Sekarang cepat kembalikan uang itu! Masih banyak kebutuhan perusahaan yang lebih penting!"

Amira bersedekap dada, tersenyum dingin. "Minta saja sama suami baru Mamah itu."

Ratna tersentak. "Apa maksud kamu?!"

"Ya makanya baca dokumen itu yang benar, Mah! Uang 1,5 miliar itu ditransfer langsung ke rekening Angga Rizki!"

Suasana ruang tamu seketika mendadak hening.

Ratna terpaku, matanya melebar menatap nama suaminya tertera jelas di lembar transaksi. "A-apa ini benar...?" gumamnya tak percaya.

"Ya tanya saja sama suami Mamah itu. Jangan main asal tuduh ke aku!" cibir Amira.

Kebetulan sekali, Angga baru saja berjalan melewati ruang tamu.

"Mas! Sini dulu deh!" panggil Ratna dengan nada suara yang melemah.

"Ada apa, Sayang?" tanya Angga santai, lalu mendaratkan duduknya tepat di samping Ratna—pemandangan yang membuat Amira mual setengah mati.

"Mas... tadi pagi Mas minta uang ke perusahaan 1,5 miliar? Untuk apa, Mas?" tanya Ratna ragu-gara.

Angga tersenyum lembut seraya mengelus tangan Ratna. "Untuk biaya pesta pernikahan Risma, Sayang... Semalam dia menangis sesenggukan karena gaun yang mau dia pakai kualitasnya jelek, dan konsep pernikahan yang Amira buat terlalu sederhana."

"Aku enggak pernah buat konsep pernikahan ya, Om!" potong Amira tajam. "Semua konsep pernikahan itu Mamah yang buat!"

"Ah, aku enggak tahu, Sayang..." elak Angga memasang raut polos pada Ratna.

Ratna menghela nafas berat, garis wajahnya menyiratkan beban. "Tapi kenapa harus semahal itu, Mas? Aku kan sudah buat budget 1 miliar. Sekarang malah membengkak jadi 2,5 miliar..."

"Ya sudah... kalau kamu memang enggak rela, aku bakal kembalikan uangnya," ucap Angga mendadak bersuara lesu dan memelas. "Biar enggak jadi masalah, nanti aku bicara sama Risma biar acaranya dibuat sederhana saja, enggak usah mewah-mewah. Ya... walaupun Risma sudah berkorban banyak untuk menggantikan posisi Amira, enggak apa-apa lah... Nanti aku bujuk dia baik-baik. Ya walaupun... mungkin nanti penyakit jantung Risma bakal kambuh lagi..."

"E-eh, jangan, Sayang! Jangan!" sergap Ratna panik, jurus manipulasi Angga berhasil seketika. "Ya sudah, enggak apa-apa... Cuma aku kaget saja pengeluarannya membengkak begini, padahal perusahaan sedang banyak proyek."

"Uang 2,5 miliar itu bukan apa-apa, Tante," sahut sebuah suara jumawa dari arah pintu depan.

Raka masuk bersama Risma yang menggelayut manja di lengannya.

"Eh, kalian datang?" Ratna buru-buru berdiri menyambut calon menantu kayanya itu.

Raka menatap Amira dengan pandangan sinis menyepelekan. Amira sama sekali tak ambil pusing; ia bahkan tak menoleh sedikit pun dan asyik melihat layar ponselnya—tersenyum tipis membaca obrolan Luki yang terus mengirimi video-video kucing lucu.

"Tante, uang 2,5 miliar itu bukan pengeluaran terbuang, tapi investasi!" ujar Raka dengan dada terbusung. "Nanti di acara pernikahan kami, akan datang para pengusaha besar dan pejabat tinggi. Bahkan, saya sudah mengundang keluarga Perdana Holding untuk menghadiri pernikahan saya dan Risma! Bayangkan Tante, kalau perusahaan Tante bisa membangun relasi dengan raksasa seperti keluarga Perdana!"

"Wah! Kamu hebat sekali, Raka! Bisa punya relasi ke perusahaan raksasa seperti Perdana Holding!" puji Ratna berbinar-binar. "Baiklah, baiklah... anggap saja itu investasi!"

"Iya, dong... Saya pasti akan bantu usaha Tante. Dengan uang segitu, baliknya bisa berlipat-lipat!" kata Raka jumawa, lalu melirik Amira. "Tidak seperti orang yang tidak berguna di sana itu... Sudah bagus dijodohkan sama saya, malah memilih tukang ojek. Benar-benar menyedihkan."

TAK!

Amira meletakkan ponselnya di atas meja glass, lalu berdiri dan menatap Raka lurus-lurus.

"Memalukan sekali..." ucap Amira dingin. "Omongan kamu ternyata tidak lebih besar dari modal kamu."

Raka tersentak, wajahnya memerah. "Apa maksud kamu?!"

"Kamu ini ngakunya orang kaya, uangnya berseri. Tapi keluargaku yang harus keluar uang 2,5 miliar cuma buat pesta pernikahan kalian!" ceracas Amira dengan tatapan menghunus. "Sedangkan kamu? Berapa miliar yang sudah kamu keluarkan buat acara ini? Apa kamu cuma tinggal bawa badan doang, hah?!"

"AMIRA, HENTIKAN!" bentak Ratna membela Raka.

Amira berdiri tegap, menatap ibunya dengan helaan napas kecewa. "Dari tadi dia terus-terusan menghina aku, tapi Mamah cuma diam. Sekalinya aku membalas, Mamah langsung membentak dan marah."

Amira menggelengkan kepala lambat. "Aku capek lihat sandiwara muak seperti ini. Ingat dan catat ya, Mah... kita sudah keluar 2,5 miliar untuk pernikahan Risma. Uang segitu sebenarnya lebih dari cukup untuk membangun gudang baru kita di Bekasi."

Amira berbalik, melangkah tegap menuju tangga kamar.

"Amira! Mau ke mana kamu?!" teriak Ratna dari bawah.

"Mau ke kamar!" sahut Amira tanpa menoleh. "Nonton film kartun di kamar jauh lebih menyenangkan daripada melihat sandiwara orang-orang munafik di sini!

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!