Entah siapa yang menjebak Bima dengan obat sampai harus memanfaatkan gadis yang tidak berdaya bernama Olivia, di malam pertunangan gadis itu
“Saya khawatir kalau nanti Olivia ….” Bima menjeda ucapannya lalu menghela nafas,“Hamil.”
“Kamu pikir aku mau mengandung anak kamu! Kalaupun aku hamil, pasti akan aku gugurkan,” pekik Olivia
Benarkah Bima dan Olivia dijebak? Mungkinkah Bima dan Olivia akhirnya menjadi pasangan dan melupakan masa lalunya?
====
Spin Off : Jerat Cinta Dibalik Dendam
IG : dtyas_dtyas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 6 ~ Nasib Anak
Bima sudah pulang ke rumah dan tentu saja dipecat dari pekerjaannya. Walaupun keluarga Olivia tidak melanjutkan perkara, Bima dianggap sudah lalai dan menyalahi SOP yang berlaku.
“Nih, tas lo. Isi loker sudah dipindah ke sini semua," ujar Yudis. Dia mengambil barang-barang Bima di loker khusus pegawai di Hotel tempat Bima bekerja. Bima sedang berbaring di ranjang dengan kedua tangan sebagai alas kepala.
“Bang, gimana ya? Gue kasihan sama itu cewek,” ujar Bima.
Yudis sudah mendengar cerita lengkap ketika menjenguk Bima ke rumah sakit, setelah mengantar Ibu Salamah pulang.
“Iya ya, lo tanggung jawab juga tanggung jawab apa? Mana dia mau sama lo yang pengangguran. Orangnya kayak gimana Bim?" tanya Yudis yang sudah duduk di lantai bersandar pintu lemari pakaian, sambil menyulut rokoknya.
“Cantik Bang, cantik banget malah. Gimana keadaan dia ya Bang?”
“Kapan pertemuan sama keluarganya?”
Bima beranjak duduk dan menyadari kalau Pak Beni menjanjikan pertemuan yang akan menyelesaikan persoalan dengan kekeluargaan. Agar tidak ada tuntutan dari kedua belah pihak di kemudian hari.
“Bang, lo temenin gue ya. Kalau nanti pertemuan sama mereka. Sumpah gue minder banget, pengacaranya aja Beni Nasution Bang.”
Yudis menghela nafasnya. Kenyataan yang dialami Bima, walaupun petunjuk yang ada bisa membuktikan dia dijebak tapi percuma saja karena lawannya pasti bukan orang sembarangan. Namun, apa tujuannya? Itu yang masih belum terjawab.
Keluarganya hanya orang biasa, Ibu Salamah yang membesarkan kedua anaknya karena ditinggal oleh suami. Nasib Bima lebih baik karena bisa mengenyam bangku kuliah, berbeda dengan Yudis yang hanya tamatan SMA. Yudis bekerja sebagai security pabrik tidak jauh dari tempat tinggalnya, sudah menikah dan memiliki dua orang anak.
“Bang … Bang Yudis.” Terdengar teriakan dari luar.
“Keluar Bang, istri lo manggil tuh. Kuping gue tambah sakit nih, denger dia teriak terus," ujar Bima.
“Iya, bentar,” sahut Yudis merespon teriakan istrinya.
Bima kembali dengan lamunannya, lalu terdengar dering ponselnya. Sebenarnya Bima sedang enggan dihubungi atau komunikasi dengan siapapun, tapi dia sedang menunggu informasi pertemuan dengan keluarga Olivia.
***
“Kalian saja yang pergi, aku tidak ingin ikut.” Olivia menolak permintaan Papinya untuk ikut hadir dalam pertemuan dengan pria itu. Pria yang malam itu sudah merusak acara pertunangannya, hingga Haris akhirnya memutuskan hubungan bahkan menghina dirinya.
“Sayang, ikut ya. Kita harus selesaikan masalahnya, biar tidak berlarut dan muncul lagi di kemudian hari.” Naya berusaha membujuk putrinya.
“Masalah apalagi yang akan muncul, kalau masalah besarnya sudah terjadi. Pertunangan aku batal dan hidupku juga sudah hancur. Kalian khawatirkan masalah apalagi?” tanya Olivia dengan suara tercekat menahan tangis.
“Oliv, Bima bisa menuntut balik. Karena penganiayaan yang dia terima dan tuduhan dia menodai kamu,” tutur Naya.
“Memang benar dia yang … kenapa kalian masih berpikir aku juga salah. Aku tidak kenal pria itu, dia yang masuk ke kamarku.”
“Dia tidak masuk ke kamar kamu, kamu berada di kamar lain dan ini tidak perlu lagi kita bahas. Ikut Papi sekarang!”
Olivia memandang sinis wajah Papinya, dia merasa tidak mendapat dukungan dan empati dari keluarganya.
“Mas.” Naya menegur suaminya, jika tidak dihentikan keduanya akan berdebat dan tidak akan ada hasil selain Olivia yang semakin terpuruk.
Bertempat di firma hukum milik Beni, keluarga Tristan yang menghadirkan Tristan, Naya, Alan dan tentu saja Olivia. Sedangkan Bima hanya datang bersama Yudis. Beni dan dua asistennya memimpin pertemuan tersebut.
Yudis dan Bima tepat berhadapan dengan Tristan dan Alan. Bima sesekali mencuri pandang pada Olivia yang sengata menatap ke arah lain. Raga wanita itu mungkin ada di sana, tapi hati dan pikirannya tidak. Dia sama sekali tidak peduli dengan keputusan atau rencana yang akan dibicarakan.
“Ya Tuhan, dia cantik banget. Malam itu sungguh malam keberuntungan gue,” ucap Bima dalam hati. “Astagfirullah,” gumam Bima sambil mengusap wajahnya. Bagaimana bisa dia merasa beruntung padahal sudah menghancurkan masa depan seorang gadis.
“Baik, kita mulai saja.” Beni akhirnya membuka suara dan menunjukan berkas perjanjian yang harus ditandatangani oleh kedua belah pihak, terutama Bima, Olivia dan Alan.
Bima berjanji tidak akan menuntut apapun meskipun dia sudah dirugikan karena penganiayaan yang dilakukan oleh Alan. Menurutnya itu hal yang wajar sebagai seorang kakak. Namun, ada yang masih mengganjal di hatinya.
Bima dan Alan sudah menandatangani surat perjanjian, tinggal Olivia.
“Sayang,” panggil Naya. “Ini tanda tangan dulu.”
Olivia membubuhkan tanda tangan kemudian kembali menatap ke arah lain seperti sebelumnya. Dia enggan melihat Bima.
Asisten Beni menutup pertemuan tapi di sela oleh Bima.
“Sebentar. Masih ada hal yang menjadi pikiran saya,” ujar Bima.
“Bim, jangan aneh-aneh,” bisik Yudis. Dia khawatir adiknya berulah lagi dan perjanjian sebelumnya dibatalkan lalu Bima fix jadi narapidana.
“Saya sudah jelaskan kalau malam itu saya berada dalam pengaruh obat dan saat itu saya tidak menggunakan … pengaman,” ujar Bima lirih.
Brak.
“Langsung saja, lo mau bilang apa sih?” bentak Alan.
“Alan, duduk!” titah Tristan.
Olivia terganggu dengan ucapan Bima, diam-diam dia memasang telinganya mendengarkan apa yang diucapkan pria yang enggan dia tatap.
Bima menatap Olivia. “Saya khawatir kalau nanti dia ….” Bima menjeda ucapannya lalu menghela nafas, “Hamil.”
Naya memijat dahinya, sebagai perempuan dan seorang Ibu tentu saja hal yang disampaikan Bima sudah menjadi beban pikirannya.
“Kamu pikir aku mau mengandung anak kamu! Kalaupun aku hamil, pasti akan aku gugurkan,” pekik Olivia kemudian beranjak dan meninggalkan ruangan.
“Oliv,” panggil Naya lalu mengejar putrinya.
“Urusan kita selesai disini, Olivia tanggung jawabku, kamu tidak berhak ikut campur,” sahut Tristan.
Pertemuan akhirnya berakhir, Bima dan Yudis sudah berada di parkiran. Berdiri di samping motor Bima.
“Udah kaya, anak-anaknya ganteng dan cantik pula. Musibah bener tuh cewek lo kerjain,” tutur Yudis.
“Kalau gue lagi sadar nggak mungkinlah Bang berani macam-macam.”
“Orang tuanya juga masih kelihatan ganteng dan cantik, wajar kalau anaknya nggak kalah ganteng dan cantik dari biangnya. Lo juga ngapain sampe mikir kalau tuh cewek bakal hamil. Kalau iya hamil lo mau ngapain, tanggung jawab? Emang bisa lo nafkahin itu perempuan. Jajannya aja mungkin berlipat dari gaji lo kemarin.”
“Tau ah, pusing gue.”
“Ayo pulang, minta kerik sama Ibu. Lo pengangguran jadi jangan manja berobat ke dokter ,” ejek Yudis.
“Bukan pusing itu Bang. Lihat si Oliv, gue inget kejadian kemarin. Kepala bawah gue cenat cenut.”
“Dasar kampret, bisa-bisanya lo ngebayangin yang nggak-nggak,” teriak Yudis sambil menendang tulang kering Bima, membuat adiknya mengaduh kesakitan.
"Serius Bang, gue takut dia hamil. Gimana nasib anak gue?"
walaupun gak sepenuhnya salah tp keadaan yg bikin Bima bersalah..
lawannya keluarga kalangan atas pula...
kuat² yaaa Bima🤭
wkwkckk..good job,teruslah berkarya, bravo anak2 bangsa yg hebat , aku bangga padamu 🥰💪🙏