NovelToon NovelToon
THE DEADLY BODYGUARD

THE DEADLY BODYGUARD

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Identitas Tersembunyi / Raja Tentara/Dewa Perang / Balas Dendam
Popularitas:589
Nilai: 5
Nama Author: Althea Shalmaira

Dia kembali bukan untuk melindungi, tapi untuk mengeksekusi.

Lima belas tahun di medan perang mengubah Nathan Wiratama menjadi Raja Perang yang ditakuti dunia. Kini, ia pulang demi satu misi: memburu dalang pembantaian keluarganya.

Demi melacak sang iblis, Nathan menyamar menjadi pengawal pribadi Elena, janda konglomerat yang memiliki banyak musuh. Di sana, ia juga harus menghadapi Clara, putri majikannya yang perlahan jatuh cinta pada pesona dinginnya.

Satu per satu bukti terkuak, membawa Nathan pada kenyataan paling brutal: Iblis yang ia cari selama ini adalah Elena—wanita yang kini ia lindungi dengan taruhan nyawa.

Saat topeng hancur, akankah Nathan tetap mencabut nyawa Elena, meski harus menghancurkan hati Clara?

"Tidak ada yang bisa melindungi Anda dari saya, Nona."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jerat yang Menegang

Suara statis dari radio komunikasi yang hancur di bawah pijakan sepatu Nathan perlahan padam, meninggalkan lobi utama kembali dalam pelukan sunyi yang mencekam. Di luar, badai semakin menggila. Angin kencang menghantam dinding kaca besar di sisi timur, menciptakan suara derit konstan yang berbaur dengan gemuruh guntur yang bersahut-sahutan di langit Megapura.

Di dalam van komando taktis yang tersembunyi di rimbunnya perbukitan pinus belakang rumah, Vera Sterling berdiri terpaku. Layar monitor di depannya menampilkan garis datar merah pada tiga indikator telemetri vital milik Tim Alfa. Denyut jantung mereka berada di angka 0.

"Sialan!" desis Vera, tangannya menghantam meja kendali besi dengan keras. Matanya yang tajam dan biasanya sangat tenang kini memancarkan kemarahan yang membara. "Bagaimana mungkin tiga orang profesional tingkat tinggi bisa dilenyapkan dalam waktu kurang dari tiga menit tanpa sempat melepaskan satu pun tembakan tanpa peredam?"

"Nyonya," salah satu analis taktis di dalam van membuka suara dengan ragu. "Sinyal termal yang kami tangkap sebelum pemadaman total sangat tidak stabil. Pria bernama Nathan itu... dia tampaknya tidak menggunakan peralatan militer standar. Detektor emisi inframerah kita sama sekali tidak menangkap adanya sinyal dari kacamata NVG aktif di dalam rumah."

Vera menarik napas dalam-dalam, mematangkan kembali pikirannya yang sempat goyah. Sebagai mantan perwira intelijen militer swasta, ia tahu bahwa panik adalah tiket sekali jalan menuju liang kubang. Pria di dalam rumah itu bukan sekadar pengawal sipil beruntung. Gerakan senyap, efisiensi eksekusi, dan caranya memprovokasi melalui frekuensi radio taktis adalah ciri-ciri dari seorang operator elit berdarah dingin, seorang predator yang terbiasa hidup di zona hitam terdalam.

"Semua unit, dengarkan aku," suara Vera terdengar melalui saluran radio terenkripsi yang didistribusikan kepada sisa anak buahnya. "Kita tidak lagi menghadapi pengawal biasa. Target sekunder, pengawal bernama Nathan memiliki kemampuan tempur tingkat tinggi. Batalkan protokol infiltrasi senyap. Kita beralih ke formasi penyerbuan agresif terkoordinasi."

Vera menunjuk ke arah peta holografik tiga dimensi kediaman Jalan Widya Mulia yang berputar di atas meja kendali.

"Tim Beta, masuk melalui koridor timur dekat ruang konservatori kaca," perintah Vera dengan dingin. "Tim Gamma, pimpin penyerbuan langsung dari pintu lobi depan begitu gardu listrik darurat dinyalakan secara paksa oleh tim jangkar kita di luar.

Jangan menyebar. Bergerak dalam formasi saling melindungi. Jika kalian melihat bayangan apa pun yang bergerak selain anggota tim, tembak di tempat."

"Dimengerti, Komandan," sahut pemimpin Tim Beta melalui saluran radio taktisnya.

Di dalam lobi tengah yang gelap gulita, Nathan berdiri bersandar di balik pilar marmer besar. Lensa kacamata termal pasifnya menyaring kegelapan, menampilkan setiap detail ruangan dalam spektrum warna biru dan hijau yang kontras. Indra pendengarannya yang luar biasa tajam menangkap suara halus di sisi timur rumah, suara gesekan sol sepatu bot taktis di atas lantai ubin ruang konservatori tanaman hias.

Tim Beta. Empat orang, batin Nathan dingin.

Ia melirik ke arah tangga utama yang menuju ke lantai dua, tempat Clara sedang mengunci diri di kamar tidur utama. Sesuai dengan kalkulasinya, kamar tersebut dilapisi pintu kayu ek berlapis baja ringan yang tidak akan mudah ditembus tanpa peledak khusus. Namun, Nathan tidak berniat membiarkan satu pun musuh berhasil menapakkan kaki mereka di anak tangga lantai dua.

Nathan bergerak dalam senyap, melintasi koridor tengah menuju ke arah ruang konservatori timur. Koridor ini dipenuhi oleh barisan lemari pajangan barang antik peninggalan keluarga Wijaya. Di ujung koridor, pintu kaca ganda yang menghubungkan ruang makan dengan konservatori tampak tertutup rapat.

Melalui kacamata termalnya, Nathan melihat empat siluet merah-oranye terang bergerak perlahan memasuki ruang konservatori. Mereka bergerak sangat rapat, laras senapan submesin mereka menyapu setiap sudut ruangan dengan pola sapuan 180 derajat.

Nathan merogoh saku taktis di balik jas hitamnya, mengeluarkan salah satu unit peledak kejut mikro yang dikirimkan oleh Rendra semalam. Alat ini berukuran tidak lebih besar dari gantungan kunci, namun memiliki kapasitas pelepasan cahaya sebesar 1.5 juta lumen dalam waktu 0.1 detik, cukup untuk membutakan siapa pun yang menggunakan kacamata penglihatan malam selama beberapa menit akibat efek phototubular overload.

Nathan menempelkan peledak kejut tersebut di balik bingkai kayu lemari antik di dekat sudut koridor, menghubungkan pelatuk nirkabelnya ke tombol sensor di pergelangan tangan kirinya.

Setelah itu, ia sengaja melangkah dengan sedikit berat di atas lantai marmer, menciptakan satu suara ketukan halus yang sengaja dirancang untuk memancing perhatian musuh.

Tuk.

Suara itu sangat kecil, hampir tenggelam oleh deru angin luar, namun bagi telinga terlatih Tim Beta, suara itu terdengar seperti ledakan meriam.

"Kontak di sektor barat koridor makanan!" bisik pemimpin Tim Beta dengan cepat. "Formasi tumpuk, bersiap mendobrak pintu!"

Empat agen Tim Beta langsung merapat ke dinding samping pintu ganda ruang konservatori. Agen terdepan meletakkan tangannya di atas gagang pintu, sementara tiga rekannya mengarahkan senjata mereka langsung ke arah celah pintu yang akan terbuka.

Satu... dua... tiga...

Agen terdepan menarik pintu ganda tersebut hingga terbuka lebar, dan mereka berempat langsung menerobos masuk ke dalam koridor gelap dengan kacamata NVG Gen-3 mereka yang menyala hijau terang di dalam kegelapan.

Tepat ketika kaki agen terdepan melewati batas ambang pintu—

Nathan menekan tombol di pergelangan tangannya.

BLAAASSH!

Lampu kilat mikro di balik lemari antik meledak seketika dalam keheningan tanpa suara ledakan bising, namun menghasilkan gelombang cahaya putih yang luar biasa intens. Di bawah penguat cahaya aktif kacamata NVG milik Tim Beta, cahaya tersebut diamplifikasi hingga 10.000 kali lipat secara instan.

"AAARGH!"

Jeritan rasa sakit yang tertahan terdengar dari mulut keempat agen Tim Beta secara bersamaan. Mereka refleks melepaskan pegangan pada senjata mereka, tangan mereka bergerak cepat menutupi mata mereka yang terasa seperti dibakar oleh besi panas.

Beberapa dari mereka terhuyung-hudung ke belakang, menabrak lemari pajangan dan menjatuhkan beberapa vas keramik mahal yang hancur berkeping-keping di atas lantai.

Efek kebutaan sementara dari kerusakan sensor NVG membuat dunia visual mereka berubah menjadi layar putih bersih yang menyiksa retina mata mereka.

Di tengah kepanikan dan kebutaan musuh, Nathan meluncur keluar dari balik bayangan pilar seperti malaikat maut yang tidak memiliki wujud fisik.

Ia tidak menggunakan senjata api. Suara tembakan, sekecil apa pun peredamnya, akan memberi tahu sisa tim musuh tentang lokasi persisnya. Nathan memilih menggunakan pisau taktis karbon hitamnya yang dingin.

Dengan satu langkah lebar yang efisien, Nathan mendekati agen terdekat yang sedang memegangi kacamata NVG-nya yang rusak. Tangan kiri Nathan mencengkeram dahi agen tersebut, menarik kepalanya ke belakang untuk mengekspos lehernya, sementara tangan kanannya mengiris urat nadi leher korban dengan satu sayatan yang sangat cepat dan presisi.

Zzzt.

Darah hangat menyembur keluar dalam spektrum termal merah menyala, membasahi lantai marmer yang dingin. Agen tersebut ambruk tanpa sempat mengeluarkan suara selain desis napas terakhirnya yang tersumbat oleh darah.

Nathan tidak berhenti. Momentum gerakannya berlanjut ke agen kedua yang sedang meraba-raba dinding dengan panik. Menggunakan siku kanannya, Nathan menghantam tulang pelipis agen tersebut dengan kekuatan penuh, menghancurkan tulang tengkoraknya seketika dan mengirimnya ke dalam kegelapan abadi sebelum tubuhnya menyentuh lantai.

Sisa dua agen Tim Beta mulai menyadari rekan-rekan mereka berguguran di sekeliling mereka melalui suara jatuhnya tubuh dan aroma besi darah yang tiba-tiba memenuhi koridor sempit tersebut.

"Dia di sini! Tembak membabi buta!" teriak pemimpin Tim Beta yang masih mengalami kebutaan parsial. Ia menarik pistol cadangan kaliber 9 mm dari paha kanannya dan mulai melepaskan tembakan acak ke arah koridor depan.

TAP! TAP! TAP!

Tembakan-tembakan diredam itu menghantam dinding marmer dan lemari antik, mengirimkan serpihan kayu dan batu yang beterbangan di dalam kegelapan. Namun, Nathan sudah tidak berada di jalur tembakan tersebut.

Nathan telah merunduk rendah di bawah garis tembakan acak tersebut. Ia mendekati pemimpin Tim Beta dari sudut mati sebelah kanan, mencengkeram pergelangan tangan yang memegang pistol, dan memutarnya ke arah luar dengan satu sentakan kejam yang mematahkan tulang hasta korban.

KRAK.

Pistol tersebut terlepas dari genggaman pemimpin Beta yang menjerit kesakitan. Sebelum ia sempat mundur, tangan kiri Nathan telah menusukkan pisau taktisnya lurus ke dalam rongga dada sebelah kiri korban menembus tepat di sela-sela tulang rusuk ketiga menuju jantungnya.

Pemimpin Tim Beta mengejang hebat selama satu detik, matanya menatap kosong ke arah kacamata termal Nathan yang dingin sebelum tubuhnya lemas sepenuhnya.

Agen terakhir dari Tim Beta, menyadari bahwa ia adalah satu-satunya yang tersisa yang masih hidup di koridor maut tersebut, mencoba berbalik dan berlari kembali menuju ruang konservatori kaca untuk menyelamatkan diri.

Namun, Nathan tidak pernah membiarkan mangsanya lolos.

Dengan gerakan mengayun yang sangat kuat dan presisi, Nathan melemparkan pisau taktis karbon hitamnya ke arah punggung agen yang sedang melarikan diri tersebut.

STREK.

Bilah pisau sepanjang 15 sentimeter itu menancap sempurna di tengah-tengah tulang belikat belakang agen tersebut, memotong sumsum tulang belakangnya seketika.

Kaki agen itu langsung kehilangan kekuatan motoriknya, membuatnya tersungkur keras ke depan, menabrak meja kaca konservatori yang hancur berantakan di bawah beban tubuhnya.

Nathan berjalan perlahan mendekati jasad terakhir Tim Beta. Ia menarik kembali pisaunya dari punggung korban dengan satu sentakan dingin, lalu menyekanya hingga bersih menggunakan ujung pakaian taktis milik agen mati tersebut.

21.12.

Dua belas menit sejak pemadaman listrik dimulai. Tujuh agen dari dua belas pasukan elit Konsorsium Mahkota kini telah binasa di bawah tangan dingin sang Raja Perang.

Bzzzt.

Ponsel taktis di saku dada Nathan bergetar pelan. Ia menekan tombol enkripsi suara, menyambungkan kembali komunikatornya ke frekuensi Rendra.

"Nathan, laporkan situasi!" suara Rendra terdengar sangat tegang. "Tim pemantau luar kami mendeteksi adanya aktivitas pemaksaan bypass gardu listrik cadangan di gerbang depan oleh tim jangkar Vera. Lampu jalanan di luar perumahan baru saja menyala kembali. Mereka akan berhasil mengaktifkan kembali listrik rumah utama dalam waktu satu menit dari sekarang!"

Nathan menatap ke arah pintu lobi depan, di mana ia bisa melihat siluet termal dari tiga agen terakhir, Tim Gamma yang sedang bersiap dengan peralatan pendobrak hidrolik di balik pintu kayu jati ganda depan.

"Biarkan mereka menyalakan listriknya, Rendra," ucap Nathan dengan suara tenang yang sedingin es di puncak gunung. "Karena begitu lampu rumah ini menyala kembali... aku ingin mereka melihat dengan jelas seperti apa rupa dari neraka yang telah mereka masuki."

Nathan mematikan komunikatornya, melangkah perlahan menuju tangga utama, dan berdiri tegak di tengah anak tangga pertama. Jas hitamnya masih rapi tanpa cela, dan pisau taktis di tangan kanannya berkilau keperakan di bawah kilatan petir luar jendela yang sesekali menerobos masuk.

Tarian maut di kediaman Jalan Widya Mulia kini bersiap memasuki babak akhir yang paling berdarah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!