"Jangan tertipu dengan kelembutan kelopak bunga, karena di balik keindahannya ada duri yang bisa menembus jantungmu tanpa suara."
Putri Arabella Costa adalah perpaduan keanggunan bangsawan dan ketangguhan jiwa modern. Terlahir kembali sebagai putri bungsu Kerajaan Costa, Bella menolak diam di istana mewahnya dan memilih hidup bebas menyamar sebagai gadis biasa. Dia memiliki ruang dimensi berisi air kehidupan yang mampu menyembuhkan segala penyakit.
Lucian Alistair sosok pria yang dingin, dominan, memiliki insting bertarung serta indra penciuman yang tajam, menguasai garis depan militer, dan memiliki harga diri setinggi langit yang tidak bisa disentuh oleh sembarang orang.
Dua karakter kuat pemilik rahasia besar ini mendadak terikat dalam pernikahan tak terencana. Siapa yang akan menyerah lebih dulu? Akankah kebuasan serigala bisa menaklukkan sang putri rahasia, atau justru sang Alpha yang akan bertekuk lutut di bawah kendali Arabella?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SISI MANJA LUCIAN
Malam harinya, langit di atas desa perbatasan tampak sangat terang.
Bulan purnama bulat sempurna bersinar dengan sangat terang, memancarkan cahaya yang menembus celah-celah jendela rumah sederhana milik Ara.
Di dalam kamar, Lucian duduk di tepi ranjang dengan napas yang agak memburu.
Darah serigala sang Alpha di dalam tubuh nya bergejolak hebat karena efek bulan purnama, sisi buasnya mendesak ingin keluar, namun racun kalajengking yang tersisa di tubuhnya membuat kekuatannya tertahan, menimbulkan rasa panas sekaligus dingin.
Tok
Tok
Tok
Ceklekk
Pintu kamar terbuka sedikit, menampilkan sosok Ara yang membawa secangkir teh herbal hangat.
"Ian? Kamu belum tidur? Ini aku bawakan, Eh?"
Grep
Ucapan Ara terhenti saat melihat Lucian tiba-tiba bangkit dan langsung menerjang ke arahnya.
Bukan untuk menyerang, melainkan langsung melingkarkan kedua tangan kekarnya di pinggang kecil Ara, menyandarkan kepalanya yang terasa berat di bahu kecil gadis itu.
"Eh, eh! Kamu kenapa, Ian?! Lepas!" seru Ara panik, hampir saja menjatuhkan cangkir teh di tangannya.
"Dingin..." bisik Lucian, suaranya terdengar serak dan sangat parau.
Lucian makin mengeratkan pelukannya, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Ara untuk menghirup aroma tubuh Ara yang menenangkan itu.
Ara mencoba mendorong dada bidang Lucian dengan satu tangannya yang bebas, namun tubuh pria itu tidak bergeming sedikit pun.
"Dingin bagaimana, sih? Badanmu justru terasa sangat panas! Lepas dulu, aku mau menaruh cangkir ini!" ucap Ara, berusaha melepaskan pelukan Lucian.
"Tidak mau," gumam Lucian lagi, terdengar sangat manja dan kekanak-kanakan.
Ara akhirnya menyerah, dengan susah payah, dia mengulurkan tangan untuk menaruh cangkir teh di atas meja, lalu menghela napas panjang.
"Tuan Ian, ingatanmu tidak hilang kan? Kita ini cuma pasutri palsu, kenapa kamu mendadak begini?" dengus Ara ketus.
Lucian tidak menjawab, dia malah menuntun tubuh Ara untuk ikut duduk di tepi ranjang, masih tanpa melepaskan pelukannya sama sekali, sementara matanya sesekali berkilat memancarkan warna emas redup di bawah sinar bulan purnama.
"Peluk..." ucap Lucian lirih, menatap Ara dengan pandangan sayu, membuat Ara seketika kehilangan kata-kata.
Deg
Deg
Deg
Jantung Ara mendadak berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya.
"Sialan, kenapa jantungku malah berisik sekali?' batin Ara, merutuki dirinya sendiri yang mendadak gugup, menghadapi tingkah aneh pria besar ini.
"Kamu ini benar-benar merepotkan, tahu tidak?" omel Ara, mencoba menutupi rasa gugupnya dengan wajah ketus.
"Hanya sampai kamu tertidur, ya. Setelah itu, cepat lepas," ucap Ara, tangannya perlahan bergerak naik, menepuk-nepuk punggung lebar Lucian dengan ragu.
Lucian mendengus pelan, merasa sangat puas karena aromanya yang bercampur dengan kehangatan tubuh Ara berhasil menjinakkan gejolak serigala di dalam dirinya.
"Hmm... jangan pergi..." gumam Lucian, lirih.
"Iya, iya, aku tidak akan ke mana-mana, Suami Manja. Cepat tidur sebelum aku berubah pikiran dan melempar mu ke kebun kubis," jawab Ara, memutar bolanya malas, mengusap rambut cokelat berantakan milik Lucian agar pria itu bisa lebih tenang.
Perlahan-lahan, napasnya yang tadi memburu mulai teratur, meskipun suhu tubuhnya masih panas.
"Ian, kamu sudah tidur?" bisik Ara setelah beberapa menit keheningan melanda kamar mereka.
Ara mencoba mengintip wajah Lucian, namun yang dia dapati hanya gumaman tidak jelas dari pria itu yang semakin mempererat pelukannya.
"Hei, badanku pegal kalau duduk terus begini. Kita berbaring saja, ya?" tanya Ara, mencoba bernegosiasi karena pinggangnya mulai terasa kaku menahan beban tubuh Lucian yang besar.
"Mau tidur?" tanya Lucian, suaranya masih terdengar serak.
"Iya, mau tidur, makanya ayo rebahan, badanku mau patah rasanya memeluk tubuh besar mu," omel Ara sambil memutar bola matanya malas.
Lucian tidak membantah, dia perlahan mengendurkan pelukannya sedikit, memberi ruang bagi Ara untuk bergerak membenarkan posisi mereka di atas ranjang kayu yang sempit itu.
Ara langsung menarik napas lega, dengan cepat dia menggeser tubuhnya ke bagian dalam ranjang, lalu merebahkan dirinya di atas bantal kapuknya yang tipis.
"Nah, sekarang kamu tidur di sebelah sana, jangan dekat-dekat lagi," perintah Ara, menunjuk sisi ranjang yang kosong dengan jari telunjuknya.
Bukannya menuruti perintah Ara, Lucian justru ikut merebahkan tubuh besarnya di samping Ara, lalu dengan gerakan cepat menarik tubuh gadis itu masuk kembali ke dalam pelukannya.
"Ian! Kan sudah dibilang jangan dekat-dekat!" seru Ara tertahan, wajahnya menabrak dada bidang Lucian yang keras.
"Katamu tadi boleh peluk sampai tertidur," jawab Lucian santai, memejamkan matanya tanpa berniat melepaskan lengan kekarnya yang sekarang dijadikan bantal oleh Ara.
Ara menggeram kesal di dalam dada Lucian, tangannya memukul pelan pundak pria itu karena merasa ditipu oleh wajah melasnya yang tadi.
"Tapi tidak begini juga cara peluknya!" protes Ara, mencoba menggeliat untuk meloloskan diri.
"Diam lah, Ara, kepalaku masih sangat sakit," gumam Lucian, suaranya terdengar agak merintih.
Ara mendongak, menatap rahang tegas Lucian yang berada tepat di atas kepalanya, rasa kasihan kembali merayap di hatinya saat mendengar rintihan pria itu.
"Masih sakit sekali, ya? Makanya, teh herbal yang ku buatkan tadi diminum dulu, itu bisa mengurangi rasa panas di tubuhmu," ucap Ara, nada suaranya melembut, tidak lagi ketus seperti tadi.
Ara menyentuh dahi Lucian dengan telapak tangan kirinya, mencoba memeriksa suhu tubuh pria itu yang memang masih terasa sangat panas.
"Nanti saja, sekarang begini dulu," jawab Lucian, lemas.
Ara hanya bisa menghela napas pasrah, jantungnya kembali berdegup kencang karena posisi mereka yang benar-benar tidak menyisakan jarak sama sekali.
"Kamu ini sebenarnya siapa sih, Ian? Kenapa tubuhmu bisa seaneh ini, lalu matamu tadi..." kalimat Ara menggantung, dia ragu untuk melanjutkan pertanyaannya tentang kilatan warna emas di mata Lucian.
Ara merasa ada banyak hal misterius dan berbahaya yang disembunyikan oleh pria yang sekarang menjadi suami nya ini.
"Hanya pria yang beruntung karena diselamatkan olehmu," jawab Lucian lirih, matanya masih terpejam namun ada senyum tipis yang hampir tidak terlihat di sudut bibirnya.
"Cih, gombalanmu tidak mempan ya, cepat sembuh, lalu bantu aku memanen kubis di kebun besok pagi sebagai gantinya," ucap Ara, mendengus geli.
"Hmm... apa saja untuk istri kecilku," gumam Lucian, kesadarannya perlahan mulai menipis karena rasa nyaman dan wangi tubuh Ara benar-benar menidurkan sisi buas Alpha-nya.
Wajah Ara seketika memerah sempurna mendengar yang diucapkan Lucian dengan nada selembut itu, beruntung kamar mereka cukup gelap sehingga Lucian tidak bisa melihat wajahnya yang sudah seperti kepiting rebus.
"Terserah kamu saja lah, Ian," bisik Ara pelan, akhirnya ikut memejamkan matanya, membiarkan dirinya terlelap di dalam dekapan hangat suaminya.