Jiang Yuan—18 tahun, hidup terasing di Desa Daun Hijau. Ketika desanya dihancurkan oleh kelompok misterius dari Aula Jiwa, ia terpaksa melarikan diri demi menyelamatkan nyawanya.
Di ambang kematian, Jiang Yuan diselamatkan oleh Wang Ning, seorang tetua kuat dari Sekte Bulan Kabut. Melihat bakat dalam dirinya, Wang Ning menjadikan Jiang Yuan sebagai murid dan membawanya memasuki dunia kultivasi.
Kini, Jiang Yuan harus bertahan di dunia yang kejam dan penuh bahaya, menempuh jalan menuju puncak kekuatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chizella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Paviliun Pelelangan Surgawi
Setelah berhasil melewati Lautan Abadi dan meninggalkan kapal besar Feng Yun, keempat kultivator itu segera melanjutkan perjalanan mereka dengan pedang terbang. Mereka melesat di atas daratan, meninggalkan garis pantai yang perlahan menghilang di kejauhan.
Perjalanan dari pelabuhan menuju Provinsi Dahuang sungguh panjang dan menghabiskan banyak waktu.
Mereka melewati pegunungan bersalju, padang rumput luas yang dipenuhi bunga-bunga liar, serta lembah-lembah dalam yang diselimuti kabut misterius.
Namun, demi tujuan masing-masing, tidak ada satu pun dari mereka yang berhenti atau mengeluh, kecuali Dai Tong yang sesekali menggerutu di belakang.
Setelah berhari-hari terbang tanpa henti, akhirnya mereka tiba di Provinsi Dahuang, tepatnya di Kota Xing, sebuah kota besar yang terkenal sebagai pusat perdagangan dan pelelangan artefak langka.
Dari kejauhan saja, sudah terlihat betapa sibuk dan ramainya kota itu.
Langit di atas Kota Xing dipenuhi oleh kultivator yang terbang dengan pedang masing-masing. Ada yang melesat dengan kecepatan tinggi, ada pula yang melayang santai sambil bercakap-cakap dengan teman di sampingnya.
Beberapa orang bahkan menggunakan kereta terbang mewah yang ditarik oleh hewan-hewan spiritual berbulu indah, jelas menunjukkan bahwa mereka berasal dari keluarga kaya dan berpengaruh.
Suasana di kota itu terasa hidup dan energik. Pedagang-pedagang berteriak menawarkan barang dagangan mereka di sepanjang jalan, aroma makanan lezat menguar dari berbagai warung, dan sesekali terdengar suara bentrokan singkat dari kultivator yang sedang bertengkar di sudut jalan.
Dari sekian banyaknya orang yang datang, Jiang Yuan dan Ruan Mei memilih untuk berjalan di dalam kota. Menurut mereka, itu lebih aman dan tidak menarik perhatian berlebihan.
Dengan berjalan kaki, mereka bisa menyatu dengan keramaian dan mengamati situasi tanpa menjadi target empuk bagi orang-orang yang berniat jahat.
Feng Yun hanya mengikuti dengan diam di belakang mereka. Ia sesekali mencuri pandang ke arah Jiang Yuan, lalu segera memalingkan wajahnya saat pemuda itu hampir menangkap tatapannya.
Namun Dai Tong benar-benar mengeluh sepanjang perjalanan. Wajahnya cemberut, langkah kakinya berat dan malas, dan mulutnya tidak pernah berhenti merengek.
"Adik Seperguruan," rengeknya untuk kesekian kalinya. "Kenapa kita tidak terbang saja? Jauh lebih cepat dan tidak membuat kakiku pegal begini."
Feng Yun menatapnya dengan tatapan dingin.
"Jika kau ingin menggunakan pedang terbang, maka lakukan sendiri. Aku akan mengikuti Adik Jiang."
Wajah wanita itu benar-benar dingin saat mengucapkan kata-kata itu, tanpa ada sedikit pun kehangatan yang ia tunjukkan pada Jiang Yuan.
"Ayolah, Adik Seperguruan," rengek Dai Tong lagi, mencoba pendekatan yang berbeda. "Bagaimana kau membiarkan Kakak Seperguruanmu ini sendirian? Kita ini satu sekte, satu guru. Bukankah kita harus saling menjaga?"
Namun Feng Yun hanya mengalihkan pandangannya, mengabaikan Dai Tong sepenuhnya seolah pemuda itu tidak ada di sana.
Wanita itu kemudian berlari kecil menyusul Jiang Yuan dan Ruan Mei yang berjalan di depan.
Dai Tong hanya bisa terdiam di tempat, mulutnya terbuka karena tidak percaya. Tangannya mengepal erat, kuku-kukunya menusuk telapak tangan.
"Bajingan..." gumamnya dengan suara pelan, matanya menyipit menatap punggung Jiang Yuan. "Berani-beraninya merebut Adik Seperguanku."
Tidak ada yang mendengar gumamannya. Suara hiruk-pikuk kota menenggelamkan kata-katanya, menyimpannya sebagai rahasia yang hanya ia sendiri yang tahu.
Di depan, Jiang Yuan mengeluarkan sebuah token dari sakunya. Token itu terbuat dari batu giok berwarna merah pekat, diukir dengan simbol api yang berkilauan samar, pemberian dari Wang Ning yang berfungsi sebagai bukti identitas dan akses ke pelelangan.
Ia menyerahkannya pada Ruan Mei tanpa banyak bicara.
Ruan Mei menatap token di tangannya, lalu menatap Jiang Yuan dengan alis terangkat.
"Apa maksudmu?" tanyanya, nada suaranya sedikit curiga.
"Kau yang akan menawar," jawab Jiang Yuan dengan nada santai. "Gunakan harga setinggi apapun untuk bisa mendapatkan Tulang Phoenix Abadi. Aku kurang terbiasa dengan hal-hal semacam ini. Ditambah lagi, sebagai murid baru, aku tidak ingin menarik terlalu banyak perhatian."
Mendengar itu, Ruan Mei mendecak kesal. Tangannya terangkat, nyaris memukul kepala Jiang Yuan.
"Mencoba memanfaatkanku? Bagus sekali, kau sudah mulai berani, ya, bocah!" serunya dengan nada setengah marah. "Awas saja kau kalau sampai membuat masalah!"
Jiang Yuan hanya tersenyum tipis, sebuah ekspresi yang jarang muncul di wajahnya yang biasanya dingin.
"Mau bagaimana lagi? Ini keinginan Guru Ning. Aku mana bisa menolaknya." Ia mengangkat kedua bahunya dengan santai, menunjukkan bahwa ia sama sekali tidak terintimidasi oleh ancaman Ruan Mei.
Tangan Ruan Mei akhirnya turun. Wanita itu mengalihkan pandangannya ke depan, mencoba menyembunyikan sedikit rasa kesalnya. Bibirnya mengerucut.
"Menyebalkan," gumamnya pelan, namun tidak ada amarah sungguhan di balik kata-kata itu.
Saat itu juga, Feng Yun menepuk punggung mereka berdua dengan penuh semangat.
"Kita sudah sampai!" serunya, suaranya ceria dan matanya berbinar.
Keempat pasang mata segera tertuju ke depan. Di hadapan mereka, sebuah bangunan megah berdiri kokoh di tengah-tengah Kota Xing.
Bangunan itu memiliki arsitektur yang sangat indah dan mewah, dengan pilar-pilar giok besar yang diukir dengan motif naga dan phoenix. Atapnya bertingkat-tingkat dengan genteng berwarna emas yang berkilauan di bawah sinar matahari. Di atas pintu masuk utama, sebuah plakat besar bertuliskan tiga aksara emas.
Paviliun Pelelangan Surgawi.
Hanya sekilas saja, Jiang Yuan sudah bisa merasakan bahwa tempat itu dilindungi oleh formasi kuat.
Energi Dou Qi yang halus namun padat menyelimuti seluruh bangunan, menciptakan lapisan perlindungan yang sulit ditembus. Siapa pun yang mencoba berbuat onar di dalam pasti akan menghadapi konsekuensi yang mengerikan.
"Untuk tempat pelelangan, ini cukup mewah," ujar Jiang Yuan, matanya mengamati setiap detail bangunan dengan saksama.
Feng Yun tersenyum bangga, seolah ia sendiri yang memiliki bangunan itu. "Tentu saja! Paviliun Pelelangan Surgawi adalah tempat pelelangan terbesar dan paling bergengsi di seluruh Provinsi Dahuang. Semua barang langka dan berharga selalu dilelang di sini."
Dai Tong akhirnya berhasil menyusul mereka, terengah-engah karena berlari. Namun saat ia melihat bangunan megah di depannya, semua keluhannya seketika lenyap.
"Wah..." gumamnya, matanya membelalak takjub. "Aku belum pernah melihat tempat semewah ini."
Ruan Mei melangkah maju, token di tangannya berkilauan. "Baiklah. Mari kita masuk. Semakin cepat kita mendapatkan Tulang Phoenix Abadi, semakin cepat kita bisa kembali ke Puncak Teratai."
Jiang Yuan mengangguk setuju. Namun sebelum melangkah, ia menoleh ke arah Feng Yun dan Dai Tong.
"Kalian juga akan mengikuti pelelangan ini, bukan?"
Feng Yun mengangguk dengan senyuman manis. "Benar. Kami juga mencari beberapa artefak langka untuk sekte kami. Mungkin kita bisa saling membantu jika ada kesulitan."
Jiang Yuan tidak menjawab. Ia hanya mengangguk kecil, lalu berbalik dan melangkah menuju pintu masuk Paviliun Pelelangan Surgawi.
Di belakangnya, Ruan Mei mengikuti dengan langkah mantap. Sementara Feng Yun dan Dai Tong menyusul di belakang mereka berdua.
Di dalam hatinya, Jiang Yuan merasakan sesuatu yang aneh. Ada firasat bahwa pelelangan kali ini tidak akan berjalan semulus yang ia bayangkan.
Namun, ia juga sadar bahwa tidak ada jalan mundur. Untuk menjadi lebih kuat, untuk mencapai tujuannya, ia harus terus melangkah maju.
Keempat kultivator itu akhirnya memasuki Paviliun Pelelangan Surgawi, meninggalkan keramaian Kota Xing di belakang mereka. Di dalam, dunia baru yang penuh dengan artefak langka, intrik politik, dan persaingan sengit menanti.