Kenan, CEO berkuasa, menjatuhkan talak pada Kinasih hanya untuk melindunginya. Tanpa ia tahu, wanita itu pergi membawa buah cinta mereka.
Kini Kinasih menjadi dokter muda yang berjuang sendirian, sementara Kenan terjebak dalam pernikahan hampa, hatinya tetap hanya untuk mantan istrinya itu.
Takdir mempertemukan mereka kembali. Kenan pun bertekad merebut kembali apa yang hilang, menghadapi cemburu buta istri barunya dan saingan baru yang ingin memiliki Kinasih. Akankah ia berhasil menebus kesalahan dan menyatukan keluarga mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suara Pertama Seorang Ayah untuk Buah Hatinya
Keesokan paginya, sinar matahari yang hangat masuk menerobos lewat celah jendela apartemen, menyinari ruangan dengan cahaya lembut. Kinasih keluar dari kamar tidur dengan mengenakan jas dokter yang rapi dan bersih. Rambutnya diikat kuncir sederhana agar tidak mengganggu aktivitasnya, sementara tas kerjanya sudah tersampir rapi di bahu kanannya.
Namun, begitu melangkah masuk ke ruang tamu, langkahnya langsung terhenti dan matanya terbelalak sedikit.
“Mas?”
Di atas sofa, Kenan sudah duduk santai sambil menikmati secangkir kopi dan beberapa potong camilan di hadapannya. Pria itu tampak tenang, seolah sudah menunggu cukup lama.
Reyna yang sedang merapikan barang-barang di meja hanya tersenyum kecil melihat reaksi Kinasih. “Selamat pagi, Dok.”
Kinasih masih terlihat bingung dan tidak mengerti. “Mas, kok sudah ada di sini sejak pagi sekali?”
Kenan mengangkat cangkir kopinya sebentar sebagai sapaan, lalu menjawab dengan nada tenang. “Pagi. Sudah dari tadi ada di sini.”
“Baru saja sampai?” tanya Kinasih lagi.
“Sudah sekitar setengah jam yang lalu masuk,” jawab Kenan singkat.
Kinasih langsung menoleh ke arah Reyna dengan pandangan bertanya. “Rey… dia bisa masuk begitu saja?”
Reyna hanya menyeringai lebar. “Maaf ya, Dok. Pak Kenan memang sudah memiliki akses kunci dan izin masuk ke apartemen ini sejak awal.”
Mendengar penjelasan itu, Kinasih hanya bisa menghela napas panjang dan pasrah. “Memang begitulah Mas, tidak pernah memberi kabar atau bilang dulu kalau mau datang.”
Kenan tersenyum tipis mendengar keluhan itu. “Kalau aku bilang duluan, takutnya kamu keburu berangkat dan tidak sempat bertemu.”
Kinasih akhirnya duduk di sisi sofa yang berhadapan dengan Kenan, lalu bertanya lanjut. “Kamu mau berangkat ke kantor juga?”
“Iya nanti. Tapi mau pastikan dulu kondisimu pagi ini,” jawab Kenan. “Kamu belum mengambil cuti kerja?”
“Belum,” jawab Kinasih. “Dokter Ayu masih memberi jadwal yang ringan saja, jadi tidak terlalu melelahkan.”
Kenan mengangguk pelan, lalu menatap perut Kinasih yang mulai terlihat jelas. “Bagaimana kondisi kandunganmu pagi ini? Masih sering merasa mual?”
“Alhamdulillah, kondisinya baik. Rasa mualnya sudah jarang sekali muncul,” jawab Kinasih jujur.
“Punggung masih sering terasa pegal?” tanya Kenan lagi dengan nada perhatian.
“Kadang terasa pegal kalau sudah terlalu lama berdiri saat memeriksa pasien,” jawab Kinasih.
Kenan menatap wajah Kinasih selama beberapa detik, lalu berkata dengan nada tegas namun lembut. “Kalau sudah terasa lelah atau tidak enak badan, jangan dipaksakan terus bekerja. Ingat, kesehatanmu dan anak itu jauh lebih penting dari apa pun.”
“Iya, aku ingat,” jawab Kinasih pelan.
Suasana menjadi hening sejenak, hanya terdengar suara detak jam dinding dan kicau burung dari luar jendela. Lalu Kenan membuka suara lagi dengan nada yang lebih lembut dan rendah.
“Nash.”
“Hm?”
“Bolehkah aku mengobrol sebentar dengan anak kita?”
Kinasih menatapnya dengan pandangan terkejut. “Mengobrol?”
“Iya,” jawab Kenan sambil menatap matanya dengan tatapan penuh harap. “Kamu tidak keberatan, kan?”
Kinasih terdiam sesaat, lalu perlahan tersenyum tipis dan mengangguk setuju. “Boleh saja.”
Senyum yang tulus dan lebar langsung terukir di wajah Kenan, sesuatu yang jarang terlihat orang lain lihat. “Terima kasih.”
Ia meletakkan cangkir kopinya ke atas meja dengan hati-hati. Lalu, dengan gerakan yang sangat lambat dan penuh perhatian, Kenan berlutut di lantai tepat di depan Kinasih.
Dengan sangat lembut, ia mendekatkan wajahnya ke perut Kinasih yang sudah membesar. Tangannya menyentuh sisi perut itu dengan sentuhan yang sangat ringan, seolah takut akan melukai atau membuat Kinasih merasa tidak nyaman sedikit pun.
“Halo, Jagoan kecil…”
Suara Kenan terdengar sangat lembut dan hangat, berbeda jauh dari nada bicara yang biasanya tegas dan berwibawa.
“Ayah datang menemui kamu pagi ini.”
Kinasih hanya menunduk, memperhatikan setiap gerakan dan ekspresi Kenan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ada rasa hangat yang perlahan menyebar di dadanya melihat pemandangan itu.
Kenan tersenyum sendiri, lalu melanjutkan ucapannya. “Bagaimana kabarmu di dalam sana? Apakah nyaman dan cukup makan?”
“Ayah berdoa semoga kamu selalu sehat dan tumbuh dengan sempurna.”
“Jangan sering-sering membuat Mama merasa lelah atau mual ya. Kalau Mama sedang susah makan, tolong ‘ingatkan’ dia supaya mau makan yang cukup, supaya kamu juga kuat.”
Kinasih tersenyum kecil mendengar ucapan itu, merasa haru sekaligus terhibur.
Kenan kembali melanjutkan ucapannya dengan nada yang lebih dalam. “Memang untuk saat ini Ayah belum bisa sering-sering duduk lama menemanimu dan Mama. Ada banyak urusan yang harus diselesaikan.”
“Tapi percayalah, setiap detik dalam pikiran Ayah selalu ada kamu dan Mama. Ayah juga sedang bekerja keras, agar nanti begitu kamu lahir ke dunia, kamu tidak akan kekurangan apa pun. Semua yang terbaik akan Ayah usahakan untuk kalian berdua.”
Ia mengusap perlahan permukaan perut Kinasih dengan jari-jarinya. “Jaga Mama baik-baik ya. Kalau Mama sedang merasa sedih atau kesepian, tolong beri tanda dengan menendang pelan saja, supaya Mama ingat bahwa kamu selalu ada dan menemaninya.”
Tanpa sadar, Kinasih mengangkat tangannya dan mengusap sudut matanya yang mulai terasa basah menahan air mata.
Kenan mengangkat wajahnya sedikit, lalu tersenyum hangat. “Ayah sangat menyayangimu, Nak. Dan Ayah juga berdoa semoga Allah senantiasa melindungi dan menjaga kalian berdua sampai tiba saatnya kamu lahir dengan selamat.”
Beberapa detik kemudian, Kenan perlahan berdiri kembali ke posisinya. Ia menatap lurus ke dalam mata Kinasih dengan tatapan yang tulus.
“Terima kasih sudah mengizinkanku berbicara sebentar dengan anak kita.”
Kinasih mengangguk pelan sambil tersenyum lembut. “Dia pasti mendengar setiap kata yang kamu ucapkan tadi.”
“Semoga saja begitu,” jawab Kenan sambil membalas senyumnya.
Di sudut ruangan, Reyna yang sedari tadi berdiri di dekat dapur dan memperhatikan pemandangan itu ikut tersenyum terharu. Ia bergumam pelan, “Kayaknya si dedek bayi nanti akan langsung mengenal suara Ayahnya sejak sekarang.”
Kinasih langsung tersipu malu mendengar ucapan itu, lalu memalingkan wajah. “Rey… jangan bicara sembarangan.”
“Hehe… saya cuma menyampaikan apa yang saya lihat dan rasakan saja kok,” jawab Reyna sambil tertawa kecil.
Suasana di dalam apartemen itu pun terasa semakin hangat dan damai, sebelum akhirnya Kinasih bersiap untuk berangkat menjalani aktivitasnya sehari-hari di rumah sakit.
Mobil Kenan berhenti tepat di depan lobi Rumah Sakit Sentral Medika. Suasana di pagi hari masih terasa ramai dengan kendaraan yang berlalu-lalang dan orang-orang yang berjalan masuk keluar rumah sakit.
Kenan mematikan mesin mobil, lalu segera menoleh ke samping. “Kita sudah sampai.”
Kinasih mengangguk sambil merapikan kerah jas dokternya yang sedikit berantakan. “Iya.”
Kenan turun lebih dulu, lalu dengan sigap membukakan pintu sisi penumpang. “Pelan-pelan saja.”
Kinasih tersenyum tipis melihat sikap perhatiannya. “Mas, aku masih bisa turun sendiri kok.”
“Aku tahu itu,” jawab Kenan santai. “Tapi tidak ada salahnya aku membantu sedikit.”
Ia mengulurkan tangannya ke depan. Kinasih menerimanya sebentar sebagai pegangan agar menjaga keseimbangan saat melangkah turun dari mobil. Begitu kedua kakinya sudah menapak kuat di lantai, Kenan langsung menatap tas kerja yang tersampir di bahu wanita itu.
“Tasnya terasa berat?” tanyanya lagi.
“Tidak kok, ringan saja,” jawab Kinasih.
“Yakin benar?”
“Iya, Mas.”
Kenan mengangguk pelan, namun nada peringatannya tetap terdengar tegas. “Kalau nanti di dalam terasa lelah atau tidak enak badan, jangan dipaksakan terus bekerja. Ingat pesanku.”
“Iya, aku ingat,” jawab Kinasih lembut.
“Jangan lupa juga makan siang tepat waktu, ya.”
“Siap, Mas.”
“Dan vitaminnya?”
“Sudah ada di dalam tasku, nanti aku minum sesuai jadwal.”
“Bagus.”
Kinasih tersenyum kecil melihat Kenan yang tak henti-hentinya mengingatkan hal-hal kecil itu. “Mas…”
“Hm?”
“Aku masuk dulu ya.”
Kenan mengangguk perlahan. “Hati-hati di dalam.”
“Iya.”
Kinasih berbalik melangkah menuju pintu masuk utama. Sesekali ia disapa oleh para perawat dan staf rumah sakit yang sudah mengenalnya.
“Selamat pagi, Dokter Kinasih.”
“Pagi.”
Sementara itu, Kenan masih berdiri diam di samping mobilnya. Tatapannya tak lepas mengikuti setiap langkah Kinasih, sampai sosok wanita itu benar-benar menghilang di balik pintu kaca Instalasi Gawat Darurat.
Barulah setelah itu Kenan kembali masuk ke dalam mobil. Sebelum menyalakan mesin, ia bergumam pelan dengan suara yang hanya bisa didengarnya sendiri. “Hati-hati selalu ya, Nash…”
Mesin mobil pun menyala, lalu melaju perlahan meninggalkan area rumah sakit menuju kantor cabang Hartman Group yang terletak di pusat kota Surabaya.