NovelToon NovelToon
ISTRI YANG DISINGKIRKAN DI HARI ULANG TAHUN PERNIKAHAN

ISTRI YANG DISINGKIRKAN DI HARI ULANG TAHUN PERNIKAHAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:91.1k
Nilai: 5
Nama Author: Barra Ayazzio

Di hari yang seharusnya menjadi perayaan cinta, dia justru disingkirkan dari hidup mereka.

Ketika seorang istri setia berharap mendapat kejutan di hari ulang tahun pernikahannya, yang ia terima justru pengkhianatan dari orang-orang yang paling ia percayai.

Suami yang berubah. Pelakor yang datang tanpa rasa bersalah. Serta ibu mertua dan ipar yang mendukung semuanya.

Akankah ia bertahan demi rumah tangganya?

Atau memilih pergi dan membuktikan bahwa dirinya mampu hidup tanpa mereka?

Siapkan hati kalian, karena kisah ini akan menghadirkan banyak air mata, kemarahan, penyesalan, dan tentunya balas karma yang memuaskan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11. Kekecewaan Pak Hardi

Kekecewaan Pak Hardi

Langit sudah berubah gelap ketika mobil yang ditumpangi Galang dan Mayang memasuki halaman rumah. Waktu hampir menunjukkan azan Isya. Sejak siang mereka menghabiskan waktu berkeliling kota, mampir ke pusat perbelanjaan, lalu menutup hari dengan makan malam romantis di sebuah restoran.

Sepanjang makan, Mayang tak henti-hentinya bermanja. Sesekali ia menyuapi Galang, lalu tertawa ketika pria itu membalas perlakuannya. Bagi siapa pun yang melihat, mereka tampak seperti pasangan pengantin baru yang sedang dimabuk cinta. Dunia seolah hanya milik mereka berdua.

Yang tidak mereka ingat, di rumah ada tiga orang yang belum makan malam.

Galang turun dari mobil lebih dulu, diikuti oleh Mayang. Setelah mobil itu pergi, Mayang merapikan rambutnya sambil tersenyum puas sebelum menggandeng lengan suaminya memasuki rumah.

Begitu pintu terbuka, Bu Sumarni yang sejak tadi mondar-mandir di ruang tamu langsung berdiri.

"Nah, akhirnya pulang juga. Mana makanannya?" tanyanya tanpa basa-basi. Matanya langsung mengarah ke tangan Galang dan Mayang yang kosong.

Galang dan Mayang saling berpandangan. "Makanan apa, Bu?" tanya Galang.

"Lho, bukannya sebelum berangkat Ibu udah bilang? Sekalian beli makan malam buat di rumah. Ibu, Bapak, sama Vera belum makan nunggu kalian."

Wajah Galang seketika berubah canggung. Baru sekarang ia teringat ucapan ibunya sebelum mereka pergi.

"Oh... iya ya..." gumamnya pelan.

Mayang malah mengangkat bahu dengan santai. "Habis kami lupa, Bu. Tadi asyik jalan-jalan."

"Lupa?" ulang Bu Sumarni dengan nada kecewa. "Kalian makan enak di luar, sementara orang rumah nungguin."

Belum sempat Galang menjawab, suara berat Pak Hardi terdengar dari ruang keluarga. "Jadi kalian benar-benar gak bawa apa-apa?"

Pak Hardi keluar dengan wajah yang sudah masam sejak tadi. Perutnya sedari magrib sudah keroncongan karena mengira anak dan menantunya akan membawa makanan.

Galang menunduk. "Maaf, Pak. Kami lupa."

"Lupa?" Pak Hardi mendengus kesal. "Dari siang jalan-jalan, makan di restoran, tapi gak kepikiran sama sekali sama orang yang ada di rumah?"

Mayang tampak tidak merasa bersalah. "Kan masih bisa masak, Pak."

Kalimat itu membuat Pak Hardi langsung menatap tajam. "Masak? Jam segini? Kamu pikir orang-orang di rumah ini pembantu yang tinggal disuruh masak kapan aja?"

Mayang langsung terdiam. Baru kali ini mertuanya berbicara setegas itu. Pak Hardi menggeleng pelan sambil menghela napas panjang.

"Dulu..." ucapnya lirih namun penuh makna, "setiap Arini keluar rumah, pulangnya gak pernah lupa bawa oleh-oleh. Walaupun cuma gorengan atau beberapa bungkus nasi, dia selalu ingat kalau ada orang yang menunggu di rumah."

Suasana mendadak hening.

Nama Arini yang disebut membuat Galang merasa dadanya sesak. Bayangan istrinya yang selama ini selalu memikirkan keluarganya kembali terlintas begitu saja.

Sementara Mayang hanya memalingkan wajah, seolah enggan mendengar perbandingan itu. Bu Sumarni yang semula membela Mayang pun tak bisa berkata apa-apa. Kali ini ia sadar, memang mereka bertiga sudah menunggu dengan perut kosong sejak magrib.

Pak Hardi mengibaskan tangannya dengan kesal.

"Sudahlah. Gak usah berdiri di situ. Saya keluar beli makan sendiri."

"Bapak, biar Galang aja yang beli," kata Bu Sumarni buru-buru.

Pak Hardi menatap putranya dengan sorot mata kecewa. "Kalau memang masih ingat orang tuanya, dari tadi dia sudah pergi beli. Bukan nunggu diingatkan."

Ucapan itu menampar Galang telak. Ia hanya bisa menundukkan kepala, sementara Mayang mulai merasa tidak nyaman. Baru sehari tinggal di rumah itu, tetapi mereka benar-benar merasakan suasana yang tidak lagi hangat.

Pak Hardi menggeleng pelan, rasa kecewanya sudah terlalu besar untuk ditutupi.

"Sudahlah. Saya sudah malas bicara."

Galang segera mengeluarkan ponselnya.

"Pak, biar Galang pesan makanan sekarang."

"Kelamaan," sahut Pak Hardi datar.

"Aku naik ojek online saja, Pak. Biar lebih cepat beli makan."

Tanpa menunggu jawaban, Galang langsung memesan ojek online. Beberapa menit kemudian, suara klakson terdengar dari depan rumah.

"Aku bentar ya, Bu, Pak," ucap Galang sambil bergegas keluar.

Pintu rumah kembali tertutup. Kini yang tersisa hanya Bu Sumarni, Pak Hardi, Vera, dan Mayang.

Vera yang sejak tadi duduk sambil memainkan ponselnya akhirnya bersuara dengan wajah kesal.

"Heran deh sama Mas Galang."

Bu Sumarni menoleh. "Kenapa lagi kamu?"

"Ya heran aja Bu, kesel jelas juga. Masa jalan-jalan seharian, makan enak di luar, terus pulangnya tangan kosong? Emang kami di rumah gak perlu makan?"

Mayang mengembuskan napas pelan. "Namanya juga lupa."

"Lupa?" Vera tersenyum sinis. "Kalau Mbak Arini sih gak pernah begitu."

Ruangan langsung sunyi. Vera melanjutkan dengan nada yang semakin tajam. "Dulu setiap Mas Galang sama Mbak Arini pergi, Mbak Arini selalu ingat sama orang rumah. Kadang bawain martabak, kadang ayam goreng, kadang baso sama teh botol. Gak pernah pulang dengan tangan kosong."

Bu Sumarni hanya terdiam.

"Pokoknya setiap keluar rumah, Mbak Arini selalu mikir, 'Di rumah ada yang belum makan atau enggak, ya?' Sekarang?" Vera melirik Mayang tanpa berusaha menyembunyikan sindirannya. "Yang dipikirin cuma berduaan, bermesraan, sama makan enak sendiri."

"Wah, Vera, jangan ngomong begitu," tegur Bu Sumarni, meski suaranya terdengar kurang tegas.

"Lho, memang salah? Aku cuma ngomong fakta."

Vera berdiri sambil menyilangkan tangan. "Aku jadi kangen sama Mbak Arini. Orangnya perhatian. Bahkan kalau capek habis kerja pun masih sempat mikirin isi perut orang serumah."

Mayang mulai merasa tersindir. "Kalau mau terus-terusan ngebandingin sama Arini, kenapa gak sekalian panggil dia balik?" balasnya ketus.

Vera tertawa pendek. "Kalau bisa, aku juga lebih milih Mbak Arini ada di rumah daripada keadaan kayak sekarang."

Ucapan itu membuat wajah Mayang memerah menahan kesal.

Pak Hardi yang sejak tadi diam akhirnya mengangguk pelan. "Vera memang ngomongnya pedas. Tapi kali ini Bapak gak bisa bilang dia salah."

Kalimat singkat itu membuat suasana kembali hening. Bahkan Bu Sumarni pun tidak mampu membela Mayang. Kini ia mulai menyadari bahwa perhatian kecil yang dulu selalu dilakukan Arini ternyata baru terasa nilainya setelah perempuan itu pergi. Sementara Mayang, yang sejak awal begitu dibanggakan, justru belum menunjukkan kepedulian yang sama terhadap keluarga yang kini tinggal serumah dengannya.

Tak sampai tiga puluh menit kemudian, suara motor berhenti di depan rumah. Galang turun dari ojek online sambil membawa dua kantong plastik putih. Wajahnya tampak sedikit lega. Dalam pikirnya, setidaknya ia sudah membeli makanan untuk keluarganya.

"Maaf, nunggu lama," ucapnya sambil masuk ke ruang tamu.

Semua mata langsung tertuju pada kantong yang dibawanya. "Nih, Pak, Bu. Tadi yang masih buka dekat sini cuma tukang bakso tahu."

Galang meletakkan kantong plastik itu di atas meja. Aroma kuah kaldu langsung menyeruak memenuhi ruangan.

Bu Sumarni membuka salah satu bungkusnya. "Bakso tahu?" tanyanya pelan.

"Iya, Bu. Aku beli empat porsi."

Belum sempat Bu Sumarni berkata apa-apa, Pak Hardi sudah lebih dulu berdiri. Wajahnya yang sejak tadi muram kini berubah semakin gelap.

"Bakso tahu?"

"Iya, Pak."

"Kamu pikir kami nunggu dari magrib cuma buat makan bakso tahu?"

Galang mengerutkan dahi. "Kan... ini juga makanan berat, Pak."

"Makanan berat?" ulang Pak Hardi dengan nada meninggi. "Orang seharian belum makan, hanya tadi pagi aja makan dengan tempe tahu, siang hanya makan roti. Sekarang yang dibutuhkan itu nasi. Lauk. Bukan jajanan seperti ini."

"Tapi tadi warung nasi banyak yang sudah tutup...."

"Kalau memang niat, dari tadi sebelum pulang juga kalian bisa beli nasi di restoran tempat kalian makan." potong Pak Hardi tajam.

Kalimat itu membuat Galang terdiam. Pak Hardi menunjuk kantong plastik di atas meja.

"Kalian tadi makan enak di restoran. Apa susahnya bilang, 'Mas, bungkus tiga atau empat porsi lagi buat orang rumah!' Selesai. Gak perlu bikin orang nunggu, gak perlu keluar lagi malam-malam."

Galang menelan ludah. Ia benar-benar tidak memikirkan hal itu. Vera mendengus pelan. "Aku juga heran. Dari restoran malah pulangnya bawa bakso tahu."

Mayang yang sedari tadi diam akhirnya ikut bicara.

"Yang penting kan sudah dibeli. Mau nasi, mau bakso tahu, sama-sama buat ngisi perut."

Pak Hardi langsung menoleh. "Beda."

Mayang mengernyit. "Beda bagaimana, Pak?"

"Beda karena ini soal perhatian, bukan soal kenyang."

Suasana kembali sunyi. Pak Hardi menarik napas panjang sebelum melanjutkan. "Dari tadi yang Bapak sesalkan bukan makanannya. Tapi cara kalian berpikir. Kalian bisa menghabiskan waktu berjam-jam bersenang-senang, makan di restoran, tapi sama sekali gak ingat orang yang ada di rumah."

Beliau menggeleng pelan. "Dulu Arini tidak pernah begitu."

Nama itu kembali membuat suasana berubah.

"Kalau Arini keluar rumah, dia selalu bertanya dulu, 'Pak, mau dibawain apa?' Bahkan kalau kami bilang tidak usah, tetap saja dia pulang membawa sesuatu. Bukan karena kami minta, tapi karena dia memang memikirkan keluarganya."

Pak Hardi menatap Galang dalam-dalam.

"Baru sekarang kamu akan mengerti. Perhatian seseorang itu baru terasa berharganya ketika dia sudah tidak ada."

Galang hanya bisa menundukkan kepala. Kata-kata ayahnya menghantam nuraninya tanpa ampun. Sementara di sampingnya, Mayang menggigit bibir, menahan kesal karena lagi-lagi dirinya dibandingkan dengan Arini. Namun, kini, tak seorang pun di rumah itu membantah ucapan Pak Hardi. Bahkan Bu Sumarni pun memilih diam, seolah mulai menyadari bahwa kehilangan Arini bukan sekadar kehilangan seorang menantu, melainkan kehilangan sosok yang selama ini menjadi penopang kehangatan rumah itu.

__________________________________

Hai Readers jangan lupa mampir ke novel aku yang lainnya ya!

Rahasia Masa Lalu Suami dan Sang Ipar (sudah tamat).

Ditalak Sesaat Setelah Akad (sudah tamat)

Benang Putus Karena Cinta Pertama. (Up)

Oh iya jangan lupa beri masukan dan kritikan yang membangun yah, biar makin semangat up novelnya. Terimakasih 🙏🏼🙏🏼🙏🏼

1
sutiasih kasih
pak bardi benar... galang....
dia itu g diam saja galang.... bhkn bpk sambungmu jga totalitas dlm ikut brtanggunh jawab....
sampe peranmu sbg suami mayang pun pak hardi ikut bertanggung jawab lho.... mmberi nafkah lahir dan batin untuk mayang....
saat km tak di rumah... ada pak hardi yg mngganti peranmu untuk meniduri mayang🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
sutiasih kasih
galang... galang... cm punya modal isi kolor aja.... belagu amat buat poligami🤣🤣🤣🤣🤣
Maria Magdalena
😄😄😄😄nah lho betarti kamu cowok mokondo ya galang nikmati karmamu
Ma Em
Alhamdulillah akhirnya Arini sdh bebas dari suami dan mertua yg toksik , tinggal menunggu Galang dan keluarganya diusir dari rumah Arini .
Arieee
ayo kapan keluarga nya Galang di usir udah greget gak sabar👍👍👍👍👍👍
Arin
Alhamdulillah ikut senang Thor.....
Semangat biar lebih rajin buat up. Double, threeple.....lebih juga boleh😁
Mundri Astuti
Alhamdulillah...tumpengan dah rin
sunaryati jarum
Mayang kamu lebih parah dari Vera, mertua saja ikut menikmati tubuhmu berlagak sok suci, hanya menanti waktu akan terkuak juga
Lee Mba Young
lah sesama ani ani saling jambak 🤣. pdhl sama kelakuan bejat nya.
sutiasih kasih
mayang.... sesama ani"... jgn saling menghina ya😅😅😅
Mundri Astuti
belom tau aja, lakinya sendiri blegedes...bu Sumarni kejang" ntar tau lakinya ma mantu kesayangannya iyuyyyy punya skandal
Lee Mba Young
lah masih gk tobat si Vera. hrse hajar smp babak belur lah.
Wega Luna
3 kali tidak hadir bisa cepat dan dapat surat cerai sendiri,
sunaryati jarum
Arini hatimu baik juga mau menolong orang yang pernah merendahkan dan menghinamu
Ma Em
Bu Sumarni emang keluarganya sdh hancur , si Galang sdh berantakan rumah tangganya si Vera jadi simpanan om om
dan Mayang menantu kesayangan nya sdh membohongi Galang dan selingkuh apalagi kalau Bu Sumarni tau bahwa suaminya juga ada main dgn Mayang menantu kesayangan Bu Sumarni maka nikmati saja karma yg Bu Sumarni dan keluarga terima .
sunaryati jarum
Wah Vera muai terang- terangan di tempat umum.Bab selanjutnya memergoki Mayang
Yuni Ngsih
Baguuuus Arini lawan laki" jahat seperti si Galang bahkan klw kamu pulang mobil jangan di bawa ke Rumah simpan di butik mu biar merasakan kesusahan hidupnya ....semangat Arini Authooor lanjut ....
Yuni Ngsih
Arini semangat pasti kamu akan berhasil dlm se-gala" nya karena keuletanmu buang lk" seperti itu & usir dari Rumahmu ...hehehe eh Thor ko ku ngenes ya....nah krn ceritramu yg bgs sih ...ok
Yuni Ngsih
Baguuuus Ariniiii lawan klwrga Mokondo itu Mobilmu klw dah pke jangan dibawa ke Rumah mu lg titipkan di Rumah orang lain beri pelajaran laki" dzolim seperti itu Arini....ok
Yuni Ngsih
Authooor ceritramu bgs tapi.....klw mau punya istri lg kan hrs seijin istri pertama ,ini suami Arini menurutku lk" yg biadab tdk punya perasaan dasar klwrga mokondo smg kedepannya adiknya si Galang diperlakukan seperti Arini .....yg sabar Arini smg badai cepat berlalu & muncul pelangi kehidupan ....ok
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!