"Saat ayahku memilih menyelamatkan putri kesayangannya, dia mengorbankanku tanpa ragu."
Savira Dharma menghabiskan seluruh hidupnya mengejar sesuatu yang tidak pernah ia miliki: pengakuan dari ayahnya.
Sebagai putri kandung keluarga Dharma, ia belajar lebih keras, bekerja lebih lama, dan mengorbankan masa mudanya demi membuktikan bahwa dirinya layak dicintai. Namun ketika skandal penggelapan dana mengguncang Dharma Group, Savira dijadikan kambing hitam untuk melindungi keluarga yang selama ini ia bela.
Ditinggalkan sendirian di tengah hujan fitnah, ayahnya memilih diam.
Malam itu, Savira melompat dari puncak gedung perusahaan yang telah merenggut seluruh hidupnya.
Namun kematian bukanlah akhir.
Saat membuka mata, ia kembali menjadi gadis tujuh belas tahun—tujuh tahun sebelum semua pengkhianatan itu terjadi.
Kali ini, Savira tidak akan mengemis cinta.
Ia tidak akan mengorbankan dirinya demi keluarga yang tak pernah memilihnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Kita Coba Lagi
Suara piring pecah beradu dengan isak tangis histeris Nadia di ujung meja makan utama.
Pecahan porselen mahal bermotif bunga itu berhamburan mengotori karpet Persia yang membentang di lantai. Nyonya Dharma berdiri dengan napas tersengal parah. Wajah wanita paruh baya itu merah padam menahan amarah yang meledak tak terkendali di ruangan mewah tersebut.
"Saham kita hancur lebur! Triliunan rupiah menguap begitu saja pagi ini!" Ibu tiri Savira itu berteriak histeris.
Jari telunjuknya yang dihiasi cincin berlian menunjuk kasar layar televisi raksasa yang menayangkan grafik kejatuhan Dharma Group. Wanita itu berjalan mondar-mandir seperti harimau yang terkurung.
"Siapa bajingan yang berani memalsukan dokumen laboratorium itu?! Pabrik kita sudah menyuap semua inspektur kesehatan!" pekik Nyonya Dharma putus asa.
Nadia meringkuk memelas di kursi kebesarannya. Gadis itu menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangan yang gemetar hebat. Air mata melunturkan sisa riasan mahal di wajahnya yang ketakutan setengah mati.
"Reputasiku hancur total, Ma!" Ratapan Nadia menggema memilukan di langit-langit ruangan. Bahunya berguncang hebat di balik balutan sutra tidur berwarna merah muda.
Gadis tiruan itu mengangkat wajahnya yang berantakan. "Teman-teman sosialitaku menyebutku pembunuh di media sosial. Mereka semua memblokir nomorku dan membuangku begitu saja!"
Savira berdiri mematung di balik bayangan pilar marmer besar. Ia menatap kekacauan itu dengan mata yang sedingin lautan es di kutub utara.
Tidak ada secuil pun rasa simpati di dalam dadanya. Ia hanya merasakan kepuasan kelam yang luar biasa memabukkan mengalir di pembuluh darahnya. Rencana penghancurannya bekerja dengan akurasi yang teramat kejam.
Kosmetik racun itu telah membakar epidermis puluhan target pasar mereka. Logam berat yang sengaja dicampur oleh pabrik Wijaya kini membusukkan daging para konsumen. Air mata Nadia saat ini tidak ada artinya dibandingkan dengan jeritan kesakitan para korban di rumah sakit.
Dada Savira berdenyut cepat. Adrenalin memompa aliran darahnya, menciptakan sensasi panas yang menjalar hingga ke ujung jari-jarinya.
Terdengar bunyi langkah kaki sepatu pantofel kulit yang sangat pelan dan teratur. Suara ketukan itu menuruni tangga kayu jati dengan ritme yang mematikan.
Wijaya Dharma melangkah masuk ke ruang makan. Pria paruh baya itu mengenakan setelan jas abu-abu yang terpotong rapi tanpa cela. Wajahnya sama sekali tidak menampilkan gurat kepanikan atau kemarahan.
Hawa di ruangan itu mendadak turun drastis. Isak tangis Nadia tertahan paksa di tenggorokan. Nyonya Dharma langsung menutup mulutnya rapat-rapat, menelan kembali semua sumpah serapahnya ke dasar perut.
Sang kaisar telah tiba di medan kekacauan tanpa membawa senjata.
Wijaya menarik kursi di ujung meja dengan gerakan yang sangat sopan. Ia duduk tegak, menautkan jari-jarinya di atas taplak meja linen putih yang bersih tanpa noda.
"Duduklah," perintah Wijaya lembut kepada istrinya.
Suara bariton itu mengalun tenang, membelah ketegangan layaknya pisau bedah yang memotong jaringan otot hidup. Nyonya Dharma segera menjatuhkan tubuhnya ke atas kursi dengan tubuh bergetar ketakutan.
Savira melangkah keluar dari balik pilar. Sepatu kets usangnya tidak mengeluarkan bunyi berisik saat ia mendekati meja makan. Ia mengambil tempat duduk terjauh dari ayahnya, memposisikan dirinya sebagai pengamat netral.
Ia mempersiapkan diri menghadapi badai kemurkaan. Ia menunggu Wijaya meledak, membanting piring emas, atau setidaknya mengutuk kegagalan proyek triliunan rupiah ini.
Namun, hal yang ditunggunya tidak pernah terjadi. Wijaya justru tersenyum.
Senyum kebapakan yang sangat hangat mengembang perlahan di bibir pria itu. Matanya yang hitam legam menatap Nadia dengan pancaran kasih sayang yang tampak meluap dan memabukkan.
Wijaya mengulurkan tangannya yang besar ke tengah meja. Ia mengambil sebuah teko porselen peninggalan dinasti kuno. Pria itu menuangkan teh kamomil panas ke dalam cangkir kecil di hadapan Nadia tanpa menumpahkan setetes pun air.
Asap tipis mengepul ke udara, membawa aroma bunga penenang. Wangi yang seharusnya merilekskan saraf itu ironisnya membuat bulu kuduk Savira merinding hebat.
"Minumlah dulu, Nadia." Wijaya menyodorkan cangkir itu dengan gerakan yang luar biasa anggun. "Teh ini akan menenangkan sarafmu yang tegang."
Nadia mendongak dengan mata sembap yang merah. Tangan gadis itu gemetar parah saat menerima cangkir hangat tersebut. "Papa, proyeknya hancur. Saham kita anjlok parah ke titik terendah. Papa tidak marah padaku?"
Wijaya tertawa kecil. Tawa renyah yang terdengar sangat damai menembus dinding ruang makan tersebut. Ia memajukan tubuhnya dan mengusap puncak kepala Nadia secara perlahan.
"Tidak apa-apa. Kita coba lagi." Wijaya mengucapkan kalimat itu tanpa beban sedikit pun di lidahnya.
Jantung Savira seakan berhenti berdetak detik itu juga. Udara di sekitarnya mendadak terasa menebal dan mencekik rongga lehernya.
Sosiopat ini benar-benar gila tanpa obat. Kerajaan bisnisnya sedang dibakar habis oleh media publik, puluhan korban terbaring di rumah sakit dengan kulit melepuh, tetapi Wijaya meresponsnya dengan secangkir teh dan senyuman.
"Papa tidak suka melihat anak papa menangis di pagi hari," lanjut Wijaya dengan nada suara yang terlampau sopan. "Kegagalan adalah hal biasa dalam ekosistem bisnis. Kau sudah bekerja sangat keras, Sayang."
Dada Savira bergemuruh luar biasa dahsyat. Nyeri tajam kembali menyayat organ di dalam rongga dadanya tanpa ampun. Luka pengabaian masa lalunya robek terbuka lebar, menumpahkan darah keputusasaan yang masih segar.
Nadia melakukan kesalahan fatal yang nyata, dan Wijaya melindunginya dengan kehangatan dan pemakluman. Savira tidak melakukan kesalahan apa pun di kehidupan lalu, dan Wijaya membuangnya layaknya daging busuk ke jalan raya.
Ingatan tentang embusan angin malam di pinggir atap gedung pencakar langit berputar beringas di otak Savira. Ia ingat rasa dingin yang menusuk tulang rusuknya. Ia ingat bunyi nada sambung telepon yang sengaja diabaikan.
Ia memohon validasi cinta hingga detik terakhir kewarasannya. Ayahnya membiarkannya mati hancur berkeping-keping demi melindungi citra bersih perusahaan.
Kini, saat perusahaan itu benar-benar cacat secara fundamental, monster di depannya ini justru membentangkan sayap pelindung untuk gadis penipu tersebut. Wijaya tidak pernah mencintai siapa pun di dunia ini. Wijaya hanya sedang merawat aset investasinya yang masih bisa direparasi.
"Tapi media independen itu terus menyerangku, Papa." Nadia terisak pelan, mencari perlindungan di balik ketenangan palsu ayahnya. "Mereka menuduhku sengaja meracuni konsumen demi keuntungan. Aku takut sekali mereka memenjarakanku."
"Mereka hanya serigala lapar yang mencari sensasi sesaat." Wijaya menyesap tehnya sendiri dengan tenang. "Ayah akan mengurus sisanya. Jangan khawatirkan apa pun hari ini."
Mata kosong Wijaya menatap lurus ke arah cangkir tehnya. Pria itu mengambil garpu perak, menusuk sepotong melon madu, dan memakannya dengan ritme kunyahan yang sangat teratur.
"Besok pagi, kita akan menyewa aula hotel terbesar di ibukota. Kita undang seluruh stasiun televisi nasional yang ada di negara ini."
Savira menelan ludah yang terasa setajam serpihan kaca. Sosiopat ini sedang merancang panggung kebohongan baru untuk mencuci otak publik.
"Kau akan berdiri di sana, Nadia." Wijaya tersenyum lembut setelah menelan buahnya. "Kau akan meminta maaf, menangis sejadi-jadinya, dan berjanji mendonasikan seluruh tabungan pribadimu untuk biaya pengobatan para korban. Publik sangat menyukai kisah penebusan dosa pahlawan yang terjatuh."
Skenario licik itu terucap begitu saja dari bibir Wijaya. Ayahnya akan menggunakan air mata palsu Nadia untuk memanipulasi simpati massa dan menekan aparat hukum.
Ratusan mikrofon media akan terpasang di depan podium tempat Nadia berdiri dengan mata sembap yang memelas. Rencana kotor itu sudah tergambar dengan sangat sempurna di otak Wijaya.
Savira meremas lipatan celananya kuat-kuat. Ia harus menahan insting buasnya agar tidak melompat melintasi meja dan mencekik leher pria itu sekarang juga.
Tangan kanan Savira merogoh saku flanelnya secara diam-diam. Jemarinya mencengkeram erat patahan jepit rambut melati. Benda plastik itu menusuk telapak tangannya, menciptakan rasa sakit yang menahan ledakan emosinya agar tidak memicu kecerobohan.
Aroma melati yang sangat tipis menguar dari pori-pori kulitnya. Wangi organik itu bertarung melawan bau teh kamomil yang memuakkan di ruangan tersebut.
Surat ibunya, memori tentang pelukan hangat yang nyata, kembali merasuki kesadarannya. Ibunya benar. Ia tidak pernah butuh dipilih oleh monster ini. Pengakuan dari seorang sosiopat adalah racun mematikan yang hanya akan membusukkan jiwanya secara perlahan.
Wijaya meletakkan cangkir tehnya perlahan. Dentingan keramik beradu dengan meja kaca, menciptakan gema pelan yang mengakhiri suasana haru buatan itu secara sepihak.
Ketenangan absolut kembali menguasai ruang makan raksasa tersebut. Nyonya Dharma yang sedari tadi terdiam kini menunduk patuh, menolak menatap wajah suaminya secara langsung.
Wijaya memutar lehernya dengan gerakan mekanis yang sangat kaku. Postur pria itu tetap tegap, sempurna, dan tidak tertembus oleh ancaman kehancuran finansial apa pun yang mengepung rumahnya.
Senyuman hangat yang sedari tadi membingkai wajah Wijaya perlahan memudar tanpa sisa. Ia menyisakan lengkungan tipis di bibirnya yang sarat akan kalkulasi mematikan.
Hawa dingin berdesir menyapu punggung Savira. Instingnya memperingatkan bahwa Wijaya mulai memindai lingkungan sekitarnya untuk mencari domba kurban yang sesungguhnya.
Wijaya mengalihkan tatapan matanya yang tersenyum ramah kepada Savira, "Savira, menurutmu siapa yang melakukan ini?"