Kehidupan Nayla dan Azel sudah benar-benar berubah sejak terakhir kali bertemu. Nayla bertemu seseorang, kemudian putus dan tidak bisa move on. Azel menikah dengan seseorang, dikhianati kemudian bercerai.
Satu hari, mereka dipertemukan lagi di sebuah acara keluarga. Pertemuan itu membuat dunia mereka saling jungkir balik. Bagaimana kelanjutan kisahnya?
Cover obtain from pexels, free to use.
IG author : @ingrid.nadya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ingrid nadya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Azel : Gue Gila Ya?
Tunggu. Tunggu dulu.
Gue ngapain barusan?
Jelas-jelas Nayla itu adiknya Nathan. Dan setelah perbicangan tadi, gue tau dia bakal jadi auditornya kantor gue.
Tapi kenapa gue tetap nekat flirting ke Nayla???
Pakai acara minta nomor whatsapp segala!
Berani-beraninya gue melanggar etika yang gue buat untuk gue sendiri. Bisa habis gue dipukulin Nathan kalau tau gue nekat tebar pesona ke adeknya. Jangankan Nathan, gue aja pengen mukul kepala gue sendiri jadinya. Spesifik di kepala, biar gue amnesia tentang Nayla sekalian.
Untung saja Nayla segera dipanggil oleh keluarganya yang sedang berkumpul itu. Dia cepat-cepat berlari meninggalkan gue seperti ketakutan.
Anehnya, saat dia berjalan meninggalkan gue, kok gue rasanya tidak rela ya?
Seperti belum puas rasanya mengobrol dengan dia.
Shit! Dangdut bener gue. Tapi beneran, mengobrol dengan Nayla sangat menyenangkan.
Tapi gue sadar diri, gue ini sudah ngerusak hati banyak wanita, jangan sampai Nayla jadi korban gue selanjutnya.
Setelah itu, gue tidak lagi bisa menemukan waktu yang tepat untuk ngobrol dengan Nayla. Dia seperti berusaha menghindari gue. Nayla terus-terusan duduk di sebelah keluarganya yang heboh itu, padahal gue bisa melihat betapa dia terlihat tidak nyaman disana.
Gue juga tidak berusaha mendekati dia.
Gue harus tau diri. Gue harus menahan diri, malam ini.
What? Malam ini saja?
***
Senin Pagi…
Bu Ningsih sudah mengirimi gue pesan bahwa dia sudah di lobby. Gue tersenyum. Tidak sabar melihat ekspresi Nayla. Yang gue ingat dari pembicaraan dengannya kemarin dia akan meeting dengan gue hari ini, hanya saja dia tidak tahu bahwa akan meeting dengan gue. Biar dia kebingungan.
Hahaha.
Saat pintu diketok, gue langsung bangkit berdiri menyambut.
Gue menyalam Bu Ningsih.
“Bu Ningsih, apa kabar?”
“Baik, Pak Azel. Ini saya bawa tim saya. Harusnya sama Angga udah kenal. Mungkin Pak Azel kenalannya sama Nayla dulu ya, dia yang jadi senior in charge di Ataya tahun ini.”
Gue bisa mendengar suara terkesiap seseorang. Gue harus berusaha keras menahan senyum karena tau orang itu adalah Nayla. Gue perhatikan Angga menyiku tangan Nayla.
“Halo, Angga.” Gue menyalam Angga.
“Halo, Pak.” Angga balas tersenyum.
“Halo, Nayla.”
“Ha-halo…” Gue lihat Nayla masih sulit untuk berkata-kata. Bola matanya yang membesar, sungguh sangat lucu. Gue bisa melihat Angga diam-diam mencubit lengan Nayla agar dia tersadar. Tapi Nayla masih terlalu sibuk dengan keterkejutannya.
Gue harus mati-matian untuk tidak tertawa terbahak-bahak.
Nayla masih berusaha mengembalikan kesadarannya. Terlihat sangat kikuk. Menggemaskan.
Did I sound like a pedophile just now? For God’s sake, there is 10 years gap between us!
(Gue kedengeran kayak pedofil gak ya? Demi Tuhan, kita itu beda 10 tahun!)
Tapi gue gak bisa dibilang pedo sih.
She’s fucking 28 years old!
(Dia uda berumur 28 tahun!)
Dan faktanya, hari ini Nayla kelihatan seksi banget, with that pencil skirt and stiletto. Meski terlihat sama-sama cantik, tapi Nayla yang berantakan yang gue temui hari Jumat yang lalu sudah hilang. Jadi begini Nayla kalau lagi kerja? Cakep banget.
Ingin rasanya gue tampar diri gue sendiri. BERKALI-KALI, SAMPAI GUE SADAR DIRI.
Perasaan bersalah ini, apa karena gue telah mengenal Nayla dari saat dia masih SMP? Umurnya bahkan tidak jauh berbeda dari Sally, tapi kenapa gue merasa seperti akan mendekati seorang anak kecil?
Setelah gue selidiki hati gue. Akhirnya gue mengerti, karena dia adalah adiknya Nathan. Etika gue mana?
Gue mempersilahkan mereka duduk di sofa yang ada di dalam ruangan kantor gue. Meeting pun dimulai dengan segala kekacauan dalam pikiran gue.
“Gimana kondisi perusahaan Pak Azel?”
“Gross margin masih di bawah 10%, Bu. Yah, singkat kata kita masih struggling buat memangkas semua cost."
“Wajar. Kondisi ekonomi lagi kurang bagus, Pak. Tapi masih akan terus dapat support dari Holding kan ya?”
“Iya, kita akan fully di-support sampai lima tahun ke depan.”
“Oke. Ada issue apalagi, Pak, selama beberapa bulan belakangan?”
“CEO kita lagi ada rencana untuk akuisisi sebuah pabrik konveksi di Semarang.”
“Oh ya? Kapan rencananya, Pak?”
“Masih tahun depan sih. Kita rencananya mau ditunjuk sama Holding untuk produksi di sini, kalau cost-nya lebih murah dari pabrik di Vietnam. Tapi semuanya udah mau mulai diurusin di tahun ini.”
“Tapi tahun ini udah mulai kasih dana atau belum Pak ke perusahaan baru itu?”
“Oh, belum. Kita masih mau hire consultant untuk menilai valuasi perusahaan mereka."
“Oh gitu. Rencananya akan akuisisi full control, Pak?”
“Iya. Jadi tahun depan, pembukuan mereka akan konsol ke Ataya.”
“Oke, oke.”
Selama meeting, gue memperhatikan Nayla melirik ke sekeliling ruangan. Diam-diam dia memperhatikan beberapa foto gue dan Rara dan terus mencari sesuatu namun tidak dia temukan. Gue sempat kebingungan dia mencari apa.
Sampai akhirnya, dia melirik jari tangan gue.
Dan disitulah gue menyadari apa yang dicari.
Matanya terbelalak tidak percaya, namun dia berusaha menenangkan dirinya.
Gue tahu begitu saja bahwa Nayla sekarang tau bahwa gue sudah bercerai.
***
Sekeluarnya Nayla dari ruangan gue, gue langsung mengirimkan whatsapp padanya. Gue benar-benar penasaran apa yang ada di dalam isi pikiran Nayla setelah melihat tangan gue tanpa cincin pernikahan.
Gue sekarang hanya mengikuti insting gue, tanpa berpikir panjang lagi. Karena kalau gue berpikir, gue gak mungkin melakukan ini.
Me
✔ Kena deh.
Tidak menunggu lama, Nayla membalas.
Nayla
✔ Zel, kamu pasti bercanda!
Me
✔ LOL!
Nayla
✔ “Orang dalem” ku itu CFO?
Me
✔ Seneng dong? Ntar bilang aja siapa yang rese, aku omelin.
Nayla
✔ Kamu yang lebih seneng kalo aku lihat, pasti mukaku ***** banget tadi.
Me
✔ Hahahaha. Enggak kok.
Nayla
✔ Bohong!
Me
✔ Sumpah. Anyway, jadi makan siang bareng?
Nayla
✔ Gak bisa kayaknya. Masih ada Bu Ningsih, Zel.
Me
✔ Makan malam?
Nayla membaca namun tidak membalas lagi. Berkali-kali gue lihat dia sedang mengetik, tapi balasannya tidak juga dia kirimkan. Gue membiarkan Nayla berpikir. Gue tidak akan memaksanya. Malah, gue berharap dia menolak.
Di hati kecil gue, gue tau tindakan gue ini salah.
Gue tahu terlalu banyak masalah yang menunggu kalau sampai aku berusaha mendekati Nayla.
Tapi segala keraguan gue menghilang ketika satu jam kemudian, sebuah balasan datang.
Nayla
✔ Boleh. Kalau aku gak lembur.
***