Bagus , seorang pemuda yang di tolak cintanya dengan cara menyakitkan, mengambil jalan pintas untuk mendapatkan cintanya. apa yg terjadi ? jika ternyata semua yang dia dapatkan hanya kenikmatan semu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang Alifas Yang Merumput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23 : Sinyal Hitam dari Kejauhan
Kehidupan baru di bawah atap kamar kontrakan yang sederhana bener-bener membawa kedamaian tersendiri bagi Bagus. Setiap fajar menyingsing setelah menunaikan sholat Subuh berjamaah bersama Sri, Bagus melangkah keluar gang dengan semangat baru untuk menarik orderan ojek online demi menafkahi keluarga kecilnya secara halal. Rasa khawatir atau ketakutan akan kerasnya persaingan materi di ibu kota bener-bener sudah sirna dari jiwanya. Bagus bekerja dengan senyuman tulus yang sangat ramah, memancarkan aura ketenangan yang membuat setiap penumpangnya merasa nyaman.
Namun, kedamaian yang baru saja ia rasakan mendadak terusik pada suatu sore yang mendung di kawasan pusat bisnis Sudirman. Sebuah garis takdir baru yang dipenuhi intrik mulai bergerak, menyeret Bagus masuk ke dalam pusaran masalah yang jauh lebih rumit.
Saat itu, Bagus sedang memarkirkan motor Beat karbu tuanya di dekat area lobi sebuah gedung pencakar langit swasta, menanti bunyi denting orderan masuk di ponselnya. Di sela-sela riuh rendah suara klakson kendaraan, kepekaan batin Bagus mendadak menangkap adanya sekelebat hawa dingin yang sangat pekat dan berbau anyir tipis sebuah getaran asing dari kejauhan yang sangat ia kenal. Sinyal hitam milik Ki Demang, dukun pemilik Jaran Goyang yang dulu pernah hampir merusak sukma Sri.
Bagus menajamkan pandangan matanya membelah kerumunan orang di lobi gedung. Di sanalah, ia melihat target kiriman energi negatif tersebut. Seorang pria berpenampilan rapi dengan kemeja kerja yang kusut, berjalan keluar dari pintu kaca lobi dengan langkah kaki yang sangat gontai menyerupai orang linglung. Pria paruh baya itu adalah Dedi, seorang kepala divisi administrasi di perusahaan tersebut yang saat ini hatinya sedang dihantam krisis harga diri yang teramat sangat berat.
Dedi sedang berada di titik terendah hidupnya. Di kantor, ia selalu menjadi bahan rundungan, diremehkan oleh para atasan, dan kehilangan seluruh karisma wibawanya di depan para staf bawahan akibat fitnah licik dari rekan kerjanya. Tidak hanya di kantor, badai kehancuran pun sedang melanda rumah tangganya; Dedi selalu dipandang sebelah mata oleh sang istri karena masalah ekonomi, hingga harga dirinya sebagai seorang suami bener-bener hancur lebur terkikis habis. Siksaan mental yang bertubi-tubi itu membuat batin Dedi mengalami kekosongan yang sangat pekat, menjadikannya mangsa empuk yang sangat mudah disusupi oleh teror gaib.
Ting!
Aplikasi ojol di ponsel Bagus mendadak berbunyi nyaring, menampilkan sebuah orderan penjemputan penumpang tepat di titik lobi gedung tersebut. Bagus melirik nama pemesan di layarnya: Dedi. Jantung Bagus berdegup kencang, ia tahu ini bukan sekadar kebetulan biasa. Ki Demang seolah sengaja mengarahkan korban barunya untuk berbenturan langsung dengan Bagus di tengah kota.
Tanpa membuang waktu, Bagus segera memajukan motornya mendekati posisi Dedi yang sedang berdiri dengan tatapan mata kosong di tepi jalan raya. "Dengan Pak Dedi? Sesuai aplikasi ya, Pak?" sapa Bagus dengan nada suara yang sangat tenang dan bersahaja.
Dedi tersentak kecil dari lamunan hampa kepalanya, lalu menatap Bagus dengan sepasang mata yang sangat sayu, redup, dan berkabut kelam. "Eh, iya, Mas... Betul," jawab Dedi dengan suara yang parau dan lemah. Ia segera naik membonceng di jok belakang motor Bagus dengan gerak tubuh yang sangat kaku.
Begitu roda motor matic tua itu bergerak membelah kemacetan jalanan sore, Bagus seketika merasakan hantaman hawa negatif yang sangat berat merayap dari arah belakang punggungnya. Sisa kutukan gaib kiriman Ki Demang rupanya sedang bekerja aktif di dalam tempurung kepala Dedi, mencambuk sistem batin pria paruh baya itu agar terus-menerus memelihara rasa putus asa, amarah, dan keinginan untuk bertindak nekat menghancurkan hidupnya sendiri. Teror halus dari sang dukun hitam sengaja ditiupkan sebagai bentuk umpan pembalasan dendam karena Bagus telah menyelamatkan Sri dari lingkaran pelet tempo hari.
"Mas..." Dedi tiba-tiba membuka suara dengan nada yang sangat bergetar getir, memecah deru suara mesin motor yang menyala stabil di sela kemacetan jalan. "Saya rasanya sudah tidak kuat lagi menjalani hidup ini. Di kantor saya dihina dan diremehkan oleh semua orang sampai tidak punya harga diri lagi. Di rumah pun istri saya selalu mencaci maki saya karena urusan materi. Saya merasa seperti manusia gagal yang kehilangan karisma di depan semua orang, Mas. Jiwa saya kosong sekali, rasanya ingin mati saja."
Mendengar jeritan batin penumpangnya, Bagus menggertakkan rahangnya rapat-rapat. Ia tidak akan membiarkan dukun hitam itu memangsa korban baru di depan matanya. Berkat benteng pertahanan spiritual yang sudah menyatu bersama aliran darahnya, getaran hawa negatif yang mencoba merambat dari tubuh Dedi ke punggung Bagus seketika lebur hancur tak berbekas. Keteguhan iman membuat Bagus tetap berkepala dingin dan dipenuhi rasa empati yang mendalam untuk menolong sesama yang sedang dizalimi.
Bagus menarik napas panjang, lalu menyunggingkan seulas senyuman tulus dari balik kaca helmnya. Ia tahu, inilah saatnya ia harus turun tangan memulai babak baru membantu sesama menggunakan bekal ilmu ketenangan yang didapatnya dari tanah Wetan sebuah cara untuk menyelaraskan kembali rasa batin manusia agar memancarkan aura wibawa, sehingga kembali dihormati dan disegani secara terhormat oleh lingkungan sekitarnya tanpa merusak sistem logika sehat mereka.
"Pak Dedi, manusia boleh saja merendahkan kasta hidup kita, tapi jangan pernah biarkan batin kita ikut mengamini hinaan tersebut," ucap Bagus dengan nada suara yang sangat dalam, mantap, dan meneduhkan saraf Dedi. "Masalah yang Bapak hadapi sore ini bukanlah akhir dari takdir Bapak. Jika Bapak bener-bener bersedia, setelah kita sampai di titik tujuan nanti, mari kita ngobrol santai sejenak di warung kopi seberang jalan. Saya memiliki sebuah solusi jalur langit yang insya Allah bisa membantu mengembalikan kembali pancaran wibawa dan ketenangan jiwa Bapak yang telah dicuri oleh kegelapan."
Dedi tertegun di jok belakang, menatap punggung tegap Bagus dengan sepasang mata yang kini mulai memancarkan seberkas binar harapan yang baru. Rasa sesak di dadanya perlahan-lahan mencair oleh aliran sejuk ketulusan Bagus. Di balik mendungnya langit ibu kota sore itu, sinyal hitam dari kejauhan telah resmi dijawab oleh keteguhan hati milik Bagus Sanjaya. Pertempuran batin yang sesungguhnya di dalam kerasnya kota metropolitan baru saja dimulai dari atas selembar jok motor ojek online!
“Ketika masa lalu mulai mengirimkan gelombang kegelapan lewat jiwa-jiwa yang sedang terpuruk dihina dunia, jangan pernah kau biarkan rasa takut mengunci langkahmu. Tegakkan benteng pertahanan imanmu, karena setiap umpan hitam yang dikirimkan dengan dendam, akan selalu lebur runtuh di hadapan ketulusan cahaya doa yang diridhoi oleh-Nya.”
— Sang Alifas Yang Merumput