Ini adalah buku lanjutan dari buku sebelumnya, mengisahkan perjalanan seorang Nova Arvena untuk menjadi seorang kultivator muda terkuat dan membawa kedamaian bagi seluruh mahluk hidup yang ada.
Bagaimana kisahnya, silahkan simak cerita lanjutan ini, semoga teman-teman suka!
kali ini season ke 2 akan menggunakan alur cepat, dan banyak harem.
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENNYA TEMAN-TEMAN😇
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mochamad Fachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22. Pertemuan singkat
Hanya suara gemericik air dari kolam teratai yang masih terdengar pelan, sementara embusan angin malam membawa aroma bunga-bunga spiritual yang bermekaran di sekitar kediaman Keluarga Bai. Namun, suasana damai itu perlahan berubah ketika wajah Bai Qing'er semakin terlihat serius.
Ia memejamkan mata sejenak, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu yang cukup penting.
"Aku mengerti."
Jawabannya singkat kepada pelayan itu.
"Katakan kepada Ayah bahwa aku akan segera datang."
"Baik, Nona."
Pelayan itu kembali membungkukkan tubuh sebelum bergegas meninggalkan paviliun.
Begitu langkah pelayan tersebut benar-benar menghilang, Bai Qing'er menghela napas pelan. Senyum lembut yang sejak tadi menghiasi wajahnya telah lenyap, berganti dengan raut yang sedikit rumit.
Nova tidak segera bertanya. Ia hanya menunggu dengan tenang hingga Bai Qing'er sendiri yang membuka pembicaraan.
"Maafkan aku, Tuan Nova."
"Sepertinya makan malam kita harus berakhir lebih cepat."
Nova menganggukkan kepala pelan. "Tidak masalah."
"Urusan keluarga memang jauh lebih penting."
Bai Qing'er tersenyum tipis, namun senyum itu jelas dipaksakan. "Tamu yang datang berasal dari Sekte Pedang Langit."
"Salah satu sekte besar yang memiliki pengaruh hingga beberapa wilayah di Planet Galastos."
"Mereka bukan tamu yang bisa diabaikan begitu saja."
Nova mendengarkan tanpa banyak komentar. Namun di dalam lautan jiwanya, Tian Long justru membuka kedua matanya.
"Sekte Pedang Langit..." gumam naga suci itu pelan.
"Aku pernah mendengar nama itu."
"Meskipun bukan kekuatan tingkat puncak di Semesta Orion, sekte itu memiliki fondasi yang cukup tua."
"Yang membuat mereka berbahaya bukan hanya ilmu pedangnya... tetapi hubungan mereka dengan beberapa kekuatan besar."
Nova hanya menyimpan informasi itu di dalam hati.
Di hadapannya, Bai Qing'er kembali berkata dengan nada yang jauh lebih pelan.
"Sejujurnya..."
"Aku sudah bisa menebak tujuan kedatangan mereka."
Nova sedikit mengangkat alis. "Lalu?"
Bai Qing'er mengalihkan pandangannya ke arah permukaan danau. "Dalam beberapa tahun terakhir..."
"Sekte Pedang Langit beberapa kali mengajukan kerja sama dengan Keluarga Bai."
"Namun kerja sama itu selalu disertai satu syarat."
Ia berhenti sejenak, sorot matanya menjadi sedikit dingin. "Mereka ingin menjadikanku pasangan dao salah satu murid inti mereka."
Nova akhirnya memahami. Jadi inilah alasan perubahan ekspresi Bai Qing'er tadi.
"Tapi kau tidak menginginkannya."
Bai Qing'er tersenyum pahit. "Aku lahir di keluarga bangsawan."
"Aku memahami bahwa suatu hari nanti aku mungkin harus menikah demi kepentingan keluarga."
"Namun..."
"Aku tidak ingin menjadi alat tawar-menawar."
Tatapan Nova tetap tenang, ia tidak memberikan nasihat ataupun menghibur.
Karena ia tahu, persoalan seperti ini bukan sesuatu yang bisa diselesaikan hanya dengan beberapa kalimat.
Justru sikap Nova yang hanya mendengarkan tanpa menghakimi membuat Bai Qing'er merasa jauh lebih nyaman.
Selama ini, hampir semua orang yang mengetahui masalahnya selalu berusaha memberi saran atau menunjukkan simpati. Namun pemuda di hadapannya hanya menghormati keputusannya untuk berbicara.
Tepat ketika Bai Qing'er hendak mengatakan sesuatu lagi...
Sebuah tekanan spiritual yang tajam tiba-tiba menyapu seluruh kediaman Keluarga Bai, bukan tekanan untuk menyerang.
Melainkan tekanan yang sengaja dilepaskan agar seluruh penghuni mengetahui kedatangan seseorang.
Wusss!
Angin malam mendadak berputar, daun-daun pohon di sekitar paviliun berguguran, bahkan permukaan danau yang semula tenang kini dipenuhi riak-riak kecil.
Nova perlahan mengangkat kepalanya, tatapannya mengarah ke langit di atas aula utama. Beberapa sosok tampak melayang di udara.
Di barisan paling depan berdiri seorang pemuda berjubah putih kebiruan dengan pedang panjang tergantung di pinggangnya. Wajahnya tampan, alisnya tajam, sementara rambut panjangnya berkibar perlahan mengikuti hembusan angin malam.
Aura yang dipancarkannya berada di Ranah Mortal Langit Bintang Lima Puncak. Di belakang pemuda itu berdiri empat tetua berjubah abu-abu.
Masing-masing memancarkan aura yang bahkan lebih kuat daripada pria bertopeng dari Lembah Iblis Hitam yang ditemui Nova sebelumnya.
Pemuda itu tidak memasuki halaman dengan berjalan kaki, ia justru melayang turun perlahan, seolah seluruh kediaman Keluarga Bai memang sudah seharusnya menyambut kedatangannya.
Senyuman tipis menghiasi wajahnya. Namun di balik senyum itu tersimpan kesombongan yang tidak berusaha ia sembunyikan.
"Qing'er."
"Aku sudah datang."
Suara pemuda itu terdengar tenang, tetapi mengandung nada kepemilikan yang membuat Bai Qing'er langsung mengerutkan kening.
Nova menangkap perubahan kecil itu, jelas sekali...
hubungan mereka tidak sedekat yang ditunjukkan oleh pemuda tersebut.
Belum sempat Bai Qing'er berdiri, langkah kaki lain kembali terdengar dari luar paviliun.
Kali ini bukan pelayan, melainkan seorang pria paruh baya berjubah emas dengan wajah berwibawa.
Aura yang dipancarkannya jauh lebih dalam dibanding siapa pun yang berada di tempat itu.
Begitu melihatnya, Bai Qing'er segera berdiri.
"Ayah."
Nova pun ikut bangkit dan mengepalkan kedua tangannya. Pria itu adalah Patriark Keluarga Bai, tatapan Patriark Bai sempat berhenti pada Nova selama beberapa detik.
Sorot matanya tenang, tetapi cukup tajam untuk mengetahui bahwa pemuda di hadapannya bukan orang biasa.
Namun sebelum ia sempat berbicara... pemuda dari Sekte Pedang Langit yang baru tiba perlahan memalingkan kepalanya.
Sepasang matanya jatuh tepat ke arah Nova tatapannya menyipit. Ia memperhatikan meja teh yang masih dipenuhi dua cangkir hangat.
Lalu memandang Bai Qing'er, kemudian kembali menatap Nova. Senyuman tipis di wajahnya perlahan menghilang.
Digantikan oleh sorot mata dingin yang dipenuhi rasa tidak senang.
"Aku tidak menyangka..."
"...selama aku datang menemui Qing'er..."
"...ternyata sudah ada pria lain yang lebih dulu menemaninya."
Suasana di paviliun berubah dalam sekejap.
hembusan angin malam yang semula terasa sejuk kini membawa hawa dingin yang berasal dari aura pemuda Sekte Pedang Langit. Meskipun ia masih mempertahankan senyum tipis di wajahnya, sorot matanya tidak lagi menyembunyikan rasa tidak senang.
Keempat tetua yang berdiri di belakangnya tetap diam, namun tatapan mereka juga perlahan beralih kepada Nova, seolah sedang menilai kelayakan pemuda itu.
Nova sendiri tetap berdiri dengan tenang, ekspresinya tidak berubah sedikit pun.
Ia tidak mengenal pemuda tersebut, tidak pula memiliki alasan untuk merasa bersalah. Baginya, ia hanya memenuhi undangan seorang kenalan dan tidak lebih dari itu.
Patriark Bai melirik putrinya sekilas sebelum melangkah maju.
"Keponakan Xuan."
"Sepertinya kau salah paham."
"Pemuda ini adalah tamu terhormat Keluarga Bai."
"Qing'er hanya mengundangnya untuk menyelesaikan sebuah kesalahpahaman yang pernah terjadi."
Pemuda berjubah putih itu tersenyum tipis. "Begitukah?"
Nada suaranya tetap sopan, namun siapa pun dapat mendengar bahwa ia sama sekali tidak mempercayai penjelasan tersebut.
Tatapannya kembali jatuh kepada Nova. "Kau..."
"Namamu Nova, bukan?"
Nova mengepalkan kedua tangannya dengan tenang. "Benar."
Pemuda itu menganggukkan kepala perlahan.
"Aku pernah mendengar namamu."
"Pemuda yang membunuh Monster Bayangan Bertulang Besi di luar Kota Yunfeng."
"Juga orang yang membuat Lembah Iblis Hitam berani memasuki kota."
Ia melangkah mendekat beberapa langkah. Setiap pijakannya memancarkan aura pedang yang tajam hingga bebatuan di bawah kakinya perlahan memperlihatkan goresan-goresan halus.
"Perkenalkan."
"Aku adalah murid inti Sekte Pedang Langit."
"Namaku..."
"Jian Wushuang."
Begitu nama itu diucapkan, beberapa pelayan di sekitar langsung menundukkan kepala dengan hormat. Bahkan para pengawal Keluarga Bai pun tampak menunjukkan ekspresi segan.
Yan Jian Wushuang.
Seorang jenius muda yang namanya telah lama menggema di wilayah barat Planet Galastos.
Usianya bahkan belum mencapai tiga puluh tahun, tetapi kultivasinya telah mencapai Mortal Langit Bintang Lima Puncak. Banyak orang mengatakan bahwa dalam waktu kurang dari sepuluh tahun, ia memiliki peluang besar memasuki Ranah Mortal King.
Namun... Nova hanya menganggukkan kepala singkat. "Salam kenal."
Jawabannya datar, tidak ada rasa kagum, tidak pula menunjukkan sikap merendahkan. Ia hanya memperlakukan Jian Wushuang seperti memperkenalkan diri kepada orang lain pada umumnya.
Hal sederhana itu justru membuat alis Jian Wushuang sedikit berkerut. Selama ini, ke mana pun ia pergi, hampir semua kultivator muda akan menunjukkan rasa hormat atau kekaguman setelah mendengar namanya.
Tetapi pemuda di hadapannya... seolah sama sekali tidak peduli.
Bai Qing'er yang melihat perubahan kecil pada wajah Jian Wushuang segera melangkah ke depan.
"Kakak Jian."
"Malam ini bukan waktu yang tepat membicarakan urusan lain."
"Ayah memanggilmu ke aula utama."
"Para tetua juga sedang menunggu."
Jian Wushuang mengalihkan pandangannya kepada Bai Qing'er.
Senyumnya kembali muncul. "Tentu."
"Aku memang datang untuk menemui Paman Bai."
"Tetapi..." Ia kembali melirik Nova. "...aku juga ingin mengenal tamu istimewa yang akhir-akhir ini membuat Kota Yunfeng begitu ramai."
Tatapan kedua pemuda itu kembali bertemu.
Untuk sesaat... udara di antara mereka terasa sedikit lebih berat, tidak ada ledakan aura, tidak ada benturan energi spiritual. Namun para kultivator yang berada di sekitar dapat merasakan bahwa keduanya sedang saling mengamati.
Jian Wushuang mencoba membaca kedalaman Nova. Sementara Nova juga memperhatikan pemuda yang disebut sebagai jenius Sekte Pedang Langit itu.
Beberapa tarikan napas kemudian, Jian Wushuang tersenyum tipis.
"Semoga kita memiliki kesempatan bertemu lagi."
"Aku harap..."
"...saat itu bukan hanya sekadar berbincang."
Setelah mengucapkan kalimat tersebut, ia berbalik dan berjalan menuju aula utama bersama Patriark Bai. Keempat tetua Sekte Pedang Langit mengikuti di belakangnya seperti bayangan yang tidak terpisahkan.
Namun, tepat sebelum memasuki gerbang aula, salah seorang tetua berjanggut putih tiba-tiba melirik Nova.
Tatapannya hanya berlangsung sesaat., tetapi cukup membuat Tian Long yang berada di dalam lautan jiwa Nova perlahan membuka kedua matanya.
"Hati-hati..."
Suara Tian Long terdengar lebih serius daripada sebelumnya.
"Tetua itu..."
"...telah meninggalkan jejak indra spiritual padamu."
Mata Nova sedikit menyipit. Namun ia tetap berdiri dengan tenang, seolah tidak menyadari apa pun. Di kejauhan, sosok tetua berjanggut putih itu memperlihatkan senyum yang nyaris tak terlihat.