Salsabila Nugroho adalah putri dari Malik Nugroho dan Kirana. Saat ini Salsabila menduduki bangku kelas tiga SMA, Salsa yang sudah tumbuh dewasa terkenal dengan kenakalanNya bersama dengan sahabatnya Naura.
Saat Salsa melakukan kesalahan, sang wali kelas Salsa selalu memanggil orang tuanya. Tetapi Salsa tidak pernah mendatangkan orang tuannya melainkan ia akan menyewa seseorang teman dekatnya.
Hingga sesuatu hari kenakalan Salsa sampai ke telinga Malik. Apakah yang akan Malik lakukan menghadapai putri bungsunya itu?.
Yok kepoin cerita dari Cinta Salsabila...😊
dan jangan lupa like commet dan beritahu kepada teman-teman sekalian supaya novel ini banyak yang tau.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti sihite, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Liam tidak menjawabnya lagi, tetapi Salsa yang sangat penasaran, ia kembali bertanya. "Ayo dong di jawab Liam, kamu sudah punya pacar atau belum?".
Liam mendengus melihat Salsa yang sedang tersenyum manis kepadanya, "Aku belum punya pacar. Sekarang ayo buka buku kamu".
"Yes.. Terima kasih Tuhan ternyata Liam masih jomblo. Baiklah, mari kita belajar" Senyum Salsa semakin lebar membuka materi pembelajarannya besok. "Liam, boleh aku duduk disamping mu supaya proses belajar kita berjalan lancar".
"Mmmmmm".
"Asyik" Senang Salsa mendudukan diri disamping Liam. Sambil memperhatikan Liam menjelaskan materinya, Salsa selalu menyempatkan diri mencium aroma tubuh Liam yang sangat wangi di penciumannya dan juga aroma nafas Liam yang sangat cool, ditambah lagi wajah tampan Liam yang sangat menggodanya sampai membuat Salsa tidak bisa berhenti memikirkannya.
Selesai Liam menjelaskannya, ia melihat kearah Salsa yang sedang menatapnya dengan tatapan kagum, "Kalau seperti ini terus, aku tidak akan pernah berhasil masuk ke perusahaan SEGI group. Kenapa anak ini bebal sekali? tidakkah ia memikirkan masa depannya?" Batin Liam. Kemudian ia menyadarkan Salsa, namun bukannya tersadar Salsa malah semakin menjadi-jadi terhanyut dalam lamunannya.
Liam mulai sedikit geram, lalu ia membentaknya cukup kuat hingga Salsa tersadar, "Astaga, kamu mengagetkan aku saja Liam" Rengek Salsa menyentuh dadanya.
"Kalau kamu seperti ini terus, lebih aku mengundurkan diri saja" Ucapnya.
"Yah.. Jangan dong Liam. Maafkan aku".
"Apa disekolah kamu seperti ini juga?".
Salsa menunjukkan gigi ratanya, "Jangan bawa-bawa sekolah dong Liam. Sebenarnya aku itu bukan bodoh, tapi...
"Tapi apa?".
"Tapi aku itu orangnya pemalas, aku juga enggak tau apa penyebab aku itu sangat pemalas sekali. Padahal kamu lihat sediri kakak-kakak ku, mereka dari dulu selalu juara sedangkan aku selalu mendapatkan peringkat terakhir dan aku sudah berapa kali berpindah-pindah sekolah" Jawabnya dengan sedih.
Lalu Liam mengingat perkataan Adena saat ia di interview.
Flashback.
Setelah hampir beberapa jam Liam menunggu gilirannya interview, kini akhirnya gilirannya yang masuk kedalam ruangan tersebut, "Selamat siang semuanya" Ucap Liam tersenyum ramah.
"Siang" Balas mereka.
Lalu Liam melihat mereka satu persatu hingga kedua matanya berhenti kepada Adena yang sedang melihatnya dengan wajah serius, "Saudara Liam" Panggilnya.
"Iya buk" Jawabnya.
"Benarkah kamu lulusan dari universitas xx?".
"Iya buk".
"Dan IPK kamu 4,00 Luar biasa".
"Terima kasih buk".
"Saya akan menerima kamu bekerja di perusahaan ini dengan syarat. Kamu harus menjadi guru les privat adik saya yang paling bungsu, begitu kamu berhasil membuatnya pintar selama 3 bulan maka saya akan mengangkat kamu menjadi karyawan tetap di perusahaan ini. Bagaimana? kamu setuju atau tidak dengan tawaran saya?".
"Setuju, saya setuju buk" Senang Liam menjawab pertanyaan Adena.
"Bagus, mulai besok kamu boleh datang ke alamat ini" Ucapnya memberikan sebuah kertas kepadanya.
"Iya buk" Angguk Liam.
******************************.
"Liam Liam.." Panggil Salsa.
"Hhhmmm? Aahhh maaf".
"Ck, kok jadi kamu yang melamun sih?".
Liam tersenyum, lalu ia melihat sekitar kamar Salsa yang sangat luas melebihi rumah ibu dan ayahnya. Kemudian ia melihat Salsa yang sedang keheranan melihat dirinya, "Salsa".
"Mmmm.. Kenapa Liam?".
"Bisakah kamu membantu ku?".
"Membantu apa? kamu kok terlihat sangat serius sekali".
Liam menarik nafas panjang sambil membuangnya, "Begini Sals.." Gantung Liam memikirkan apa yang ingin ia bicarakan, "Tidak mungkin aku mengatakan yang sebenarnya, lalu apa yang harus aku katakan supaya ia bisa fokus belajar".
"Liam, kamu kok melamun lagi sih?".
Liam melihat wajah Salsa, "Hhhrrrmm, Salsa kamu menyukai ku?".
"Hahahaha" Tawa Salsa.
"Kenapa kamu tidak menjawabnya?".
"Masa kamu enggak tau sih kalau aku menyukai mu? bahkan aku sudah jatuh cinta kepada mu saat pertama kali aku melihat mu meskipun baru semalam hehehehe".
Liam tersenyum lagi, "Aku akan menerima cinta mu begitu kamu mau fokus belajar. Bagaimana? kamu setuju enggak?".
Salsa langsung mendengus kesal, "Jangan yang itu dong Liam. Yang lain kek, bebas kamu mau bilang yang mana asalkan jangan bagian belajar".
"Kalau gitu aku tidak akan menerima cinta m..
"Yah" Bentak Salsa menghentikan Liam.
"Bagaimana? aku harap kamu setuju supaya kita berdua adil".
"Tunggu sebentar, aku pikirkan dulu" Lama berpikir membuat Salsa akhirnya memberikan Liam keputusan, "Baiklah. Tapi kamu janjikan mau jadi pacar aku?".
"Iya" Angguk Liam tersenyum senang. "Tapi jangan sampai ada yang tau tentang hubungan kita, kamu bisa janji enggak".
"Aman Liam, jangan khawatir. Berarti kita sekarang sudah jadian?".
"Belum".
"Loh.. Kok gitu? bukankah kamu barusan bilang kalau kita pacaran".
"Kan tadi aku bilang kalau kamu bisa fokus belajar dan meningkatkan nilai mu disekolah".
"Ck, kamu curang Liam".
"Jadi gimana? kamu terima tawaran aku atau tidak?".
"Baiklah kalau itu mau kamu. Dan kamu juga harus janji sama ku kalau kamu tidak akan dekat-dekat dengan cewek lain selain aku".
"Iya gadis pintar" Jawab Liam mengusap kepala Salsa dengan sayang.
Dengan pipi merona, "OMG Liam" Ucap Salsa memeluk Liam tampa sadar. Sontak Liam terkejut, kemudian ia dengan pelan melepaskan pelukannya Salsa, "Kenapa?".
"Jangan lakukan itu Salsa. Kamu mau aku terkena masalah dengan kedua orang tuan mu dan juga saudara-saudara mu?".
"Heheheh.. Maaf Liam, abis aku kesenangan sih. Ayo, mari kita belajar lebih rajin lagi mulai dari sekarang, aku akan membuktikan kepada mu kalau aku bisa".
"Aku tunggu Salsa".
"Mmmmmm".
Hampiri 1 jam lebih Salsa belajar bersama dengan Liam. Ia mulai merasa ngantuk, namun ia tetap menahannya meskipun Liam sudah menyuruhnya untuk istirahat sejenak.
Tok.. Tok..
Mendengar suara ketukan pintu itu, Liam segera bangkit berdiri dari atas kursinya melihat kearah ambang pintu
Ceklek!
"Malam buk Dena" Tunduknya.
"Iya" Senyum Dena melihat Salsa yang sedang fokus dengan pelajarannya. "Nanti, kalau sudah selesai temui saya di ruang kerja saya yah".
"Iya buk" Begitu Dena menutup pintu kamar Salsa kembali. Ia melihat Salsa yang benar-benar serius belajar, kemudian Liam melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 9:30 menit. "Salsa" Panggilnya.
"Mmmm.. Ada apa Liam?".
"Ini sudah waktunya istirahat. Kita lanjutkan besok lagi".
"Tanggung Liam, sebentar lagi ini mau selesai, duduklah dulu".
Liam mendudukkan diri kembali di samping Salsa sambil memperhatikan gerakan tangan Salsa yang bergerak cukup cepat membuat Liam tersenyum senang, "Segitunya kah kamu menyukai ku? sampai-sampai pekerjaan yang tidak kamu sukai bisa kamu kerjakan" Batin Liam.
Sekarang telah menunjukkan pukul 10 malam tepat, Salsa pun menyudahi proses belajar mereka. "Oohh iya Liam, begitu kamu menerima cintai ku. Aku akan menyebut mu dengan panggilan sayang, kamu tidak akan keberatan kan?".
"Mmmmmm.. Terserah kamu saja mau memanggil seperti apa".
"Thank you Liam. Aku enggak sabar lagi jadian sama kamu".
"Kalau gitu aku pulang dulu yah. Selamat beristirahat".
"Iya, kamu juga. Hati-hati dijalan".
"Mmmmmm" Keluarnya dari dalam kamar Salsa.