Malam di Hutan Hitam tidak pernah ramah, tetapi bagi Dante, kegelapan malam ini adalah panggung pembantaian. Bau mesiu yang menyengat bercampur dengan aroma tanah basah dan darah yang menetes dari luka-lukanya. Dante, pria berusia tiga puluh dua tahun yang dipuja sekaligus ditakuti sebagai bos mafia paling kejam di wilayah utara, kini terdesak. Senjata otomatisnya telah habis meriamnya, tersisa hanya satu pisau komando yang terselip di pinggangnya.
Suara langkah kaki yang berat dan makian dalam bahasa asing mendekat dari segala penjuru. Kelompok rivalnya, klan Arcanum, telah merencanakan penyergapan ini dengan sangat rapi. Puluhan tentara bayaran bergerak mengepungnya, menyisir semak-semak tebal dengan senter berdaya tinggi. Cahaya putih memotong kegelapan, mendekati titik semak tempat Dante bersembunyi.
"Dante! Keluar kau, Anjing! Tidak ada tempat bersembunyi lagi di hutan ini!" teriak suara serak yang sangat dikenalnya—Marco, mantan tangan kanannya yang berkhianat.
Dante menga
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah Pertama Di hulu Sungai
Pagi itu, kabut tebal menyelimuti Hutan Hitam lebih pekat dari biasanya. Suara gemericik air sungai dan kepakan sayap burung-burung malam yang kembali ke sarang menjadi satu-satunya musisi di tengah kesunyian belantara. Dante berdiri di depan gubuk bambu, menatap pergelangan kaki kanannya. Rasa sakit yang memutuskannya beberapa minggu lalu kini berangsur mengering, menyisakan bekas luka parut tebal yang melingkar. Kaki itu sudah mampu menahan beban tubuhnya dengan mantap.
Dante memutuskan bahwa hari ini adalah waktunya untuk kembali bergerak. Ia tidak bisa terus bersembunyi di bawah perlindungan seorang gadis polos, sementara dunia di luar sana berputar tanpa kendali.
"Dante! Kau yakin kakimu sudah kuat?" tanya Aura yang keluar dari gubuk membawa dua busur panah kayu buatan sendiri dan kantong kain.
"Sudah cukup untuk berburu," jawab Dante tenang, suaranya mantap tanpa keraguan. "Kita butuh persediaan daging lebih banyak jika ingin bertahan musim ini."
Aura tersenyum tipis, matanya memancarkan rasa bangga melihat perkembangan pria yang diselamatkannya. "Baiklah. Kalau begitu kita bagi tugas agar menghemat waktu. Aku akan pergi ke arah hilir sungai, dekat rawa-rawa. Biasanya banyak kelinci dan unggas air di sana."
"Aku ke arah hulu," potong Dante cepat.
Aura menaikkan alisnya sedikit. "Hulu sungai? Jalurnya jauh lebih terjal dan berbatu, Dante. Berburu di sana jauh lebih sulit."
"Tidak apa-apa. Aku ingin membiasakan kakiku di medan yang berat," kilih Dante beralasan.
Sebenarnya, alasan Dante memilih hulu sungai sama sekali bukan karena buruan atau latihan fisik. Firasat tajam yang terasah selama puluhan tahun di dunia hitam berbisik kuat di dalam dadanya. Dante mengenal betul orang-orang kepercayaannya—terutama Valerio, tangan kanan keduanya yang paling setia. Valerio bukanlah tipe pria yang akan percaya begitu saja bahwa Dante telah tewas tanpa melihat jasadnya sendiri. Jika ada satu tempat di mana sisa-sisa klan miliknya akan menyisir hutan untuk mencarinya, itu adalah area hulu sungai—titik awal di mana arus menyeret tubuhnya jatuh dari jurang.
Aura tidak mencurigai niat tersembunyi itu. "Baiklah kalau begitu. Berhati-hatilah. Jika belum dapat buruan sebelum matahari di atas kepala, segera kembali ke gubuk."
"Kau juga, berhati-hatilah," balas Dante singkat namun penuh penekanan.
Keduanya pun berpisah di persimpangan jalan setapak. Aura melangkah lincah menuju hilir sungai yang landai, sementara Dante berbelok menelusuri tepian hulu sungai yang dipenuhi batu-batu karang licin dan tebing-tebing terjal.
Dante berjalan dengan langkah konstan. Setiap ketukan kakinya di atas batu menguji sejauh mana kekuatannya telah kembali. Pandangan matanya yang setajam elang tidak menyapu semak-semak untuk mencari jejak binatang, melainkan menyapu batang-batang pohon cemara yang tinggi, mencari tanda-tanda khusus yang biasa digunakan oleh klannya dalam operasi rahasia.
Simbol sandi morse pada pepohonan, patahan ranting yang disengaja, atau jejak sepatu bot militer—Dante mencari semua itu.
Suara gemuruh air terjun kecil di hulu sungai makin nyaring terdengar. Dante berhenti di atas sebuah batu besar, menyapu pandangan ke sekeliling lembah yang berasap kabut. Insting naluriahnya berdesir hebat. Dia bisa merasakan kehadiran manusia di area ini—bukan musuh yang memburu dengan kecemasan, melainkan pergerakan teratur dari pasukan terlatih yang sedang menyisir medan.
Dante meletakkan busur kayu milik Aura di balik semak-semak, menyisakan tubuhnya yang siap bertarung. Ia menarik napas dalam-dalam, membiarkan udara dingin merasuk ke paru-parunya, lalu melangkah lebih dalam menembus kabut hulu sungai untuk membuktikan apakah firasatnya benar.