NovelToon NovelToon
Hanya Istri Sementara

Hanya Istri Sementara

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Rumah Tangga
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Silvi F. Sari

Selama dua bulan, Ainun hanya menjadi Istri Sementara.

Ia pikir semua akan berakhir saat kakaknya pulang. Namun, takdir justru menghadiahkannya dua garis merah di alat tes kehamilan.

Ketika wanita yang seharusnya menjadi istri Sagara benar-benar kembali, mampukah Ainun melepaskan pria yang perlahan mulai ia cintai... atau justru kehilangan segalanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Flashback end

Hari pernikahan akhirnya tiba.

Ainun duduk diam di depan meja rias. Wajahnya telah dipoles tipis oleh tangan penata rias hingga tampak lebih segar. Namun, tatapannya tak tertuju pada pantulan wajah di cermin.

Perlahan, pandangannya turun ke pakaian yang dikenakannya.

Bukan gaun pengantin yang anggun.

Bukan pula kebaya putih yang biasa dikenakan mempelai wanita.

Tubuhnya hanya dibalut abaya putih sederhana yang semalam diberikan oleh ibunya.

Sementara itu, di sudut kamar, gaun pengantin milik Liona berdiri anggun di atas manekin. Payet-payetnya berkilau diterpa cahaya lampu, seolah mengejek kesederhanaan yang kini melekat pada dirinya.

Ainun menggigit bibir bawahnya.

'Bahkan di hari pernikahanku... aku tetap bukan pengantin yang sesungguhnya.'

“Maaf, Bu,” ucap penata rias sambil memandangi Ainun melalui cermin. “Yakin pengantin wanitanya memakai abaya?”

Melalui pantulan cermin, Ainun melihat ibunya mengangkat wajah.

“Iya. Memangnya ada masalah?” tanya Bu Siti, ibunya dengan nada datar.

“Bukan begitu, Bu.” Penata rias tersenyum canggung. “Ini acara yang sakral. Biasanya pengantin perempuan memakai kebaya atau gaun pengantin. Bukankah di pojok itu ada gaunnya?”

Tatapan Ainun ikut beralih ke arah manekin.

Gaun putih itu memang sangat indah. Namun, ia tahu gaun itu bukan untuknya.

“Itu milik putri saya, Mbak,” jawab Bu Siti tanpa ragu. “Kalau dipakai orang lain, saya takut kotor.”

Tubuh Ainun membeku. 'Orang lain?'

Bukankah ia juga putri Bu Siti?

Lalu... sejak kapan dirinya dianggap sebagai orang lain?

“Bukankah Mbak ini juga putri Ibu?” tanya penata rias itu dengan ragu.

Jemari Ainun seketika meremas ujung abaya yang dikenakannya.

Bu Siti tersenyum tipis, seolah pertanyaan itu bukan sesuatu yang perlu dipikirkan.

“Iya. Tapi dia cuma menggantikan kakaknya untuk sementara. Setelah Liona pulang, semuanya kembali seperti semula.”

Kalimat itu menusuk hati Ainun.

'Astagfirullah... ya Allah, kuatkan hamba menghadapi semua ini.'

Ia hanya menundukkan kepala. Tak ada sepatah kata pun yang mampu keluar dari bibirnya.

Brak!

Pintu kamar mendadak terbuka dengan keras hingga semua orang yang berada di dalam ruangan sontak menoleh.

Jantung Ainun berdegup lebih cepat.

Di ambang pintu, Sagara berdiri dengan napas memburu. Jas pengantinnya telah dikenakan rapi, tetapi raut wajahnya dipenuhi amarah.

‘Mas Sagara pasti sudah tahu tentang kepergian Mbak Liona.’

“Di mana Liona?!” bentaknya.

Tanpa sadar, bahu Ainun menegang.

Tatapannya bertemu dengan mata Sagara hanya sesaat sebelum pria itu kembali mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, seolah berharap Liona muncul di hadapannya.

“Sagara, kita bicarakan baik-baik dulu, Nak,” ujar Bu Siti dengan suara lembut.

Bu Siti lalu segera menoleh kepada penata rias.

“Mbak, maaf. Kami ada urusan keluarga. Tolong keluar sebentar.”

“Iya, Bu.”

Penata rias itu mengangguk, lalu bergegas meninggalkan kamar.

Tak lama kemudian, Pak Susanto dan kedua orang tua Sagara ikut masuk ke dalam ruangan.

Suasana seketika berubah tegang.

Bu Siti menarik napas panjang sebelum akhirnya membuka suara.

“Nak Sagara, begini... ini memang keputusan Liona. Dia memilih berangkat ke luar negeri untuk mengejar impiannya sebagai model.” Wanita itu berhenti sejenak, lalu melanjutkan, “Kami berharap kamu bisa bersabar. Untuk sementara, Ainun yang akan menggantikan Liona.”

“Saya tidak mau tahu!” potong Sagara dengan suara keras. Rahangnya mengeras, sementara kedua tangannya mengepal. “Jemput Liona sekarang juga!”

“Nak, coba lihat.” Pak Susanto melangkah mendekati Sagara. “Semua tamu sudah menunggu di luar. Kalau pernikahan ini sampai batal, nama baik kedua keluarga yang dipertaruhkan.”

“Benar kata Pak Susanto.” Pak Bastian mengangguk pelan. “Setujui dulu pernikahan ini. Setelah akad selesai, semuanya bisa kita bicarakan baik-baik.”

Ucapan itu membuat suasana kembali hening.

Ainun memberanikan diri mengangkat pandangan. Tanpa sengaja, tatapannya bertemu dengan mata Pak Bastian.

Sorot mata pria paruh baya itu begitu tajam, seolah memperingatkannya agar tidak membuat keadaan semakin rumit.

Ainun refleks menundukkan kepala.

'Tatapan beliau... benar-benar membuatku takut.'

Beberapa detik berlalu sebelum suara Sagara kembali terdengar.

“Baiklah.”

Jawaban singkat itu membuat bahu Ainun menegang.

Perlahan ia mengangkat wajah.

Sagara berbalik tanpa meliriknya sedikit pun. Dengan langkah panjang, pria itu keluar dari kamar, meninggalkan kesunyian yang semakin menyesakkan.

Ainun menatap pintu yang baru saja tertutup.

“Eh, Ainun kok pakai abaya?” tanya Bu Lina heran.

Ainun menoleh pelan ke arah wanita itu.

“Oh, itu...” Bu Siti tersenyum tipis. “Gaun pengantinnya tidak cukup, Besan. Semuanya mendadak, jadi Ainun pakai abaya saja.”

'Bukan karena gaunnya gak cukup...'

Ainun menurunkan pandangannya.

'Ibu hanya gak ingin gaun milik putri kesayangannya dipakai olehku.'

“Ya sudah, nggak apa-apa.” Bu Lina tersenyum hangat kepada Ainun. “Masih cantik juga, kok, Ainunnya.”

Ucapan sederhana itu membuat dada Ainun yang  sedikit menghangat. Ia menatap Bu Lina sejenak, lalu membalas dengan senyum tipis.

“Terima kasih, Bu.”

“Kalau begitu, kami keluar dulu. Nak Ainun, ayo bersiap-siap, ya.”

“Iya, Bu,” jawab Ainun pelan.

Satu per satu mereka meninggalkan kamar.

Klik.

Pintu kembali tertutup. Kamar Liona kembali sunyi.

Belum sempat Ainun mengembuskan napas lega, suara Bu Siti kembali terdengar.

“Jangan besar kepala.”

Senyum tipis di bibir Ainun seketika memudar. Ia menundukkan kepala, menahan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya.

“Iya, Bu.” Suaranya lirih. “Ainun sadar. Ainun nggak akan berharap apa pun dari Mas Sagara. Ini juga terakhir kalinya Ainun melakukan sesuatu demi Mbak Liona.” Ia menarik napas panjang sebelum melanjutkan, “Ke depannya... Ibu, Ayah, dan Mbak Liona jangan memaksa Ainun lagi.”

Raut wajah Bu Siti langsung berubah.

“Kamu...” Telunjuk wanita itu terangkat. “Dasar anak durhaka! Kalau bukan Ibu yang melahirkan dan membesarkan kamu, siapa lagi?”

Ainun hanya diam. Ia tahu, apa pun yang dikatakannya tidak akan mengubah apa pun.

Tiba-tiba telunjuk Bu Siti mendorong keningnya hingga kepalanya terdongak ke belakang.

“Meski kamu nggak sebanding sama Mbakmu, setidaknya kamu harus tahu diri!”

Ainun memejamkan mata sesaat. Jemarinya mengepal di balik lipatan abaya.

'Sabar, Ainun...'

Ia memilih diam daripada memperpanjang pertengkaran.

Kriet...

Suara pintu yang terbuka kembali memecah suasana panas.

Ainun membuka mata dan menoleh.

Seorang panitia pernikahan berdiri di ambang pintu.

“Pengantin wanita, pengantin pria sudah selesai ijab kabul. Silakan Ibu mengantarkan mempelai wanita.”

“Baik.”

Belum sempat Ainun melangkah, Bu Siti lebih dulu menarik pergelangan tangannya.

“Ayo, cepat! Lama sekali.”

Langkah Ainun sedikit terhuyung saat tubuhnya ditarik keluar kamar.

Sesampainya di depan tangga, Bu Siti menghentikan langkahnya sejenak.

“Senyum.”

Ainun menarik napas panjang. Perlahan, ia memaksakan seulas senyum menghiasi wajahnya.

Meski di balik senyum itu, hatinya masih belum sanggup menerima kenyataan bahwa hari ini ia menikahi pria yang mencintai perempuan lain, dan pernikahan itu hanyalah sementara.

. . .

Kini Ainun duduk bersisian dengan Sagara di hadapan penghulu dan Ayahnya, Susanto.

Jarak mereka begitu dekat, tetapi terasa sangat jauh.

Sagara duduk tegak dengan tatapan lurus ke depan. Sejak Ainun duduk di sampingnya, pria itu sama sekali tidak menoleh, seolah kehadirannya tak berarti apa-apa.

Ainun menundukkan kepala.

Tak lama kemudian, suara bisik-bisik para tamu mulai terdengar dari belakang.

“Ya ampun, kasihan banget Liona. Adiknya tega merebut posisi kakaknya sendiri.”

“Iya. Ainun juga harusnya sadar diri. Mana sebanding sama Mas Sagara? Mereka itu seperti langit dan bumi.”

“Mau bagaimana lagi, Jeng. Namanya juga adik,” balas Bu Siti dengan nada terdengar lirih.

Setiap kalimat yang masuk ke telinganya terasa seperti duri yang menusuk pelan.

“Mari kita mulai akad nikahnya,” ujar penghulu sambil menoleh kepada Sagara. “Mas Sagara, sudah siap?”

“Sudah,” jawab Sagara singkat.

Penghulu kemudian mengalihkan pandangannya kepada Ainun.

“Mbak—”

“Saya tidak punya banyak waktu, Pak.” Sagara memotong ucapan penghulu dengan nada datar. “Bisa langsung dimulai sekarang?”

“Baik.”

Penghulu mengangguk, lalu menoleh kepada wali.

“Silakan, Bapak.”

Pak Susanto berdeham pelan sebelum bersiap mengucapkan ijab.

Namun, penghulu lebih dulu berkata, “Silakan menikahkan putri Bapak, Mbak Liona—”

“Maaf, Pak,” sela Pak Susanto. “Namanya bukan Liona, melainkan Ainun Nahwa Abimana.”

Penghulu tampak sedikit terkejut.

“Oh, baik. Saya mengerti.”

Ruangan kembali hening.

Semua mata tertuju kepada Pak Susanto dan Sagara.

Dengan suara lantang, Pak Susanto mengucapkan ijab.

“Saya nikahkan engkau, Sagara Jeno Dirgantara, dengan putri saya, Ainun Nahwa Abimana binti Susanto, dengan maskawin berupa uang tunai seratus juta rupiah, sebuah rumah, dan sebuah vila, dibayar tunai.”

Tanpa jeda, Sagara langsung menjawab.

“Saya terima nikahnya Ainun Nahwa Abimana binti Susanto dengan maskawin tersebut, dibayar tunai.”

Jemari Ainun perlahan meremas kain abayanya.

Beberapa detik kemudian, penghulu menoleh kepada para saksi.

“Bagaimana, para saksi?”

“Sah.”

“Sah.”

“Innalillahi...” lirih beberapa tamu.

Kelopak mata Ainun terpejam.

“Silakan mempelai wanita mencium tangan suaminya,” ujar penghulu.

Ainun perlahan menoleh ke arah Sagara.

Pria itu tetap diam.

Beberapa saat kemudian, Sagara akhirnya menoleh sekilas. Tatapannya dingin tanpa sedikit pun kehangatan. Tanpa mengucapkan sepatah kata, ia mengangkat tangan kanannya dan menyodorkan punggung tangannya kepada Ainun.

Ainun menelan ludah.

Dengan jemari yang sedikit gemetar, ia meraih tangan Sagara, lalu menunduk dan mengecup punggung tangan pria itu dengan penuh hormat.

Saat bibirnya menyentuh kulit tangan Sagara, hatinya justru terasa semakin hampa.

1
merry
jgn cepat ksh ainum ktmu dgn Sagara terlalu cepat biar orang saraf kyk Sagara nyesel,, 🙏🙏🙏
merry
iblis busuk km bini dan ank gk diksh mknn
merry
otak y gk tau di mn ya heran aku emang pendidikan tingginya bisa didik ank dgn baik blm tentu x pak justru blansak ia,, klo Sagara jodoh y ainum jgn ksh Sagara nikh sm liona ksh ajj penyesalan trs biar ainum Lhirinn ank solehah hebat genius buat bungkam mulut Bpk dan kakek ya yg jht itu
Nia nurhayati
dasar laki"gilaaa kamu sagara
Ais: nah bnr kak emang gila sagara ini
total 1 replies
Nia nurhayati
Sagara dan BP nya sama brengsekkk laki"kurang ajarrrr😡😡😡
merry
gila bini y gk. diksh mkn minum kata ya cinta marah bini y di dekati org,, emng dikurung tnp mkn minum blm lg memar muka tangan gk diobati,, moga kmu dan pelakor itu dpt karna ya 🙏🙏🙏🙏ainum jgn lemah donk jgn perempuan jgn minta maaf klo ngk salh hrs lawan ke jwb ke kan Sagara juga mau nikah kn sm lion lion itu sdgkn kmu ngk nkh ngk pcarann juga cm ddk bareng knp di perlakuan seperti penjahat,,, hrs disini Sagara salh besar loh dh mau nikah lg,,, kasar lg
merry
egois bgtt si,, istri di seret di tampar gk di akuin org mana tau klo ainum istri mu gara,,, emng org dukun tau ainum bini mu 🤭🤭🤭🤭
Ais
psikopat dan egosi sagara ini ternyata
Ais
wah plot twist banget thor ternyata selama ini sagara mencintai ainun tp knp kayak psikopat gn seh sikap dan kelakuannya apalag pas berhubungan suami istri yg disebut malah nama kakaknya istri mana yg ngak salah paham dan menganggap dirinya hny istri sementara ngak salah dong ainun bersikap dan berkata begitu
Ais: nah bnr kak emang psikopat si sagara ini mungkin dia panggil si musang betina pengen bikin ainun insecure sekaligus cemburu kak🤣
total 2 replies
Arra Bella
saat liona datang sagara tidak akan melepaskanmu ainun
Arra Bella
aku yakin liona bakal nyesel
Ais
semangat updatenya thor bagus alur kisahnya
Arra Bella
salam kenal kakak
Soviani
up lagi dong , ceritanya seru
Skyline Scribe
halo kak aku mampir,
Ikut nunggu kelanjutannya , Semangat nulisnya Kak💪💪
Inarrr Ulfah
gimna mau pergi hp Ainun aja di sadap
Inarrr Ulfah
setelah itu pergi yang jauh Ainun,, hidup bahagia bersama anak mu..
partini
pengantin pengganti nyesek Ampe ulu hati, happy nanti kalau suami udah sreg di hati
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!