NovelToon NovelToon
Suami Super Cool Berseragam Loreng

Suami Super Cool Berseragam Loreng

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Perjodohan / Menikahi tentara
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Sarif adalah lelaki yang diajukan sebagai calon suami Ratna dalam perjodohan keluarga, tetapi karena ia menolak, akhirnya dialihkan pada sepupunya Tara.

Gadis yang baru satu tahun lulus SMA itu menerima dengan suka cita sebab ia menghindari dikirim keluar kota untuk kuliah.

Tara: Jodoh itu misterius, dia yang tenang untuk aku yang darderdor

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25

Sarif tersenyum kecil. Baginya, justru itulah yang membuat Tara istimewa. Ia tidak pernah memandang orang dari pangkat ataupun jabatan suaminya.

Suatu hari, salah seorang istri prajurit sempat bercanda, "Bu Tara, sekarang sudah tinggal di rumah perwira, jangan lupa sama kami ya."

Tara langsung tertawa. "Lho, memangnya rumah ini pakai pagar anti teman?"

Semua yang mendengar ikut tertawa.

Tara lalu melanjutkan sambil tersenyum hangat, "Aku berteman sama orang bukan lihat rumahnya, bukan lihat pangkat suaminya. Kalau orangnya baik, ya kita berteman."

Kalimat sederhana itu membuat beberapa ibu saling berpandangan sambil tersenyum. Mereka mengerti mengapa Tara begitu cepat diterima di lingkungan tersebut. Meski kini tinggal di rumah dinas yang lebih besar sebagai istri seorang perwira, sikapnya tetap sama seperti saat pertama datang ke mess, rendah hati, mudah bergaul, dan tidak pernah merasa lebih tinggi daripada siapa pun. Justru karena itulah, kehadiran Tara perlahan menjadi warna baru yang membawa kehangatan di lingkungan asrama.

Setelah menempati rumah dinas, Tara mulai terbiasa dengan kehidupan di lingkungan asrama. Namun, ada satu hal yang masih membuatnya sering menoleh kebingungan. "Bu Sarif..." Ya, panggilan itu adalah panggilan baru untuknya sejak resmi tinggal di asrama. Tak ada lagi yang memanggilnya Tara, tetapi berganti jadi Bu Syarif.

Hari pertama tinggal di rumah dinas menjadi pengalaman baru bagi Tara. Sejak sebelum subuh, alarm Sarif sudah berbunyi. Sementara langit di luar masih gelap, Sarif sudah bangun, merapikan tempat tidur, mandi, lalu mengenakan seragam lorengnya dengan rapi.

Tara yang masih setengah mengantuk hanya bisa memperhatikan dari balik selimut. "Bang... Jam berapa ini?"

"Lima kurang."

Tara langsung menarik selimut sampai menutupi wajah. "Ya Allah...Masih malam."

Sarif tersenyum kecil. "Bentar lagi apel pagi." Beberapa menit kemudian, Sarif sudah berdiri tegap di depan cermin, memastikan setiap atribut seragam terpasang sempurna.

Tara memandangi suaminya sambil tersenyum bangga. "Pantas saja tentara kelihatan keren. Dari pagi saja sudah serapi ini."

Setelah Sarif berangkat menuju lapangan apel, Tara kembali melirik jam. Tepat pukul enam pagi, dari kejauhan terdengar suara aba-aba apel yang menggema di seluruh lingkungan asrama. Ia berdiri di depan jendela. Puluhan prajurit berbaris dengan langkah yang seragam. Sementara itu, rumah-rumah dinas mulai hidup. Para ibu menyapu halaman, membuka jendela, menyiram tanaman, dan membersihkan rumah masing-masing.

Tara tersenyum kecil. "Berarti aku juga harus mulai.".Ia mengikat rambutnya asal, mengambil sapu, lalu mulai membersihkan rumah. Sesekali ia berhenti sambil mengusap keringat. "Ya ampun...Rumahnya lebih besar dari yang kukira."

Baru menyapu ruang tamu, napasnya sudah mulai tersengal. Masih ada dapur. Masih ada kamar. Masih ada teras. Belum lagi halaman depan.

Menjelang siang, Sarif pulang setelah menyelesaikan tugas paginya. Begitu masuk rumah, ia mendapati Tara sedang mengepel lantai dengan wajah sedikit lelah, tetapi tetap bersenandung kecil.

Sarif mendekat. "Tara."

"Iya, Bang?"

"Mau kubantu?"

Tara langsung menggeleng. "Nggak usah."

"Yakin?"

"Iya. Kamu kan sudah capek..Baru selesai apel pagi, habis itu masih kerja lagi. Aku masih kuat."

Sarif memandang istrinya beberapa saat. "Tapi rumah ini cukup besar."

Tara tersenyum sambil tetap menggerakkan pel. "Pelan-pelan nanti juga selesai. Lagian...Aku juga harus belajar mandiri. Belajar jadi ibu rumah tangga yang baik."

Sarif tersenyum bangga. "Tidak harus sempurna. Aku juga siap membantu kalau memang diperlukan."

Tara berhenti mengepel sejenak. Lalu menatap suaminya sambil tersenyum usil. "Bang, sebenarnya aku nggak apa-apa lho nggak dibantuin ngepel, tapi ...." Tara agak ragu-ragu. Sejujurnya aku belum sempat masak. Kamu jangan marah dulu, setelah kamu berangkat aku juga langsung bangun kok, tapi tetap saja semuanya nggak kekejar." Tara menjelaskan dengan takut-takut.

Tetapi respon Sarif malah nyengir, ia mencubit gemas pipi istrinya. Lalu dengan sikap gagah menyatakan kesiapannya membeli dua bungkus nasi Padang. Satu lauknya ikan untuk dirinya sendiri, satu lagi lauknya double, ayam dan ikan untuk Tara yang sudah kelelahan membereskan rumah dinas.

Hari pertama di rumah dinas memang melelahkan bagi Tara. Namun ia tidak menganggapnya sebagai beban. Baginya, setiap lantai yang dipel, setiap sudut yang dibersihkan, dan setiap pekerjaan yang ia pelajari adalah bagian dari proses membangun rumah tangga bersama lelaki yang setiap pagi telah lebih dulu berjuang menjalankan tugasnya sebagai seorang prajurit. Makanya Sarif menghargai itu semua.

***

Sudah hampir tengah malam ketika telepon dinas Sarif berdering. Suara deringnya memang pelan, tetapi sebagai seorang prajurit, telinga Sarif sudah terbiasa mengenali panggilan seperti itu. Ia segera meraih telepon. "Siap, laksanakan." Jawabannya singkat.

Malam itu juga ia harus segera menuju markas. Sarif menoleh ke arah Tara yang sedang tertidur pulas. Wajah istrinya tampak begitu tenang sambil memeluk bantal. Ia tersenyum tipis. Pelan-pelan Sarif turun dari tempat tidur. Setiap langkah dibuat seringan mungkin. Ia mengambil seragam, mengenakannya tanpa menyalakan lampu utama, lalu membuka pintu kamar dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara.

Sebelum keluar rumah, ia sempat menoleh sekali lagi. "Tidurlah yang nyenyak." Pintu ditutup perlahan. Hanya suara mesin motor yang kemudian menghilang di kejauhan.

Sekitar satu jam kemudian... Tara terbangun. Tangannya refleks meraba sisi tempat tidur. Kosong. Ia membuka mata. "Bang?"

Tidak ada jawaban. Tara bangkit, mencari ke kamar mandi. Tidak ada. Ke dapur. Tidak ada. Ruang tamu. Kosong. Jantungnya mulai berdegup lebih cepat. "Ke mana?"

Karena tidak menemukan siapa pun, Tara akhirnya duduk di teras rumah sambil memeluk lutut. Matanya berkali-kali melihat ke arah gerbang kompleks. Perasaan khawatir mulai memenuhi kepalanya. Ia yang memang masih agak drama langsung berpikiran macam-macam.

Apa Bang Sarif diculik orang? Tapi Tara cepat-cepat menggelengkan kepalanya. Masa iya tentara diculik di asramanya. Meskipun kemungkinan itu ada tapi rasanya kecil sekali.

Beberapa saat kemudian, suara motor terdengar memasuki halaman rumah. Sarif baru saja pulang. Namun, begitu mematikan mesin motor, ia langsung terkejut. "Tara?"

Istrinya sudah berdiri di depan pintu. Matanya sembap. Wajahnya penuh kekhawatiran.

Sarif buru-buru menghampiri. "Kok bangun?"

Belum sempat menjelaskan apa pun, Tara langsung memukul pelan lengan suaminya. "Bang..." Suaranya bergetar. "Aku lho...baru aja mau lapor sama piket kalau kamu hilang." Air matanya langsung jatuh. "Lain kali kalau mau pergi....bilang-bilang ya. Aku tadi bangun...Abang nggak ada...aku takut."

Sarif terdiam. Ia baru menyadari bahwa istrinya belum terbiasa dengan ritme kehidupan seorang prajurit. Dengan lembut, ia mengusap air mata Tara. "Maaf. Tadi panggilannya mendadak. Aku nggak tega membangunkan kamu."

Tara menggeleng cepat. "Bangunin aja. Aku lebih milih dibangunin daripada bangun-bangun suamiku hilang."

Sarif tersenyum kecil, lalu menarik Tara ke dalam pelukannya. "Maaf. Mulai sekarang, kalau ada panggilan mendadak, aku akan membangunkanmu atau meninggalkan pesan."

1
Inde Hara
Inde Hara
InshaAllah ✓
Inde Hara
🤣🤣🤣🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!