NovelToon NovelToon
Kesalahan Semalam Menjadi Takdir

Kesalahan Semalam Menjadi Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:742
Nilai: 5
Nama Author: Siti Muarofah

Raina, wanita mandiri yang sudah bercerai, mencari pelarian di malam yang kelam. Di tengah kebingungan karena mabuk, ia tanpa sengaja menghabiskan malam bersama Dika—seorang mahasiswa muda tampan yang ternyata merupakan pewaris tunggal keluarga kaya raya.

Perbedaan usia, masa lalu yang kelam, serta penolakan keras dari orang tua Dika menjadi tembok tinggi yang memisahkan mereka. Namun takdir seolah punya rencana lain, menumbuhkan cinta tulus di antara dua dunia yang berbeda.

Mampukah sebuah kesalahan semalam, berubah menjadi takdir cinta yang abadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Muarofah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17

 

Bab 17: Tantangan dalam Buah Hati

Kabar kehamilan itu membawa sinar bahagia yang tak pernah pudar di rumah kecil mereka. Namun, takdir berkata lain. Kebahagiaan itu ternyata tidak datang dengan mudah, melainkan dibarengi dengan ujian yang menguji kesabaran dan keteguhan hati mereka berdua.

Hari-hari awal kehamilan berjalan penuh kehangatan. Namun memasuki minggu keempat, kondisi Raina mulai berubah. Pagi itu, Dika baru saja selesai menyiapkan sarapan bergizi di meja makan, memanggil istrinya dengan senyum hangat.

"Sayang, sarapan sudah siap. Ayo kita makan bersama."

Namun tidak ada jawaban. Dika merasa heran, lalu berjalan menuju kamar tidur. Saat membuka pintu perlahan, ia melihat Raina duduk di tepi tempat tidur dengan wajah pucat pasi, kedua tangannya memegang perutnya erat. Keringat dingin membasahi keningnya, napasnya terengah-engah seolah menahan rasa sakit yang luar biasa.

"Raina!" seru Dika kaget, langsung berlari mendekat dan berlutut di hadapan istrinya. "Kau kenapa? Sakit di mana?"

Raina mengangkat wajah perlahan, matanya berkaca-kaca menahan perih. "Perutku... rasanya sakit sekali, Dik. Seperti ada yang menarik-narik dari dalam."

Wajah Dika seketika berubah pucat. Tanpa banyak bicara, ia segera menyelimuti tubuh istrinya dengan jaket tebal, menggendongnya dengan hati-hati seolah Raina adalah benda paling rapuh di dunia ini.

"Kita segera ke dokter," ucap Dika tegas namun suaranya bergetar menahan cemas.

Perjalanan ke rumah sakit terasa begitu lama dan menegangkan. Dika menyetir secepat mungkin namun tetap berhati-hati, sesekali menoleh ke kursi penumpang di mana Raina berbaring meringkuk menahan sakit. Sesampainya di rumah sakit, dokter segera memeriksanya dengan teliti.

Setelah menunggu cukup lama, dokter keluar dari ruangan dengan wajah serius. Dika segera menghampiri dengan napas terengah-engah.

"Bagaimana keadaan istri dan anak saya, Dok?" tanyanya cemas.

Dokter menghela napas pelan. "Kondisi istri Anda baik-baik saja untuk saat ini, Pak. Namun ada hal yang perlu Anda ketahui. Kandungan istri Anda tergolong lemah. Ada risiko tinggi jika ia terlalu banyak bergerak, lelah, atau mengalami guncangan emosi. Sangat disarankan agar ia banyak istirahat total, bahkan sebisa mungkin hanya berbaring di tempat tidur sampai kondisi kandungannya lebih kuat."

Mendengar itu, hati Dika seperti dicengkeram rasa takut. Namun ia segera menguatkan diri. Ia tidak boleh terlihat lemah di hadapan Raina.

"Baik, Dok. Saya mengerti," jawab Dika mantap. "Saya akan menjaganya sebaik mungkin."

Masuk ke dalam ruangan perawatan, Dika melihat Raina menatapnya dengan pandangan bersalah.

"Maafkan aku ya, Dik..." ucap Raina pelan dengan suara lemah. "Aku jadi merepotkanmu lagi."

Dika segera duduk di samping tempat tidur, menggenggam tangan istrinya erat dan mencium punggung tangan itu berkali-kali.

"Jangan bicara begitu, Sayang," bisiknya lembut. "Kau tidak merepotkan. Merawatmu dan menjaga anak kita adalah kebahagiaanku. Aku akan melakukan apa saja supaya kalian berdua sehat dan selamat."

Sejak hari itu, kehidupan di rumah mereka berubah total. Dika benar-benar menjalankan saran dokter dengan sangat teliti.

Pagi-pagi sekali sebelum matahari terbit, Dika sudah bangun. Ia menyiapkan air hangat untuk mandi Raina, menyiapkan sarapan yang penuh gizi sesuai saran dokter kandungan, lalu merapikan tempat tidur dan seluruh ruangan agar selalu bersih dan nyaman.

Ia tidak lagi membiarkan Raina bangun dari tempat tidur tanpa alasan penting. Jika Raina ingin minum, Dika yang akan menuangkan dan menyuapkannya. Jika Raina ingin berganti pakaian, Dika yang akan membantunya dengan sangat hati-hati.

Suatu siang, saat Dika sedang menyuapkan bubur ayam hangat ke mulut Raina, istrinya menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

"Kau tidak lelah, Dik?" tanya Raina pelan. "Kau harus bekerja, mengurus rumah, dan sekarang juga harus melayaniku setiap saat. Aku merasa tidak berguna hanya berbaring di sini."

Dika meletakkan mangkuk perlahan, lalu mengusap pipi istrinya dengan lembut.

"Sayang, lihat aku," pinta Dika lembut. "Kau tidak pernah tidak berguna. Kehadiranmu di sini adalah semangatku. Setiap tetes keringat yang jatuh saat merawatmu adalah kebahagiaanku. Aku tidak ingin orang lain menyentuhmu atau merawatmu selain aku. Aku takut mereka tidak sehati-hati aku menjagamu."

Raina tidak bisa menahan tangis bahagianya. Ia menarik tangan Dika mendekat, mencium punggung tangan suaminya dengan penuh rasa syukur.

"Terima kasih, Dik. Terima kasih sudah mencintaiku sebegitu besarnya."

Hari demi hari berlalu. Dika melakukan segalanya dengan penuh kesabaran dan kasih sayang yang luar biasa. Ia bahkan sering membacakan buku dongeng atau cerita indah untuk Raina dan calon anak mereka sebelum tidur. Ia juga sering berbicara lembut ke arah perut istrinya, menceritakan hal-hal indah yang akan mereka lakukan bersama saat anak itu lahir nanti.

Kadang-kadang, rasa sakit di perut Raina datang kembali. Setiap kali itu terjadi, Dika akan sangat panik namun tetap tenang. Ia akan memijat lembut kaki dan punggung istrinya, memberikan minuman hangat, dan terus berbisik kata-kata penyemangat sampai rasa sakit itu hilang.

Kabar kondisi Raina segera sampai ke telinga orang tua Dika. Ibu Dika sering datang membawa makanan khusus dan obat-obatan alami, namun ia tidak ikut campur terlalu banyak. Ia melihat betapa tulus dan telatnya putranya merawat istrinya, sehingga ia hanya bisa mengagumi dan mendoakan mereka.

Suatu malam saat hujan turun deras di luar, Dika duduk di tepi tempat tidur memandangi wajah Raina yang sedang terlelap nyenyak. Tangannya bergerak perlahan mengusap perut istrinya yang mulai menonjol sedikit.

"Kamu harus kuat ya, Nak," bisik Dika pelan dengan suara bergetar. "Kamu harus bertahan di dalam sana. Ayah dan Ibu sangat menantikan kehadiranmu. Jangan buat Ibu kesakitan lagi ya."

Malam itu Dika berjanji dalam hatinya, tidak peduli seberapa berat ujian yang datang, ia akan selalu berdiri tegak menjadi pelindung bagi dua orang yang paling ia cintai di dunia ini.

Ujian kehamilan yang lemah ini bukanlah akhir dari segalanya, melainkan awal dari betapa besarnya kasih sayang yang tumbuh di antara mereka. Semakin berat tantangan yang dihadapi, semakin erat ikatan hati yang menyatukan Dika dan Raina. Mereka sadar, buah hati yang sedang dikandung adalah bukti cinta sejati mereka, dan mereka akan berjuang bersama sampai detik kelahiran nanti.

...Namun tidak ada jawaban. Dika merasa heran, lalu berjalan menuju kamar tidur. Saat membuka pintu perlahan, ia melihat Raina duduk di tepi tempat tidur dengan wajah pucat pasi, kedua tangannya memegang perutnya erat. Keringat dingin membasahi keningnya, napasnya terengah-engah seolah menahan rasa sakit yang luar biasa.

"Raina!" seru Dika kaget, langsung berlari mendekat dan berlutut di hadapan istrinya. "Kau kenapa? Sakit di mana?"

Raina mengangkat wajah perlahan, matanya berkaca-kaca menahan perih. "Perutku... rasanya sakit sekali, Dik. Seperti ada yang menarik-narik dari dalam."

Wajah Dika seketika berubah pucat. Tanpa banyak bicara, ia segera menyelimuti tubuh istrinya dengan jaket tebal, menggendongnya dengan hati-hati seolah Raina adalah benda paling rapuh di dunia ini.

"Kita segera ke dokter," ucap Dika tegas namun suaranya bergetar menahan cemas.

Perjalanan ke rumah sakit terasa begitu lama dan menegangkan. Dika menyetir secepat mungkin namun tetap berhati-hati, sesekali menoleh ke kursi penumpang di mana Raina berbaring meringkuk menahan sakit. Sesampainya di rumah sakit, dokter segera memeriksanya dengan teliti.

Setelah menunggu cukup lama, dokter keluar dari ruangan dengan wajah serius. Dika segera menghampiri dengan napas terengah-engah.

"Bagaimana keadaan istri dan anak saya, Dok?" tanyanya cemas.

Dokter menghela napas pelan. "Kondisi istri Anda baik-baik saja untuk saat ini, Pak. Namun ada hal yang perlu Anda ketahui. Kandungan istri Anda tergolong lemah. Ada risiko tinggi jika ia terlalu banyak bergerak, lelah, atau mengalami guncangan emosi. Sangat disarankan agar ia banyak istirahat total, bahkan sebisa mungkin hanya berbaring di tempat tidur sampai kondisi kandungannya lebih kuat."

Mendengar itu, hati Dika seperti dicengkeram rasa takut. Namun ia segera menguatkan diri. Ia tidak boleh terlihat lemah di hadapan Raina.

"Baik, Dok. Saya mengerti," jawab Dika mantap. "Saya akan menjaganya sebaik mungkin."

Masuk ke dalam ruangan perawatan, Dika melihat Raina menatapnya dengan pandangan bersalah.

"Maafkan aku ya, Dik..." ucap Raina pelan dengan suara lemah. "Aku jadi merepotkanmu lagi."

Dika segera duduk di samping tempat tidur, menggenggam tangan istrinya erat dan mencium punggung tangan itu berkali-kali.

"Jangan bicara begitu, Sayang," bisiknya lembut. "Kau tidak merepotkan. Merawatmu dan menjaga anak kita adalah kebahagiaanku. Aku akan melakukan apa saja supaya kalian berdua sehat dan selamat."

Sejak hari itu, kehidupan di rumah mereka berubah total. Dika benar-benar menjalankan saran dokter dengan sangat teliti.

Pagi-pagi sekali sebelum matahari terbit, Dika sudah bangun. Ia menyiapkan air hangat untuk mandi Raina, menyiapkan sarapan yang penuh gizi sesuai saran dokter kandungan, lalu merapikan tempat tidur dan seluruh ruangan agar selalu bersih dan nyaman.

Ia tidak lagi membiarkan Raina bangun dari tempat tidur tanpa alasan penting. Jika Raina ingin minum, Dika yang akan menuangkan dan menyuapkannya. Jika Raina ingin berganti pakaian, Dika yang akan membantunya dengan sangat hati-hati.

Suatu siang, saat Dika sedang menyuapkan bubur ayam hangat ke mulut Raina, istrinya menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

"Kau tidak lelah, Dik?" tanya Raina pelan. "Kau harus bekerja, mengurus rumah, dan sekarang juga harus melayaniku setiap saat. Aku merasa tidak berguna hanya berbaring di sini."

Dika meletakkan mangkuk perlahan, lalu mengusap pipi istrinya dengan lembut.

"Sayang, lihat aku," pinta Dika lembut. "Kau tidak pernah tidak berguna. Kehadiranmu di sini adalah semangatku. Setiap tetes keringat yang jatuh saat merawatmu adalah kebahagiaanku. Aku tidak ingin orang lain menyentuhmu atau merawatmu selain aku. Aku takut mereka tidak sehati-hati aku menjagamu."

Raina tidak bisa menahan tangis bahagianya. Ia menarik tangan Dika mendekat, mencium punggung tangan suaminya dengan penuh rasa syukur.

"Terima kasih, Dik. Terima kasih sudah mencintaiku sebegitu besarnya."

Hari demi hari berlalu. Dika melakukan segalanya dengan penuh kesabaran dan kasih sayang yang luar biasa. Ia bahkan sering membacakan buku dongeng atau cerita indah untuk Raina dan calon anak mereka sebelum tidur. Ia juga sering berbicara lembut ke arah perut istrinya, menceritakan hal-hal indah yang akan mereka lakukan bersama saat anak itu lahir nanti.

Kadang-kadang, rasa sakit di perut Raina datang kembali. Setiap kali itu terjadi, Dika akan sangat panik namun tetap tenang. Ia akan memijat lembut kaki dan punggung istrinya, memberikan minuman hangat, dan terus berbisik kata-kata penyemangat sampai rasa sakit itu hilang.

Kabar kondisi Raina segera sampai ke telinga orang tua Dika. Ibu Dika sering datang membawa makanan khusus dan obat-obatan alami, namun ia tidak ikut campur terlalu banyak. Ia melihat betapa tulus dan telitinya putranya merawat istrinya, sehingga ia hanya bisa mengagumi dan mendoakan mereka.

Suatu malam saat hujan turun deras di luar, Dika duduk di tepi tempat tidur memandangi wajah Raina yang sedang terlelap nyenyak. Tangannya bergerak perlahan mengusap perut istrinya yang mulai menonjol sedikit.

"Kamu harus kuat ya, Nak," bisik Dika pelan dengan suara bergetar. "Kamu harus bertahan di dalam sana. Ayah dan Ibu sangat menantikan kehadiranmu. Jangan buat Ibu kesakitan lagi ya."

Malam itu Dika berjanji dalam hatinya, tidak peduli seberapa berat ujian yang datang, ia akan selalu berdiri tegak menjadi pelindung bagi dua orang yang paling ia cintai di dunia ini.

Ujian kehamilan yang lemah ini bukanlah akhir dari segalanya, melainkan awal dari betapa besarnya kasih sayang yang tumbuh di antara mereka. Semakin berat tantangan yang dihadapi, semakin erat ikatan hati yang menyatukan Dika dan Raina. Mereka sadar, buah hati yang sedang dikandung adalah bukti cinta sejati mereka, dan mereka akan berjuang bersama sampai detik kelahiran nanti.

Hari-hari berikutnya berjalan dengan pola yang sama namun penuh kehangatan yang tak pernah pudar. Dika bahkan rela mengambil cuti beberapa hari dari pekerjaannya saat dokter meminta Raina untuk istirahat total selama satu minggu penuh. Pria itu tidak pernah sekalipun mengeluh atau terlihat terpaksa melakukan semua hal itu. Justru, wajahnya selalu tampak tenang dan penuh senyum setiap kali melihat istrinya.

Suatu sore, saat langit mulai berubah warna menjadi jingga keemasan, Dika duduk di samping tempat tidur sambil membelai rambut istrinya yang terurai indah di bantal.

"Kau tahu Raina," ucap Dika pelan memecah keheningan. "Dulu aku berpikir kebahagiaan itu adalah memiliki banyak harta, jabatan tinggi, atau dipandang mulia oleh orang banyak. Tapi sejak bersamamu, aku sadar bahwa kebahagiaan yang sesungguhnya itu sederhana saja. Yaitu melihatmu tersenyum, melihatmu sehat, dan menunggu kelahiran buah hati kita."

Raina menatap suaminya dengan mata yang penuh kasih sayang. "Kau mengajarkanku arti dicintai yang sesungguhnya, Dik. Kau membuatku merasa berharga lebih dari apa pun di dunia ini."

Dika tersenyum lembut, lalu mencium kening istrinya lama dan penuh perasaan.

"Kaulah segalanya bagiku, Sayang. Selamanya."

Mereka berdua tahu, jalan yang harus ditempuh masih panjang dan penuh tantangan. Namun selama mereka saling berpegangan tangan dan saling menguatkan, tidak ada yang mustahil bagi mereka. Kasih sayang yang tulus dan kesabaran tanpa batas adalah kunci untuk melewati segala rintangan demi buah hati yang sangat mereka nantikan kehadirannya.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!