Kemala seorang wanita belia, yang sudah menjanda dua kali, semua suaminya meninggal secara misterius.
Takdir mempertemukan dia dengan seorang pria dikala hatinya masih merasakan sakit dan trauma terhadap pernikahan. Serta bayang bayang dari masa lalu yang masih terus mengejarnya.
Akankah cinta pria itu dapat menyembuhkan lukanya atau Kemala akan menjada untuk ketiga kalinya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Realrf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perintah Mama
Tin..tin..
Galuh sengaja membunyikan klakson mobilnya agar penjaga membukakan pintu gerbang untuknya. Tak menunggu lama seorang dengan laki laki dengan sarung yang menyelimuti tubuhnya, terburu buru membuka pintu gerbang untuk Galuh. Lelaki yang merupakan penjaga tersebut pun menunduk hormat saat mobil Galuh melewatinya.
"Assalamualaikum" ucap Galuh di depan pintu utama. berdiri dengan bajunya yang masih basah.
"Waalaikumsalam" seseorang wanita yang sudah berumur membuka pintu untuknya.
"Den Galuh ya," ucap wanita itu sambil tersenyum.
"Kok bisa tau," ucap Galuh mengeryitkan dahinya.
"Iya tadi Den Damar pesen, kalau temannya mau kesini namanya Galuh," ujar perempuan bernama Sri itu, mulut Galuh pun ber o ria.
"Silahkan masuk Den, Den Damar ada di kamarnya," ujar Sri sambil mempersilahkan Galuh masuk.
"Mari saya antar," Galuh mengikuti langkah wanita di depannya.
Rumah Oma Damar cukup besar, bangunan bergaya ala belanda kuno itu masih berdiri kokoh, dan terlihat nyaman. Bu Sri berhenti di depan sebuah pintu, lalu meninggalkan Galuh untuk pergi ke dapur.
Ceklek
"Wah.... parah lo," ujar Galuh sambil menggelengkan kepalanya. Damar menyengir kuda sambil mengacungkan dua jarinya.
"Gua di terpa hujan angin, lo di sini main PS, enak banget hidup lo, dasar sekertaris ga ada akhlak, mana baju lo,"ujar Guh kesal sambil merebahkan dirinya di sofa.
"Eh.. bangun Lo, basah sofa Gua," ujar Damar sambil menarik paksa tubuh Galuh.
"Lagian Lo, naik mobil kenapa bisa basah kayak gini sih. Mandi sono, Gua siapin bajunya," Tubuh Galuh di dorong paksa Damar masuk ke dalam kamar mandi.
"Iya ya Bawel, mau mandiin Gua ga," Galuh menaik turunkan kedua alisnya.
"Dih... amit amit, Gua masih doyan jeruk Bro, jangan ngarep terong Gua," Damar berkacak pinggang, Galuh terkekeh geli sendiri dengan ucapannya.
Setelah selesai melakukan ritual mandinya, Galuh keluar dan memakai baju yang di siapkan Damar.
"Bakat jadi istri solekah Lo, Dah siapin segala baju buat gua," ucap Galuh sambil memasukkan kepalanya ke lubang kaos.
"Anj***r, Lo ngomong lagi, Gua tabok pake ini, mau." Danar mengangkat satu sepatu yang terjajar di rak. Galuh tertawa terbahak-bahak.
"Lagian Lo bisa basah gitu, ambis ngapain, mobil Lo bocor atapnya," ucap Damar asal nyepos.
"Ceritanya panjang," ucap Galuh, sambil duduk di sofa, dengan handuk yang masih ada di lehernya.
"Pendekin,"
"Gua hampir nabrak orang."
"Hah.. serius Lo," Damar terkejut sampai stick yang di pegang olehnya hampir jatuh. Galuh hanya mengangguk mengiyakan.
"Terus gimana, Dia ga apa apa kan," kali ini Damar meletakkan stick gamenya di lantai, fokus pada cerita Galuh.
"Gua hampir nabrak, mobil Gua berhenti tepat waktu," Galuh mendongakkan kepalanya menatap langit kamar.
"Syukur deh kalau, gitu." Damar kembali menatap ke layar datar, melanjutkan permainannya.
Sementara Galuh masih menerawang, tatapan kosong yang gadis itu berikan, matanya yang begitu sendu saat dia memeluk tubuh Galuh, namun ada keteduhan di baliknya.
"Kenapa Gua jadi mikirin Dia," lirih Galuh hampir tak terdengar.
"Apa, Lo ngomong apa," Damar yang merasa Galuh bergumam di belakangnya.
"Gua bilang, kenapa Lo nyuruh Gua kesini, mana ngancem mau resign dari kantor, heeeh." ucap Galuh dengan mengangkat kakinya lalu menekan nekan kepala Damar.
"Ampun.. ampun..ini perintah langsung Mama Shinta, mana bisa Gua bilang ga,"
"Perintah, apa maksudmu." Galuh berhenti
"Ya lo, jomblo terus, Mama Shinta tuh khawatir Lo belok, apa lagi Lo nempel terus ama Gua," ujar Damar sambil bergidik geli.
Buukkk..
Sebuah bantal mendapat di punggung Damar.
"Apa hubungannya jomblo Gua Ama nyusul elo kemarin, Mama tuh ada ada aja," Galuh memijit pelipisnya, Mamanya benar benar membuatnya pusing.
"Mama tuh nyuruh Gua ngenalin elo sama cewek di sini, Mama pikir loe ga na**u ama cewek metropolitan, kali aja loe mau ama bunga desa."
"Serah Lo dah, pusing Gua," Galuh beranjak dari sofa, lalu merebahkan dirinya atas kasur.
"Sayangnya Lo telat, kalau loe dateng seminggu lebih cepat, Gua kenalin ama janda kembang kampung sebelah." ucap Damar tanpa memalingkan wajahnya dari layar di depannya.
"Sialan Lo, Gua masih ting ting gini, mau Lo kasih janda, napa ga Lo aja sono " ujar Galuh kesal.
"Gua waktu sunat kan ga nangis, lagian jangan ngeremehin janda satu ini bro, janda belia masih 17."
"Lo yang bener aja, apa hubungannya sunat nangis ama janda?,"
"Kan dulu Oma pernah bilang, kalau di sunat nangis, nanti nikahnya dapet janda. lha Gua kan ga nangis, beda ma elo yang udah nangis pake kabur segala lagi. ck memalukan." ucap Damar sambil menggelengkan kepalanya.
"Terserah apa kata loe dah, besok kita balik titik, ga pake acara kenal kembang kembang," ujar Galuh sembari menarik selimutnya, matanya sudah terasa berat, Angus semilir malam yang dingin, membuatnya terbuai dalam mimpi, walaupun tanpa AC.
Di tempat lain.
Kemala yang baru sadar dari pingsannya, berusaha membuka matanya yang terasa berat, kepala Kemala terasa pening, Kemala mengedarkan pandangannya, ini bukan tempat di mana Kemala terakhir berada, sayup sayup terdengar suara beberapa orang berbicara di luar bilik.
Kemala berusaha mendengar tapi kepalanya terasa berdenyut hebat membuat Kemala tidak bisa fokus, Kemala akhirnya memejamkan matanya kembali.
"Gimana kapan Boss kesini," ujar pria yang lemah gemulai, duduk sambil menikmati sebatang rokok di tangannya.
"Nunggu si Kemala sehat dulu, Boss mau bawa dia ke kota," ujar seorang pria dengan tubuh yang tegap.
"Cinta, atau obsesi, sampai segitunya Boss pengen sama Kemala," asap putih mengepul dari mulutnya.
"Hmm kenapa bahas mereka, bahas kita saja," pria tampan bertubuh tegap itu mendekati Mimi dengan senyum miring.