NovelToon NovelToon
Suamiku Musuh Bebuyutanku

Suamiku Musuh Bebuyutanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Cinta Seiring Waktu / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Bad Boy
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Initial Be

Di SMA Nusantara, Kirei dan Arka adalah dua kutub yang tak pernah bisa bersatu. Kirei—ketua OSIS yang disiplin—membenci Arka, bad boy bertato temporer yang langganan mendapat surat teguran guru. Bagi murid lain, permusuhan sengit mereka di koridor sekolah adalah pemandangan biasa.

Namun, di balik seragam abu-abu yang mereka kenakan, ada rahasia besar yang tersembunyi. Demi janji keluarga dan menyelamatkan bisnis, Kirei dan Arka terpaksa menandatangani surat pernikahan rahasia di usia muda. Kini, dua musuh abadi ini harus tinggal di bawah satu atap yang sama dengan aturan ketat: tak boleh ada satu orang pun di sekolah yang tahu hubungan mereka. Permusuhan, rahasia, dan kepura-puraan baru saja dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Initial Be, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32

Gema suara Bima Aditama masih terngiang berulang kali di dinding-dinding aula yang diliputi kegelapan.

Suasana yang tadinya diwarnai tepuk tangan kepasrahan mendadak berubah menjadi kepanikan massal. Para wali murid mulai saling berbisik tegang, sementara beberapa guru berusaha menenangkan barisan siswa yang mulai terdesak mundur.

Arka berdiri paling depan di panggung utama. Satu tangannya menggenggam jemari Kirei yang bergetar, sementara mata cokelat pekatnya terkunci lurus pada sosok ber-hoodie hitam di balkon lantai dua.

"Bima..." Arka membuka suara, nadanya tenang namun menyimpan tekanan emosi yang siap meledak. "Lo pikir dengan kekacauan murahan begini lo bisa merebut balik apa yang udah hilang?"

Bima terkekeh pelan dari balik kegelapan balkon. Ia melangkah satu tindak mendekati pembatas besi, membiarkan pendar cahaya lampu darurat menyorot separuh wajahnya yang dipenuhi guratan amarah dan kebinasaan.

"Gue gak butuh merebut balik apa pun, Arka!" seru Bima, suaranya menggema lewat pengeras suara darurat aula. "Aditama Corp udah hancur, ayah gue dipenjara, dan reputasi gue dimusnahkan. Gue datang ke sini cuma buat satu hal... memastikan lo dan Kirei merasakan kehancuran yang sama!"

Kirei melangkah satu tindak sejajar di samping Arka. Keteguhan seorang Ketua OSIS yang selama ini menjadi jiwa dari SMA Nusantara terpancar jelas dari tatapannya.

"Lo sendiri yang menghancurkan hidup lo, Bima," potong Kirei tegas. "Lo pakai cara kotor dari awal, manipulasi OSIS, dan sekarang lo coba merusak momen ratusan siswa di aula ini cuma demi ego lo yang terluka!"

"Diam lo, Kirei!" bentak Bima, tangannya mencengkeram pembatas besi hingga buku-buku jarinya memutih. "Lo cuma cewek polos yang dimanfaatkan Arka buat menguasai aset Wijaya Corp! Dan malam ini, gue bakal tunjukkan ke semua orang siapa suami kesayangan lo ini sebenarnya!"

Bima merogoh saku hoodie-nya, mengeluarkan sebuah remot kontrol kecil berlampu indikator merah yang berkedip kencang.

Farhan yang berdiri di dekat pintu samping aula membelalakkan mata. "Ka! Bima terhubung ke pemancar gas air mata di jalur ventilasi aula!"

Jeritan histeris pecah di antara para hadirin!

"Semua harap tenang dan keluar lewat pintu evakuasi barat!" perintah Kirei lantang, beralih mengambil alih kendali situasi dengan cepat. "Anak-anak OSIS, arahkan para orang tua ke luar ruangan sekarang!"

Para pengurus OSIS dengan sigap membimbing barisan wali murid menuju pintu darurat. Dalam hitungan detik, aula yang megah itu menyisakan kepulan ketegangan antara mereka di panggung dan Bima di atas balkon.

Arka melepaskan genggaman tangannya dari Kirei pelan, menatap istrinya dengan sorot mata yang sarat akan rasa percaya dan janji perlindungan.

"Jaga Kakek dan bawa anak-anak keluar, Kirei," bisik Arka amat lembut.

"Arka, lo mau ngapain?" Kirei menahan lengan baju Arka, matanya berkilat cemas. "Bima udah nekat, dia gak punya beban lagi!"

Arka menyunggingkan senyum miringnya yang penuh keberanian—senyuman yang selalu berhasil membuat dada Kirei berdesir sekaligus tenang. "Gue harus menyelesaikan ini, Bu Ketua. Biar hubungan kita benar-benar bersih dari bayangan masa lalu."

Sebelum Kirei sempat menjawab, Arka sudah memutar tubuhnya dan berlari kencang menuju tangga darurat menuju balkon lantai dua!

Di balkon lantai dua, Bima menatap tombol merah di remot tangannya dengan seringai puas.

"Begitu tombol ini gue tekan, sistem ventilasi bakal melepaskan asap dan memicu sinyal kebakaran otomatis ke seluruh kota," gumam Bima liar. "Nama baik SMA Nusantara hancur, dan kelulusan kalian bakal dinodai skandal kriminal!"

"Gak bakal sempat, Bima!"

BRAK!

Pintu tangga darurat terbanting keras. Arka muncul dengan napas memburu, matanya yang tajam mengunci Bima dari jarak lima meter.

Bima tersentak, namun segera menyeringai memprovokasi. Ia mengangkat remot kontrol itu tinggi-tinggi. "Satu langkah lagi, Arka, dan gue bakal pencet tombol ini!"

Arka tidak berhenti. Ia justru melangkah maju dengan gerakan santai namun terukur, memancarkan aura dominan yang membuat Bima mendadak gemetar tipis.

"Tekan aja kalau lo sanggup, Bima," cibir Arka dingin.

"Lo pikir gue main-main?!" pekik Bima, jemarinya siap menekan sakelar merah tersebut.

TAP!

Tiba-tiba, dari balik bayangan tirai balkon di belakang Bima, Farhan muncul dengan gerakan cepat bagai kilat. Kapten tim basket itu langsung memiting kedua tangan Bima dari belakang, mengunci pergerakannya!

"Arka, sekarang!" teriak Farhan.

Arka menerjang maju dalam satu lompatan presisi. Dengan satu gerakan cepat, tangan tegap Arka menyambar remot kontrol dari jemari Bima, lalu membantingnya ke lantai marmer hingga hancur berkeping-keping!

"Lepasin gue! Lepas!" teriak Bima histeris, berusaha memberontak dari cengkeraman Farhan.

Arka berdiri tegak di depan Bima, menatap mantan saingannya itu dengan tatapan dingin tanpa dendam, melainkan hanya rasa kasihan yang mendalam.

"Semuanya udah selesai, Bima," ujar Arka rendah. "Lo kalah bukan karena gue atau Kirei... tapi karena lo membiarkan kebencian menghancurkan diri lo sendiri."

Suara sirene mobil polisi mendungung kencang dari arah halaman depan sekolah, membelah keheningan malam yang basah. Tiga petugas kepolisian bersama kepala keamanan sekolah menerobos masuk ke balkon, langsung memasang borgol besi di kedua pergelangan tangan Bima.

Bima tertunduk lesu, seluruh kemarahannya menguap berganti keputusasaan saat digiring keluar dari lantai dua.

Pukul 11.30 WIB.

Keadaan di luar aula sekolah perlahan kembali kondusif. Mobil polisi melaju pergi membawa Bima. Para siswa dan wali murid yang sempat dievakuasi kembali berkumpul di halaman depan, bersorak lega setelah mendapat kepastian bahwa situasi telah aman sepenuhnya.

Di bawah naungan pohon gazebo taman sekolah yang sepi, Kirei berdiri sendirian, memandangi liontin bintang pemberian Arka yang melingkar cantik di lehernya.

Langkah kaki yang ringan mendekatinya.

Arka berjalan santai dengan tangan dimasukkan ke dalam saku celana jasnya. Wajahnya yang tampan nampak sedikit lelah, namun matanya memancarkan ketenangan yang teramat sangat.

Kirei berbalik, langsung menghambur ke dalam pelukan Arka tanpa peduli lagi denda atau aturan apa pun. Ia memeluk pinggang tegap cowok itu erat-erat, menyembunyikan wajahnya di dada Arka.

Arka tersenyum hangat, membalas pelukan itu dengan rengkuhan yang begitu protektif, mencium puncak kepala Kirei dengan penuh kelembutan.

"Kan gue udah bilang..." bisik Arka rendah di samping telinga Kirei. "...suami lo ini selalu punya cara buat menyelesaikan krisis."

Kirei mendongak, menatap iris cokelat Arka dengan mata yang sedikit berkaca-kaca, lalu tersenyum sangat manis. "Makasih ya, Arka. Buat semuanya."

Arka menundukkan wajahnya, mengusap lembut pipi Kirei yang hangat dengan jemarinya. "Gak ada lagi teror, gak ada lagi rahasia, dan gak ada lagi Bima atau Dion."

"Terus... sekarang apa?" tanya Kirei pelan.

Arka menyunggingkan senyum miring paling tampan yang pernah Kirei lihat, mendekatkan bibirnya hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa milimeter.

"Sekarang... kita mulai kehidupan pernikahan kita yang sebenarnya, Bu Ketua."

Bibir Arka menyatu dengan bibir Kirei dalam sebuah ciuman yang begitu manis, hangat, dan penuh kepastian di bawah naungan kelopak bunga yang berguguran di taman sekolah—menandai akhir dari seluruh badai dan awal dari kisah cinta mereka yang sesungguhnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!