NovelToon NovelToon
Salah Buka Celana, Malah Dinikahi Komandan

Salah Buka Celana, Malah Dinikahi Komandan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta setelah menikah / Menikahi tentara
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mira K.

Cuma niat periksa batu ginjal, si komandan dingin malah "salah dibuka celananya" oleh dokter magang sok berani.
Satu kalimat "saya tanggung jawab", dan Keisha resmi jadi istri kontrak Sang Komandan Meriam—pewaris konglomerat Prawira yang paling ditakuti.

Perjanjiannya: tidak boleh saling sentuh.
Kenyataannya: komandan berhati es itu **tak pernah tahan semalam pun**.

"Katanya kontrak, Pak?"
"Kontraknya," bisiknya sambil menariknya mendekat, "mulai malam ini kita tulis ulang."

Yang mereka kira dokter miskin, ternyata putri konglomerat Wijaya yang hilang.
Yang dikira pernikahan palsu, ternyata jerat paling manis.
**Nyonya Meriam sudah pulang—dan sang serigala tak akan melepasnya lagi.**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12

Bab 12

Lamaran

Ruang tamu Bu Sukma terlalu kecil untuk seluruh seserahan yang dibawa keluarga Arya.

Kotak perlengkapan salat, kain, buah, kue, dan perawatan diri tersusun di atas meja sampai ke rak dekat jendela. Keisha sudah meminta acara sederhana. Eyang Menur menjawab bahwa sederhana tidak sama dengan datang bertangan kosong.

"Ini bahkan tidak sederhana menurut kamus mana pun," bisik Keisha.

Arya berdiri di sampingnya mengenakan batik gelap. "Eyang menghapus tiga kotak."

"Masih ada sembilan."

"Berarti beliau menahan diri."

Bu Sukma menyambut Ratna dan Eyang Menur sebagai pihak keluarga Keisha. Anindita tidak mungkin hadir, sedangkan Herman sengaja tidak diberi undangan. Kursi kosong dengan foto Anindita diletakkan di dekat Keisha, cukup untuk membuat matanya panas setiap kali melihatnya.

Acara dimulai dengan doa dan maksud kedatangan keluarga Arya. Ratna berbicara formal, menyampaikan niat putranya melamar Keisha dan meminta persetujuan keluarga.

Bu Sukma menggenggam tangan Keisha sebelum menjawab. "Icha sudah dewasa dan memilih sendiri. Saya hanya mewakili orang yang paling ingin melihatnya bahagia."

Bu Sukma lalu menoleh langsung kepadanya. "Jawaban tetap harus keluar dari mulutmu. Tidak ada yang menjawab untukmu."

Keisha memandang foto Anindita, kemudian Arya. Pria itu tidak mengangguk atau memberi tanda. Ia menunggu tanpa menekan, membiarkan keputusan itu benar-benar terdengar sebagai keputusan Keisha.

"Saya menerima lamaran ini," katanya. "Dengan kesadaran dan pilihan saya sendiri."

Kata-kata itu tidak sepenuhnya menggambarkan alasan di baliknya, tetapi juga bukan kebohongan. Ia memang memilih jalan ini setelah menimbang dua jurang.

Ratna meminta Arya menyampaikan niatnya sendiri.

Arya duduk lebih tegak. "Saya datang untuk meminta izin mengenal dan menjaga Keisha dalam jalan yang sah. Saya akan menghormati pekerjaannya, tanggung jawabnya kepada Mama, dan batas yang telah kami sepakati."

Keisha menoleh. Kalimat terakhir jelas ditujukan kepadanya, bukan kepada ruangan.

Bu Sukma mengamati Arya lama. "Kalau suatu hari Icha menangis karena kamu?"

"Saya dengarkan alasannya dan memperbaiki kesalahan saya."

"Kalau kamu yang membuatnya menangis?"

"Saya tetap memperbaikinya."

"Jawaban aman," gumam Bu Sukma.

Eyang Menur tersenyum. "Setidaknya cucu saya bisa dilatih."

Suasana menghangat. Salah satu kotak seserahan berisi mukena putih dengan sulaman kecil, bukan barang mewah yang berlebihan. Kotak lain membawa resep kue buatan Eyang dan sebuah kain lama keluarga yang diberikan sebagai tanda penerimaan, bukan pemindahan hak.

"Tidak ada mahar di sini," jelas Ratna. "Mahar dibicarakan untuk akad. Hari ini hanya niat baik antarkeluarga."

Keisha mengangguk. Pemisahan itu membuat proses terasa lebih nyata dan lebih menghormati daripada pertunjukan Pak Sugiarto kemarin.

Keisha menunduk. Di bawah meja, jari Arya menyentuh tepi kursinya, tidak menyentuh tubuh Keisha tetapi cukup dekat untuk membuatnya merasa tidak sendirian.

Eyang Menur memasangkan cincin tanda lamaran sederhana ke jari Keisha. Bukan cincin pernikahan, hanya simbol bahwa kedua keluarga telah sepakat melanjutkan proses.

"Selamat datang," bisik Eyang. "Jangan takut pada wajah cucu Eyang. Dia lebih keras di luar daripada di dalam."

Keisha melirik Arya. "Saya belum menemukan bagian dalamnya."

"Cari pelan-pelan."

Pintu depan terbuka sebelum Keisha sempat menjawab.

Herman masuk tanpa salam, diikuti Della. Wajahnya merah dan napasnya berat, seolah berita lamaran adalah penghinaan pribadi.

"Acara keluarga anak saya diadakan tanpa mengundang saya?"

Bu Sukma berdiri. "Kami tidak mengundang orang yang menjual anaknya untuk menutup utang."

Della menatap kotak seserahan. Rasa iri melintas jelas sebelum ia memasang wajah terluka. "Mas, kita datang baik-baik. Jangan buat keributan."

"Saya wali Keisha," kata Herman. "Tidak ada pernikahan tanpa persetujuan saya."

Keisha bangkit. "Pak Herman adalah suami Mama dan wali untuk keputusan medis tertentu. Itu tidak memberi hak menentukan siapa yang saya nikahi."

"Namamu ada dalam keluarga saya."

"Saya sudah dewasa. Dan Pak Herman bukan ayah kandung saya."

Herman menunjuk Arya. "Kamu bahkan tidak tahu siapa laki-laki ini. Berapa banyak uang yang dia berikan sampai kamu mau menikah?"

Ruangan menegang. Bu Sukma memegang lengan Keisha. Ratna tampak hendak bicara, tetapi Arya lebih dulu berdiri.

Ia tidak meninggikan suara.

"Proses akad kami sudah dikonsultasikan dengan KUA," katanya. "Karena ayah biologis Keisha tidak diketahui dan ayah angkat bukan wali nasab, KUA akan memeriksa dokumen dan menetapkan wali hakim sesuai prosedur. Klaim Bapak tidak menghentikan perkawinan."

Wajah Herman berubah.

"Jangan sok mengajari saya hukum keluarga."

"Kalau begitu jangan mencampur hak wali medis istri Bapak dengan hak menikah perempuan dewasa."

Keisha menoleh kepada Arya. Dingin di suaranya sama seperti di ruang pemeriksaan, tetapi kali ini ketajaman itu diarahkan untuk melindunginya.

Herman tertawa pendek. "Kamu pikir bisa mengambil Keisha lalu ikut mencampuri perusahaan saya?"

"Griya Anindita bukan perusahaan Bapak seorang." Arya mengambil satu salinan dokumen dari meja samping. "Invoice tanpa bukti penerimaan, pengakuan utang berbunga tidak wajar, dan pengeluaran renovasi pribadi akan diaudit. Kalau Bapak mengganggu lamaran ini, auditnya tidak berhenti. Justru semakin cepat."

Della mencengkeram lengan Herman. "Mas."

Untuk pertama kalinya, Herman memandang Arya dengan sedikit waspada. Mungkin baru sekarang ia menyadari laki-laki yang dianggap pacar sembarangan Keisha memiliki notaris, pengacara, dan akses dana yang tidak kecil.

Ratna menegakkan bahu. "Kami datang menghormati Keisha dan keluarganya. Kalau Pak Herman ingin bicara sebagai orang tua, jaga martabatnya. Kalau datang untuk mengancam, pintu ada di belakang."

Eyang Menur menambahkan, "Anak bukan barang pelunas utang. Orang seusia saya saja tahu itu."

Dua kalimat dari dua perempuan itu menutup semua jalan Herman untuk mempertahankan muka.

Keisha menatapnya. "Saya menerima lamaran Arya atas pilihan saya. Pak Herman tidak punya suara dalam keputusan ini."

Herman melangkah mendekat. Arya berpindah setengah langkah, cukup untuk berdiri di antara mereka tanpa menyentuh Keisha.

"Jangan dekati dia dengan amarah," katanya.

Tidak ada ancaman terang-terangan. Namun Herman berhenti.

Della menariknya menuju pintu. "Kita pergi, Mas."

Setelah mereka keluar, suasana tidak segera pulih. Keisha baru sadar telapak tangannya dingin. Arya kembali ke sisinya dan meletakkan segelas air di depan tanpa bertanya.

"Terima kasih," ucapnya pelan.

"Kita satu pihak sekarang."

Kalimat itu seharusnya terdengar seperti kontrak. Aneh, dada Keisha justru menghangat.

Acara dilanjutkan. Keluarga menyepakati akad dua minggu lagi setelah administrasi KUA, wali hakim, saksi, dan pemeriksaan dokumen selesai. Resepsi akan dibuat terbatas sesudahnya.

Saat Ratna membicarakan warna pakaian, Keisha melihat keluar jendela.

Herman masih berdiri dekat mobil. Della sudah masuk, tetapi ia menunggu sampai pandangan Keisha bertemu dengannya. Senyum tipis muncul di bibirnya.

"Semoga cucian keluarga tidak sampai terbuka," katanya cukup keras dari halaman. "Terutama soal bagaimana Anin mengalami kecelakaan."

Ia masuk ke mobil dan pergi, meninggalkan rasa dingin yang tak hilang meski tangan Keisha masih memegang gelas hangat.

1
paijo londo
Yee si mantan datang ngeclaim kalo Arya punyanya g malu tuh muka badak padahal udah ditolak ma Arya juga🤦🤦
paijo londo
asyiiik Keisha masuk ke sangkar emasnya Arya 😍😍😍moga2;g ada perceraian
paijo londo
ya ampun pertemuan pertama yg menggelikan bikin jantung bedebar🤭🤭🤭salah diagnosis lagi🤦🤦
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!