Sejak ibunya menikah lagi, Aria terpaksa tinggal serumah dengan kakak tirinya, Lucien Ashford, pria yang nyaris sempurna di mata semua orang. Tampan, sopan, dan selalu hadir saat Aria membutuhkan bantuan.
Awalnya, Aria mengira Lucien hanya menjalankan perannya sebagai seorang kakak.
Sampai ia menyadari satu hal.
Lucien selalu tahu ke mana ia pergi.
Selalu muncul di waktu yang tepat.
Dan perlahan, semua orang yang mencoba mendekatinya mulai menghilang dari hidupnya.
Saat Aria berusaha mencari jawaban, ia justru menemukan rahasia yang jauh lebih mengerikan.
Lucien ternyata telah mengenalnya jauh sebelum mereka menjadi keluarga.
Kini Aria harus memilih, tetap tinggal di rumah yang perlahan berubah menjadi sangkar, atau melarikan diri dari seseorang yang tidak pernah berniat melepaskannya.
"Di rumah ini, tidak ada yang lebih berbahaya daripada seseorang yang mengaku ingin melindungimu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fatimah Azzahra Al-aini Sarabiti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Sinar matahari pagi menembus celah-celah pendaran awan kelabu yang tersisa di atas Laut Karibia. Badai Hecate telah berlalu, meninggalkan jejak kerusakan di sekitar pulau, pohon-pohon palem yang tumbang, dedaunan basah yang berserakan, dan deburan ombak yang perlahan kembali tenang. Di dalam kamar utama vila, badai lain baru saja menyisakan puing-puing kewarasan.
Clara terbangun dengan tubuh yang terasa begitu berat dan membakar. Suhu tubuhnya melonjak tinggi akibat terpaan hujan lebat dan angin dingin semalam. Setiap kali ia mencoba menggerakkan jemari tangannya, rasa perih menyengat dari luka-luka goresan ranting dan batu tajam di telapak kaki serta lututnya.
Ia berbaring di atas tempat tidur kingsize, dibungkus selimut bulu tebal berwarna putih bersih. Pakaian sutra hitamnya yang robek dan berlumpur telah diganti dengan gaun tidur berbahan katun lembut yang longgar.
Di pergelangan tangan kirinya, sebuah gelang pelacak baru berwarna perak gelap versi yang lebih kokoh dengan indikator lampu merah yang menyala stabil telah melingkar kembali.
Generator darurat vila telah berfungsi, dan sistem keamanan otomatis kembali beroperasi penuh dengan proteksi ganda. Pintu kamar mandi terbuka. Kenzo melangkah keluar membawa mangkuk berisi air hangat dan selembar handuk kecil. Pria itu hanya mengenakan celana kain santai dan kemeja putih yang lengan bajunya digulung hingga ke siku, memperlihatkan lengannya yang kokoh.
"Jangan coba-coba untuk duduk,"
ujar Kenzo dingin seraya berjalan mendekati tempat tidur.
Pria itu meletakkan mangkuk di meja samping kasur, lalu duduk di tepi pembaringan.
Clara memalingkan wajahnya ke arah dinding kaca yang menampilkan lautan lepas. Tenggorokannya terasa sangat kering, dan kepalanya berdenyut nyeri. Ia bahkan tidak punya tenaga lagi untuk memberikan tatapan benci pada pria di sampingnya.
Kenzo memeras handuk basah, lalu membalurnya dengan lembut di atas dahi Clara yang panas. Gerakannya begitu hati-hati, teramat protektif, menciptakan kontras yang mengerikan dengan kekejaman perburuannya di tengah hutan semalam.
"Suhu tubuhmu tiga puluh sembilan derajat,"
kata Kenzo, suaranya rendah dan tenang.
"Dokter pribadi kita sedang dalam perjalanan menggunakan helikopter dari pulau utama untuk memeriksa kondisi parumu."
"Aku tidak butuh doktermu"
suara Clara parau dan nyaris tenggelam oleh deru napasnya yang berat.
Kenzo menghentikan usapan handuknya sejenak. Pria itu menunduk, menatap wajah pucat Clara dengan manik mata yang gelap tanpa emosi yang bisa dibaca.
"Kau butuh apa pun yang kukatakan kau butuhkan, Clara,"
balas Kenzo mutlak.
Pria itu menyusupkan tangannya ke bawah leher Clara, mengangkat kepala gadis itu sedikit untuk menyodorkan cangkir berisi obat penurun panas.
"Minum ini."
Clara memejamkan mata erat-erat, merapatkan bibirnya. Kenzo tidak kehilangan kesabaran. Pria itu meletakkan cangkir obat, lalu merangkak naik ke atas kasur dan menindih tubuh Clara secara perlahan, mengurung gadis itu di antara kedua lengan bidangnya. Tatapannya terkunci tepat pada mata Clara yang kusam.
"Aku sudah memberitahumu semalam, Clara," bisik Kenzo tepat di depan bibir Clara yang kering.
"Perlawanan nekatmu di tengah badai tidak menghasilkan apa-apa selain rasa sakit untuk tubuhmu sendiri. Kau tidak bisa kabur dariku,"
"Kenapa kau tidak biarkan aku mati saja...?"
air mata dingin meluncur menyusuri pipi Clara yang demam, membasahi jemari Kenzo yang menangkup rahangnya.
"Karena kematianmu berarti kehilanganmu," jawab Kenzo tanpa ragu. Pria itu menunduk, mencium air mata di pipi Clara dengan kecupan-kecupan halus yang terasa posesif. "Dan aku tidak akan pernah membiarkan dunia mengambilmu dariku. Kau adalah bernapas atau matinya aku, Clara. Jika kau mati, aku akan memastikan kita mati bersama."
Kata-kata itu tidak diucapkan dengan nada marah. Itu diucapkan sebagai sebuah kebenaran mutlak yang meluncur santai dari bibir seorang pria yang jiwanya telah dikuasai obsesi gelap.
Clara mencengkeram kain seprai di bawah tubuhnya. Pengakuan itu terasa seperti belenggu jiwa yang jauh lebih berat daripada rantai besi apa pun. Di dalam benaknya yang melemah, benteng pertahanannya yang terakhir runtuh. Ia menyadari kenyataan pahit bahwa Kenzo benar, tidak ada pahlawan yang akan datang menyelamatkannya, tidak ada keajaiban alam yang bisa membebaskannya. Ia sepenuhnya terperangkap dalam sangkar ini.
Kenzo kembali meraih cangkir obat, menyodorkannya ke bibir Clara. Kali ini, Clara tidak lagi memalingkan wajahnya. Dengan kepasrahan yang hampa dan mata yang menatap kosong ke dada bidang Kenzo, Clara membuka mulutnya dan membiarkan cairan obat pahit itu mengalir masuk ke tenggorokannya.
Kenzo tersenyum puas, sebuah senyuman tampan. Pria itu mengusap sudut bibir Clara dengan ibu jarinya, lalu memberikan kecupan dalam di bibir gadis itu sebagai imbalan atas ketaatannya.
Siang harinya, setelah dokter pribadi selesai memberikan suntikan vitamin dan antibiotik, Clara tertidur lelap akibat pengaruh obat.
Kenzo duduk di kursi santai di samping tempat tidur, memangku laptop kerjanya seraya terus memperhatikan setiap helai napas Clara. Pintu vila kini dijaga oleh empat orang pengawal bersenjata yang ditempatkan di perimeter luar untuk memastikan tidak ada lagi celah keamanan yang luput dari pengawasan.
Ketika matahari mulai terbenam di balik garis pantai Karibia, memancarkan warna jingga keemasan yang memantul di dinding kaca kamar, Clara perlahan terbangun. Demamnya telah sedikit mereda, namun tubuhnya masih terasa lemas.
Ia merasakan kehangatan di sampingnya. Kenzo telah berbaring di sampingnya, melingkarkan lengan kokohnya di pinggang Clara dan menarik tubuh gadis itu agar merapat tanpa jarak ke dadanya. Kepala Clara bersandar tepat di atas dada bidang Kenzo, mendengarkan detak jantung pria itu yang teratur dan tenang.
Clara tidak mencoba mendorongnya. Ia tidak lagi bergerak menolak. Ia hanya menatap pendaran warna jingga matahari terbenam di luar jendela kaca raksasa. Kebebasan yang dulu begitu ia perjuangkan kini terasa seperti mimpi masa kecil yang jauh dan kabur. Di dalam dekapan hangat pria yang paling dibencinya sekaligus satu-satunya manusia yang memegang kendali atas napasnya ini, Clara menyadari bahwa Fase perlawanan fisiknya telah usai.
"Kau sudah bangun, Dear?"
bisik Kenzo seraya menyusupkan jemari tangannya ke dalam helai rambut panjang Clara, mengecup puncaknya dengan penuh kasih sayang yang posesif.
"Iya..."
sahut Clara sangat pelan, hampir berupa bisikan hampa.
Kenzo mempererat pelukannya, menyesap aroma tubuh Clara yang kini bercampur dengan wangi minyak terapi.
"Pulau ini indah, bukan? Kita akan menghabiskan waktu yang sangat lama di sini."
Clara tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya memejamkan matanya, membiarkan dirinya tenggelam dalam kehangatan berbahaya dari dada Kenzo, menyadari bahwa hidupnya kini resmi memasuki babak baru, sebuah kehidupan sebagai milik mutlak Kenzo di bawah cengkeraman obsesi yang takkan pernah melepaskannya.