kisah sepasang suami istri yang menyerah di tahun kedua pernikahan karena terlalu banyaknya pertengkaran diantara mereka.
pernikahan yang diawali dengan sebuah perjodohan antara Seraphina Anastasya dengan seorang pria dingin bernama Dikta Rey Ibrahim membuat keduanya mengalami konflik berkepanjangan dan yang diperparah oleh Dikta yang dengan sengaja tetap menjalin hubungan dengan kekasih pria itu yakni Delara Sasmita yang berujung pengkhianatan oleh Delara dengan berselingkuh dibelakang Dikta.
setelah 5 tahun, Dikta dan Sera dipertemukan kembali karena sebuah kecelakaan yang tidak disengaja oleh Sera sehingga dirinya diharuskan bertanggungjawab atas Dikta.
yuk simak kisahnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
perbincangan
Gavin melangkah santai menuju kantin rumah sakit, secangkir kopi panas di tangan kanannya.
Ia baru saja dari ruang rawat Dikta. Sahabatnya itu masih saja menahan wajah masam karena acaranya dan Sera terganggu oleh dirinya.
Sambil menggeleng pelan, ia berniat mengambil sedikit udara segar sebelum kembali ke kantor.
Baru saja melangkah melewati deretan meja, pandangannya tertuju pada sesosok perempuan yang duduk sendirian di sudut ruangan. Kepala tertunduk pelan, jemari lembut memegang cangkir kopi yang masih mengepulkan uap hangatnya.
Wajahnya tampak lelah namun tetap memancarkan ketenangan yang jarang ia temui dulu. Ada perpaduan manis dan tegas pada raut wajah itu, seolah sedang menanggung beban berat namun tak sekalipun berniat menyerah.
Langkah Gavin terhenti seketika.
Perempuan itu menengok ke arahnya seakan merasakan pandangan yang tertuju padanya. Saat mata mereka berpapasan, sejenak keheningan menyelimuti di antara keduanya.
"Maaf... Boleh aku duduk disini?" ucap Gavin pelan, berjalan mendekat sedikit.
Sera terkejut sedikit, lalu mengangguk pelan sambil berdiri. "Iya, Silahkan"
"Lama tak bertemu, bagaimana kabarmu?" tanya Gavin membuka pembicaraan.
Matanya menatap lekat wajah perempuan di hadapannya, menyadari sesuatu yang baru saja ia pahami, inilah perempuan yang selama ini tak pernah lepas dari pikiran Dikta, dan kini duduk tepat di hadapannya dengan segala kesederhanaan yang memukau.
"Aku tak menyangka akan bertemu denganmu di sini. Dikta... dia belum banyak bercerita, tapi aku tahu kehadiranmu berarti banyak baginya."
Wajah Sera sedikit memerah, ia menunduk sejenak sebelum kembali menatap Gavin. "Aku yang menyebabkan Dikta dirawat dirumah sakit ini... Malam itu, aku tak sengaja menabrak mobilnya yang terparkir di sisi jalan... Dan sekarang, aku sedang bertanggungjawab atas kelalaian ku hingga nantinya Dikta sembuh dan bisa kembali beraktifitas..."
Gavin tersenyum lebih lebar kali ini, menatap tulus ke dalam manik mata itu. "Hanya sampai dia sembuh...? Padahal Dikta berharap kau tetap disini selamanya...." gumam Gavin pelan nyaris tak terdengar.
Sera menaikkan sebelah alisnya, berusaha menangkap makna kalimat Gavin barusan.
"Bagi seseorang yang merindukanmu setiap hari, kehadiranmu adalah hal yang paling istimewa, Seraphina." ucap Gavin setelahnya.
Suasana seketika menjadi terasa sedikit canggung di antara mereka. Gavin menyadari betapa berharganya pertemuan tak terduga ini, dan semakin paham mengapa sahabatnya begitu sulit melepaskan bayang-bayang perempuan di hadapannya itu.
Sera semakin mengeratkan pegangan cangkir kopinya.
"Merindukan, paling istimewa? Bukankah itu sangat berlebihan, Gavin?"
Suara Seraphina terdengar pelan, nyaris tertelan oleh hembusan angin sore yang membelai jendela kantin.
Matanya menatap ke luar, membiarkan pandangannya tersesat pada orang-orang yang berlalu-lalang, tak berani menatap laki-laki di hadapannya itu.
"Dikta bahkan selama ini tak pernah menatap ke arahku."
Gavin menghela napas panjang, menatap wajah gadis itu yang tampak begitu rapuh di balik senyum tipis yang dipaksakan.
"Kau tak tahu apa yang tersembunyi di balik sepasang mata itu, Sera," ucap Gavin lembut. "Terkadang seseorang diam bukan berarti tak peduli. Bisa jadi hatinya justru sedang bergejolak hebat, namun egonya terlalu tinggi untuk mengakuinya."
Seraphina menggeleng pelan, lalu tertawa kecil yang terdengar getir.
"Kau terlalu baik dalam menenangkan hati orang, Gavin. Tapi aku tahu kenyataannya. Selama bertahun-tahun, aku hanya bayang-bayang yang lewat di sudut pandangnya. Tak pernah sekalipun ia berhenti, tak pernah sekalipun matanya tertuju padaku sebagaimana ia menatap perempuan yang ia cintai dulu."
Jari-jemari Seraphina meremas dinding cangkirnya perlahan, menahan sesak yang kembali merambat di dada.
"Bagaimana mungkin aku menjadi yang paling istimewa, padahal aku bahkan tak pernah cukup untuk sekadar ia perhatikan? Rindu ini... rasanya seolah aku memeluk bayangan. Ia tak terasa, tak terjamah, namun tetap saja memenuhi seluruh ruang hatiku."
Suaranya pecah pelan.
"Dan itu menyakitkan, Gavin. Menyakitkan sekali terus berharap pada seseorang yang bahkan tak sadar akan keberadaanku."
Gavin diam sejenak, sebelum akhirnya berkata dengan lembut namun tegas.
"Mungkin ia belum menatapmu dengan matanya. Tapi siapa yang tahu? Bisa jadi hatinya justru sudah lama mengenali keberadaanmu, lebih dulu daripada matanya menyadarinya."
"Sudahlah Gavin... Aku dan Dikta sudah berpisah lebih dari lima tahun... Dan sekarang kami sudah memiliki hidup masing-masing..."
Baru saja Gavin akan membuka mulutnya, matanya terpaku pada layar ponsel Sera.
Ada nama Arga tertera disana.
"Aku pergi dulu.. Titip Dikta sebentar, nanti sore aku akan kembali... " ucap Gavin berdiri membawa sisa kopinya. Membiarkan Sera untuk menjawab panggilan tersebut.
Di pintu kantin, Gavin kembali menoleh kearah Sera yang sedang tertawa kecil dengan ponsel di sisi telinganya.
Gavin ingat, Arga adalah dosen pembimbing skripsi Sera.
Tapi dia tak tahu jika hubungan mereka cukup dekat hingga bisa membuat Sera tertawa lepas.
"Kau harus berjuang lebih ekstra Dikta.... Kau harus bisa menaklukkan hati Sera dan bersaing dengan kekasihnya...." batin Gavin.
bersambung....
Ditunggu crazy up nya💪