Kisah dimulai dari Aylin yang dari SMP jatuh cinta kepada Jayden, teman mainnya saat kecil.
Tapi Jayden selalu menghindari dan menjauhinya.
Aylin yang selalu percaya dan berharap suatu saat Jayden akan membalas cintanya.
Sampai suatu hari saat perjalanan hidup dan takdir merubah Aylin, yang hilang rasa percaya dan harapannya untuk mendapatkan cinta Jayden lagi.
Perjalanan yang telah merubah kehidupan Aylin, juga akhirnya merubah banyak sifat Aylin saat dewasa.
Akankah cinta Aylin berubah dan berpindah ke yang lain?
Buat yang penasaran, ayo dibaca cerita cinta yang romantis dan dibumbui komedi ini.
Selamat membaca dan semoga terhibur
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anny Djumadi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Liburan panjang
Akhirnya liburan tiba. Liburan kali ini Aylin sekeluarga belum ada rencana ke mana-mana.
Biasanya ibunya sebelum liburan saja sudah heboh mau ke mana.
Sesudah beberapa hari di rumah Aylin baru sadar, kalau orang tuanya sepertinya sedang sibuk sekali.
Biasanya kalau dia sekolah , dia tidak sadar kalau orang tuanya sibuk, karena sibuk dengan jadwalnya sendiri.Selain jadwal pelajaran, extrakurikuler, dan les narinya, dia juga punya jadwal khusus mengintip kak Jay nya.
Kadang dia berdiri di teras lantai 2 rumahnya hanya untuk melihat kak Jay yang entah pulang dari sekolah ataupun extrakurikulernya.
Tapi akhir-akhir ini Aylin merasa dia seperti pengangguran berat, kerjanya cuman makan, tidur dan melamun saja.
Jadwalnya yang masih jalan cuman menari saja, itupun cuman seminggu 3 kali.
Bahkan jadwal dia untuk melihat kak Jay pun sudah tidak ada lagi.
Jayden kuliah di kota yang berbeda, walaupun tidak ke luar negri.
Dan Jayden sudah berangkat dulu untuk menyiapkan tempat kostnya.
Waktu berangkat Aylin mengantar kepergian Jayden, walaupun Jayden mengatakan tidak perlu.
Jayden berangkat dengan mobil pribadi, Ibunya memberikan Jayden mobil agar lebih mudah ke mana-mana.
Aylin menyiapkan sebuah hadiah bulpen untuk Jay.Itupun masih ditolak, untung saja mama Jayden memihak Aylin dan memaksa Jayden untuk menghargai pemberian Aylin sebagai kenang-kenangan.
Aylin berusaha menahan air matanya yang hampir mengalir, untung akhirnya kak Jay mau menerima hadiahnya.
Entah karena mamanya yang memaksanya atau melihat mata Aylin yang berkaca-kaca.
"Tapi apa mungkin Kak Jay tahu matanya berkaca-kaca?', Kadang Aylin suka kesal sendiri pada matanya yang gak bisa diajak kompromi,dan sifatnya yang cengeng.
Entah mengapa juga dia gampang merasa sedih dan menangis.
"Huh kak Jay boro-boro tahu, lihat saja enggak, ke GR an sendiri!", Aylin mengomeli dirinya sendiri.
Cika waktu pertama masih sering main ke rumahnya, tapi akhir-akhir ini enggak karena sedang ke rumah neneknya di kampung.
Chandra juga ada beberapa kali ke rumah Aylin, dan mengajak Aylin pergi, tetapi Aylin selalu menolak. Entah mengapa, Aylin merasa kalau pergi dengan cowok berdua saja dia seperti mengkhianati kak Jay.
Lucu kan? padahal dia bukan pacarnya kak Jay.
Mungkin sering ditolak, akhirnya Chandra sudah lama juga tidak ke rumahnya.
Padahal kadang ngobrol dengan Chandra seru juga, karena orangnya juga lucu dan menghibur, yang pasti dia suka memuji Aylin. Cewek mana yang tidak suka dipuji?
Tapi karena Aylin tak ingin Chandra salah sangka, akhirnya dia menjaga jarak.
Karena tidak ada kegiatan yang pasti, akhirnya Aylin pun mulai mengikuti kegiatan orang tuanya.
Ternyata setelah beberapa hari memperhatikan orangtuanya, dia baru sadar kalau perusahaan orang tuanya sedang mengalami kesulitan.
Aylin baru tahu kalau perusahaan orangtuanya dalam krisis, bahkan mendekati kebangkrutan.
Ternyata banyak pegawai yang sudah di PHK, dan produksi sudah tidak berjalan.
Aylin masih kecil untuk mengerti apa yang terjadi, yang jelas mulai banyak barang yang dijual. Mobil dirumahpun sudah tinggal satu.
Tapi ayah dan ibunya tidak ada yang memberitahunya, karena mereka terlalu sibuk, jadi Aylin tahu dari mendengarkan pembicaraan orang tuanya.
Entah kejadiannya yang cepat atau mungkin sebenarnya keadaan sudah lama seperti ini, dan Aylin baru tahu sekarang.
Semua berjalan cepat, tahu-tahu rumah merekapun sudah disita Bank. Akhirnya mereka sekeluarga pindah ke rumah yang kecil dan agak jauh dari perkotaan.Tapi ibunya masih sering menghibur berkata,
"Gak apa-apa, minimal kita masih punya rumah sendiri".
Sedangkan Ayahnya hanya terdiam tidak berkata apa-apa.Saat seperti ini, Aylin baru sadar kalau sifatnya lebih mirip ibunya yang optimis.
Aylin akhirnyapun tidak melanjutkan di sekolahnya yang lama, karena letak rumahnya yang baru sudah jauh dari sekolahnya yang dulu.
Dan sekolahnya yang lama termasuk sekolah yang mahal untuk keadaan keluarganya saat ini.
Aylin berusaha tegar dan tidak mengeluh, walaupun berat untuk dia, karena dia biasanya hidup enak, dan dia sadar ayah ibunya pasti lebih sedih lagi sudah kehilangan perusahaan mereka yang sudah berjalan puluhan tahun.