Lima tahun menjalin hubungan dengan Marcella, hidup Doni terasa begitu tenang. Marcella adalah definisi wanita ideal. Cantik, cerdas, anggun, dan penuh perhatian. Doni yakin masa depannya sudah terkunci pada wanita itu. Namun, keyakinan tersebut mendadak goyah saat suatu hari dia bertamu ke rumah kekasihnya itu, dan bertemu dengan adik kandungnya.
Olivia namanya. Sifatnya bertolak belakang dengan sang kakak. Enerjik, meletup-letup, dan sporty. Pertemuan pertama disambung dengan pertukaran pesan sampai tengah malam menyalakan percikan rasa yang salah di hati Doni. Muncul kedekatan rahasia yang melahirkan dilema: bertahan demi cinta yang telah dijalin lama, atau hanyut oleh debaran baru yang lebih memicu adrenalin.
Terjebak dalam rasa bersalah, Doni melarikan diri dengan menumpahkan seluruh kegelisahan dan rahasianya menjadi sebuah cerita fiksi di NovelToon. Ironisnya, novel itu justru viral dan ikut dibaca oleh kedua saudari itu. Di antara dua rasa, siapakah yang akan terluka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denny Ramdhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: Malam yang Tegang
Sementara itu, di belahan kota yang lain, motor Doni baru saja meluncur masuk ke area parkiran kosannya sendiri. Sebelum dia sempat mematikan mesin, ponsel di saku celananya bergetar panjang. Dia buru-buru merogohnya, mengira itu adalah chat darurat dari Marcella yang mungkin memergoki aksinya. Namun, nama yang muncul di layar ternyata adalah Rian, teman satu kelompok tugasnya. Dia baru ingat, setelah dia mengantar Olivia pulang ke rumahnya, dia seharusnya kembali ke kosan Adit untuk melanjutkan tugas kelompoknya, bukan malah pulang ke kosannya sendiri.
Doni membuka pesan tersebut dengan perasaan was-was. Dia sudah bersiap karena pasti dia akan dimarahi oleh Rian, atau mungkin lebih buruk, dia bisa dikeluarkan dari kelompok dan berpotensi mendapatkan nilai jelek di mata kuliah itu.
Don, lo kemana aja sih dari tadi? Katanya bentar doang! Ini yang lain udah pada mau balik nungguin lo dari tadi. Untung dikumpulinnya masih minggu depan. Kalo nggak, gue coret nama lo dari kelompok biar lo nggak dapet nilai wkwkw
Besok kita mau ngumpul lagi di kampus sekitar jam 2an buat nyelesaiin sisanya. Soalnya kalo bagian coding lo nggak ada juga nggak bakalan jadi project kita. Makanya lo besok wajib dateng ya! Awas aja kalo nggak. Gue coret beneran nama lo, liat aja!
Doni menghembuskan napas panjang, separuh bebannya terangkat. Untungnya, Rian adalah salah satu teman akrab Doni dari awal masuk kampus. Tak jarang juga, Rian membantu dan berbagi ilmu kepada Doni di beberapa mata kuliah. Meskipun ada nada ketus dan ancaman khas mahasiswa dari Rian, Doni sangat bersyukur Rian dan teman-temannya yang lain masih mau memaklumi dan memberinya kesempatan besok siang. Doni juga merasa beruntung karena tugas kelompoknya yang sedari sore tadi dia tinggalkan belum akan dikumpulkan besok. Kalau tidak, dia pasti akan benar-benar didepak malam ini juga.
Sori banget yan. Tadi beneran ada urusan darurat keluarga yang nggak bisa ditunda. Besok pasti gue ikut ngumpul kok. Janji! Kalo perlu jam 9 pagi gue udah standby di kampus. Terima kasih banyak temanku yang baik hati! Ntar kalo project kita selesai, gue traktir makan deh, buat nebus kesalahan gue yang tadi.
Doni mengetik pesan balasannya sambil tersenyum lega sampai-sampai dia berani mengorbankan uang makan siangnya demi menebus rasa bersalahnya kepada teman baiknya itu. Setelah menekan tombol kirim, Doni mematikan mesin motornya. Dia melangkahkan kakinya ringan menuju kamar kosnya. Namun, sesampainya di depan pintu, keheningan malam langsung menyergapnya. Dia menyadari di tangan kanannya ada beban berat yang sudah dia tenteng sejak dia turun dari motor tadi.
Brak!
Doni melempar tas olahraga milik Olivia itu ke lantai kamar kosnya yang sempit begitu pintu berhasil dikunci. Dia melepaskan helm dengan kasar, lalu menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur busa tanpa seprai miliknya. Napasnya masih memburu, efek dari aksi berkendara ekstrem membelah angin malam demi menghindari taksi Marcella tadi.
Malam ini, dia berhasil selamat dari Marcella. Tapi harga yang harus dibayarnya terlampau mahal. Dia baru saja menggadaikan ketenangannya di masa depan kepada seorang gadis SMA berusia tujuh belas tahun yang ternyata memiliki otak seperti penjahat-penjahat di film superhero. Dia berbaring di atas kasurnya, mencoba memejamkan mata dengan menutupnya dengan lengannya. Dia berpikir untuk menunda tugas cucian itu menjadi besok pagi. Malam ini dia terlalu lelah.
Drrt... drrt...
Belum sempat dia memejamkan mata, ponselnya bergetar pendek. Layar ponselnya menyala, menampilkan sebuah notifikasi pesan dari nomor tanpa nama, namun Doni tahu persis siapa pemiliknya.
Kak Cella udah masuk kamar. Alibi aman. Selamat mencuci baju dan handuk aku ya, Kak Asisten. Jangan lupa dikasih pewangi yang banyak. 😉
Doni merasakan emosinya kembali naik ke ubun-ubun. Rasa kantuk yang sudah mulai muncul tadi, kini menguap. Dia mencengkeram ponselnya dengan sangat keras, hampir mematahkannya. Gadis itu luar biasa kejam. Dia bahkan tahu cara meneror Doni dari jarak jauh di saat Doni mengira siksaannya sudah berakhir.
Dia kemudian bangkit dan terduduk di tepi kasur. Pandangannya tertuju pada tas olahraga di dekat pintu itu seolah benda itu adalah bom waktu yang aktif. Dia tidak punya pilihan lain. Aroma tidak sedap yang berasal dari tas itu mulai menyerebak dan memenuhi kamar kosnya yang pengap. Jika tidak dikerjakan sekarang, bisa-bisa dia malah semakin tidak bisa tidur karena aroma itu. Ditambah lagi, dia sudah berjanji kepada Rian untuk datang ke kampus lebih awal besok pagi. Dia kemudian melirik ke arah meja belajarnya, di mana tumbler biru milik Olivia masih berdiri tegak, bersanding dengan miliknya sendiri. Kini, barang bukti kejahatannya bertambah satu lagi di lantai.
“Sialan. Kenapa hidup gue jadi kayak gini, sih?!” umpat Doni, mengacak rambutnya sendiri dengan frustrasi.
Walaupun dia merasa terhina karena diperalat oleh seorang gadis SMA, dia tidak punya pilihan. Olivia bukan gadis SMA biasa. Dia tidak dapat diprediksi. Bisa saja besok pagi dia langsung datang ke kosan Doni dan menanyakan tasnya. Dengan pemikiran seperti itu, mau tidak mau Doni akhirnya berlutut di depan tas olahraga itu. Dia lalu menarik ritsleting tas parasut tersebut dengan perasaan campur aduk antara kesal dan canggung.
Begitu tas terbuka lebar, aroma keringat langsung menyengat hidungnya. Di bagian paling atas, ada handuk olahraga putih yang sudah basah kuyup oleh keringat. Di bawahnya, barulah Doni menemukan seragam putih-abu-abu milik Olivia yang tergulung asal-asalan, menyatu dengan kaus kaki bergambar bola basket.
Namun, yang membuat jantung Doni mendadak berdegup kencang bukan karena seragam sekolah itu, melainkan sepotong singlet olahraga berbahan spandex berwarna hitam yang biasa dipakai Olivia sebagai lapisan dalam sebelum memakai jersey basketnya. Pakaian itu terasa lembab oleh sisa keringat latihan sore tadi.
Doni buru-buru memalingkan wajahnya, telinganya mendadak terasa panas. Sialan. Rasa canggung yang luar biasa langsung menghantamnya. Dia ini pacar Marcella! Mengurusi pakaian dalam adik pacarnya sendiri seperti ini rasanya benar-benar salah, aneh, dan melanggar batas privasi. Ada perasaan terhina yang meruntuhkan harga dirinya sebagai seorang cowok kuliahan.
“OLIVIA…!! Dia pasti sengaja ngelakuin ini… Awas ya, kamu!” desis Doni dengan rahang mengeras.
Dengan sangat terpaksa, Doni akhirnya mulai mengambil pakaian-pakaian kotor Olivia dari tas olahraganya, termasuk handuk dan singlet hitam itu. Doni menjepit mereka dengan jempol dan jari telunjuknya, seolah itu adalah bangkai hewan yang beracun. Dengan telaten, dia mengambilnya satu per satu dan melemparkannya ke dalam ember plastik hitam di dalam kamar mandi.
Saat memindahkan handuk basah Olivia, sebuah benda kecil terjatuh dari lipatannya ke lantai kamar mandi. Tuk. Sebuah ikat rambut berbentuk lingkaran dengan hiasan kelinci kecil yang sering dipakai Olivia untuk mengikat rambutnya saat bermain basket. Doni memungut ikat rambut itu, menatapnya dengan tatapan penuh kebencian sekaligus ketakutan. Tumbler, tas olahraga, pakaian-pakaian kotor, sampai ikat rambut. Benda-benda milik Olivia kini perlahan menjajah kamar kos Doni yang merupakan satu-satunya ruang privasi yang dia miliki.
Dia kemudian menyalakan keran di kamar mandi. Bunyi air yang mengucur deras mengisi keheningan malam yang larut. Setelah itu, dia menuangkan deterjen ke dalam ember, membiarkan busa putih mulai menutupi seragam sekolah dan singlet olahraga milik Olivia. Dengan sisa-sisa tenaga dan harga diri yang mulai terkikis, dia mulai mengucek pakaian-pakaian itu. Setiap kucekan diiringi oleh sumpah serapah yang dia tujukan untuk gadis SMA manipulatif itu.
Malam yang tegang ini terasa berjalan begitu lambat bagi Doni. Sambil memeras handuk olahraga Olivia, Doni menatap pantulan wajahnya sendiri di cermin kamar mandi yang buram. Dia tahu, cucian ini mungkin akan kering besok pagi, tapi cengkeraman Olivia pada hidupnya... entah kapan akan selesai.