10 juta orang berusia 18-25 tahun dengan tingkat kecerdasan, kekuatan fisik, ketangguhan mental dan kemampuan beradaptasi di atas rata rata, serta berstatus lajang, dipilih untuk menjadi penghuni planet baru bernama subiru selama 5 tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ponny Sagita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TROPIS25
...----------------...
Aku memperhatikan sekelilingku.
Aku berada di sebuah pulau. Nampaknya pulau tropis.
Terdapat beberapa vegetasi yang mirip dengan di bumi.
Ada bakau, pohon kelapa, semak rumput tinggi.
Ok berarti tanahnya aman bisa buat bercocok tanam.
"Celia" Aku memanggil system.
"Naya" System menjawab.
"Apakah akan ada bantuan selama berada di sini?"
"Bantuan dan perlindungan diberikan selama 7 hari ke depan. Cari lah 5 kotak bantuan yang tersebar di beberapa area. Akan muncul setiap harinya."
"Celia, buka deskripsi pulau dan cuaca."
Layar hologram terbuka.
Panel tombol bertambah satu, status pulau. Langsung kuklik.
Planet : Subiru
Pulau : Tropis 25
Luas pulau : 10.000 meter persegi
Vegetasi : bakau, api-api, pohon kelapa, pandan laut, semak tapak kuda, pohon ketapang, pohon cemara laut, semak rumput angin.
(Tumbuhan lainnya dapat kamu temukan saat eksplorasi di dalam hutan pulau untuk dimasukkan ke dalam system)
Hewan : kepiting, ikan laut, udang, belut laut, kelomang.
(Hewan lainnya dapat kamu temukan saat eksplorasi di dalam hutan pulau untuk dimasukkan ke dalam system)
Suhu saat ini : 28 derajat celcius
Cuaca saat ini : berawan
Aku menatap ke langit, awan berwarna merah muda berarak di langit berwarna biru kehijauan.
"Celia, selain berawan, apakah ada kemungkinan kemarau dan penghujan?"
"Segala kemungkinan ada, sesuai dengan kondisi tropis seperti di planet bumi."
"Celia, apakah penemuan tumbuhan dan hewan yang belum masuk deskripsi termasuk dalam misi?"
"Kemungkinan tersebut dapat diketahui setelah naya menaikkan level pemula ke pemula lanjutan."
"Apa pulau bisa nambah luasnya?"
"Setiap kenaikan level penyintas, maka ukuran pulau akan bertambah. Level 0-1 ukuran pulau tetap 1 hektar, level 2 mendapat tambahan 1 hektar pulau, dan seterusnya. Terakhir, untuk level master akan mendapatkan 10 hektar pulau."
"Celia, apa saja misi harian dan berapa poinnya?"
"Misi harian penyintas :
* Menemukan kotak bantuan poin 5 per kotak selama 7 hari perlindungan.
* Menemukan sumber bahan kehidupan penyintas, selain kotak bantuan. Poin tergantung efektifitas bahan tersebut.
* Membangun unsur penunjang kelangsungan hidup penyintas. Poin tergantung efektifitas pengaruh unsur tersebut.
* Peningkatan kecerdasan, fisik, mental dan adaptasi penyintas."
Aku menutup system dan mulai merencanakan misi harian.
Pertama tama aku memetakan area mana yang bisa kujadikan area tempat tinggal, untuk nantinya membangun tenda, dan mungkin rumah ke depannya.
Juga menentukan area api unggun dan tempat memasak.
"Celia, apa area ini aman untuk kudirikan tenda dan api unggun?"
"Area yang kamu pilih cukup aman."
Aku mengangguk puas.
Aku menandainya dengan batu dan patok ranting yang kutemukan tersebar di beberapa area.
Kukeluarkan barang dari inventory : Tenda, sleeping bag, dan lotion anti uv dan smart watch.
Jaket kutumpuk di atasnya.
Lotion kupakai di tangan dan wajahku. Tubenya kusimpan di kantong jaket.
Jam tangan kupakai di tangan kiri. Aku memeriksa kompas dan jam serta tanggal.
"Celia, kenapa sistem navigasi kompas bisa berfungsi? Apakah ada kutub selatan dan utara?"
"Beberapa penyintas di tempatkan di dekat daerah bersuhu dingin, yang di kenal sebagai poros putaran planet, di bumi di sebut kutub selatan dan utara. Di planet ini belum ada sistem waktu dan tanggal."
"Apakah system bisa menambah penandaan waktu di smart watch dengan hitungan mundur hingga 5 tahun ke depan? Kalau bisa tambahkan sekarang."
"Baik, Naya."
Setting smart watch menampilkan hitungan mundur : 1.825 days left.
Tanggal dan waktu sama dengan kota Jaya tetap ada.
"Celia, untuk hitungan waktu mundur, akan berkurang di waktu sampai di planet ini, atau tengah malam?"
"Penghitung waktu mundur akan berubah di waktu yang sama dengan saat penyintas tiba di planet penempatan."
"Apakah penyintas di tempatkan di satu planet?"
"Benar naya."
"Naya, kamu mendapatkan skill tambahan : analisa 5/100. Tingkatkan skill tersebut untuk mendapat data akurat di level berikutnya. Status kecerdasan, mental dan adaptasi bertambah 2 poin. Kamu mendapatkan 10 poin system."
Aku menyengir mendengarnya.
...----------------...
Aku berjalan menyusuri garis pantai, mencari pertanda kira kira seperti apa kotak bantuannya.
Nanti saja untuk masuk ke dalam hutan.
Mataku teliti mencari keberadaan kotak. Karena bisa ada kemungkinan kotak tersebut terendam dibawah air laut dan dibawah pasir.
Aku iseng mencicipi airnya, dan ternyata... Beneran asin pahit! Pyuuh!... Gak lagi lagi deh di icip icip.
Untung aku bawa filter air laut.
Nanti kucoba bangun sistem penyulingannya, kalau sudah memetakan areanya.
Karena tak menutup kemungkinan aku juga harus membangun dermaga kapal.
Jangan sampai bertabrakan.
Dalam 20 menit aku berjalan di sepanjang garis pantai, aku menemukan dua kotak bantuan.
* 1 terendam di antara bebatuan di pinggir laut.
* 1 terkubur di bawah rerimbunan bakau.
Ukuran kotak sekitar 50x50 cm. Terbuat dari material kayu.
Keduanya kutumpuk, masih mampu kubawa ke area yang sudah kutandai sebagai tempat tinggalku.
Setelah sampai di dekat tenda yang belum kubangun, aku terduduk di depan 2 kotak tersebut.
Kotak terbuat dari material kayu, bisa kumanfaatkan nanti.
Terdapat tali rami yang mengikat kotak.
Kukeluarkan multi tools, dan mencari ujung tali untuk kupotong.
Dari dalam kotak pertama, aku mendapatkan 2 botol air mineral ukuran 600ml, 2 bungkus roti kering, dan sebuah kapak.
"Not bad." Ujarku.
Lalu membuka kotak kedua, di dalamnya aku mendapatkan 1 botol air mineral 600ml, 1 bungkus biskuit asin, selembar kain kanvas ukuran 2x3 meter.
"Hhmm.. Sementara kain bisa kujadikan alas dalam tenda." Ujarku, bicara sendiri.
"Celia, makanan dan minuman dalam inventory bakal aman dari pembusukan dan pencemaran?"
"Benar, Naya. Dalam inventory akan aman dari paparan waktu dan radiasi."
Aku mengumpulkan botol air minum dan makanan, dan memasukkannya ke inventory.
Aku menarik palu dari inventory, lalu memukulkan pada kotak kayu untuk kubongkar.
Dalam 5 kali pukulan, 1 kotak tersebut berubah menjadi 6 bilah kayu.
Kini aku punya 12 bilah kayu. Kukumpulkan dan kulilit dengan tali rami. Kusimpan di dekat area tenda.
"Naya, penambahan 10 poin system untuk penemuan 2 kotak bantuan. Penambahan 2 poin kecerdasan, fisik dan adaptasi."
Aku langsung bersemangat untuk mencari poin lagi dengan menyusuri pulau dan mendapatkan kotak.
Setelah berkeliling lagi selama 30 menit di pesisir pantai, aku menarik 1 kotak dari bawah pasir di garis air laut yang mana aku harus menggali lumayan dalam menggunakan sendok tanah, dan 1 kotak dari bawah pasir kering menggunakan cangkul.
Tenagaku lumayan terkuras. Namun segera kuangkut kedua kotak itu.
* 1 kotak memberiku 3 botol air dan 1 buah lembing (tombak pendek).
* 1 kotak lainnya memberiku 2 buah mangga dan 1 plat logam.
Aku tersenyum senang dan memasukkan semuanya ke inventory. Kecuali 1 botol air minum yang langsung kuhabiskan isinya.
System memberiku poin.
Poin system +10
kecerdasan +2
fisik +4
mental +2
adaptasi +2
...----------------...
Matahari nampak mulai condong ke barat, menurut perkiraanku, karena di kompas ya begitu katanya. Hehehe..
Setelah aku terbengong beberapa saat, mengumpulkan tenaga lagi.
Aku ingat, aku butuh tas untuk mengambil beberapa material membuat api unggun.
Tali rami dari 4 kotak kujalin dan kujadikan tas jaring. Tidak besar, tapi lumayan untuk diisi batu dan ranting serta kayu.
System memberiku +2 kecerdasan.
2 kotak terakhir kubongkar juga. Total aku punya 24 bilah kayu. Sementara kuikat dengan tali nilon dari inventory.
Aku segera bergerak masuk ke dalam hutan, mungkin hanya sampai aku menemukan kotak terakhir hari ini.
Ada takut takutnya sih masuk hutan. Tapi karena masih dalam status perlindungan aku yakin saja.
"Lindungi aku ya tuhanku." Ucapku sebelum maju tak gentar.
Dengan kapak di tanganku dan tas jaring rami di pundakku, aku mulai bergerak masuk.
Di dalam hutan, aku menemukan beberapa titik tanah gembur yang bisa dijadikan media bercocok tanam.
"Sip lah. Tar aja diambilnya. Yang penting udah ada sumbernya." Aku membuat patok dari kayu untuk penanda.
"Naya, +10 poin system untuk penemuan unsur penunjang kelangsungan hidup. Potensi tinggi untuk mendapatkan skill tanah."
Aku menemukan beberapa habitat tanaman lain.
Bahkan beberapa tanaman yang bisa dijadikan obat tradisional. Aku memangkas segenggam alang alang.
"+10 poin system untuk penemuan sumber kelangsungan hidup. Jenis tanaman alang alang."
Di titik lain aku menemukan tanaman lidah buaya, kupotong sedikit dan kucium baunya. Ternyata benar. Kupangkas beberapa batang.
"+10 poin system untuk penemuan sumber kelangsungan hidup. Jenis tanaman lidah buaya."
Begitupun saat aku menemukan tanaman kumis kucing, jahe, dan satu pohon kecil yang kuyakini bakal pohon jambu batu. Aku ingin memindahkannya, tapi harus membuat lahan dulu di area tinggalku. Jadi cukup kuingat saja area ini.
Aku juga menemukan seekor bunglon dan kumbang tanduk. System memberiku +70 poin tambahan.
Setelah menjelajah hampir satu jam, aku mengumpulkan banyak batu ukuran sedang dan ranting serta potongan kayu, serta menemukan kotak bantuan kelima setengah terkubur di dekat semak belukar. Dengan cangkul aku mulai menggalinya, dan menariknya.
Aku membawa semuanya keluar dari hutan.
Di depan area bakal api unggun, aku mulai menyusun batu secara melingkar. Dan membuat susunan bahan bakar api unggun seperti tutorial yang kupelajari.
Aku membuka kotak bantuan terakhir hari ini, mendapatkan 2 plat logam, 1 gulung tali sintetis dan 1 sisir pisang.
"Talinya bisa nih buat dijadiin jaring buat nangkep ikan. Sip lah."
Semua kumasukkan ke inventory.
Kotak kayu kubongkar, bilah kayu jadi 28 pcs.
System memberiku
+5 poin system
+3 kecerdasan
+3 fisik
+4 mental
+2 adaptasi
Duduk di atas pasir, menghabiskan 1 botol air dan sebungkus roti kering dan satu buah pisang.
Aku termenung sambil memandang lautan.
"Mas Ben di mana ya? Jauh gak dari sini?" Aku berbicara sendiri.
"Yangti, yangkung apa kabar ya? Belum sehari, aku udah kangen sama mereka."
Dikejauhan, kulihat ikan berloncatan dari dalam air.
"Pengen makan ikan. Kudu bikin jaring dulu. Kayaknya bisa deh ya pake tali tadi. Hhmm.. Tar deh kucoba."
Aku mengeluarkan hp dan tali sintetis.
Aku lupa, belum melihat video yang dikirim mas Ben. Aku membukanya.
Dia nampak duduk di atas kasur di kamarnya. Dinding kamarnya berwarna abu kalem dengan garis biru gelap di beberapa sisi.
Dia berdeham sebelum berbicara.
"Naya, saat kamu lihat video ini, mungkin kita sudah terpisah jarak jauh di planet subiru. Akan butuh waktu lama untuk kita bertemu kembali.
Tapi mas yakin, kita bakal ketemu lagi.
Mas sudah bertekad, mulai sekarang mas akan mencarimu, mengejarmu, mendapatkan kamu. Mas harap dalam 5 tahun, kamu bersedia menunggu mas."
Dia diam sejenak.
"Mas memendam rasa buat kamu hampir 4 tahun ini. Memperhatikan kamu dari jarak aman. Bersikap dingin untuk menutupi apa yang mas rasakan. Seandainya mas lebih berani, mungkin kita sudah menikah, dan kita gak perlu berjarak seperti saat ini. Tapi disisi lain, mas ambil hikmahnya, mungkin ini memang jalannya buat kita. Masing-masing dari kita ditempa jadi lebih baik."
"Mas cuma bisa minta, tolong tunggu mas ya. Jangan berpaling, apalagi melupakan mas. Cincin yang mas kasih adalah pengikat sementara. Juga sebagai pengingat."
"Kanaya pradipta, mas sayang dan cinta sama kamu. Mas harap kamu pun begitu."
Aku tertegun dengan ungkapan mas Ben.
Tak kusangka dan tak kuduga, ternyata selama ini...
Aku langsung berdiri, berteriak ke arah lautan. "MAS BEN! KUTUNGGU KAMU LUNASI JANJIMU! CARI AKU MAS! KAMU HARUS TEMUIN AKU! AKU JUGA BAKAL BERTAHAN BUAT KAMU! AYO KITA PULANG BARENG 5 TAHUN LAGI! KITA LANGSUNG NIKAH! I WILL MARRY YOU!"
Aku tersenyum lebar dan menari nari sendiri.
Jujur aku juga mulai menyukai mas Ben, entah sejak kapan. Tapi rasa itu ada. Yang jelas mulai sekarang rasa itu bakal kujaga.
Aku memainkan satu lagu di folder musik di hpku.
Lalu mulai membuat jaring ikan sambil bernyanyi nyanyi lagu lawas.
"Kalau ada sembilan nyawa
Mau samamu saja semuanya
Ini dada isinya kamu semua
Alamak inikah jatuh cinta"
Dalam 25 menit, aku membuat satu lembar jaring. Kuambil kawat di inventory, memotongnya dengan tang.
Aku membawa kapak ke pinggir hutan, mencari batang kayu. Mulai kurakit alat serok penjaring ikan itu.
"Celia, menurutmu alat ini sudah layak belum untuk menangkap ikan?"
"Untuk menangkap ikan kecil alat sudah layak, Naya. Kalau untuk ikan ukuran sedang, kamu harus meng-upgrade alat tersebut. Dapat menggunakan poin system."
"Oke celia. Lakukan."
"Poin system -20 untuk upgrade serok jaring ikan."
Bias cahaya tipis melingkupi serokan, dan tampilannya jadi lebih kokoh.
Aku memegangnya dan menelitinya. Manggut-manggut dengan hasilnya.
"Naya, system menambahkan poin untukmu.
+15 untuk membuat alat penunjang kelangsungan hidup.
+5 untuk kecerdasan.
+2 untuk mental.
+2 untuk adaptasi."
"Naya, jika kamu bersedia mengurangi 1 poin system, kamu dapat menaikkan level. Apa kamu bersedia?"
"Lakukan, celia."
"Selamat Naya, sekarang levelmu adalah pemula lanjutan. Naikkan lagi hingga 200 poin pada kecerdasan, fisik, mental dan adaptasi, maka kamu dapat naik ke level selanjutnya."
...----------------...