Kania mengira pernikahannya dengan Firman adalah takdir bahagia. Selama dua tahun, Firman menjadi suami sempurna sekaligus pahlawan yang menyelamatkan ekonomi keluarganya.
Meski hidup dengan disabilitas pada kaki kirinya akibat sebuah kecelakaan, Kania tak pernah menyerah menjalani hidup. Ia percaya, selama Firman tetap berada di sisinya, semua kekurangan itu bukanlah penghalang untuk meraih kebahagiaan.
Namun, saat perusahaan Firman bangkrut, badai besar menghantam rumah tangga mereka.
Pria yang pernah berjanji akan terus menggenggam tangannya mendadak berubah dingin. Lalu, seorang wanita dari masa lalu Firman datang menawarkan suntikan dana untuk menyelamatkan perusahaan dengan satu syarat, Firman harus membuang Kania dari hidupnya.
Demi mengembalikan kejayaan dan mempertahankan ambisinya, Firman tak ragu mengkhianati janji suci pernikahan mereka.
Terluka hebat, Kania memutuskan pergi meraih kebahagiaannnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 5 Dituduh Mencuri
Sore itu, suara tawa beberapa ibu-ibu terdengar memenuhi teras rumah.
"Selamat ya, Jeng Tuti! Dapat arisan lagi."
"Alhamdulillah, rezeki."
Tuti tersenyum lebar sambil menerima sebuah amplop tebal dari ketua arisan. Wajahnya tampak begitu sumringah. Setelah para ibu-ibu pulang, ia tak langsung masuk ke rumah. Sebaliknya, ia mampir ke toko emas yang berada tak jauh dari kompleks perumahan.
Matanya berbinar ketika melihat sebuah cincin emas bermata kecil di etalase.
"Yang ini, Mbak."
"Bagus sekali, Bu. Model terbaru."
"Saya ambil."
Tanpa berpikir panjang, Tuti mengeluarkan uang dari dalam dompet. Beberapa lembar uang yang dulu ia ambil dari amplop pemberian Firman untuk Kania ikut berpindah tangan.
Sesampainya di rumah, Tuti berkali-kali memandangi cincin baru yang melingkar manis di jari manisnya.
"Cantik sekali...." Ia tersenyum puas.
Di saat yang sama, Kania baru selesai mencuci pakaian di halaman belakang. Pandangannya tak sengaja menangkap kilauan cincin baru di tangan ibu mertuanya.
"Mama beli cincin baru?"
Tuti langsung mengangkat tangannya dengan bangga.
"Iya. Bagus, kan?"
Kania ikut tersenyum kecil. "Bagus kok, Ma."
Namun, senyum itu perlahan memudar. Tiba-tiba ia teringat sesuatu.
"Ma, arisannya sudah selesai, ya?"
"Iya."
"Kalau begitu, uang yang Mama pinjam apa boleh aku minta sekarang? Aku benar-benar mau membeli bahan untuk jualan."
Wajah Tuti seketika berubah datar. "Uang apa?"
Kania terdiam beberapa detik. "Uang yang Mas Firman kasih."
"Oh, itu. Sudah habis."
Deg!
Kania merasa napasnya tercekat.
"Habis Mma bilang?"
"Iya."
"Hanya untuk arisan?"
"Biasalah, membeli sedikit kebutuhan Mama."
Tatapan Kania perlahan beralih pada cincin yang berkilau di jari Tuti. Ia tak bodoh. Ia bisa menebak ke mana sebagian uang itu pergi.
"Ma..."
"Apa lagi?"
"Itu uang yang Mas Firman berikan untuk kebutuhan rumah."
Kalimat itu keluar begitu saja.
Untuk pertama kalinya sejak menikah, Kania memberanikan diri membalas ucapan ibu mertuanya.
Tuti langsung berdiri.
"Kamu sedang mengajari Mama?"
"Bukan begitu."
"Lalu?"
"Aku hanya meminta hakku, Ma."
"Hak?" Tuti tertawa sinis. "Semua yang ada di rumah ini milik anakku. Ngaca dong kamu ini cuma menantu."
Kania menarik napas panjang.
"Mas Firman menitipkan uang itu untukku."
"Tapi yang berhak pegang Mama dan kamu cuma numpang hidup di rumah anakku!"
Kalimat itu membuat mata Kania memerah.
"Aku memang tidak bekerja, Ma. Tapi bukan karena aku malas. Mas Firman sendiri yang melarangku bekerja."
"Itu urusan kalian. Mama nggak peduli!"
Kania mengepalkan kedua tangannya. "Aku hanya ingin Mama mengembalikan uang itu."
"Tidak mau."
"Tapi, Ma—"
"Tidak ya tidak! Apa kamu budeg?" maki Tuti.
Suasana semakin memanas. Kania menatap cincin di jari Tuti sekali lagi. Ia yakin, Tuti dapat arisan.
"Jadi, Mama benar-benar memakai uang itu untuk membeli cincin?"
Wajah Tuti berubah merah padam. "Kamu menuduh Mama?"
"Aku hanya bertanya."
Plak!
Tangan Tuti menampar pipi menantunya dengan keras.
"Kurang ajar!"
Kania tersentak. Namun kali ini ia tak lagi menundukkan kepala.
Air mata memang mulai menggenang, tetapi suaranya tetap terdengar pelan.
"Kalau Mama tidak mau mengembalikannya, aku akan mengatakan semuanya kepada Mas Firman."
Kalimat itu membuat wajah Tuti berubah. Beberapa saat ia hanya menatap Kania tanpa berkedip.
Lalu bibirnya tersenyum tipis.
"Oh, jadi sekarang kamu mau mengadu?"
"Aku hanya ingin jujur."
"Berani sekali kamu."
Tuti melangkah mendekat hingga jarak mereka hanya beberapa senti.
"Dengar baik-baik, Kania. Kalau kamu berani membuat hubungan Mama dengan Firman retak. Mama pastikan hidupmu di rumah ini tidak akan tenang. Mama akan membuat Firman percaya kalau kamu istri yang suka menghasut dan nggak becu mengolah uang."
Air mata Kania akhirnya jatuh.
Namun kali ini, ia tidak menghapusnya.
"Aku sudah terlalu lama diam, Ma."
"Jadi?"
"Aku tidak mau terus difitnah."
Tuti berdecak kesal. "Silakan saja. Kita lihat nanti Firman lebih percaya siapa."
Kania menggigit bibir. Meski lututnya terasa lemas, ia tetap berdiri tegak.
Apa pun risikonya, ia tidak ingin terus hidup dalam kebohongan.
*
*
Malam harinya, suara mobil Firman memasuki halaman rumah. Kania buru-buru membuka pintu.
"Mas, sudah pulang."
Firman tersenyum tipis, meski wajahnya tampak begitu lelah.
"Kepalaku rasanya mau pecah."
"Kerjaan banyak?"
"Iya. Ada beberapa proyek yang harus selesai minggu ini."
Kania mengambil tas kerja suaminya, lalu membantu melepaskan jas yang dikenakannya.
"Mas duduk dulu. Aku ambilkan minum."
Firman mengangguk pelan. Tak lama kemudian, mereka duduk di meja makan. Menu makan malam sangat sederhana.
Tempe bacem, tumis kangkung, dan semangkuk sup bening.
Firman tetap tersenyum. "Masakanmu selalu enak. Makasih sayang."
Ucapan itu hampir membuat Kania menangis. Di tengah kelelahan suaminya, ia masih sempat menghargai masakannya.
Setelah beberapa suap, Kania memberanikan diri membuka pembicaraan.
"Mas," panggilnya.
"Hm?"
"Aku mau bicara sesuatu."
Firman meletakkan sendoknya.
"Ada apa?"
Kania menundukkan kepala beberapa saat sebelum akhirnya berkata lirih,
"Soal uang yang waktu itu Mas titipkan...."
Kening Firman berkerut.
"Kenapa?"
"Aku sebenarnya tidak pernah menerima uang itu."
Firman terdiam.
Lalu, Kania menceritakan semuanya. Tentang uang yang dipinjam Tuti. Tentang alasan arisan. Tentang modal jualan yang gagal. Hingga uang yang tak pernah kembali.
Firman memijat pelipisnya pelan.
Wajahnya tampak semakin lelah.
"Kenapa baru sekarang cerita?"
"Aku takut Mas bertengkar sama Mama."
Firman mengembuskan napas panjang. "Besok akan aku bicarakan baik-baik dengan Mama."
"Jangan marah sama Mama, ya."
Firman menggenggam tangan istrinya. "Aku cuma ingin masalah ini selesai."
Kania mengangguk. Namun entah mengapa, hatinya justru semakin gelisah. Ia mengenal Tuti. Wanita itu bukan orang yang mudah mengakui kesalahan.
"Firman! Firman!"
Teriakan Tuti terdengar dari dalam kamar hingga membuat Firman dan Kania berlari menghampiri.
"Ada apa, Ma?" tanya Firman panik.
"Cincin Mama hilang!" seru Tuti sambil berpura-pura menangis. "Cincin yang baru Mama beli dari uang arisan!"
Firman langsung ikut mencari di atas meja rias. "Tadi terakhir di mana, Ma?"
"Di kamar ini. Dan satu-satunya orang yang masuk ke sini cuma Kania! Dia yang tadi bersih-bersih kamar Mama."
Kania tersentak.
"Ma, aku memang membersihkan kamar, tapi aku tidak mengambil apapun."
"Terus cincin Mama jalan sendiri?"
Firman menatap istrinya. "Sayang, mungkin tanpa sengaja tersapu?"
Kania menggeleng kuat.
"Nggak mungkin, Mas."
"Kalau begitu kita cari saja." Tuti menyilangkan tangan. "Periksa kamar kalian!"
"Kamu keberatan jika kamar kita diperiksa?" tanya Firman pada Kania.
Kania menggeleng. Jelas saja dia berani karena memang tidak mencuri.
Mereka bertiga segera menuju kamar Firman. Tuti langsung meraih tas Kania yang tergantung di belakang pintu.
"Kita lihat isinya."
Begitu resleting dibuka, sebuah kotak kecil berwarna merah terjatuh ke lantai. Tuti buru-buru mengambilnya lalu membukanya.
"Itu dia. Cincin Mama!"
Wajah Kania seketika pucat. "A–aku nggak tahu kenapa bisa ada di situ."
"Cukup!" bentak Tuti. "Buktinya sudah jelas. Nggak usah sok mengelak. Mana ada maling ngaku, bisa-bisa penjara penuh."
Firman mematung. Tatapannya berpindah dari cincin itu ke wajah istrinya. Ia ingin percaya pada Kania, tapi bukti ada di depan matanya.
TPI dia bilang adik satu satunya
dari awal fillingku itu menggunakan firman pasti ingin merebut sesuatu dari sang Abang
hemm
kamu pasti bisa bangkit kembali😭😭
kamu gak tau KLO mawar ingin menjadikan firman sebagai budak catur
yg harus kerja rodi
siap siap lembur stiap hari dan istri barumu akan menghabiskan uang perusahaan
dan Bu Tuti akan kehilangan jatah bulananmu
ahay
Nah betul nih si 🌹 berduri adiknya si kulkas. Eng ing eng...