Kirana cuma pengen kuliah tenang. Tapi dosen paling galak sekampus malah jadi orang yang bikin jantungnya berdebar tanpa alasan.
Status dosen dan mahasiswi jadi tembok pemisah. Masa lalu kelam Alden jadi ancaman yang siap menghancurkan semuanya.
Satu pertanyaan tersisa: berani nggak, Kirana, jatuh cinta pada orang yang paling dilarang buat dicintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon W_ Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: TUGAS BALAS DENDAM
"Kir, denger denger nih," Bagas berbisik begitu mereka berkumpul di ruang diskusi menunggu kelompok lain selesai presentasi,
"kelompok tiga bakal dikasih tugas tambahan gara gara kemarin telat lapor progress."
"Hah? Serius?" Kirana menoleh cepat, matanya membelalak. "Dari mana kamu tau?"
"Denger dari anak kelompok lima, katanya Pak Alden sempet ngomong gitu ke asisten dosennya," jawab Bagas, mengangkat bahu.
"Gila ya, masih aja diinget dosa kita minggu lalu," keluh Ferra yang duduk di sebelah mereka, ikut menimpali. "Padahal kan kemarin udah kita perbaiki."
"Mungkin ini semacam... pelajaran biar kita nggak ngulang lagi," Nadia mencoba berpikir positif, meski nada suaranya juga terdengar khawatir.
Kirana menghela napas panjang, meremas ujung buku catatannya. "Ya udah deh, apapun tugasnya, kita kerjain aja. Daripada nilai kelompok jeblok."
Tidak lama kemudian, Alden masuk ruang diskusi, membawa map seperti biasa. Wajahnya datar, tapi kali ini ada sesuatu yang terselip di balik ekspresinya, semacam kepuasan kecil yang sulit dijelaskan.
"Kelompok tiga," panggilnya begitu duduk di kursi paling depan, "saya punya tugas tambahan untuk kalian."
Seisi kelompok saling melirik, sudah menduga hal ini akan terjadi.
"Karena minggu lalu kalian sempat telat progress, saya minta kalian bikin studi kasus tambahan. Bukan cuma analisis SWOT biasa, tapi harus disertai simulasi strategi selama lima tahun ke depan, lengkap dengan proyeksi angka."
"Lima tahun, Pak?" Bagas hampir memekik, tidak percaya. "Itu kan berarti kita harus itung itungan finansial juga."
"Betul," Alden mengangguk santai, seolah tidak ada yang aneh dengan permintaannya.
"Deadline tetap sama, minggu depan."
"Pak, ini kan berat banget buat dikerjain bareng bareng tugas mata kuliah lain," Kirana memberanikan diri protes, meski suaranya masih terdengar sopan.
Alden menatapnya sejenak, lalu tersenyum tipis, senyum yang jarang sekali muncul di wajahnya. "Anggap aja ini balas dendam saya karena kalian bikin saya nunggu progress kosong minggu lalu."
Kelompok itu terdiam, tidak percaya dosen sekaku itu bisa melontarkan candaan seperti itu, meski tetap terselip nada serius di baliknya.
"Pak, ini beneran candaan apa beneran tugas tambahan?" tanya Ferra, ragu ragu.
"Dua duanya," jawab Alden singkat, lalu bangkit dari kursi. "Saya tunggu hasilnya minggu depan. Kalau bagus, nilai kelompok kalian saya naikkan satu tingkat."
Setelah Alden keluar ruangan, seisi kelompok masih terdiam beberapa detik, mencerna apa yang baru saja terjadi.
"Jadi... ini beneran balas dendam, tapi ada hadiahnya juga?" Bagas menggaruk kepala, bingung sendiri.
"Ya udah, positifnya aja," Kirana mencoba menyemangati, meski dalam hati dia juga pusing membayangkan beban tugas tambahan itu. "Kalau kita berhasil, nilai kita naik. Anggap aja tantangan."
"Gampang ngomong sih buat kamu, Kir," Ferra mendengus pelan. "Kamu kan yang paling deket sama Pak Alden, pasti nanti dibantuin diam diam."
"Ferra, please," Kirana melotot, wajahnya memerah. "Nggak ada hubungannya sama itu."
"Iya iya, becanda," Ferra terkekeh, mengangkat kedua tangan tanda menyerah.
Malam itu, kelompok tiga berkumpul di rumah kos Nadia yang kebetulan paling luas di antara mereka, membawa laptop masing masing untuk mulai menggarap tugas tambahan.
"Oke, kita mulai dari mana nih?" tanya Bagas, menatap layar kosong dengan tatapan putus asa.
"Kita breakdown dulu, apa aja yang perlu buat proyeksi lima tahun," Kirana mengambil alih, membuka buku catatan yang penuh coretan hasil diskusi dengan Alden minggu lalu.
"Pertama, kita butuh data historis perusahaan minimal tiga tahun terakhir."
"Itu udah ada, kan kemarin kamu yang nyari," Nadia menimpali.
"Iya, tapi buat proyeksi, kita butuh asumsi pertumbuhan juga. Nah, ini yang belum kita punya," jelas Kirana, menunjuk salah satu bagian di catatannya.
"Terus gimana caranya bikin asumsi pertumbuhan?" Yusuf yang biasanya diam akhirnya buka suara, terlihat serius memperhatikan.
"Kita bisa liat tren industri sejenis, terus bandingin sama performa perusahaan ini selama ini," jawab Kirana, mencoba menjelaskan sebaik yang dia bisa, meski sebenarnya dia sendiri belum sepenuhnya yakin dengan penjelasannya.
"Kir, kamu yakin bisa ngerjain bagian ini?" tanya Ferra, agak ragu.
"Jujur, nggak yakin seratus persen," Kirana mengaku jujur, "tapi kan kita bisa coba dulu, terus nanti tanya Pak Alden kalau ada yang bingung."
"Nah itu dia," Bagas menyeringai, "kamu emang paling gampang kalau mau tanya tanya ke dia."
"Bagas," Kirana melotot lagi, meski kali ini dia hanya menghela napas pasrah, tidak lagi repot membantah.
Mereka melanjutkan diskusi sampai larut malam, membagi tugas untuk masing masing mengerjakan bagian yang berbeda. Kirana kebagian menyusun proyeksi keuangan, bagian yang paling rumit di antara semuanya.
Dua hari kemudian, Kirana masih kesulitan menyelesaikan bagian proyeksinya. Angka angka di layar laptopnya terlihat berantakan, rumus yang dia coba terapkan tidak menghasilkan output yang masuk akal.
"Kenapa sih ini angkanya aneh banget," gerutunya sendirian di perpustakaan, menatap layar dengan frustrasi.
Dia memutuskan untuk mengirim pesan ke grup kelompok, menanyakan apakah ada yang paham soal rumus proyeksi yang benar. Tapi tidak ada satu pun yang membalas dengan jawaban memuaskan, semua sama bingungnya.
Dengan berat hati, Kirana akhirnya memutuskan untuk mencari Alden di ruang dosen, berharap bisa mendapat sedikit arahan meski dia tahu risikonya bisa memicu gosip baru.
Dia mengetuk pintu ruang dosen yang setengah terbuka. "Permisi, Pak."
Alden mendongak dari layar laptopnya.
"Kirana? Ada apa?"
"Saya... boleh minta waktu sebentar, Pak? Saya bingung soal proyeksi keuangan buat tugas kelompok," jelas Kirana, sedikit ragu ragu berdiri di ambang pintu.
"Masuk," kata Alden, menunjuk kursi kosong di depan mejanya.
Kirana duduk, membuka laptopnya dan menunjukkan hasil kerjaannya yang berantakan. "Ini, Pak, saya coba pake rumus pertumbuhan linear, tapi hasilnya kok nggak masuk akal."
Alden mencondongkan badan, memperhatikan layar dengan seksama.
"Kamu pake asumsi pertumbuhan berapa persen?"
"Sepuluh persen per tahun, Pak, soalnya itu rata rata industri yang saya temuin di internet."
"Data dari mana?"
"Dari... artikel biasa, Pak," jawab Kirana, agak malu mengaku sumbernya tidak terlalu kredibel.
Alden menghela napas pendek, tapi tidak terdengar seperti nada marah, lebih ke arah geli. "Lain kali cari data dari laporan resmi asosiasi industri, bukan artikel sembarangan.
Coba saya tunjukkan."
Dia menarik laptopnya sendiri, membuka satu situs, lalu memutar layar ke arah Kirana. "Ini data resmi dari asosiasi. Pertumbuhan rata rata industri sejenis itu sekitar tujuh persen, bukan sepuluh."
"Oh," Kirana mencatat cepat, "jadi kalau saya pake angka ini, hasilnya bakal lebih masuk akal ya, Pak?"
"Coba aja hitung ulang," Alden menyerahkan kembali fokus ke laptop Kirana. "Rumusnya sebenarnya sudah benar, cuma asumsi awal kamu yang salah."
Kirana mengetik ulang rumusnya dengan angka baru, dan kali ini hasilnya jauh lebih masuk akal dibanding sebelumnya. "Wah, bener, Pak! Sekarang angkanya lebih rapi."
"Bagus," Alden mengangguk, sedikit senyum tipis muncul di sudut bibirnya. "Kamu telaten juga kalau udah paham dasarnya."
Pujian sederhana itu membuat Kirana merasa hangat, jantungnya berdebar bukan karena panik kali ini, melainkan karena rasa senang yang tidak bisa dia jelaskan dengan mudah.
"Makasih banyak, Pak. Kirain bakal susah banget nyelesain ini sendirian," ucap Kirana, tersenyum lebar.
"Lain kali kalau bingung, langsung tanya. Jangan dipendam sampe deadline mepet," kata Alden, nadanya kembali datar seperti biasa, meski matanya masih menatap Kirana dengan cara yang berbeda dari biasanya.
"Siap, Pak," Kirana mengangguk, merapikan laptopnya untuk bersiap pamit.
Sebelum benar benar keluar ruangan, dia berhenti sejenak di ambang pintu. "Pak, boleh saya tanya satu hal lagi?"
"Silakan."
"Kenapa Pak Alden mau bantu saya? Padahal kan ini bukan jam konsultasi resmi," tanya
Kirana, penasaran.
Alden terdiam sejenak, seperti sedang
memikirkan jawaban yang tepat. "Karena kamu mau berusaha sendiri dulu sebelum minta bantuan. Saya suka mahasiswa yang kayak gitu."
Jawaban itu membuat Kirana tersenyum lebih lebar dari yang dia sadari. "Makasih, Pak. Beneran."
"Sana, udah malam. Hati hati pulangnya," kata Alden, kembali fokus ke layar laptopnya.
Kirana keluar ruangan dengan langkah ringan, hatinya dipenuhi rasa hangat yang sulit dia jelaskan. Sepanjang perjalanan pulang, dia terus mengingat cara Alden menjelaskan dengan sabar, cara senyum tipisnya muncul ketika melihat hasil kerjanya berhasil, dan cara suaranya melunak ketika bicara di luar konteks kelas formal.
"Tugas balas dendam yang aneh," gumamnya sambil tersenyum sendiri, "tapi kayaknya malah bikin aku makin penasaran sama dia."
Di ruang dosen yang kini kembali sepi, Alden menatap pintu yang baru saja tertutup, jarinya masih mengetuk pelan meja kerja. Dia menghela napas panjang, mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang dia rasakan hanyalah rasa bangga biasa seorang dosen melihat mahasiswanya berkembang.
Tapi jauh di lubuk hatinya, dia tahu ada sesuatu yang lebih dari itu, sesuatu yang mulai sulit dia sangkal setiap kali nama Kirana Ayu muncul di kepalanya.