NovelToon NovelToon
Incaran Sang Dokter Bedah

Incaran Sang Dokter Bedah

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Identitas Tersembunyi
Popularitas:55.8k
Nilai: 5
Nama Author: CovieVy

Satu bulan menikah, IPTU Milka harus menelan kenyataan pahit. Kesetiaannya dibalas pengkhianatan keji oleh sang suami, Vando, yang diam-diam bermain gila dengan sahabatnya sendiri.

Hancur dan menangis di trotoar dengan seragam dinasnya, Milka tak tahu bahwa air matanya disaksikan oleh Theo, pria dari masa lalu yang kini menjadi Dokter Bedah genius sekaligus penguasa sindikat bawah tanah.

Pria yang dulu mundur demi kebahagiaan Milka, kini murka melihat wanita impiannya disia-siakan. Lewat jaringan gelapnya, Theo bergerak cepat menguliti kebusukan Vando dan Irana.

Bagi Theo, menyerahkan suami pengkhianat ke jalur hukum saja tidak cukup. Pria yang telah membuat Milka menangis ... harus merasakan kekejaman pisau bedahnya!

"Biar hukum bekerja lewat tanganmu, Milka. Tapi untuk pria yang menyakitimu ... izinkan aku yang membereskannya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

35. Selalu Ada

“Melamun sendirian di tempat seperti ini, apa tidak takut diculik gendoruwo, Bu Polisi?”

Milka tersentak mendengar pertanyaan itu. Kepalanya yang sejak tadi tertunduk perlahan menoleh. Barulah ia menyadari seseorang telah duduk tepat di sampingnya.

"Kak Theo ..."

Entah sejak kapan pria itu berada di sana. Saking tenggelam dalam pikirannya sendiri, Milka bahkan tidak menyadari kedatangannya.

Theo mengenakan kemeja gelap dengan lengan digulung hingga siku. Rambutnya sedikit berantakan, tetapi wajahnya tetap tenang seperti biasa.

Sangat bertolak belakang dengan dirinya.

Milka mengembuskan napas. “Kak Theo ngapain di sini?”

“Menjemput orang yang kabur dari rumah.”

Milka mengerutkan kening. “Kenapa Kakak tahu? Aku nggak kabur.”

“Aku tahu banyak hal tentang kamu.”

Milka terdiam. Ia menatap pria di sampingnya beberapa saat. “Kakak memang nggak pernah berubah, ya?” gumamnya. “Bahkan aku berada di sini pun Kakak tahu.”

Theo meliriknya. “Di sini, yang berubah cuma statusmu.”

Milka langsung menoleh tajam. “Kalau nggak bisa menghibur, bisa diam nggak sih?”

Theo terkekeh. Suara tawa itu membuat Milka kembali memalingkan wajah.

'Masih sama.'

Gaya menyebalkan itu masih sama seperti waktu itu. Bedanya, kali ini Milka tidak punya tenaga untuk mengejarnya sambil membawa sandal.

Theo bersandar pada bangku. “Di sini banyak nyamuk. Lebih baik merenungnya di rumah.”

Milka menunduk. “Entahlah.”

“Kenapa?”

Jawaban berikutnya keluar begitu saja. “Karena aku sudah nggak punya rumah untuk pulang.”

Tawa Theo langsung lenyap.

Milka pun terdiam. Baru setelah kalimat itu meluncur, ia menyadari betapa menyakitkannya terdengar.

Beberapa detik berlalu.

“Kak...” Milka menarik napas panjang. “Boleh aku cerita sesuatu?"

Theo tidak bercanda lagi. “Cerita saja.”

Milka akhirnya menceritakan semuanya.

Tentang pertengkarannya dengan Vando. Tentang perselingkuhan itu. Tentang penyelidikannya. Tentang keputusan untuk mengajukan perceraian.

Tidak ada tangisan. Tidak ada suara bergetar. Justru itu yang membuat ceritanya terasa lebih menyedihkan. Milka seperti seseorang yang sudah terlalu lelah untuk menangis.

Setelah selesai, ia menatap lurus ke depan. “Aku sudah nggak mau kembali ke rumah itu.”

Theo mengangguk pelan. “Keputusanmu sudah tepat.”

Milka menoleh.

“Pergilah dari orang yang tidak pernah menghargai keberadaanmu.” Theo menatap gerbang sekolah di hadapan mereka. “Masih banyak orang yang menganggapmu berharga.”

Milka terdiam.

Entah mengapa, kalimat terakhir Theo terasa sedikit berbeda.

Ia segera mengalihkan pandangan.

“Kalau begitu, pulanglah ke rumah orang tuamu.”

Milka langsung menggeleng. “Tidak bisa.”

“Kenapa?”

Milka menggigit bagian dalam pipinya. “Papa pasti marah.”

“Pada Vando?”

“Bukan,” bisik Milka.

Senyum getir muncul di bibir Milka. “Papa akan marah pada dirinya sendiri.”

Theo memilih diam tanpa menyela.

“Papa yang memilih Mas Vando untukku.” Jemari Milka saling bertaut di atas pangkuannya. “Kalau aku pulang dan bilang pernikahanku yang tak bertahan lama ...”

Ia menelan ludah.

“Aku nggak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi.”

Suara Milka semakin pelan. “Dan Mama pasti menangis.”

Theo menatapnya. Itulah yang sebenarnya ditakuti Milka. Bukan perceraian. Bukan Vando.

Melainkan wajah kedua orang tuanya ketika mengetahui bahwa pernikahan yang mereka yakini sebagai pilihan terbaik justru berakhir menjadi luka bagi putri mereka.

Theo mengembuskan napas. “Kalau begitu, tinggal lah di apartemenku.”

Milka spontan menoleh. “Nggak mau.”

Alis Theo terangkat. “Cepat sekali menolaknya?”

“Ya jelas!” Milka menggeser tubuhnya sedikit menjauh.

“Masa aku tinggal di apartemen Kak Theo? Kita saja sudah dituduh macam-macam sama Mas Vando. Kalau aku tinggal di tempat Kakak, nanti orang-orang malah berpikir yang aneh-aneh.”

Theo terkekeh. “Dengar dulu.”

Milka mendengkus.

“Itu bukan tempat tinggalku. Itu apartemen kembaranku, Tania.”

Milka terdiam. Ia baru teringat, kakak kelasnya ini memang memiliki saudara kembar. Beberapa kali pernah berpapasan saat mereka sedang berdua.

Tania Arlov Darmawan.

“Setelah Tania menikah, apartemen itu kosong,” terang Theo.

“Daripada tidak digunakan, kamu tinggal saja di sana untuk sementara.”

Milka menggeleng. “Aku nggak mau merepotkan Kakak.”

“Siapa bilang gratis?”

Milka terdiam.

Theo menatap lurus ke depan. “Bayar sewa.”

“Hah?”

“Bayar sewa.”

“Kak Theo nyuruh aku bayar?”

“Memangnya kamu mau tinggal gratis?”

“Bukan begitu!”

“Kalau begitu selesai.”

Milka menatapnya tak percaya.

Theo akhirnya menoleh. “Anggap saja kamu penyewa. Aku pemiliknya. Tidak ada yang perlu merasa berutang.”

Milka membuka mulut, tetapi kembali menutupnya. Logikanya memang masuk akal. Sayangnya, yang menawarkan adalah seorang Theo.

“Kenapa Kak Theo selalu punya jawaban untuk semuanya?”

“Karena aku lebih tua.”

“Bedanya cuma beberapa tahun.”

“Dan aku tetap lebih tua.”

Milka mendengkus.

Theo menahan senyumnya. “Jadi?”

Milka kembali menatap gerbang SMA Nusa Bangsa.

Tadi, tempat itu terasa seperti satu-satunya tempat yang bisa menampung pikirannya.

Namun, taman ini bukan rumah.

Dan ia belum sanggup pulang kepada orang tuanya.

Milka menghela napas panjang.

“Berapa sewanya?”

Senyum Theo langsung muncul. “Besok aku kasih tahu.”

“Jangan mahal-mahal.”

“Sudah mulai menawar?”

“Aku cuma polisi. Bukan orang kaya.”

Theo hanya terkekeh mendengar alasan Milka. Merasa yakin, Milka pun berdiri.

“Kalau ternyata mahal, aku batal.”

“Sudah terlambat.”

Milka mengerutkan kening. “Kenapa?”

Theo ikut berdiri. “Karena kamu sudah setuju.”

“Kak Theo!”

Theo berjalan lebih dulu. Milka mengikutinya sambil menggerutu. Namun beberapa langkah kemudian, langkahnya melambat.

Tatapannya jatuh pada punggung pria di depannya. Ada satu pertanyaan yang tiba-tiba muncul di benaknya.

'Kenapa kamu selalu ada untukku, Kak?'

Milka tidak tahu. Dan mungkin, untuk malam ini, ia belum perlu tahu.

Di depan, Theo diam-diam mengeluarkan ponselnya. Jarinya bergerak cepat mengirim pesan kepada Bonar.

[ Pastikan lokasi steril. Jangan sampai ada yang mengikutinya. Kalau menemukan sesuatu yang mencurigakan, langsung sikat sampai bersih! ]

Theo memasukkan kembali ponsel ke sakunya.

Tatapannya sekilas jatuh pada Milka yang masih berjalan di belakangnya.

*bersambung*

1
Aku Rajin Membaca
jangan tamaaat duluu, penasaran mp mereka 😂😂
Aku Rajin Membaca
mentang2 juragan sawit 😂
Aku Rajin Membaca
iiihhh aku juga gemeesss
Aku Rajin Membaca
lancar kali maas..itu mas kawennya banyak amat
Aku Rajin Membaca
uwaaaauuuuwww
Aku Rajin Membaca
maalah kesemsem sendiri 🥰😭
Aku Rajin Membaca
kayak dia menyatakan cinta padaku 🥰
Aku Rajin Membaca
waaahh, dah mau tamat 😭
Aku Rajin Membaca
omaigat, si bucin
Korik Kook
last episode pengen liat Irina ngamuk pas liat Theo nikahi milka 🤣🤣
SoVay: viewnya kacau kak, nanti kita bikinin cerita lain ada Irana di kehidupan penjara yah. jd nanti ada Milka sesekali 🤣

kalau nulis kehidupan dalam penjara, ada yg minat ga ya?
total 1 replies
MomyWa
dih, tamat aja? kok rasanya gak rela ya berhenti baca kebucinan theo 😭🤭
SoVay: walah, aku malah berasa lega. hutangku habis 🤣
total 1 replies
MomyWa
aih aih... sepertinya sepertinhya..
Laila Amalia
seru banget Aku suka...
Anbu Hasna
bonschap.... anak Milka enggak kembar, jadi rebutan para kakek 🤣🤣🤣
SoVay: wkwkwkw..gimana ya? soalnya kacau bgt nih nasib mereka retensinya. 🤣
total 1 replies
MomyWa
to tweeett 🤭🤭🤭
Laila Amalia
baper Aku thor
SoVay: bagi vote boleh ga kak? 🤣🤲
total 1 replies
Ummi Sulastri Berliana Tobing
ahhh,.....so sweet😍😍😍
SoVay: wehehehe, bagi vote nya dong kakak
total 1 replies
Rini
😍😍😍😍😍
SoVay: udah tamat kan kak 😚
total 1 replies
MomyWa
bgaimanapun aq ini seorang dokter
SoVay: dokter.mana itu? dokter cinta?
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
gimana Mil masih ragu 🤔🤔🤔
SoVay: udah nikah euy, kami udah dipaksa tamat sama authornya 🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!