Seorang driver ojol tampan tapi bernasib sial mendapatkan sistem aplikasi "Godjek" misterius, di mana setiap orderan absurd dari pelanggan cantik memberinya hadiah kekuatan aneh yang bikin geleng-geleng kepala.
Bertahun-tahun lalu, sebelum jadi ojol, Raka memiliki seorang adik perempuan yang sangat dia sayangi. Suatu hari, adiknya memesan ojek online malam-malam untuk pulang. Raka yang saat itu sibuk, tidak bisa menjemputnya sendiri.
Malam itu, ojol yang ditumpangi adiknya mengalami kecelakaan fatal.
Kata-kata terakhir adiknya di telepon sebelum kecelakaan adalah: "Mas, aku udah jalan ya, ojolnya baik banget." Raka tidak pernah memaafkan dirinya sendiri. Dia menjadi ojol yang baik untuk "menebus Dosa" dan penyesalan di dasar hatinya setelah adiknya pergi untuk selama-lamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lihazel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fitnah Palsu di Ruang Rapat Federasi
Pagi itu, matahari baru saja menyembul di atas atap seng pangkalan "PODOMORO" ketika Arya memarkirkan motor Supra Fit-nya di bawah pohon beringin, disambut oleh aroma kopi hitam Mbak Sri yang menguar dari warkop ber-AC yang kini sudah jadi standar baru markas ojol Tambora. Namun, alih-alih disambut candaan biasa dari Bang Jay dan Dedi, Arya justru menemukan keduanya sedang berkerumun mengelilingi satu ponsel, wajah mereka tegang seperti sedang menonton pertandingan final piala dunia.
"Ya! Arya! Sini, sini, buruan!" seru Dedi "Gacor" begitu melihat kedatangan Arya, melambaikan tangan dengan panik.
Arya melangkah mendekat dengan alis berkerut. "Ada apa lagi sih, Bang? Pagi-pagi udah heboh."
Bang Jay menyodorkan layar ponselnya yang retak, menampilkan sebuah unggahan berita olahraga dari portal daring yang cukup dikenal. "Ini, Ya. Lu kenal cewek atlet lari yang namanya Tiara Puspita, kan? Yang dulu lu selametin pas kejar kereta ke Surabaya itu?"
Jantung Arya berdegup kencang mendengar nama itu. "Iya, kenal. Kenapa?"
"Coba baca deh," Dedi menyerongkan layar lebih dekat.
[BREAKING NEWS: Atlet Lari Nasional Diduga Langgar Kode Etik, Terancam Dicoret dari Pelatnas Permanen]
Sumber internal Federasi Atletik Indonesia mengungkapkan bahwa atlet lari andalan, Tiara Puspita (24), sedang dalam penyelidikan internal atas dugaan pelanggaran kode etik berat: mencoba melakukan intimidasi dan pemerasan terhadap pelatih utamanya, Irwan Setiadi, dengan tuduhan palsu demi menutupi kegagalannya lolos seleksi final. Federasi dijadwalkan mengadakan sidang etik tertutup pagi ini pukul sepuluh...
Arya merasakan darahnya mendidih membaca artikel itu. Ia menggenggam ponsel Bang Jay begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. "Anjing! Ini pelatih bejat malah muter balik cerita! Yang niat meres itu dia, eh sekarang malah Tiara yang dituduh meres duluan! Ini fitnah kelas kakap!"
Belum sempat Arya menyelesaikan makian batinnya, God-Phone di sakunya bergetar hebat, memancarkan cahaya merah menyala yang jarang sekali ia lihat—warna yang biasanya hanya muncul saat ada ancaman serius, bukan sekadar penalti komedi konyol seperti biasanya.
TING-TONG!
[PERINGATAN DARURAT SISTEM: SERANGAN BALIK TARGET VIP TERDETEKSI!]
[Analisis: Pelatih Irwan Setiadi, menyadari Tiara Puspita mulai mengumpulkan bukti pelanggarannya, telah lebih dulu melapor ke Federasi Atletik dengan tuduhan fabrikasi yang memutarbalikkan fakta. Sidang etik tertutup akan dilaksanakan pukul 10.00 WIB di Kantor Pusat Federasi, Senayan. Jika Tiara gagal membela diri, ia akan dicoret permanen dari dunia atletik nasional dengan cap "atlet bermasalah", menghancurkan seluruh karier yang telah dibangunnya sejak kecil.]
[Misi Darurat: Hadir sebagai Saksi Kejujuran. Sistem tidak dapat memberikan bukti fisik atau rekaman—ini bukan sulap, ini murni pertarungan kata melawan kata. Namun sistem dapat membuka fitur "Telinga Pendengar Sejati" secara penuh untuk membantu Driver membaca kejujuran di antara kebohongan yang disusun rapi.]
[Batas Waktu: 90 Menit.]
Arya menatap layar itu dengan rahang mengeras. Tanpa berpikir dua kali, ia langsung berlari ke arah motornya, memakai helm dengan gerakan tergesa.
"Ya, lu mau ke mana?! Ada orderan?!" seru Bang Jay bingung.
"Bukan orderan, Bang. Ada yang lebih penting," jawab Arya sambil menyalakan mesin motornya. "Tiara lagi difitnah sama pelatihnya sendiri. Sidangnya sepuluh menit lagi—eh, sembilan puluh menit lagi, di Senayan."
Dedi langsung berdiri tegak, matanya berbinar dengan semangat solidaritas khas pangkalan ojol. "Fitnah?! Anjir, kalau soal beginian mah kita jagonya, Ya! Bentar, gua kabarin grup WhatsApp pangkalan se-Jakarta Barat!"
"Buat apa?" tanya Arya heran.
"Buat dukungan moral, lah!" Bang Jay ikut menyambar helmnya sendiri. "Kalau perlu, kita rame-rame nongkrong di depan kantor federasi itu. Biar mereka tau, ojol Tambora juga punya solidaritas, bukan cuma tukang antar barang doang!"
Arya tersenyum tipis mendengar semangat kedua seniornya itu, dadanya yang tadi dipenuhi kemarahan kini sedikit terhibur oleh kehangatan persaudaraan yang selalu ia temukan di pangkalan ini. "Makasih, Bang. Tapi gua duluan ya, waktu gua mepet banget."
Kantor Pusat Federasi Atletik Indonesia berdiri megah di kawasan Senayan, gedungnya yang berlapis kaca gelap memantulkan sinar matahari pagi dengan angkuh. Arya memarkirkan Supra Fit-nya di area yang jauh dari deretan mobil dinas dan sedan mewah para pejabat federasi, lalu berlari menaiki tangga menuju lobi utama.
"Maaf, Mas, sidangnya tertutup. Nggak boleh sembarang orang masuk," seorang petugas keamanan menghadangnya di depan pintu ruang rapat lantai tiga.
"Saya saksi," ujar Arya tegas, menatap petugas itu dengan sorot mata yang dipenuhi kesungguhan—bukan karisma buatan sistem, melainkan ketegasan murni seorang pria yang tidak ingin melihat ketidakadilan berlangsung di depan matanya. "Saya yang mengantar Tiara Puspita pulang saat kejadian yang sedang mereka bahas itu terjadi. Saya punya keterangan penting."
Petugas itu tampak ragu, namun sebelum ia sempat memutuskan, pintu ruang rapat terbuka dari dalam. Seorang wanita berjas formal—sekretaris federasi—keluar dengan wajah khawatir, dan di belakangnya, sayup-sayup terdengar suara Tiara yang bergetar mencoba membela diri di hadapan lima anggota dewan etik yang duduk mengelilingi meja panjang.
"...saya tidak pernah mencoba memeras Pak Irwan! Justru sebaliknya, beliau yang—"
"Cukup, Nona Tiara," potong suara berat seorang pria paruh baya yang duduk di kursi utama—Ketua Dewan Etik Federasi. "Kami sudah mendengar laporan resmi dari Pak Irwan Setiadi. Beliau bahkan menunjukkan pesan-pesan yang menunjukkan Anda mengancam akan menyebarkan fitnah jika tidak diloloskan ke kontingen utama."
Arya, yang kini sudah berhasil masuk berkat bantuan sekretaris yang penasaran, melihat sosok Irwan Setiadi duduk di sudut ruangan dengan wajah tenang, hampir menampakkan senyum kemenangan di balik topeng keprihatinannya yang dibuat-buat. Di tangannya, ia memegang sebuah tablet yang menampilkan tangkapan layar percakapan—pesan yang jelas-jelas sudah direkayasa, terlihat dari font dan susunan kalimat yang sedikit janggal bagi mata yang teliti.
"Bajingan ini beneran udah siapin skenario licik dari jauh-jauh hari," geram Arya dalam hati, matanya menyipit menatap tablet itu dengan seksama.
"Permisi," Arya melangkah maju, suaranya cukup keras untuk menghentikan seluruh perhatian di ruangan itu. "Saya punya keterangan yang mungkin relevan dengan sidang ini."
Ketua Dewan Etik mengernyit heran. "Anda siapa? Ini sidang tertutup."
"Nama saya Arya Prasetya. Saya driver ojek online yang mengantar Tiara Puspita pulang tepat setelah kejadian yang sedang dibahas di sini," jawab Arya tegas, melangkah lebih dekat ke meja rapat. "Saya melihat kondisi emosional Tiara saat itu. Dia bukan atlet yang berusaha memeras siapa pun—dia atlet yang baru saja mengalami tekanan berat."
Irwan Setiadi tersenyum sinis dari sudut ruangan. "Maaf, siapa pun Anda, ini bukan tempat untuk kesaksian dari orang luar yang bahkan bukan bagian dari institusi olahraga."
"Justru karena saya orang luar, saya nggak punya kepentingan apa pun di sini selain kebenaran," balas Arya tanpa gentar, menatap lurus ke arah Irwan. "Beda sama Bapak, yang punya kepentingan besar buat ngeburuin nama Tiara sebelum dia sempat buka mulut soal apa yang sebenarnya terjadi malam sebelum evaluasi seleksi final."
Ruangan itu mendadak hening. Beberapa anggota dewan saling melirik, sementara Tiara menatap Arya dengan mata berkaca-kaca, campuran antara terkejut dan lega yang tak terkira.
Ketua Dewan Etik mengangkat tangan, mencoba menenangkan suasana. "Baiklah, Saudara Arya. Anda boleh menyampaikan apa yang Anda ketahui, tapi tetap dalam batas kesopanan."
God-Phone di saku Arya bergetar pelan, memunculkan panel kecil di sudut pandangnya yang hanya bisa ia lihat sendiri.
[Skill Aktif: Telinga Pendengar Sejati (Level Penuh).]
[Analisis Ruangan: Terdeteksi tiga anggota dewan yang bimbang, dua yang condong percaya pada Irwan karena hubungan profesional lama. Deteksi ketegangan psikologis tinggi pada Irwan Setiadi—kemungkinan besar menyimpan kebohongan yang belum terbongkar sepenuhnya.]
Arya menarik napas dalam, mengatur kata-katanya dengan hati-hati. "Bapak-Ibu sekalian, saya nggak bisa kasih bukti dokumen atau rekaman resmi. Tapi saya bisa kasih satu hal yang mungkin lebih penting: logika sederhana. Kalau memang Tiara yang mencoba memeras Pak Irwan, kenapa yang lolos seleksi final justru bukan Tiara—yang catatan waktunya lebih baik—melainkan atlet lain yang, menurut informasi yang saya dengar, memiliki hubungan pribadi dengan Pak Irwan?"
Seluruh ruangan kembali hening, kali ini dengan bobot yang berbeda. Salah satu anggota dewan, seorang wanita paruh baya berkacamata, mengernyitkan dahi dan menatap Irwan dengan tatapan yang mulai berubah curiga.
"Itu benar juga," gumam wanita itu pelan. "Pak Irwan, bisa jelaskan kenapa Saudari Kirana Ayudia yang terpilih, padahal catatan waktunya secara teknis di bawah Saudari Tiara?"
Irwan Setiadi tergagap sejenak, wajahnya yang tadi tenang kini mulai menunjukkan retakan kecil. "I-itu... keputusan teknis. Ada faktor konsistensi mental yang saya pertimbangkan, bukan cuma catatan waktu semata."
"Konsistensi mental?" Arya melangkah lebih dekat, suaranya kini sedikit lebih tajam, meski masih terkendali. "Atau jangan-jangan, konsistensi seseorang yang mau menuruti permintaan pribadi Bapak?"
"Kurang ajar!" Irwan berdiri, wajahnya memerah menahan amarah yang mulai sulit ia sembunyikan. "Anda menuduh saya tanpa bukti apa pun!"
"Saya nggak menuduh, Pak. Saya cuma nanya," jawab Arya tenang, meski di dalam hati ia merasakan gejolak amarah yang luar biasa. "Kalau memang Bapak nggak ada hubungan apa pun sama Kirana Ayudia di luar profesional, kenapa Bapak dan Kirana terlihat mesra bergandengan tangan di depan kantin asrama, di depan seluruh atlet lain, tepat sehari setelah pengumuman hasil seleksi? Itu bukan rumor, Pak. Itu ada saksi mata yang bisa dikonfirmasi."
Wajah Irwan Setiadi memucat seketika. Ia melirik ke arah Tiara yang kini duduk tegak dengan mata berkaca-kaca namun penuh keberanian, lalu ke arah anggota dewan yang mulai berbisik-bisik satu sama lain.
Ketua Dewan Etik mengetuk meja dengan pena, mencoba mengembalikan ketertiban. "Saudara Irwan, apakah tuduhan ini benar?"
"I-ini semua salah paham—" Irwan mencoba berkelit, namun suaranya sudah kehilangan ketegasan yang tadi ia tunjukkan.
Tepat pada saat itu, pintu ruang rapat terbuka mendadak. Seorang wanita muda dengan pakaian olahraga sederhana melangkah masuk dengan wajah tegang namun penuh tekad—seorang atlet lari lain yang, rupanya, sudah lama menyimpan kesaksian serupa namun tidak berani bicara sendirian.
"Maaf mengganggu," ujar wanita itu, suaranya bergetar namun tegas. "Nama saya Ratih, atlet lompat jauh Pelatnas. Saya dengar sidang ini dari teman-teman satu asrama. Saya... saya juga pernah dapat tawaran serupa dari Pak Irwan dua tahun lalu. Saya nggak berani ngomong waktu itu karena takut karier saya hancur. Tapi kalau Tiara berani, saya juga harus berani."
Ruangan itu mendadak riuh oleh bisikan-bisikan kaget dari para anggota dewan. Irwan Setiadi terduduk lemas di kursinya, wajahnya kini benar-benar pucat pasi, menyadari bahwa skenario licik yang ia susun rapi kini runtuh oleh keberanian dua atlet yang akhirnya memilih untuk saling mendukung.
Tiara menatap Arya dengan mata yang basah oleh air mata haru, lalu menatap Ratih dengan senyuman penuh rasa terima kasih yang tidak terucapkan. Untuk pertama kalinya sejak kejadian itu, ia merasa bahwa keadilan mungkin masih ada tempatnya di dunia yang sempat ia rasa begitu kejam.
Sidang etik itu berlangsung hingga siang, dan pada akhirnya, dengan tambahan kesaksian dari Ratih dan beberapa bukti tidak langsung lainnya yang mulai terkumpul, Dewan Etik memutuskan untuk menangguhkan sementara status Irwan Setiadi sebagai pelatih nasional, sambil menunggu investigasi lebih lanjut. Nama Tiara Puspita dibersihkan dari tuduhan fitnah, meski status kelolosannya ke kontingen utama tetap harus melalui proses seleksi ulang yang akan diadakan dalam waktu dekat.
Di luar gedung federasi, Tiara berjalan keluar dengan langkah yang jauh lebih ringan dibanding saat ia masuk, matanya masih sedikit sembab namun kini dipenuhi cahaya harapan yang baru. Arya berjalan di sampingnya, sementara di kejauhan, sekumpulan motor ojol dengan jaket hijau lumut yang khas terlihat berjajar rapi di pinggir jalan—Bang Jay dan Dedi ternyata benar-benar menepati janji, membawa serta belasan driver ojol lain untuk memberikan dukungan moral di luar gedung, meski mereka tidak diizinkan masuk ke ruang sidang.
"Ya! Gimana, Ya?! Menang, kan?!" seru Bang Jay begitu melihat kedatangan Arya dan Tiara, wajahnya penuh semangat.
"Menang, Bang," jawab Arya sambil tersenyum lega. "Berkat lu semua juga yang dateng ke sini, meskipun cuma bisa nunggu di luar."
"Ya iyalah! Solidaritas ojol Tambora nggak main-main!" seru Dedi bangga, memukul dadanya sendiri dengan gaya heboh.
Tiara tersenyum melihat kehangatan persaudaraan yang begitu tulus itu, sesuatu yang belum pernah ia temukan di dunia atletik profesional yang penuh persaingan dan kepalsuan. "Terima kasih banyak, semuanya. Kalian... kalian orang-orang paling baik yang pernah saya temui."
God-Phone di saku Arya bergetar lembut sekali lagi, memancarkan cahaya hijau yang menenangkan.
TING-TONG!
[MISI SELESAI DENGAN HASIL LUAR BIASA!]
[Ancaman Berhasil Dinetralkan Melalui Kombinasi Kejujuran, Solidaritas Komunitas, dan Keberanian Kolektif.]
[Reward Permanen: Poin Kepercayaan Komunitas Ojol Meningkat. Status Hubungan Terbuka: Tiara Puspita (Ikatan Kepercayaan Mendalam Tingkat 2 Aktif).]
[Peringatan Sistem: Kasus Irwan Setiadi kemungkinan akan menarik perhatian media nasional dalam beberapa hari ke depan. Sistem mendeteksi potensi keterlibatan pihak ketiga yang lebih berkuasa—kemungkinan terhubung dengan faksi Segitiga Emas yang sebelumnya pernah menyerang Driver. Bersiaplah untuk babak konflik yang lebih besar.]
Arya membaca notifikasi terakhir itu dengan alis berkerut, senyumnya perlahan memudar. "Faksi Segitiga Emas lagi? Reynald Pratama sama kroninya masih belum kapok juga rupanya. Kayaknya ini bakal jadi masalah yang lebih gede dari sekadar pelatih bejat doang."
Namun untuk saat ini, ia memilih menyimpan kekhawatiran itu, membiarkan dirinya menikmati kemenangan kecil hari ini bersama Tiara dan seluruh rekan-rekan ojolnya yang setia. Di bawah terik matahari siang Senayan, dikelilingi oleh deretan motor bebek yang berjajar penuh solidaritas, Arya untuk sesaat merasa bahwa mungkin, meski hidupnya semakin rumit dengan setiap hari yang berlalu, ia tidak akan pernah benar-benar sendirian menghadapinya—selama masih ada keluarga, sahabat, dan orang-orang yang bersedia berdiri di sampingnya, sama seperti yang baru saja mereka buktikan hari ini.