NovelToon NovelToon
Nikah Kilat Dengan CEO Berandal

Nikah Kilat Dengan CEO Berandal

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Anvika

Kanara gadis berusia 27 tahun dengan penampilan cupu, pulang ke kampung halamannya sebagai cara untuk melarikan diri dari rasa sakit akibat dikhianati kekasihnya yang merupakan aktor papan atas. Ia bersumpah untuk menolak cinta, tetapi takdir justru mempermainkannya. Nara terjebak dalam pernikahan kilat dengan Sagara, seorang pemuda asing berpenampilan berandal yang datang ke desanya.

Menghadapi Nara yang menutup rapat hatinya, Sagara justru hadir membawa sejuta kejutan yang menjungkirbalikkan dunia gadis itu. Kini, Nara dihadapkan pada pilihan sulit. Sanggupkah ia membuka lembaran baru dan menerima kehadiran Sagara di hidupnya? Ataukah Nara akan memilih melangkah mundur, membiarkan dirinya tenggelam dalam rencana besar untuk membalas rasa sakit hatinya pada sang mantan?

📌 Update setiap hari! Jangan lupa pasang notifikasi dan masukin ke library kalian ya! 😉✨

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anvika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31 Gadis Gahar

Sagara dan Zaki tiba di kantor desa, di sana sudah ada beberapa warga yang duduk menunggu di teras. Termaksud Bagja yang sudah sejak tadi datang, Sagara segera menghampirinya tak kala pria paruh baya itu berdiri menyambutnya.

Zaki turun belakangan, kembali melihat penampilannya yang acak-acakan akibat perintah absurd atasannya itu. Asisten kepercayaan itu menggeleng ringan dengan wajah meringis, benar-benar tidak ada aura profesionalnya sebagai seorang asisten.

Untuk menjaga harga dirinya, Zaki mengambil sisir yang selalu ia bawa ke mana-mana dan mulai menata serta merapikan rambutnya kembali, kemejanya pun ia masukkan agar menjaga sedikit keformalannya yang datang dari perusahaan besar.

"Yah, begini lebih baik!" gumamnya mulai turun dari mobil dengan menenteng tas kerja yang berisi berkas-berkas penting yang dibutuhkan. Lalu ia berjalan menghampiri sang atasan yang tengah mengobrol hangat dengan seorang bapak-bapak.

"Oh, iya. Perkenalkan, Pak. Ini asisten saya, Zaki Ilyas. Dan Zaki, ini Pak Bagja yang bertanggung jawab mengurus kebun kita di sini." Sagara memperkenalkan keduanya secara bergantian.

Dua pria berbeda generasi itu saling berjabat tangan. "Senang bertemu dengan A Zaki," ujar Bagja dengan senyum penyambutan yang hangat.

Zaki membalas senyumannya. "Iya, Pak. Begitu pula dengan saya, mohon bantuannya ke depannya."

Setelah berkenalan dengan Bagja, Zaki juga disapa hangat oleh beberapa bapak-bapak lain dan mereka saling berkenalan.

Asisten Sagara itu dengan segera akrab dengan para warga, mereka mulai mengobrol terkait wilayah masing-masing. Benar kata atasannya—orang-orang di sini tampak ramah-ramah.

Seorang petugas desa berjalan menghampiri gerombolan tersebut, menanyakan terkait dokumen-dokumen untuk pengurusan administrasi pembelian tanah warga sekaligus membuat surat izin peresmian pembangunan pabrik teh—untuk diperiksa.

"Dokumen-dokumennya ada di saya." Zaki berdiri dengan kembali menenteng tas kerjanya.

"Kalau begitu, mari ikut saya." Petugas tersebut kembali masuk ke dalam.

Zaki melihat ke arah Sagara dan mendapatkan anggukan singkat dari pria itu. Zaki pun berpamitan ke pada warga untuk mengikuti petugas.

Sagara melihat kepergian sang asisten, lalu kembali melanjutkan obrolannya dengan Bagja. "Alhamdulillah, A Sagara. Warga desa sekarang tidak ada yang mempersulit lagi," ucap pria paruh baya itu dengan wajah yang tampak lega. "Semua urusan lahan ini jadi lancar karena Aa sudah menjadi bagian dari kampung ini."

Sagara mengangguk seraya tersenyum tipis. Akhirnya masalah kemandekan proyeknya di Desa Bukit Tinggi terselesaikan.

"Semua warga sudah tahu kalau Aa ini suaminya Neng Nara, menantunya almarhum Pak Suhendar dan Bu Ratna," jelas Bagja dengan nada takzim. "Semasa hidupnya, almarhum Pak Suhendar adalah orang yang sangat dihormati warga sini karena tangannya yang ringan membantu sesama. Jadi, begitu tahu Aa yang memimpin proyek ini, warga langsung percaya. Mereka yakin Aa akan membawa perubahan baik di desa ini."

Sagara kembali mengangguk dengan takzim, membenarkan penurunan dari Bagja. Perubahan besar dari pemikiran para warga yang awalnya begitu sensitif akan pembangunan pabrik, semua tidak lain dan tidak bukan karena dirinya yang kini adalah suami dari Nara.

Pernikahannya yang terjadi secara kilat itu ternyata tersebar begitu cepat ke seluruh telinga warga desa. Berkat nama baik sang mertua, warga menaruh kepercayaan penuh dan mau menjual tanah mereka untuk dibangunkan pabrik. Dan sekarang, mereka tinggal menyelesaikan proses jual belinya saja.

Seorang petugas kembali keluar, dan kali ini mengajak masuk semua warga desa yang bersangkutan, termaksud Sagara.

***

Setelah urusan administrasi selesai, Sagara dan Zaki bersiap menuju lokasi bersama beberapa perangkat desa untuk melakukan pengukuran tanah.

Namun, saat baru melangkah keluar melewati pelataran kantor desa, suara deru mesin motor yang berat dan familier membuat langkah mereka terhenti.

Dari arah jalan raya, tampak Nara sedang mengendarai motor besar milik Sagara melewati kantor desa. Sagara amat mengenalinya.

Zaki menatap tidak berkedip melihat kepergian gadis pengendara motor besar tersebut, pancaran kekaguman terlihat jelas di matanya.

"Wahhh, gadis itu gahar sekali. Rumahnya di mana, ya?" Pria itu sampai berjalan lebih maju dari Sagara hingga ke tepi jalan raya demi melihat kepergian Nara yang kian menjauh.

Ketika gadis itu hilang dari pandangan, Zaki berbalik dengan kernyitan di dahinya. "Tapi ngomong-ngomong, bukankah itu motor kesayangan Anda, Tuan?" tanya pria itu kembali formal ketika hanya mereka berdua.

Belum sadar dia akan tatapan tajam dan menusuk dari atasannya. Sampai beberapa saat kemudian, Zaki yang menunggu jawaban dari atasannya itu mengusap tengkuknya. Ia mendadak merasakan aura tidak nyaman yang menusuk. Begitu menoleh, ia mendapati Sagara lah pelakunya. Tatapan tajam pria itu seolah ingin mengoyaknya hidup-hidup di tempat. "B-bukankah begitu, Tuan?!"

Alis Sagara memungkin tajam. "Coba ulangi?!" Bukanya menjawab, pria itu malah menyuruh Zaki melakukan hal yang membingungkan.

Merasakan suasana mendadak mencekam, Zaki mengambil jarak dari Sagara. "Ulangi yang mana ya, Tuan?" tanyanya bingung dengan sedikit gugup.

"Tentang gadis tadi!" Datar Sagara.

Zaki membulatkan mulut. "Ohhh, dia gahar—"

"Yang kamu puji itu adalah istriku!" Suara Sagara naik satu oktaf. Namun, kesan datar dan tatapan tajamnya tidak berubah sama sekali, membuat asisten kepercayaan itu ketar-ketir. Menyadari salah memuji gadis.

"Maaf, Tuan. Tidak akan saya ulangi lagi! Tadi hanya refleks, tanpa maksud yang lain. Saya juga tidak tahu kalau Nona tadi adalah istri Anda." Zaki membungkuk dalam-dalam.

Sagara mendengus. "Jangan begitu, orang-orang akan mengira aku menindasmu nanti."

Zaki bangkit dengan wajah meringis. "Maaf, Tuan." Ia angguk singkat. Tapi dalam hati, mengatakan ekspresi wajah pria itu telah menindas batinnya sehingga membuat ciut.

"Jangan ulangi. Dan jaga matamu, jangan jelalatan dengan istriku. Istri orang lain terserah!"

"Siap, Tuan! Ehhh ...?"

Maksudnya apa, ya? Apa ingin mengajarkan menjadi bibit pebinor? batin, Zaki.

Sagara tidak memedulikan wajah melongo serta kebingungan asistennya itu. Ia berjalan mendekati mobil dan masuk, menyusul rombongan warga desa dan petugas yang sudah terlebih dahulu ke lokasi pengukuran tanah.

Zaki masih tidak habis pikir dengan kalimat terakhir atasannya itu. Tetapi ia mengesampingkannya, menyusul Sagara sebelum mendapatkan teguran lagi.

***

Nara mematikan mesin motor Sagara di pinggir jalan, meraih ponselnya untuk menghubungi orang yang membawa barangnya.

"Teh Nara, ya?" sebelum Nara menekan nomornya, orang tersebut datang menghampirinya.

"Iya, Aa-nya ...?"

"Saya yang dimintai tolong oleh Bu Cassia untuk mengantarkan titipan ini kepada Anda," ujar pria itu seraya menyerahkan barang yang dimaksud.

"Wah, iya. Makasih ya, A. Dan maaf karena keterlambatan saya membuat Aa menunggu, saya benar-benar minta maaf." Nara menunduk singkat, menunjukkan rasa amat bersalahnya.

"Tidak apa-apa, Teh. Kalau begitu saya lanjut jalan dulu, ya. Mari ...."

"Iya, A. Sekali lagi terima kasih. Hati-hati di jalan," ujar Nara kembali mengangguk, mengantar kepergiannya.

Pria itu mengangguk, lalu pergi dan menaiki mobilnya.

Nara menunduk, mengamati barang segi empat yang dikirimkan mantan atasannya. "Buka di rumah aja," gumamnya, kembali mendekati motor yang terparkir di sana.

***

Bersambung ...

1
Maseni Maseni
perasaanmu sudah terjawsb oleh sagara ga usah repot cari cari cara ya nara

cukup layani suamimu, hormati, jaga dari pelakor
dijamin bucin tuh Aa saga
lanjut kak 😍/Coffee//Rose/
Maseni Maseni
awalnya nara kasihan ma sagara yg tersiksa , nanti tinggal nara yg tersiksa

lanjut kak
Maseni Maseni
kalau orang kaya tuh makanya getuk ya nara😀

wuih bau baunya ibu mertua bakal ketagihan masakan nara nih
lanjut kak 😍/Coffee//Rose/
Anvika: Siap Kak🤗🥰
total 1 replies
Maseni Maseni
huahaha nara takut digigit ibu mertua
Maseni Maseni
hahaha nara lucu, ditanya ukuran malah marah .....tinggal bilang aja size 38 cup B😀

mereka dekat dengan cara yg lucu
makasih upnya kak😍/Coffee//Rose/
Anvika: Heheh, malu dia Kak🤭

Siap Kak, makasih juga sudah membaca karyaku🥰🥰💕
total 1 replies
Maseni Maseni
nah gitu dong nara..... balas dendamnya cantik halus
dan suami juga seneng
hati hati menhaga istri ya sagara

lanjut /Coffee//Rose/
Anvika: Siap Kak💕
total 1 replies
Hosniyah Niyah
lanjut Thor ❤❤❤💞💞💞😘😘😘👍👍👍👌👌👌
Anvika: Siap Kak😍🥰🥰🥰
total 1 replies
Maseni Maseni
wuih bisa balas kesongongan sang mantan nih

balas dendam yg elegan dengan suami sah ya nara
yg akhirnya tumbuh rasa cinta
lanjut kam
Anvika: Siap dilanjut, kak🤗
total 1 replies
Maseni Maseni
wah bakal ada tantangan besar nih buat sagara, memperjuangkan cintanya atau jadi anak yang takut miskin?

hayo pilih mana kak othornya
Anvika: Sagara sudah bucin mampus Kak 🤭 jadi milih jadi miskin beliau 😁
total 1 replies
Maseni Maseni
ayo gara cari tau ke ibu mertua apakah istrimu pergi ke jakarta? jangan lupa minta alamatnya

atau jangan jangan nanti pas gara pulang dari kantor melihat nara naik motor sagara

lanjut kak 😍
Maseni Maseni: yesss
total 2 replies
fabdul
Lanjut💪
Anvika: Siap 😊
total 1 replies
Maseni Maseni
balas dendamnya dibantu suami ya nara
libatkan sagara semua akan bere
lanjut kak😍
Anvika: Siap Kak🥰
total 1 replies
Maulidia Okta
sakit ya. bang... cinta blm berbalas....
tenang aj bang... nara juga mulai suka lho..
Maulidia Okta
sabar bang.... emang rada sulit njelasin orang yg tetlanjur sakit hati..
Maulidia Okta
bucin bang...
Anvika: Bucin dia Kak 🤭
total 1 replies
Maulidia Okta
mau nalas dendam nich ceritanya
Maulidia Okta
ikut penasaran thor
Maulidia Okta
semakin menggelitik pesona sagara.....
Maseni Maseni
makin dibaca makin asyik nih cerita
Anvika: Wahhh, makasih Kak 🤗 😍
total 1 replies
Maseni Maseni
betul bu ratna, cara menampar mulut tetangga macam nurlela tuh emang harus dengan kepastian

lanjut A saga ma neng nara
semangat kak😍
Anvika: Siap Kak, makasih 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!