Seorang wanita pekerja kantoran yang rasional bertransmigrasi ke dalam novel romansa tragis sebagai Geneviève de Montmirail, seorang putri Duke yang ditakdirkan dieksekusi karena cintanya yang gila dan obsesif kepada Duke muda, Lucien de Vaudémont.
Bertekad untuk mematahkan bendera kematiannya (death flag), Geneviève memutuskan untuk menarik diri sepenuhnya dari kehidupan Lucien dan lingkungan istana yang beracun. Alih-alih mengejar cinta fana, ia menggunakan kecerdasannya dalam administrasi keuangan untuk memajukan wilayahnya dan membuka bisnis perhiasan yang mendobrak tren kekaisaran.
Namun, sikap dingin Geneviève justru memicu retaknya "Sihir Putih" milik Putri Mahkota Camille, sang protagonis asli novel yang tampak suci namun bermuka dua. Saat Lucien mulai mengalami kilasan ingatan yang menyiksa tentang masa lalu yang tak pernah ia ketahui, Geneviève menemukan sebuah perhiasan rahasia peninggalan tubuh aslinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nadnote, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Logika Melawan Sihir
"Aku sungguh tidak mengerti apa yang kau bicarakan, Geneviève." Suara Putri Mahkota Camille bergetar pelan memecah keheningan yang mencekam.
Mata biru wanita bergaun putih itu dipenuhi genangan air mata bening yang siap jatuh kapan saja. Ia memeluk lengannya sendiri dengan postur menyusut seolah sedang kedinginan. "Resin? Berhalusinasi? Mengapa kau menuduhku membawa barang semacam itu ke rumahmu? Kipas ini diambilkan oleh pelayan pribadiku dari ruang penyimpanan khusus kerajaan pagi ini. Apakah kau menuduh pelayan istana berniat meracuniku?"
Lucien melangkah maju dengan cepat, menutupi tubuh Camille dengan punggungnya yang lebar. Pria itu memosisikan dirinya sebagai perisai absolut antara sang Putri Mahkota dan Geneviève.
"Tutup mulutmu, Nona Montmirail," bentak Lucien. Suara baritonnya menggelegar dipenuhi amarah seorang ksatria yang merasa keadilannya diinjak-injak. "Jangan mencoba memutarbalikkan fakta hanya karena kau benci melihat Yang Mulia Putri Mahkota. Kau mematahkan kipas pusaka itu, dan sekarang kau merangkai kebohongan konyol tentang getah beracun untuk menutupi kesalahanmu. Kau benar-benar tidak punya sisa rasa malu."
Geneviève tetap duduk bersandar dengan tenang. Ia menatap dada bidang berbalut rompi hitam pekat di hadapannya. Pembacaan situasi ini benar-benar membuat logika modernnya merasa lelah. Wanita rubah di belakang Lucien sedang memanipulasi situasi dengan air mata buaya, dan sang pahlawan tampan ini menelan semuanya mentah-mentah.
"Kebohongan, Tuan Duke?" Geneviève tersenyum tipis, sebuah senyum yang sama sekali tidak mencapai matanya. Jari telunjuknya mengetuk meja teh perlahan. "Sebagai seorang pelindung seni yang akan segera membuka bisnis perdagangan material berharga, saya dituntut untuk memiliki mata yang tajam. Anda adalah seorang komandan ksatria yang memimpin pasukan. Anda pasti tahu betul bagaimana struktur kepadatan tulang hewan bekerja."
Lucien terdiam kaku. Alis tebalnya bertaut tajam.
Geneviève mencondongkan tubuhnya, mengambil patahan kipas itu lagi, dan menyodorkannya ke arah Lucien. "Tulang sapi yang dikeringkan secara alami memiliki daya tahan yang luar biasa. Tulang itu bisa digunakan sebagai gagang pedang atau belati kecil. Namun, jika tulang itu direndam dalam getah pohon Tissia yang masih mentah, sifat asam dari getah tersebut akan menggerogoti struktur kalsium di dalamnya secara agresif. Tulang itu akan terlihat utuh di luar karena terlapisi cat putih tebal, tetapi bagian dalamnya keropos seperti tumpukan debu."
Lucien menundukkan pandangannya. Ia melihat ujung patahan di tangan Geneviève. Insting militernya yang terlatih selama bertahun-tahun di medan perang tidak bisa dibohongi. Patahan itu terlalu lurus, terlalu rapuh, dan tidak memiliki serat padat seperti layaknya tulang atau gading yang kuat.
"Kipas ini sudah dirancang untuk patah, Tuan Duke," lanjut Geneviève dengan nada suara seringan embusan angin. Ia melempar kembali patahan itu ke meja dengan santai. "Bahkan embusan angin musim gugur yang kencang di taman bisa mematahkannya. Fakta bahwa kipas ini hancur tepat saat saya menarik tangan saya bukanlah sebuah serangan fisik. Itu adalah murni fisika dasar."
Camille menahan napasnya dengan kasar. Tangannya meremas gaun sutra putihnya kuat-kuat di balik punggung Lucien. Wanita pirang itu tahu dalihnya telah dipatahkan oleh logika material yang tidak bisa ia sangkal.
"Ya Ampun," isak Camille tiba-tiba. Suaranya melengking pelan penuh keputusasaan. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh berderai membasahi pipinya yang mulus. "Apakah itu benar? Oh, sungguh kenyataan yang mengerikan. Aku pasti telah ditipu oleh pedagang nakal yang menyuplai barang ke istana."
Camille menyeka air matanya dengan gerakan sapu tangan yang sangat elegan dan terukur. "Mereka pasti menukar pusaka asli ibundaku dengan barang palsu berbahan tulang yang rapuh ini. Aku sangat takut, Tuan Duke. Bagaimana jika pedagang itu menyelipkan racun sungguhan di barang-barangku yang lain? Geneviève, tolong maafkan aku. Aku sama sekali tidak tahu kipas itu palsu dan dilapisi resin berbau menyengat. Aku sama sekali tidak berniat membuatmu merasa pusing."
Geneviève nyaris mendengus keras. Rasanya ia ingin bertepuk tangan melihat pertunjukan teatrikal tersebut.
Logika mana yang bisa menerima bahwa seorang pedagang biasa berani menipu keluarga kerajaan dengan barang berbau getah pemicu halusinasi? Namun tentu saja, pemeran utama pria fiksi di depannya memiliki titik buta yang luar biasa besar jika berhadapan dengan Putri Mahkota.
Lucien membalikkan badannya sedikit. Wajah kerasnya langsung melunak saat melihat air mata Camille.
"Anda terlalu baik hati menyalahkan diri sendiri, Yang Mulia," ucap Lucien dengan nada suara yang turun beberapa oktaf, sangat lembut dan penuh perlindungan. "Anda adalah korban murni dari kelicikan pedagang rendahan. Kita akan meminta penjaga istana untuk menyelidiki perbendaharaan kerajaan dan menangkap pedagang itu sore ini juga."
Lucien kemudian membalikkan badannya kembali. Ia menatap Geneviève. Matanya kembali menajam dan memancarkan dominasi yang dingin.
"Kau dengar sendiri penjelasan dari Yang Mulia, Nona Montmirail," ucap Lucien tegas. "Kipas itu hancur karena bahan palsunya yang rapuh, bukan karena kau memiliki niat baik. Niatmu menarik tangan dengan kasar tadi tetaplah sebuah bentuk ketidaksopanan yang ekstrem. Kau seharusnya meminta maaf kepada Yang Mulia Putri Mahkota karena telah berburuk sangka."
Di belakang sofa, Odette menggertakkan giginya tanpa suara. Pelayan itu meremas kain celemeknya sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Jika saja ia memiliki kekebalan hukum, Odette bersumpah akan melemparkan teko kuningan panas itu tepat ke wajah ksatria tampan nan bodoh di depannya ini.
Geneviève menyandarkan punggungnya di sofa beludru. Ia menatap pria tampan di depannya dengan saksama. Garis rahang yang terukir sempurna. Postur yang tegap bagai dewa perang. Mata hijau tua yang memesona.
Pemilik tubuh asli ini telah menghabiskan ratusan ribu koin emas, membuang waktu bertahun-tahun, dan mengorbankan seluruh harga diri keluarga Montmirail hanya untuk mengejar pria yang otaknya dipenuhi kabut ini. Benar-benar investasi yang sangat memalukan. Mengingat fakta itu membuat dada Geneviève dipenuhi rasa muak yang luar biasa.
"Odette," panggil Geneviève pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari Lucien.
"Ya, Nona." Odette segera merespons. Suara pelayan itu terdengar sangat tenang dan jernih, padahal di dalam hatinya ia sedang sibuk menyusun seratus macam cara untuk meracuni persediaan air di markas ksatria Vaudémont.
"Tolong suruh pelayan dapur membuang serpihan tulang di atas karpet ini. Baunya membuat ruang tamuku terasa murah," perintah Geneviève santai.
"Tentu, Nona. Hamba akan menggunakan sapu ijuk kasar yang biasa dipakai oleh tukang kebun untuk menyapu kotoran kuda. Sapu itu sangat cocok untuk membersihkan serpihan barang berharga ini," sahut Odette dengan senyum sopan yang sangat mematikan.
Gaspard yang berdiri siaga di dekat pintu sedikit menegang mendengar ucapan pelayan kecil itu. Otot rahang ksatria bayangan itu berkedut samar. Ia tahu pelayan bernama Odette itu baru saja menghina martabat istana lagi, tetapi pemilihan kata-katanya tidak melanggar aturan apa pun yang mengizinkan Gaspard mencabut pedang.
"Kau sama sekali belum meminta maaf atas kelakuan kasarmu, Geneviève," desak Lucien, sepenuhnya mengabaikan interaksi majikan dan pelayan tersebut. Kesabarannya mulai menipis melihat wajah datar wanita di hadapannya.
"Meminta maaf untuk apa persisnya, Tuan Duke?" tanya Geneviève. "Karena saya tidak mau membiarkan kulit saya bersentuhan dengan getah aneh? Ataukah karena saya tidak menangis meraung-raung meratapi kehadiran Anda bersama wanita lain di rumah saya hari ini?"
Lucien mengernyitkan dahinya kuat-kuat. "Aku tidak memintamu menangis. Aku memintamu menyadari perilakumu. Kau selalu membuat keributan di mana pun aku berada. Kau terobsesi dengan hal-hal yang tidak mungkin menjadi milikmu."
Geneviève tertawa pelan. Suara tawanya terdengar sangat kering. Sama sekali tidak ada nada kehangatan, kepedihan, maupun kecemburuan di dalamnya. Tawa itu murni merupakan suara ejekan yang lahir dari rasa lelah yang teramat sangat.
"Anda benar sekali, Tuan Duke. Saya memang selalu membuat keributan yang tidak perlu," ucap Geneviève seraya menganggukkan kepalanya pelan. "Saya mengirimkan puluhan hadiah norak yang menghabiskan anggaran. Saya menyewa musisi jalanan tengah malam bak orang gila. Saya menghalangi jalur kereta kuda Anda di gerbang istana kekaisaran. Saya melakukan semua tindakan memalukan dan merugikan itu karena sebuah ilusi bodoh yang saya sebut sebagai cinta abadi."
Lucien terdiam. Mulutnya sedikit terbuka namun tidak ada suara yang keluar.
Ini adalah pertama kalinya selama tiga tahun terakhir Geneviève mengakui semua kelakuannya secara terbuka tanpa ada nada memohon di dalamnya. Wanita itu biasanya akan menangis, membela diri, atau mengatakan bahwa ia melakukan semua itu karena Lucien sangat berharga baginya. Tetapi hari ini, Geneviève menyebut perasaannya sendiri sebagai sebuah kebodohan.
Geneviève mengangkat tangan kanannya perlahan hingga sejajar dengan dadanya.
Di jari manisnya, melingkar sebuah cincin emas tebal dengan permata safir biru berukuran besar yang memantulkan cahaya matahari dari jendela. Cincin itu dibeli oleh pemilik tubuh asli ini dengan harga selangit bulan lalu. Wanita malang itu mendeklarasikannya secara sepihak di depan publik sebagai cincin pertunangan mereka, hanya karena ayah mereka pernah membahas kemungkinan pernikahan secara kasual bertahun-tahun yang lalu. Sebuah klaim sepihak yang selalu membuat Lucien menatapnya dengan penuh kebencian.
Geneviève menatap cincin di jarinya dengan pandangan menilai. Desainnya sangat pasaran. Permatanya terlalu besar dan ukirannya terlalu rumit. Cincin yang sangat berat dan tidak efisien untuk dipakai bekerja meneliti dokumen keuangan wilayah. Menjual cincin ini ke pedagang dari benua utara pasti akan menutupi biaya operasional toko perhiasannya selama dua bulan ke depan.
Dengan gerakan perlahan dan tanpa ragu sedikit pun, Geneviève menarik cincin mahal itu dari jarinya.
Mata Lucien terpaku pada gerakan tangan wanita itu. Ruang tamu itu mendadak jatuh ke dalam keheningan yang sangat absolut. Bahkan Camille pun lupa untuk melanjutkan akting isak tangis palsunya.
Geneviève meletakkan cincin itu di atas permukaan meja teh. Ia menyentilnya pelan dengan ujung kukunya.
Benda berkilau itu meluncur melintasi permukaan kayu mahoni yang mengkilap, dan berhenti tepat di depan tempat Lucien berdiri. Bunyi logam beradu dengan kayu keras terdengar sangat nyaring, bergema bagaikan palu hakim yang mengetuk meja persidangan.
"Apa maksud semua ini?" tanya Lucien. Suara pria itu tiba-tiba terdengar berat, serak, dan tertahan.
Napas Lucien mendadak terasa sedikit memburu. Entah mengapa, melihat cincin yang selalu membuatnya muak itu dilepas dari jari Geneviève justru memicu sensasi aneh di dalam tubuhnya. Ada sesuatu yang berdesir tajam di dadanya. Sebuah ruang kosong yang tiba-tiba terbuka, mengembuskan angin dingin yang membuat jantungnya berdetak tidak beraturan. Ia seharusnya merasa lega karena wanita gila ini akhirnya menyerah, tetapi mengapa kepalanya justru terasa pening?
Geneviève melipat kedua tangannya di depan dada. Ia mendongak, menatap langsung ke dalam mata hijau tua Lucien. Tatapan Geneviève begitu tenang, sangat rasional, dan sedingin bongkahan es abadi di laut utara.
"Maksudnya sangat sederhana, Tuan Duke de Vaudémont," ucap Geneviève dengan artikulasi yang sangat jelas dan tegas.
"Mulai detik ini, saya membatalkan semua janji pertunangan sepihak yang pernah saya buat di masa lalu. Saya menarik kembali semua perasaan dan perhatian yang pernah saya arahkan kepada Anda. Dan saya, Geneviève de Montmirail, secara resmi melepaskan Anda seutuhnya."
Lucien membeku di tempatnya. Kata-kata itu menghantam kesadarannya bertubi-tubi. Ia menatap wajah Geneviève mencari kebohongan, mencari tanda-tanda manipulasi mencari perhatian, tetapi ia tidak menemukan apa pun selain ketegasan absolut.
"Silakan berbahagia bersama Yang Mulia Putri Mahkota yang sangat suci ini," lanjut Geneviève tanpa memberikan jeda bagi Lucien untuk berpikir. Ia berdiri dari kursinya. "Dan demi menghargai kedamaian hidup saya yang baru, saya mohon, jangan pernah lagi menginjakkan kaki Anda maupun kaki ksatria Anda di atas properti keluarga Montmirail."
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa komen atau like. Sesekali berkunjung di Tiktok dan Instagram aku untuk mendapatkan update ceritaku yang lainnya🫶🫶
Tiktok & Ig: nadnote__