NovelToon NovelToon
CEO Bangkrut Jadi Suami Kontraku

CEO Bangkrut Jadi Suami Kontraku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:873
Nilai: 5
Nama Author: Markario Putra

BIJAKLAH DALAM MEMILIH BACAAN😎

Riko terpaksa menikah dengan Rani akibat hutang yang tidak bisa dia bayar,melihat kesempatan itu Rani langsung memberikan sebuah kontrak pernikahan,dan riko terpaksa menyetujui kontrak pernikahan itu,karena dia terlilit hutang akibat perusahaannya bangkrut setelah kalah tender dengan perusahan milik Rani.

Baca saja klo mau tau cerita selanjutnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Aturan Main di Atas Ranjang Berbeda

Gerbang besi hitam menjulang tinggi setinggi tiga meter terbuka secara otomatis begitu mobil yang dikendarai Riko mendekat. Di balik gerbang itu, berdiri sebuah rumah mewah berarsitektur modern minimalis dengan dominasi warna putih, kaca raksasa, dan aksen batu alam kelabu. Rumah itu tampak asri namun sekaligus terasa sunyi dan dingin, sangat mencerminkan kepribadian pemiliknya.

Riko memarkirkan mobilnya di area carport yang luas. Dia mematikan mesin, lalu menyandarkan kepalanya ke setir mobil selama beberapa saat. Selesai mengurus administrasi pembatalan sita aset di bank sore tadi, tubuh dan pikirannya terasa luar biasa lelah. Ditambah lagi, kenyataan bahwa dia tidak lagi pulang ke rumah peninggalan orang tuanya melainkan ke rumah ini, membuat ulu hatinya terasa sedikit perih.

Riko keluar dari mobil, menyambar koper hitam berukuran sedang miliknya—satu-satunya barang yang dia bawa—lalu melangkah menuju pintu utama.

Begitu pintu besar berbahan kayu jati itu didorong, Riko disambut oleh interior rumah yang sangat rapi dan elegan. Lantai granit putih yang berkilau merefleksikan cahaya lampu gantung kristal di ruang tengah. Di atas sofa beludru kelabu, Rani sudah duduk santai sembari membaca beberapa berkas di pangkuannya. Dia sudah mengganti pakaian formalnya dengan gaun tidur sutra longgar berwarna hitam yang senada dengan jubah tipis yang membungkus bahunya.

Mendengar suara pintu, Rani melirik sekilas ke arah jam dinding digital yang menunjukkan pukul delapan malam, lalu mengalihkan pandangannya pada Riko.

"Kamu terlambat satu jam dari perkiraanku, Riko," ucap Rani datar, menutup map berkasnya dan meletakkannya di atas meja kaca.

"Urusan bank sedikit menyita waktu. Setidaknya aku tidak melarikan diri membawa cek empat setengah miliarmu," balas Riko sembari meletakkan kopernya di dekat lorong tangga. Dia melepas jas hitamnya, menyisakan kemeja putih yang dua kancing teratasnya sudah dia buka, lalu berjalan mendekat ke arah ruang tengah.

Rani berdiri dari sofanya, melipat kedua tangannya di depan dada. "Baguslah kalau kamu tahu tanggung jawab. Sekarang, ikut aku ke atas. Aku akan menunjukkan kamar kita sekaligus menjelaskan aturan domestik selama kamu tinggal di sini."

Riko mengernyitkan alis saat menangkap kata 'kamar kita'. Langkahnya mengekor di belakang Rani yang berjalan menaiki tangga melingkar menuju lantai dua. Sepanjang jalan, monolog batin Riko berputar. Dia masih tidak habis pikir bagaimana takdir bisa mempermainkannya sejauh ini; menikahi wanita yang selama tiga tahun ini dia anggap musuh terbesar dalam karier bisnisnya.

Rani mendorong pintu ganda di ujung lorong lantai dua, menampilkan sebuah kamar utama yang sangat luas. Desainnya menyerupai kamar penthouse hotel bintang lima, lengkap dengan ranjang berukuran king size berbalut sprei sutra abu-abu, televisi layar datar raksasa, dan sebuah balkon yang langsung menghadap ke arah kolam renang di halaman belakang.

Namun, perhatian Riko langsung tertuju pada sebuah sofa panjang berbahan kulit yang terletak di sudut ruangan, tepat di samping lampu tidur yang berdiri tegak.

"Seperti yang sudah kukatakan semalam, Riko. Ini kamar kita," Rani berbalik, menatap Riko lurus-lurus. "Mulai malam ini, ini adalah area privat kita. Mengingat asisten rumah tanggaku—Bi Inah—adalah orang lama yang sangat dekat dengan ibuku, kita tidak boleh menunjukkan kecanggangan sama sekali di dalam rumah ini. Bi Inah tinggal di paviliun belakang, tapi dia akan membersihkan kamar ini setiap pagi. Jadi, pastikan tidak ada jejak yang mencurigakan."

Riko berjalan menuju sofa kulit tersebut, mendudukinya perlahan untuk menguji keempukannya, lalu mendongak menatap Rani dengan senyum getir. "Jadi, seorang Riko Pratama harus tidur di sofa ini selama setahun penuh? Bagaimana kalau punggungku encok?"

"Itu bukan urusanku," sahut Rani ketus. "Sofa itu cukup panjang dan nyaman untuk pria setinggimu. Setiap pagi sebelum jam tujuh, kamu harus sudah merapikan selimut dan bantalmu ke dalam lemari khusus di pojok sana, agar Bi Inah tidak curiga kalau kita tidur terpisah."

Riko mengembuskan napas kasar. "Aturan yang sangat rapi, Nyonya Rani. Lalu bagaimana dengan urusan kamar mandi?"

"Kamar mandi di dalam kamar ini bebas kamu gunakan, tapi jangan menyentuh produk perawatan kulitku yang ada di atas wastafel," Rani berjalan menuju ranjangnya, lalu duduk di tepi kasur yang empuk. "Satu hal lagi. Di dalam kamar ini, kita memiliki privasi masing-masing. Jangan pernah mencoba melewati batas atau menyentuhku tanpa izin, apa pun alasannya. Jika kamu melanggar kontrak ini, aku berhak menarik kembali seluruh dana bantuan yang kuberikan pada perusahaannmu."

Mendengar ancaman itu, harga diri Riko kembali terusik. Dia berdiri dari sofa, menatap Rani dengan sorot mata yang menajam, memancarkan wibawa kepemimpinannya yang tidak luntur meski posisinya sedang terpuruk.

"Kamu tidak perlu mengancamku berulang kali dengan uangmu, Rani," suara Riko merendah namun sarat akan penekanan yang tegas. "Aku menerima kontrak ini karena aku bertanggung jawab atas nasib karyawan dan aset orang tuaku. Tapi jangan pernah mengira kamu bisa mengontrol harga diriku sebagai seorang pria. Aku tidak akan pernah menyentuhmu, bukan hanya karena kontrak, tapi karena aku juga tidak memiliki ketertarikan pada wanita dingin dan angkuh sepertimu."

Rani tertegun. Kata-kata Riko barusan terasa seperti tamparan tidak kasat mata yang mengenai egonya. Selama ini, semua pria selalu memuji dan berusaha mendekatinya demi harta atau parasnya. Namun Riko, pria yang sedang berutang besar padanya, justru menatapnya dengan pandangan meremehkan yang sama seperti tiga tahun lalu saat mereka berpisah.

Rani mengepalkan jemarinya di atas sprei kasur, mencoba meredakan gejolak aneh di dadanya. "Bagus kalau begitu. Kita sudah sepakat dengan batasan masing-masing."

Rani kemudian merebahkan tubuhnya di atas ranjang, memunggungi Riko sembari menarik selimut tebalnya. "Matikan lampu utama sebelum kamu tidur. Aku benci tidur dalam keadaan terang."

Riko tidak membalas. Dia melangkah menuju saklar di dekat pintu, mematikan lampu utama hingga ruangan kini hanya diterangi oleh temaram lampu tidur berwarna kuning hangat di sudut kamar. Riko kembali ke sofa kulitnya, merebahkan tubuhnya yang terasa kaku. Sofa itu memang cukup empuk, namun ketegangan di dalam ruangan itu membuat atmosfer terasa begitu pekat.

Dalam kegelapan malam, baik Riko maupun Rani sama-sama terjaga. Hanya berjarak beberapa meter di dalam satu ruangan yang sama, kedua mantan rival itu tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing. Mereka tahu, malam pertama di bawah atap yang sama ini barulah awal dari lembaran baru yang penuh dengan kepura-puraan, gengsi, dan rahasia yang siap meledak kapan saja.

1
Markario Putra
Mohon tinggalkan komentar kalian untuk karya baru ku ini gaiss,ini karya aku yg ke 3 gaiss,maklumm lah penulis baruu😄😄😄
Terimakasih untuk kalian yang mau mampir di karya kecil ini🙏
jangan lupa like,hadiah juga jgn lupa🤣🤣😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!